
Malam semakin larut, Keluarga Dika sudah kembali pulang. Hanya tersisa Asmira yang menginap di rumah Opanya.
"Mommy kangen banget sama Mira." Jasmine menangkup erat tubuh kecil putrinya.
"Mommy beneran besok mau pergi dengan ayah?"
"Mommy geli." Jasmine tak henti-hentinya mengecup pipi putih anaknya.
"Iya sayang, kamu suka?"
"Suka banget mommy, akhirnya aku bisa jalan-jalan dengan mommy dan ayah. Nanti kita beli es krim, kata ayah mommy dulu suka makan es krim stroberi.
Asmira membalas ciuman ibunya.
"Baiklah, jadi sekarang Mira tidur dulu, okeyy."
"Tapi mommy janji dulu, besok kita bersenang-senang bersama ayah."
Jasmine menaut jari lentik Asmira. "Mommy, janji."
"Yeyyy." Asmira bersorak gembira.
"Oke sayang, kau masih suka susu coklat?"
"Masih Mommy, aku juga kangen susu coklat buatan mommy."
"Baiklah, mommy akan buatkan untukmu. Tunggu sebentar."
Jasmine berjalan menuju dapur, disana terlihat Kamto sedang duduk dan menatap Jasmine dengan seksama.
"Bisakah kita bicara?" Tanya Kamto.
"Setelah Asmira tidur."
Jasmine kembali fokus membuat dua gelas susu coklat untuknya dan Asmira.
Ia berjalan mengabaikan ayahnya yang masih duduk santai sembari menyerupat kopi hitam.
Tibalah dikamar, Jasmine menyerahkan segelas susu coklat dan menyuruh Asmira untuk lekas tidur.
Tak butuh waktu lama, Asmira sudah terbang ke alam mimpi. Jasmine mengecup kening putrinya. Kini hanya satu lagi masalah yang harus ia hadapi. Kamto Jayantaka!
"Ada apa yah?"
"Tidak rindu dengan ayah, hmm?"
"Huft, sudah pasti aku rindu." Jasmine memeluk erat Kamto layaknya seorang gadis kecil yang memeluk Teddy bear.
"Ayah tahu, aku slalu rindu dengan rumah ini. Aku takut saat aku kembali dan membawa ceritaku. Ayah tak bisa menerima ku lagi." Pelupuk matanya sudah penuh dengan air yang siap mengalir pelan.
"Jika pulang hanya ingin menangis, lebih baik kamu pergi saja lagi. Dan berbahagialah." Kamto menarik tubuhnya.
"Ayah...,"
Cepat-cepat Jasmine menghapus air matanya.
"Ayah...,"
"Kau yakin bahagia dengan si brengsek yang sudah menghamili mu?"
"Bryan namanya!"
"Berani membentak ayah?"
"Enggak." Jasmine tertunduk.
"Maaf."
"Ceritakan apa saja yang kamu lakukan selama setahun dengannya?"
"Ayah yakin tidak akan jantungan?"
"Sudah cepat ceritakan, agar ayah bisa cepat mengambil keputusan."
__ADS_1
Jasmine menganggukan, dengan ceria ia menceritakan hari-harinya dalam setahun bersama Bryan, suami yang ia rindukan.
"Baiklah, ayah akan putuskan dua hari lagi. Bersenang-senanglah dengan putrimu dan mantan suamimu besok. Ingat Jasmine! Jangan ada dusta!"
"Hahaha, ayah pikir aku mau dengan Dika lagi." Jasmine tergelak, "Suamiku lebih muda, lebih perkasa."
Kamto tertawa mendengar cerita putrinya. Benar seperti kata Raka, Lelaki brengsek itu menyembuhkan luka lama putriku. Tapi luka baru sepertinya akan lebih mengangga lebar.
*
Ayam Kamto berkokok lantang, si jago kluruk ini membangunkan siapa saja di pagi hari yang belum juga nampak pendar mentari yang menyusup melalui kaca jendela.
"Mom, bangun mom."
Jasmine menggeliat, baru juga lima jam ia terpejam tubuhnya sudah di goncang lembut oleh putrinya.
"Wake up mom, nanti rezekinya di patok ayam Opa."
"Mom...," Asmira terus mengguncang pundak Jasmine.
Jasmine menggeliat, matanya mulai mengerjap-ngerjapkan.
"Hm..., hm...,"
"Kita harus bersiap untuk pergi dengan ayah, Mom."
"Jam berapa, Mir?"
"Jam lima mom."
"Ini masih terlalu pagi untuk bersiap Mira."
"Tapi ayah udah dateng, Mom."
"Apa!"
Kurang kerjaan banget Dika jam 5 pagi udah nongol. Baiklah aku harus berdamai untuk anak ku.
"Baik, sesuai yang mommy dan mama Manda semalam bicarakan. Kamu masih ingat?"
"Good, temui ayah untuk menunggu sebentar."
Asmira dengan ceria keluar kamar dan menemui Dika di ruang tamu. Sedangkan Jasmine dengan susah payah mengajak tubuhnya untuk bergegas mandi dan membuat sarapan.
Semua masih terlelap di kamar masing-masing, hingga tak menyadari kedatangan Dika yang sudah hafal dengan kunci rumah Jayantaka.
"Ayah, mommy sedang mandi." Asmira duduk di sebelah Dika.
"Hm..., Jadi hari ini mau pergi kemana dengan mommy?"
"Ayah mau mengajak kita pergi kemana?"
"Ini masih terlalu pagi untuk pergi ke mall Mira. Bagaimana jika kita pergi ke taman."
"Membosankan ayah, ditaman hanya ada tanaman dan bunga."
"Tapi mommy suka tanaman."
Asmira tampak berpikir sejenak dengan gaya ala bocah tujuh tahun.
"Baik, tuh mommy selesai mandi. Mom...," Asmira melambaikan tangannya.
Jasmine berjalan mendekat.
"Mommy ingin pergi kemana?"
Jasmine menghendikkan bahunya.
"Sebentar sayang, mommy bersiap dulu terus kita sarapan."
"Ayah, kita sarapan bersama."
"Iya, Mira." Dika tak lepas memandangi Jasmine yang kembali masuk ke kamar.
__ADS_1
Lepas tiga puluh menit, Mereka bertiga sudah berada di jalanan kota. Jasmine dipaksa Asmira untuk duduk di sebelah Dika.
Sedangkan Asmira memilih duduk di belakang bersama boneka pemberian uncle Bry.
Kecanggungan benar-benar terjadi, hingga Jasmine memilih untuk melanjutkan tidur mengabaikan Dika yang sesekali menatapnya.
Sampai di taman kota, Jasmine masih tertidur dan Asmira yang mengikuti jejak ibunya. Kedua wanita itu malah tertidur.
Apa begini jalan-jalan versi mereka. Hanya duduk di mobil dan tertidur. Astaga, dia tak berubah.
Tapi Dika lebih senang, ia bisa menatap dan menyentuh wajah Jasmine tanpa penolakan.
Berlama-lama di parkiran taman kota membuat Dika berfikir, ada satu hal lain yang slalu menjadi keinginan Jasmine selama ini. Ia tersenyum dan bergegas menancap pedal gas menembus riuhnya kota. Sesekali mobilnya berhenti mengisi bensin dan membeli berbagai macam camilan untuk anak dan mantan istrinya.
Selama perjalanan menuju entah, Jasmine dan Asmira masih terlelap tidur.
Jalanan mulai sepi kendaraan yang melintas, hanya ada satu jalan utama dan banyaknya pepohonan khas pegunungan dan lembah. Dika terus menancap pedal gasnya hingga mobilnya berhenti tepat di depan pasir pantai putih yang membentang luas dan indah.
Dika menepuk-nepuk pipi Jasmine. Jasmine menggeliat dan menggenggam tangan Dika, "Bryan...,"
Jasmine menempelkan tangan Dika di pipinya. "Bryan....,"
Dika senang namun ia juga tahu diri. "Bangun, tidak ada Bryan disini."
Jasmine tersentak, ia mengibaskan tangan Dika dengan cepat. "Maaf."
"Lupakan, ayo turun. Ajak Mira juga."
Jasmine mengelus-elus pipinya, "Pantas saja rasanya beda."
Mata Jasmine terpincing saat mendapati deburan ombak dan birunya lautan.
"Bukannya tadi mau ke taman kota, kenapa malah ke pantai?" Tanya Jasmine heran.
"Kalian berdua tidur lebih dari dua jam. Tidak ingat?"
"Benarkah, aku kira hanya lima menit." Jasmine turun dari dalam mobil, ia membuka pintu belakang dan membangunkan Asmira.
"Bangun sayang, ayo kita bersenang-senang. Kita sedang di pantai." Bisik Jasmine. Putrinya lantas terbangun dengan terkaget-kaget.
"Pantai mom?"
"Ya, buka matamu sayang."
Mata murni itu terbuka, Dika menatap putrinya dengan heran. "Kalian akan bersenang-senang atau hanya tidur di mobil."
"Ayah, aku terlalu antusias dari tadi malam. Jadi aku bangun jam 4 pagi." Jelasnya dengan nada gemas.
"Tidurlah Dika, kau pasti juga lelah. Biarkan Asmira bersamaku." Jasmine menarik Asmira keluar dari mobil.
Cahaya mentari pagi sungguh menghangatkan tubuh, desiran ombak dan angin seraya saling berkejar-kejaran.
Jasmine dan Asmira duduk di atas pasir putih. Mereka sibuk dengan camilan di tangan dan mulut mereka berdua.
"Mom, jadi kita menginap disini? Tidak jadi ke hotel dan mall milik ayah?"
"Mommy tidak tahu Mira, coba tanyakan saja pada ayah."
Asmira berdiri, membersihkan celananya yang dipenuhi pasir pantai. Ia berjalan mendekati Dika yang duduk sembari menyesap rokok di tangannya.
"Ayah matikan!"
"Hmm, ada apa? Apa sudah habis camilannya?" Dika mematikan rokoknya.
"Jadi kita tidak ke mall dan menginap di hotel, Yah?"
Dika menghela nafas kasar, tidak mungkin jika mereka menginap di hotel. Apa lagi publik selama ini sudah tahu Dika sudah bercerai dan menikah lagi.
"Kita menginap saja disini semalam, besok kita baru main di mall. Setuju?"
Asmira membalas tepukkan "Have Five" tangan ayahnya. Asmira setuju untuk menghabiskan waktu di tepi pantai dengan Mommy dan Ayahnya. Kehangatan yang selama setahun ini ia rindukan.
[ Jangan menghukum kesempatan dengan penantian. Karena terkadang melepaskan sesuatu justru memperoleh yang terbaik. ~ Tere Liye ]
__ADS_1
Next ---->