
"Nyanyi... Nyanyi... Nyanyi...," Jasmine terus berteriak menyoraki Bryan untuk mengambil sebuah mic yang berada di pendopo rumah makan itu. Rumah makan yang memiliki fasilitas lengkap termasuk free karaoke. Ide cemerlang menghiasi kepala Jasmine untuk mengerjai suaminya.
"Aku gak bisa nyanyi." Hardik Bryan dengan wajah yang ia tekuk rapat.
"Bisa, pasti bisa." Jasmine bersorak-sorai, terus mengepalkan tangannya ke udara.
"Ayolah Bry, buat aku senang." Bujuk Jasmine dengan rayuan senyum terbaiknya.
"Aku gak bisa, jangan samakan aku dengan mantan suamimu." Sergahnya lagi.
"Lah, siapa yang menyamakan mu dengan Dika?" Jasmine mengerucutkan bibirnya. "Aku hanya minta kamu bernyanyi untukku."
"Aku sudah bilang aku gak bisa nyanyi!" Bryan menaikkan nada suaranya.
Jasmine menautkan kedua tangannya di depan dadanya. "Sudah gak bisa membidik, gak bisa bernyanyi juga. Lalu apa yang kau berikan padaku?
"Ayo tuan, ayo tuan pasti bisa." Ke empat bodyguard yang tak jauh duduk dari bangku Jasmine dan Bryanpun bersorak-sorai menyemangati Bryan sambil mengacungkan kedua jempol mereka. Jasmine terkekeh, dan menganggukkan kepalanya untuk terus menyoraki Bryan.
Wajah Bryan gelisah, para penjaga rumah makan itu hanya bisa tersenyum dan saling melempar pandang tak mengerti dengan tontonan gratis di kedai mereka.
"Oke, oke, hanya untuk hari ini dan sekali." Bryan berjalan ke arah mic dan menghidupkan speaker aktif. Ia menggenggam mic itu dengan wajah pias. Menatap Jasmine yang tersenyum dengan mata yang berbinar-binar. Mengacungkan kedua jempol untuk Bryan, "Pasti bisa." Jasmine berjalan ke arah Bryan dan mendekatinya.
"Jika kau ingin bernyanyi tataplah penontonnya, Kau menghianati penonton jika seperti ini." Jasmine menggelengkan kepalanya, menahan tawa. "Apa kau hanya ingin bernyanyi untuk sepatumu, hahaha." Tawa itu lepas dari mulut Jasmine yang melihat kepanikan wajah Bryan yang hanya menunduk.
"Tapi," Bantah Bryan.
"Bernyanyi lah aku disini menjagamu." Jasmine masih berdiri menggenggam tangan Bryan.
"Ehmm, cek cek 1 2 3." Bryan mengambil intro dadakan.
"Huahahaha." Jasmine terkekeh mendengar suara Bryan, "Mau bikin pengumuman?"
"Jahat!"
"Cup, cup ,cup. Ayo bernyanyilah, kami penonton sudah menunggumu."
"Ehm, awas." Bryan menautkan kedua alisnya. Matanya siap menerkam tubuh Jasmine.
"Ku harap semua ini bukan sekedar harapan
Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan
Biarkan 'ku menjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya
Jadi saksi cintaku padanya
'Tak main-main hatiku
Apapun rintangannya 'ku ingin bersama dia
'Ku mau dia, 'tak mau yang lain
Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku
'Ku mau dia, walau banyak perbedaan
'Ku ingin dia bahagia hanyalah denganku"
Jasmine menggengam erat tangan Bryan, senyuman tak lepas dari wajahnya selama Bryan bernyanyi. Matanya terus berbinar, Bryan tak merusak intonasi nada milik Admesh Kamaleng dan tak menghianati penonton. Bodyguard yang menjaga Bryanpun terus tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya. Banyak sorot handphone yang merekam kemesraan mereka berdua.
"Bukan 'ku memaksa oh Tuhan
__ADS_1
Tapi 'ku cinta dia ('Ku cinta dirinya)
'Ku mau dia ('Ku mau dirinya)
Hanyalah dia
Tuhan, 'Ku cinta dia"
Dilirik terakhir Bryan menarik tangan Jasmine dan mendekapnya dalam pelukannya. Jasmine tak menolak ia semakin mengeratkan pelukannya.
Tepuk tangan dari para penonton dadakan pun memeriahkan aksi panggung Bryan di free karaoke tempat makan, senyum Bryan melebar. Tak henti-hentinya mengecupi kepala Jasmine.
"Tidak buruk kan?" Tanya Bryan sembari ia melepas pelukannya pada Jasmine.
"Bagus Bry, bagus sekali aku suka." Jasmine tak menyadari jika rekaman kemesraannya mulai tersebar di situs berbagi online.
"Terimakasih, hari ini aku senang sekali." Jasmine menggandeng tangan Bryan berjalan keluar rumah makan dan diikuti oleh bodyguard dibelakangnya.
"Jadi ke pasarnya?" Tanya Bryan.
"Jadi dong, mau masak apa nanti kalau gak belanja." Jasmine memakai kembali masker dan topinya.
"Kemarin aku masak, kamu gak makan sama sekali jadi hanya terbuang kasian." Jasmine melengos.
"Kamu tidak melayaniku, jadi aku gak mau makan." Sergah Bryan tak mau kalah.
"Jadi kamu makan dimana, dilayani siapa?" Tanya Jasmine dengan nada yang tersungut-sungut.
"Dibawah, sama botak dan teman-temannya. Gak seru kalau makan hanya sendiri." Jelas Bryan masih berkelit.
"Aku dua hari makan sendiri, enak-enak saja."
Jasmine terkekeh, "Hanya dua."
"Hanya dua, belum sate dan lain-lainnya." Jelas Bryan.
"Akukan ibu menyusui, jadi wajar kalau aku makan banyak." Hardik Jasmine dengan nada ngeyelnya.
"Ya, hasilnya aku nanti yang minum."
"Bry...,"
"He'emm." Bryan berdehem karena ia pasti tahu arah pembicaraan Jasmine.
"Bagaimana kabar Asmira dan Prince, kamu masih menyuruh orang untuk menjaga mereka kan?"
"Tenanglah, mereka baik-baik saja." Jelas Bryan meyakinkan Jasmine, wajah Istrinya kini nampak sendu.
"Jangan sedih, bukannya tadi kita sudah bersenang-senang. Pakai ini untuk belanja nanti." Bryan menyodorkan sebuah kartu ATM.
"Kalau dipasar pakainya uang cash, tidak ada yang pakai kartu seperti ini." Jasmine mengembalikan kartu ATM milik Bryan.
"He'em ribet, aku ambilkan dulu di sana." Bryan menghentikan mobilnya di gerai ATM yang berjajar dipinggir jalan. "Diam jangan coba-coba untuk keluar."
Jasmine mengangguk.
Selang beberapa menit, Bryan kembali dan menyodorkan uang pecahan seratus ribuan berjumlah lima lembar.
"Terlalu banyak Bry, emang mau borong sekalian Abang tukang sayurnya?"
"Aku gak paham kalau belanja dipasar gimana, jadi terserah kamu aja." Jelas Bryan sembari melajukan mobilnya ke arah pasar tradisional.
__ADS_1
"Sudah sampai, beli sendiri ya?"
"Lah, nanti kalau aku kabur gimana?"
"Gak akan, botak dkk akan mengikutimu." Jelas Bryan.
"Gak mau menemaniku?"
"Ada pekerjaan yang harus aku cek, kembalilah saat sudah selesai dan jangan macam-macam!" Titah Bryan dengan wajah yang serius.
"Baik."
Jasmine melangkahkan kakinya masuk ke dalam pasar, mencari lapak pedagang dengan pilihan sayur yang muda dan segar-segar seperti Bryan.
Jasmine tersenyum saat mendapati sebuah lapak dengan banyak pilihan dan kualitas baik.
Ia memilih-milih banyak sayuran dan buah-buahan, wajahnya sumringah sudah lama ia tak menjejakkan kakinya di sebuah pasar tradisional. Bodyguard dibelakang Jasmine pun tak henti-hentinya menatap gerak-gerik istri tuan muda mereka.
Takut-takut jika wanita itu menulis secarik kertas dan memberi tahukan keberadaannya pada keluarganya.
"Bawakan ini." Pinta Jasmine pada salah satu bodyguardnya. Salah satu dari mereka mengangguk dan menenteng sayuran.
Tampang sangar dan membawa barang belanjaan membuat Jasmine ingin tertawa. "Kau pembawa sayuran masukan itu ke mobil dulu sana." Pinta Jasmine, "Aku masih mau belanja ayam dan ikan di kios belakang." Lanjut Jasmine.
"Jangan coba-coba kabur Nyonya."
*
Sedangkan Bryan di dalam mobil hanya mengotak-atik ponsel pintarnya, laporan jalan tikus dan pengedaran barang ilegal miliknya berjalan dengan lancar. Hanya satu saja yang menjadi pikirannya sekarang, Banyak situs website yang menampilkan sosok dirinya yang sedang bernyanyi dan memeluk seorang wanita. "Huft, wanita itu benar-benar pintar ternyata." Bryan mendengus kesal, akan mudah jika keluarga Jasmine menelusuri keberadaannya sekarang. Wajah Bryan geram dan gelisah.
Tok, tok, tok. Salah satu bodyguard itu mengetuk pintu kaca Bryan. Bryan tersentak kaget. Ia menurunkan pintu kacanya. "Ada apa?" Tanyanya.
"Ini bos, sayuran." Tangan bodyguard itu mengangkat kedua tentengannya dan menunjukkan dua kantong plastik penuh dengan belanjaan Jasmine.
"Lalu dimana Jasmine?"
"Masih ke kios ikan dan ayam." Jawab bodyguard itu sembari menaruh belanjaan di bagasi mobil.
"Cepat susul mereka dan cepat kembali, banyak yang harus aku urus setelah ini."
"Baik bos." Bodyguard yang rata-rata memiliki umur lebih tua dari Bryan hanya bisa mengangguk patuh, kalau bukan karena pekerjaan. Laki-laki 37 tahun itu pasti sudah mencincang tubuh Bryan.
Selang 15 menit, ke lima orang yang ditunggu-tunggu Bryan datang, Jasmine menaruh barang bawaan di bagasi. Wajah Bryan nampak geram, "Wanita licik." Ucapnya.
Jasmine tersentak, bukannya laki-laki itu senang ia kembali. Kenapa malah di sebut sebagai wanita licik.
"Maksudnya?" Jasmine menatap Bryan sambil bertanya-tanya.
"Kau memaksaku untuk bernyanyi dan ini lihatlah sendiri." Bryan melempar ponsel pintarnya, "Buka laman video berbagi." Suruh Bryan.
"Kau memang pintar Jasmine." Bryan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
"Aku hanya memintamu untuk bernyanyi, aku tak berfikir sampai sejauh ini. Kenapa tadi kau tak menyuruh penjagamu melarang orang-orang untuk tidak merekam kita?" Jelas Jasmine. "Aku memang wanita licik, ini kembaliannya." Jasmine manaruh sisa uang belajaan dan mengacuhkan Bryan.
Hening.......,
Tidak ada suara yang beradu, hingga sampai di depan rumah. Jasmine tak peduli, bahagianya hanya sesaat saja sampai laki-laki itu berkata bahwa dia wanita licik.
Jasmine mengambil barang belanjaan, wajahnya datar. Tak menghiraukan Bryan yang ingin membantu membawanya.
Jasmine menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, sampai dianak tangga paling atas Jasmine semakin pusing melihat banyaknya barang-barang yang berserakan. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Terlihat Husein terkapar tak berdaya memegang sebotol anggur merah yang hanya tersisa satu cup saja.
__ADS_1