Kiss The Rain

Kiss The Rain
Gejolak jiwa muda 2.


__ADS_3

"Hmmm." Jasmine berdehem saat ada seseorang yang menyelipkan anak rambut miliknya. "Ada apa?" Jasmine mengerejap matanya terlihat Bryan sedang duduk berjongkok menopang kepalanya dengan telapak tangannya. "Ayo tidur di ranjang, kenapa masih tidur di sofa." Ajak Bryan.


Jasmine terbangun dan berusaha membenarkan baju tidurnya. Mau tidak mau ia terpaksa menggunakan baju tidur yang sudah Bryan pilihkan. Padahal ia slalu menggerutu kesal, ia lebih suka memakai kaos oblong dan celana kolor. Seperti saat dengan Dika dulu. Hanya sekali dua kali ia memakai baju tidur.


"Sudah pulang, jam berapa sekarang?" Tanya Jasmine sambil mengusap kedua matanya.


"11 malam." Jawab Bryan sembari mengangkat tubuhnya duduk disisi kiri Jasmine. "Aku menganggu tidurmu?"


"Aku tidak tahu jam berapa kau pulang. Aku siapkan baju gantimu ya." Jasmine beranjak berdiri tapi ia urungkan saat Bryan mencekal tangannya. "Apa lagi, Hmm. Sudah makan?", Lanjut jasmine lagi.


"Duduk sini." Tarikan Bryan membuat Jasmine jatuh di atas pangkuan laki-laki muda itu. Matanya menatap penuh dalam dan gairah yang mendamba. "Apa yang kau lakukan seharian?" Tanya Bryan yang sudah menyusupkan tangannya di balik baju Jasmine.


"Apa sih, Heyy. Tanganmu Bry." Jasmine menarik tangan Bryan.


"Jika kau tak melakukan apapun ,tandanya kau tidak lelah kan." Bryan menyeringai kan senyuman.


"Apa sih, sudah dua kali hari ini. Aku tidak mau." Tolak jasmine sambil memegangi tangan Bryan yang sudah nakal kemana-mana. "Aku menyesal pakai baju tidur ini." Jasmine menggerutu yang hanya di balas senyuman oleh Bryan.


"Hanya sebentar saja, pasti Asi-mu juga sudah banyak. Kasian pria muda mu ini, pulang kerja dan sekarang lelah. Butuh asupan energi." Bryan menyibakkan baju tidur Jasmine dan menyembulkan gundukan kenyal yang masih terlihat kencang.


"Kau ini pandai sekali beralasan. Aku tidak mau." Jasmine menarik bajunya lagi dan menjauhi Bryan.


"Yakin ingin menolak? Katanya tadi mau melayani suami dengan baik." Bryan tersenyum sambil menyilakan kedua tangannya melihat jasmine yang berdiri sambil menutupi tubuhnya yang jelas-jelas masih terlihat polos. Bryan tertawa melihat Jasmine menggeretakan kakinya berulang kali ke lantai. Seakan ia terperangkap pada ucapannya sendiri. "Sini..." Bryan melambaikan tangannya menyuruh Jasmine mendekat lagi.

__ADS_1


"Menyebalkan...." Jasmine mengerucutkan bibirnya dan mendaratkan lagi tubuhnya di sofa dan duduk di samping Bryan. "Janji hanya sebentar." Jasmine mengangkat jari kelingking nya dan di taut oleh Bryan. "Iya sebentar." Kini Bryan menarik baju tidur Jasmine yang di genggam sedari tadi oleh istrinya.


"Lepaskan bajumu itu dan genggam saja punyaku." Bryan menautkan lagi bibir merah jambunya pada bibir istrinya. Mengecup lembut dan saling berbalas. Jasmine yang sebal pun melepas penaut celana suaminya dan menyuruh Bryan untuk berdiri melepasnya.


"Janji sebentar ya sebentar." Jasmine mengingat Bryan lagi. Saat lelaki itu melepas ciumannya dan beralih pada gumpalan kenyal menyesapi dengan rakus seakan-akan itu hanya miliknya.


"Bry aku malu, ayo sudah." Jasmine menahan kedua bahu Bryan, laki-laki mudanya telah melanggar janji. Sudah setengah jam ia masih sibuk dengan gunung kembar Jasmine dan bermain-main dengan sungai yang sudah merembes basah ke sofa berwarna abu-abu.


"Tidak, lihatlah kau basah sedari tadi." Bryan menyengir, baginya mungkin dia sudah berhasil membuat wanitanya kalang kabut dan menyebut namanya berkali-kali. "Ayo gantian." Jasmine mengerenyit dahinya.


"Gantian gimana?" Tanya Jasmine pura-pura tidak tahu.


"Harus setengah jam juga." Bryan berkata sambil menengadahkan tubuhnya, menunjuk-nunjuk benda pusaka nya yang sudah berdiri tegak dan tidak akan tumbang sebelum di kalahkan.


"Terus, pintar sekali wanitaku." Rasanya aku ingin muntab mendengar Bryan yang sedari tadi hanya bilang terus,terus,dan terus.


Jasmine terbangun dan menggerutu kesal. "Sudah setengah jam, aku lelah."


Bryan tertawa.


"Tapi kita belum itu." Bryan kembali menyeringai.


"Kamu ini." Jasmine mencubit perut Bryan dan mereka terkekeh bersama.

__ADS_1


Akhirnya malam panjang pun mereka lewati bersama. Tak peduli dengan ayam tetangga yang sudah berkokok ria atau para makhluk kasat mata yang melihat pergumulan panas mantan Janda dan mantan perjaka muda. Mereka masih menikmati seluk tubuh pasangan mereka satu sama lain. Author rasanya ingin muntab jika setiap hari bikin adegan vanas ini, maafkan ya reader 😂.


*


Hari sudah menjelang pukul 9 pagi, tapi kedua insan dimabuk gila itu masih bersembunyi dibalik selimut yang membalut tubuh polos mereka. Hingga ketukan pintu itu membubarkan mimpi indah sepasang suami istri yang telah lelah melakukan perjalanan panjang di atas ranjang dan sofa.


"Bry...." Jasmine menggoyangkan bahu Bryan membangunkan laki-laki muda yang baru tidur pukul 3 pagi. "Bry ,ada yang mengetuk pintu. Bangun dong." Jasmine terus menggoyangkan bahu Bryan.


"Buka saja paling botak." Bryan menjawab tanpa membuka matanya.


"Yang benar saja, kau tak lihat bagaimana keadaan ku sekarang?" Jasmine cemberut, jika di lihat sekarang tubuhnya bak habis melakukan koprol berkali-kali dan bekas kerik yang berada di dada dan sebagainya di lehernya membuat Jasmine ngeri sendiri melihatnya. "Bercinta dengan anak muda memang gila, hah. Parah banget jika setiap hari harus melayaninya 3kali sehari, seperti minum obat saja." Jasmine turun dari ranjang dan mengambil baju-baju Bryan dan dirinya yang berserakan di atas lantai. Mengambil handuk kimono dan handuk kecil untuk membalut leher dan tubuhnya.


"Sial bukan botak, siapa laki-laki ini." Jasmine berkata pada batinnya. Seorang laki-laki muda sedang berdiri membelakangi pintu kamar. Bertubuh tinggi dan berperawakan seperti Bryan.


"Ehm..." Jasmine berdehem membuat laki-laki misterius itu berbalik. Ia terkejut, Jasmine semakin terkejut di buatnya.


Jasmine tertunduk, ia tak berani melihat laki-laki di depannya.


"Cari Bryan?" Tanya Jasmine. Tak ada jawaban dari laki-laki itu hingga membuat Jasmine menjawab sendiri pertanyaan nya. "Bryan masih tidur, tunggulah sebentar biar aku bangunkan dulu." Jasmine berbalik menghindari tatapan laki-laki muda yang masih mengerutkan dahinya.


"Bry, bangunlah." Jasmine menggoyangkan bahu Bryan berkali-kali sambil matanya melirik ke arah pintu kamar. Laki-laki itu masih berdiri menyandarkan bahunya di kusen pintu dan melipat tangannya di depan dada.


"Astaga bocah, hey bangunlah. Bukan botak yang mengetuk pintu." Jasmine berusaha menjelaskan. Tak ada jawaban, hingga akhirnya laki-laki yang hanya berdiri itu turun tangan. Ia menarik selimut yang masih membungkus tubuh polos Bryan. Matanya terkejut dan terbelalak, Jasmine yang melihat adegan secepat kilat itu hanya ternganga sekaligus menahan tawa.

__ADS_1


"Dasar bocah, kalian emang bocah." Jasmine menutupi kembali tubuh Bryan dengan selimut dan ia tertawa. "Astaga, tuan Husein tolong keluarlah dulu biar aku urus adikmu."


__ADS_2