Kiss The Rain

Kiss The Rain
Kolam renang.


__ADS_3

"Kelak, kalau kau sudah mengenal laki-laki, kau harus tanya dirimu sendiri. Apa dia pantas kau cintai. Apa perasaan mu sungguh-sungguh padanya. Harus bisa kau bedakan rasa kagum dan mencintai dengan baik. Kalau itu tidak bisa kau bedakan, jangan coba-coba memilih laki-laki untuk tempat bergantung." (Buat yang tanya kenapa karya Ibunda Oka Rusmini lagi, karena ini the best!)


*


Sebulan sudah Jasmine tinggal menetap di kediaman Bryan. Laki-laki yang entah mendapat dari mana rasa percaya diri untuk memiliki Jasmine seutuhnya. Seorang wanita yang sempat ingin membunuhnya, kini malah menjadi istrinya. Takdir tak pernah berhenti, putaran semesta sungguh diluar prediksi akal manusia.


Jelas sekali Jasmine masih mengingat pesan Kamto ayahnya, "Lepaskan Dika dan kau putriku berhak bahagia."


"Huh......," Jasmine menghela nafas cukup panjang, torehan luka yang sering terbesit di benaknya perlahan mulai memudar. Berganti senyum cerah dan guratan manja di wajahnya. Semakin hari hubungannya dengan Bryan semakin membaik, tak pernah ada adu mulut atau adu jotos. Seperti pergumulan pagi ini, Jasmine masih bergelayut manja di bawah selimut bersama suaminya.


Ia lupa diri bahkan lupa umurnya, tiga puluh tiga tahun bukan angka yang tergolong muda untuk usia seorang wanita. Jasmine menatap Bryan yang masih terdapat peluh di dahinya. Peluh yang akan menyentuh pelipis matanya. "Lelah?" Tanya Jasmine sambil menghapus peluh di dahi Bryan.


"He'emm." Bryan berdehem dan mengecupi rambut Jasmine. Laki-laki muda itu masih sibuk merangkulkan tangannya di perut Jasmine. Menindih kaki Jasmine dengan kakinya.


"Kalau aku tua nanti bagaimana, wajahku berkerut dan tubuhku kendor semua kulitnya. Kamu masih mau denganku atau mau cari sugar baby?" Mulut Jasmine tak henti-hentinya mengoceh, Bryan yang masih tak menggunakan sehelai benangpun kembali menindih tubuh Jasmine.


"Jika wajahmu berkerut nanti ikut mama tanam benang di wajahmu." Mulut nakal Bryan kembali menjelajah gundukan kenyal Jasmine yang masih mengeluarkan ASI.


"Mama?" Dahi Jasmine mengerut. "Mama Bry...., Ah." Jasmine mendesah, tubuhnya kembali meremang.


"Nanti malam dinner sama mama papa dan kakak, siapkan dirimu Jasmine." Bryan menjelaskan dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Tapi, Bry.....," Jasmine menarik tubuhnya dari bawah terkaman Bryan, Jasmine menggeleng. "Apa mama tahu ak.....," Jasmine menjeda ucapannya saat bibir Bryan sudah terbenam di bibir Jasmine. Terus menerus menyesapinya dan mengeksplor setiap inci bibir Jasmine.


"Sekali lagi." Bryan berbisik, jantung Jasmine sudah tak karuan lagi, berdetak kencang seperti dikejar anjing galak. Terus memacu dan terus memacu. Pergumulan pagi itu sungguh menghangat untuk Bryan, tapi wajah Jasmine masih terlihat menerka-nerka keadaan.


"Mama nanti beneran kesini?" Tanyanya lagi setelah selesai melakukan smackdown diatas ranjang.


"Iya Jasmine, kenapa?"


Jasmine menggeleng. "Aku takut."


"Tidak usah takut, mama tidak menggigit." Bryan tersenyum sembari meledek Jasmine yang masih menunjukkan wajah gelisahnya. "Mandi gih bikin sarapan, aku lapar Jasmine."


"Kau ini Bry, dasar. Tidak menenangkan malah ngeledekin aku terus." Jasmine memunguti pakaiannya dan Bryan yang berceceran di lantai. "Aku mandi dulu, habis sarapan aku minta hadiah lagi."

__ADS_1


"Masak yang enak, aku tidak mau cah kangkung lagi." Sergah Bryan cepat dan di jawab Jasmine dengan tawa yang memecah seluruh ruang kamar mandinya. "Gakpapa, kita kan harus makan 4 sehat 5 sempurna." Jasmine berteriak.


"Iya, dan limanya susu darimu." Bryan terkekeh.


"Bryan.......!!!!"


*


Selesai mandi dan membuat sarapan, Jasmine duduk disebelah Bryan. Laki-laki muda itu menatap seluruh hidangan santapan pagi mereka. "Gak ada cah kangkung hari ini Bry, ini spesial untukmu." Pagi ini Jasmine membuat masakan western, tak ada susu coklat hangat, ia ganti dengan orange juice.


"Semoga tidak buruk." Jasmine tersenyum dan mengambilkan santapan pagi Bryan. "Terimakasih." Jawabnya sembari memasukan suapan pertama dimulutnya.


"Gimana Bry, gak enak ya?" Jasmine terus menatap raut wajah Bryan yang datar. "Gak enak ya, gagal deh bikin masakan western." Jasmine mengambil dan memasukan suapan pertamanya. Ia terus mengunyah dan menyecapi setiap rasa masakannya. "Gimana gak ada rasanya, tadi aku udah kasih bumbu." Jasmine menaikan sudut bibirnya. "Haha, not bad Jasmine." Bryan tersenyum. "Maaf ya." Jasmine kembali tersenyum sembari mengambil garam dan mengaburkannya di makanannya. "Minta hadiah apa?" Tanya Bryan setelah menghabiskan sarapan pagi yang tak tersisa.


"Belanja, Ehm....., biarkan aku yang masak untuk dinner nanti. Boleh?" Bujuk Jasmine sembari ia membereskan piring kotor dan mencucinya.


"Belanja sayuran? Biarkan bibi sajalah yang belanja dan masak, nanti kamu repot." Sergah Bryan.


"Astaga Bryan, aku jenuh setiap hari seperti ini terus. Aku hanya kesana-kemari, disini di balkon kamar." Jasmine menunjuk setiap tempat yang ia lalui setiap hari dilantai dua. "Ayolah, hadiahnya hanya belanja saja tidak lebih. Kamu kemarin juga belum beliin aku ice cream." Jasmine tak menatap Bryan, ia masih sibuk membilas piring kotor. Hingga sebuah tangan melingkar di perutnya, dan dagu Bryan bersandar di pundak Jasmine.


"Dasar ibu-ibu bawel, aku ada kerjaan nanti siang. Setelah selesai aku akan menjemputmu dan belanja sayuran keinginanmu." Jawab Bryan sembari menggigit kecil telinga Jasmine. "Geli Bry, sudah sana pergi. Mengganggu saja."


***


Siang hari ini nampak cahaya matahari bersinar sangat cerah, dari balkon kamar Bryan bisa terlihat kolam renang dengan air yang membiru segar. Jasmine yang berdiri di pembatas balkonpun hanya bisa melihat airnya yang melambai-lambai menyuruhnya untuk menyelam menikmati segarnya air kolam. "Renang kayaknya seru Kuyyy." Jasmine berlalu meninggalkan tanaman yang menemani sebulan ini, ia berjalan terus keluar kamar dan menemui penjaga tangga.


"Gak capek lu berdiri terus?" Sapa Jasmine.


"Nyonya," Penjaga itu menaikkan wajahnya menatap Jasmine yang berdiri dua meter dari arahnya.


"Nyonya, aku bukan Nyonyamu!" Sergah Jasmine cepat.


"Siapa namamu? Dibayar berapa kamu di sini?" Jasmine mendudukkan dirinya di anak tangga. Terus menanyakan sesuatu pada penjaga yang umurnya terlihat masih muda.


"Tria."

__ADS_1


"Oh Tria, sudah punya istri?" Tanya Jasmine lagi.


"Sudah,"


"Kalau anak?"


"Sudah,"


"Berapa?"


"Dua,"


"Sama anakku juga dua, kamu tahu kan. Aku cuma janda. Kalau kamu jadi tuan Bryan, apa kamu juga mau menikahi Janda sepertiku?" Pertanyaan Jasmine kali ini membuat Tria mengernyitkan dahinya.


"Saya tidak berhak menjawab." Tegas Tria.


"Tria, bisakah kamu mengijinkan ku untuk berenang di kolam belakang. Aku janji aku tidak akan macam-macam, hanya berenang saja." Jasmine mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Aku bosan Tria, tolong aku kali ini saja. Aku yang akan menjamin semua keluarga mu jika nanti tuan Bryan marah." Jasmine berusaha meyakinkan Tria, laki-laki penjaga tangga itu nampak ragu sekaligus kasian. Karena sudah sebulan juga ia melihat Jasmine hanya hidup dilantai dua, hanya mondar-mandir kesana kemari dengan wajah yang tertekuk lesu. "Bisakah?" Kali ini Jasmine sudah pasrah, Ia menundukkan pandangannya. Hingga suara Tria membuatnya memalingkan wajahnya.


"Berjanjilah untuk menjamin keluargaku jika Tuan Bryan marah." Jasmine mengangguk dan tersenyum. "Yeyyyy, renang Kuyyy. Aku bebas." Jasmine berteriak dan menuruni cepat anak tangga. "Nyonya harus menjaga sikap." Teriak Tria sembari mengeekori langkah Jasmine dengan cepat. "Jangan coba-coba kabur."


"Ya, Tria. Terimakasih." Jasmine berteriak hingga langkahnya terhenti pada pintu hitam dengan ukiran mahakarya seniman yang banyak mengalir darah seni di tubuhnya.


"Tria, kenapa dikunci." Jasmine menggebrak pintu hitam itu dan sangat sulit sekali dibuka.


"Dikunci penjaga dari dalam." Jawab Tria yang masih mengatur nafasnya.


"Buka dong Tria." Bujuk Jasmine dengan wajah melasnya.


"Tidak jauh beda dari istriku, cerewet dan banyak maunya." Batin Tria sembari mengiyakan permintaan Jasmine. "Tunggu sebentar."


Jasmine mengangguk, wajahnya kembali berseri-seri.


Click.

__ADS_1


Pintu Hitam itu terbuka secara otomatis. Jasmine berlari berjingkit-jingkit melewati rumput Manila yang marah karena ia pijaki. "Maafkan aku rumput, jangan marah. Aku sedang bahagia." Jasmine melepas rok rample hitam miliknya dan menceburkan dirinya ke kolam renang.


Byurrrrrrrrrr.


__ADS_2