Kiss The Rain

Kiss The Rain
Memulai misi (1)


__ADS_3

Kediaman Dika.


Jasmine harus menunggu lama di depan pintu gerbang, satpam baru yang tidak mengetahui siapa Jasmine harus meminta izin kepada sang pemilik rumah terlebih dahulu sebelum pintu gerbang terbuka.


Hanya butuh satu tahun, dia sudah menjadi sultan.


Jasmine tertawa sebentar, hingga wajah yang ingin ia temui membuka pintu gerbang.


Ia memberi aba-aba menyuruh Jasmine untuk cepat masuk ke dalam.


Jasmine mengangguk, ia mencap pelan pedal gas dan terperangah melihat istana Dika yang begitu megah.


Benar-benar menjadi sultan.


Jasmine turun dengan senyuman yang mengembang.


"Tumben kesini, ada apa baby?"


"Beraninya kau memanggilku baby bahkan dirumahmu sendiri. Mana Amanda dan Asmira?"


Tanya Jasmine sembari memutar matanya jengah saat ia mendapati Dika tersenyum dengan manisnya.


"Ada apa, kau kesini bukan untuk menemui Asmira kan?"


Dih, selain menjadi sultan dia juga menjadi paranormal dadakan.


"Aku memang mencarimu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Jasmine menarik nafas dalam-dalam, sepertinya ia harus kembali menjatuhkan harga dirinya di depan Dika.


"Serius? Dengan senang hati, ayo ke ruangan ku." Ajak Dika menarik tangan Jasmine dengan cepat.


"Bicara disini saja, aku tidak mau Amanda menaruh curiga dengan ku." Jasmine menarik kembali tangannya dengan cepat.


"Ayolah, kau harus melihat bagian dalam rumah ini. Kau pasti suka." Dika masih tersenyum dengan nada yang penuh semangat.


Gila gila, dia bahkan dengan santainya mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Ini bagaimana nasib Amanda.


Jasmine menyengir kuda. Ia bimbang ingin memasuki istana Dika dan terperangkap disana atau hanya duduk saja di bangku taman dengan suasana temaram dan menyejukkan.


"Disini saja Dika, aku mohon." Jasmine mengiba.


"Baiklah, jika kau hanya ingin berdua dengan ku."


Mata Jasmine melotot dengan ucapan Dika.


"Kau sepertinya kebanyakan gula Dika."


"Hahaha, apa yang ingin kau bicarakan Jasmine?" Dika menepuk bangku disampingnya.


Dengan malas Jasmine mendaratkan bokongnya disamping Dika.


"to the points. Apa kau masih menyimpan sertifikat rumah milik ku?"


"Kau sudah memberikan untuk anak-anak bukan? Untuk apa kau memintanya lagi?"


Astaga, Dika sepertinya ingin mempersulit rencanaku.


Jasmine berdecak kesal.


"Hartamu lebih banyak Dika, apa kau tidak bisa mewariskan sertifikat rumahku untuk ku lagi?"


"Apa maumu Jasmine, kau belum menjelaskan padaku alasannya kau menginginkan sertifikat rumahmu lagi."


Jasmine menghela nafas panjang, ia menceritakan semua rencana yang ia miliki untuk menanggung biaya hidup keluarga pengawal Bryan.


"Jadi kau ingin menjual rumah itu?"


Jasmine mengangguk.

__ADS_1


"Lalu kau akan tinggal dimana setelah rumah mu terjual?" Tanya Dika penasaran.


"Aku akan kembali ke motelku, setelah urusanku selesai." Jasmine menatap langit yang kemerlip menampakkan bintang-bintang diangkasa.


"Kau membawa dirimu terlalu jauh ke dalam derita Jasmine, kau tak perlu menanggung beban sebanyak itu."


Jasmine menggeleng, "Aku sudah memutuskan semuanya Dika. Jika kau tidak ingin membantuku ya sudah."


Jasmine berdiri, merapikan bajunya. Ia tidak perlu lagi merendahkan dirinya di depan Dika. Cukup sampai detik ini saja dia mengiba.


"Temui aku di hotel nomer 58, besok siang." Dika berdiri mengantar Jasmine masuk ke dalam mobil.


"Tidak perlu." Jasmine menutup pintu mobilnya dengan kencang.


Lucu, sampai segitunya dia ingin mencari suaminya. Aku semakin penasaran dengan laki-laki itu. Bermain-main sebentar sepertinya seru, Jasmine.


Dika berjalan menuju pintu utama rumahnya. Saat ia masuk, terlihat Amanda sudah menunggu di ruang tamu sembari mengerucutkan bibirnya.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" Tanya Amanda dengan nada yang parau.


"Hanya bicara." Dika menjawab dengan nada datar.


"Apa yang kak Jasmine katakan, beri tahu aku." Amanda menarik tangan Dika dengan paksa.


"Dia hanya butuh sertifikat rumahnya."


"Kalau begitu kasih saja, tanahmu sudah banyak. Biar kak Jasmine tidak mengganggu kita lagi."


"Mengganggu? Lalu untuk apa kau mengijinkan ku bersamanya dua hari kemarin?" Dika mencengkeram lengan Amanda dengan erat.


"Aku melakukannya agar kau senang dan kau bahagia Dika. Agar kau juga bisa tahu seberapa besarnya cinta kak Jasmine pada suaminya sekarang."


Kau tidak tahu, justru cintanya yang terlalu besar membawanya pada derita yang tak berujung.


Dika melepas cengkeramannya, "Maaf, tidurlah. Biar ku urus Jasmine. Aku tetep milikmu, jangan khawatir." Dika mencium kening Amanda.


"Manda, tidurlah." Titah Dika yang hanya bisa diangguki Amanda.


*


Kediaman Shally Fox.


Dua hari yang lalu, di ranjang pasien yang Bryan tempati. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan dirinya. Berkali-kali dokter menyeramkan untuk tidak terlalu memaksakan diri.


Bryan bersikukuh, ia berkata dengan gagu memanggil nama Jasmine, Jasmine.


"Jelaskan kondisinya secara menyeluruh?" Shally berdiri sembari menyilangkan tangannya di depan dada. Angkuh!


Dokter Ridwan menatap Bryan yang menggeleng dan menempel jarinya di bibirnya.


"Kondisi Bryan sepenuhnya sudah stabil, hanya tinggal melakukan terapi wicara dan fisioterapi untuk memulihkan fungsi otot kaki yang lemas." Dokter Ridwan memberi laporan hasil medis Bryan selama dua hari ini.


"Jadi dia bisa naik pesawat?"


Dokter Ridwan mengangguk.


"Sial, tapi dia butuh identitas diri untuk melakukan penerbangan ke luar negeri. Hey kau!"


Shally menunjuk salah satu pengawal keluarganya.


"Ya, Nona ada yang bisa saya bantu?" Si pengawal membungkuk.


"Apa kau temukan identitas diri pria ini saat membawanya kemari?"


"Tidak Nona."


Shally berdecak kesal, "Carikan seseorang untuk membuat identitas diri secara ilegal. Secepatnya, kau mengerti?"

__ADS_1


Pengawal mengangguk dan pamit undur diri.


"Sabar ya kak Bryan, aku akan membawa kakak keluar negeri dan kita bisa berobat disana. Shally akan terus menemani kakak."


Bryan yang mendengar ocehan Shally terperanjat, dengan bersusah payah Bryan menggeleng untuk menolak.


"Kakak tidak bisa berbuat apa-apa, lihatlah bahkan untuk berdiri saja kakak kesusahan." Shally menggengam tangan Bryan, Bryan menepisnya cepat.


"Haha, kakak bisa menolak ku sekarang. Tapi tidak nanti." Shally tersenyum.


Jasmine aku tahu kau sedang berbuat nekat sekarang. Cepatlah, sebelum semua terpisahkan.


Seakan tahu intuisi, Bryan hanya bisa terus berharap. Semesta akan mengajaknya bertemu dengan wanita yang ia cintai.


*


Markas Brandles Wolfgang


Husein turun dari balik kemudi kontainernya, ia sudah disambut oleh ketua pengintai dan anggota lainnya termasuk Tria.


"Tuan Husein." Tria membungkuk.


"Kau masih hidup ternyata." Husein tertawa.


Pintu kontainer belakang langsung terbuka sesaat setelah mobil itu berhenti.


"Wow, wow..., Ada apa ini?" Candra mendekati pria-pria berotot dan berkepala plontos.


"Kami semua utusan Nyonya Jasmine."


Candra terkesima. Disini kami memanggil Jasmine dengan sebutan Nona, di sana dia disebut Nyonya. Gila mereka memang menghormati Jasmine.


Husein mendekati Candra, "Kau ketua tim ini?" Tanyanya mantap.


Candra menggeleng, "Bukan, aku hanya sedang mewakili ketua tim. Ada yang perlu kau bicarakan?"


"Hahaha. Kau jelas tahu siapa kami bukan?" Tawa Husein seakan mengejak.


"Hahaha, baik-baik. Ternyata tidak susah menangkap musuh besar. Kemarilah masuk ke dalam biar aku menjamu'mu dengan baik."


Husein mengikuti langkah Candra, di ikuti ke delapan besar pengawalnya.


Tanpa basa-basi Husein menyerahkan tas kerja yang ia bawa.


"Apa ini, isinya bukan ganja atau nikotin kan?" Candra menerima tas itu tanpa membukanya.


"Semua bukti peredaran dan tempat dimana kami menyimpan dan membuat barang yang kau sebut tadi ada semua di dalam tas itu. Kau hanya perlu menindaklanjuti bukti yang tak perlu susah-susah kalian cari."


"Wow, wow. Amazing. Baru kali ini kami mendapat bukti dari tersangka langsung. Ini luar biasa, kegagalan kami dibayar tuntas dengan hamilnya seorang Jasmine Adriana."


Candra bertepuk tangan, ia semakin terpesona dengan kelihaian Jasmine menaklukan musuh.


"Dia mencintai adik saya dengan tulus, tanpa di minta pun saya akan melakukan berbagai cara seperti yang dilakukan Jasmine untuk adik saya. Kau tahu artinya? Kalian menangkap dua kartel besar di negara ini. Aku pastikan bukan reward yang sedikit dari negara untuk kalian."


"Hahaha, aku paham anak muda, Baiklah. sambil menunggu pergerakan target utama. Bagaimana kalau kita bersenang-senang! Kau mau gadis?" Tanya Candra seraya di tatap heran oleh Husein.


"Maksudnya?"


"Bersenang-senanglah dengan seorang gadis anak muda, sebelum kau akan mati dengan statusmu yang masih perjaka."


"Cih!"


Husein menatap Candra dengan tajam, "Aku akan menjaga keperjakaan ku untuk wanita satu-satunya di hidupku nanti."


Candra tertawa, "Kau hebat anak muda, jagalah sper*a mu untuk satu wanita saja. Yasudah ajak anggotamu yang lain menuju bar di belakang gudang."


Malam itu diakhiri dengan bersenang-senang anggota Brandles Wolfgang dan kartel Nicolas di bar yang menyajikan banyak minuman bersoda dan bir dengan alkohol 10%.

__ADS_1


Next ----->


__ADS_2