
Pagi harinya, Jasmine mendapati kekasih hatinya duduk diatas kursi roda dan masih menggenggam erat tangannya. Ia masih tertidur dengan pulasnya. Terlihat wajahnya sembab, apa mungkin semalam Bryan menangis.
Jasmine tersenyum, Pantas saja tanganku rasanya berat. Eh, ehm apa yang terjadi, kenapa aku ada di ranjang pasien. Ehm, apa ini.
Jasmine meraba-raba bagian intimnya, terlihat tonjolan seperti ia sedang memakai pembalut sama seperti saat ia sedang haid.
Apa yang terjadi denganku, sayang. Sayang bangunlah. Ku mohon, Heyy. Siapa saja yang mendengar ku, apa yang terjadi dengan ku.
Jasmine sedikit berteriak. Ia meraba-raba perutnya, rasa nyeri yang menjalar di bagian perut dan punggungnya semakin membuatnya ketakutan.
Sayang, bangun. Apa yang terjadi dengan ku.
Jasmine terus mengguncang tubuh Bryan. Hingga mata sembab itu perlahan membuka matanya.
"Bryan." Jasmine menutup kedua wajahnya, tangisnya memecah keheningan pagi.
"Bryan, maafkan aku....,"
"Aku tidak bisa menjaganya, Aku tidak bisa menjaga bayi kita. Aku terlalu mengkhawatirkan mu."
Tangan Jasmine menggenggam tangan Bryan, menempelkannya pada pipinya yang basah oleh air mata. "Tolong maafkan kecerobohanku Bryan, harusnya kau bisa bahagia mendengar kabar jika aku mengandung anakmu. Maafkan aku."
Jasmine memejamkan matanya, bersama air mata yang menetes deras. Bryan yang tak bisa banyak bicara hanya mampu mengusap lembut air mata Jasmine.
Sekelebat ucapan Shally kemarin jika Bryan mengalami lumpuh dan sulit berbicara. Membuat Jasmine harus memilih, menjadi wanita menyedihkan atau kuat dan berusaha mendampingi keadaan Bryan.
Ia juga harus mengingat waktu bersama suaminya hanya ada satu Minggu.
"Bryan...," Jasmine membuka matanya. "Kau marah, apa kau mau menceraikan ku dan mencari gadis perawan?" Tanyanya dengan wajah sendu.
Jasmine hanya melihat Bryan yang menggeleng sembari tersenyum. "Tidak apa-apa, jangan di paksakan." Jasmine terduyun-duyun mengangkat tubuhnya.
"Terimakasih."
Jasmine tersenyum, saat Bryan berusaha membantunya dengan menarik tangannya.
"Sayang, aku rindu." Jasmine memeluk leher Bryan, karena hanya itulah bagian yang bisa dijangkau oleh tangannya. Sedangkan Bryan memeluk pinggang istrinya, ia mengelus perut Jasmine. Nanti ku hujani lagi rahimmu dengan benih superku sayang. Batinnya sambil tersenyum.
Pemandangan pagi ini tak lepas dari mata Raka yang berdiri di ambang pintu. Ia melihat kakaknya bisa tersenyum, atau kakaknya sedang menyembunyikan rasa sedihnya di depan suaminya.
"Raka?" Jasmine memanggil adiknya saat tahu adiknya berdiri sembari membawa nampan berisi makanan.
"Kemarilah." Jasmine melambaikan tangannya.
Raka menghela nafas. Ia melangkahkan kakinya mendekati Jasmine.
"Bagaimana keadaan kakak?" Raka menaruh nampan di atas nakas. Namun, tatapan Raka menghujam tajam ke arah Bryan.
__ADS_1
"Lihatlah, kakak sudah lebih baik. Bisakah kau berkedip, atau Kakak akan mencongkel matamu yang tidak sopan!"
Raka mendengus, "Makan dan minum obat kakak. Dokter menyarankan untuk bedrest selama tiga hari. Kakak juga tidak boleh banyak pikiran."
"Baik, kakak dengan senang hati bedrest disini. Raka...,"
"Apa?" Raka masih menatap tajam ke arah Bryan, Bryan yang mendapat terkaman maut itu hanya bisa tersenyum.
"Sopalah dengan suami kakak! Bawa nampan itu kemari!" Jasmine menunjuk hidangan sarapan paginya
Rasanya Raka ingin mencakar-cakar wajah kakaknya. Menyebalkan.
Raka menaruh nampan itu diatas paha Jasmine. "Makan dan istirahat!"
"Raka...," Panggil Jasmine sembari tersenyum, sepertinya ia menyadari jika ia terlalu galak dengan adiknya. "Raka, sopanlah. Kakak tidak akan marah."
"He'em, aku akan keluar sebentar. Jika kakak butuh sesuatu. Teriak saja."
Raka mengacak-acak rambut Jasmine. "Kau...!" Kini tatapan Raka menghujam lagi ke arah Bryan.
"Jangan buat kakak ku menangis karena melihat mu yang menyedihkan!"
"Raka!!!" Jasmine melotot, "Sudah kakak bilang, sopanlah!"
Raka tak membalas teriakan kakaknya, ia mengangkat tubuh Bryan ke atas ranjang. Jasmine terkesiap, dengan perlahan dia mengangkat tubuhnya memberi ruang untuk Bryan berbaring.
Jasmine tersenyum dan mengibaskan tangannya.
"Sudah dibantu, ngusir lagi."
Nikmati waktumu kak.
Raka berbalik dengan sunggingan senyum yang menghiasi wajahnya.
Di ranjang pasien yang nampak sempit dengan dua orang dewasa yang berada diatasnya. Jasmine kebingungan bagaimana caranya ia menyantap sarapan paginya.
Bryan bersandar, ia mengerti kesulitan yang Jasmine alami.
Bryan menarik nampan dan menggenggam sendok ditangannya.
"Sayang, apa yang mau kau lakukan?"
Bryan menaruh jari telunjuk di depan mulut Jasmine.
Dengan hati-hati Bryan mengangkat sendok berisi makanan. Ia menyuapi Jasmine seperti dulu saat mereka masih berada di kediaman Bryan.
Jasmine tersentuh dengan perlakuan Bryan yang tak berubah. Air matanya menggengam, Bryan yang mengetahui itu, lantas menggeleng. Ia menggenggam tangan Jasmine. Jangan menangis lagi. Katanya gagu.
__ADS_1
Jasmine mengangguk, ia bergantian menyuapi Bryan.
Senyuman terus menghiasi wajah kedua manusia dengan cerita cinta yang rumit dibaliknya. Pandangan itu tak lepas dari Dika yang meringsek masuk ke dalam markas besar. Memaksa Raka untuk melihat keadaan Jasmine, Dika berdiri di ambang pintu yang memang tidak tertutup. Ia mendapati sepasang kekasih yang tidur sembari memegang tangan satu sama lain. Dika berjalan mendekati kedua orang yang terlelap karena pengaruh obat.
Jadi seperti ini wajah laki-laki yang membuatmu berhasil melupakan, baby. Dia memang masih muda dan tampan, Aku akui.
Dika membenarkan selimut yang tersibak, melabuhkan kecupan di kening Jasmine sebelum langkah kakinya ia bawa keluar dari kamar yang membuat hatinya menjerit.
Di sisi lain markas besar. Terjadi perdebatan alot antara Raka dan Kamto.
"Lagi-lagi kau tidak bisa menjaga kakakmu yang ceroboh itu!"
"Kenapa ayah menyalahkan Raka, kenapa ayah sendiri tidak membantu kakak kemarin. Kakak tidak akan kehilangan bayinya jika ayah merestui kakak dengan laki-laki itu!"
"Cukup Raka! Dimana kakakmu sekarang?" Tanya Kamto membentak Raka, Kamto tahu jika ia sendiri ketakutan akan kehilangan putrinya.
"Jika ayah mau menganggu kakak dengan suaminya, Raka tidak akan tinggal diam."
"Jadi dia bersama suaminya? Apa yang mereka lakukan?"
"Tidur, ayah lihat sendiri di kamar perawatan. Jika ayah mau melihat kakak bahagia, jangan pernah menganggu kakak dengan kehadiran ayah disini!"
Kamto tersenyum kecut, ia mengacuhkan ocehan Raka dan berjalan keluar menuju ruang perawatan.
Hal yang mengejutkan juga ia dapati, ia malah mendapati Dika yang mengecup kening putrinya.
Kamto menunggu Dika keluar, ia berdiri membelakangi pintu.
"Ayah?" Panggil Dika lirih.
"Hmm, pergilah. Sebelum kau membuat semua menjadi kacau."
"Maksud ayah?" Tanya Dika bingung.
"Apa perlu ayah mencoba membunuhmu untuk kedua kalinya, Dika! Jangan pikir ayah tidak tahu kelakuan mu akhir-akhir ini."
"Ayah tahu?"
Kamto menatap tajam kearah Dika, "Lepaskan putriku, Dika Andrea Bhagawanta. Jika kau tidak mau karirmu hancur!"
Dika tertawa, "Jasmine adalah ibu dari anak-anakku, ayah. Sampai kapanpun kita akan bertemu dan terus berhubungan sebagai ikatan keluarga. Jadi ayah tidak bisa menyuruhku untuk melepas Jasmine."
Plak, Kamto memukul kepala Dika. "Egois, keras kepala, dan ingin menang sendiri."
Kamto meninggalkan Dika dan masuk ke ruang perawatan.
Baiklah, kita lihat apa yang bisa kalian lakukan untuk mendapatkan restu dariku anak-anak ku.
__ADS_1