Kiss The Rain

Kiss The Rain
Ke panti asuhan.


__ADS_3

Sidang pertama yang harusnya di gelar Minggu ini, harus di undur dengan alasan tersangka utama yang harus di bius karena semalaman mengamuk.


Namun sidang tetap berlangsung dengan pembacaan perkara awal yang di hadiri oleh ke 18 pengawal Bryan sebagai saksi.


Tim Brandles Wolfgang sendiri mengikuti jalannya persidangan. Dan mereka sudah menyiapkan diri dengan kemungkinan yang terjadi. Bentroknya sidang yang di hadiri oleh kelompok Fox Adois.


Ya, walaupun mereka di tempat kan di ruang yang berbeda. Tapi dengan jelas, jika tatapan sengit yang di tunjukkan oleh Fox Adois dan Shally sebelum jalannya proses pengadilan, menunjukkan bahwa mereka akan melakukan berbagai cara untuk meringankan tuntutan hukum.


*


Di Gedung Bhagawanta Group, tepat di ruangan Dika.


Jasmine menyandarkan dirinya di atas sofa. Menunggu Dika menyelesaikan tugas dan bergegas pergi ke panti asuhan.


"Apa slalu lama kau bekerja, Dika. Membosankan." Gerutu Jasmine, tapi matanya melihat siaran berita di TV.


"Memang banyak yang aku kerjakan, baby. Sabar, setelah makan siang nanti kita berangkat ke panti." Dika tak melihat Jasmine, ia masih terus mengetik laporan di meja kerjanya.


"Hari ini dia tak terlihat, Dika. Sidangnya di undur, apa yang terjadi." Adu Jasmine pada mantan suaminya.


"Suamimu pasti sedang terapi, tidak mungkin dia menghadiri sidang tapi keadaannya tidak memungkinkan. Sabarlah, jika kau rindu kau bisa menjenguknya kan." Nasihat Dika yang di angguki Jasmine.


"Tapi, aku tidak sanggup. Raka tidak memperbolehkan ku mengungkap status pernikahan ku dengan dia."


"Jadi sabar saja dulu dan diamlah. Kau akan mengacaukan tugasku."


"Pantas saja, Manda tidak mau kesini. Disini hanya kau acuhkan."


"Manda biar di rumah saja mengurus anak-anak."


"Dika, nyanyi gih biar tidak sepi." Bujuk Jasmine yang terus melihat layar TV.


Dika menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Ia memutarkan playlist musik dari laptop.


"Hentikan lagu itu aku tidak suka." Protes Jasmine saat mendapati Dika memutar lagu lawas yang berjudul Having you near Me.


"Bagus, kau kan lagi berharap bertemu dengan suamimu dan berdekatan dengannya." Dika tidak tahu jika lagu itu pernah menemani kisah cintanya dengan Bryan. Saat Bryan mengantar Jasmine menuju sekolah Asmira sebagai hadiah karena Jasmine menjadi istri yang baik.

__ADS_1


"Kau semakin membuatku rindu padanya."


Dika menutup laptopnya dan berjalan mendekati Jasmine.


"Jangan nangis lagi, aku lelah melihatmu menangis sepanjang hari."


"Dika...,"


"He'em, apa?"


"Apa kau tidak punya sekertaris?"


"Tidak, Dea sudah merangkap sebagai sekertaris dan resepsionis."


"Kau tidak tertarik padanya?"


Dika tertawa, "Hanya dua wanita di hidupku. Kamu dan Amanda. Aku sudah pusing memikirkan kalian berdua, jadi aku tidak mau lagi ada wanita baru di hidupku."


"Dasar otak udang! Pikirkan satu wanita saja, bodoh." Jasmine mematikan layar TV dan berbicara berapi-api di depan Dika.


"Tidak bisa, dua wanita yang hilang keperawanan karena roti bantetku harus ku kenang selama hidupku."


"Tapi kan tidak, aku tahu kamu orang baik. Jadi aku bersyukur bertemu dengan mu, mencintaimu dan di cintai. Aku bersyukur dengan pertemuan kita dulu, Jasmine. Jadi jangan salah kan aku yang tidak bisa melepasmu."


"Dika aku mendengar suara mu jadi lapar, biasa kan kita makan dulu terus ke panti asuhan."


"Kau masih memiliki nafsu makan yang banyak ternyata. Tidak berubah, kau memang seperti Asmira." Dika mencubit hidung Jasmine.


"Dia memang putriku, kau mendapatkan gadis yang akan sama denganku. Jadi kau harus pastikan memberi perhatian lebih padanya. Jika tidak, kau sudah tahu sendiri bagaimana aku saat muda. Apa lagi ada darah menyebalkan yang mengalir dalam darah Asmira."


"Darah menyebalkan?" Dika mengernyit.


"Iya darahmu, kau kan orang paling menyebalkan yang pernah ku kenal." Jelas jasmine sambil tertawa.


"Sudah ayo makan siang, waktu kita akan banyak tersita di perjalanan nanti." Dika menarik tangan Jasmine keluar dari ruangannya.


Banyak pandangan mata yang melihat kedekatan Jasmine dan Dika. Bahkan tak jarang, Dika merangkulkan tangannya di pundak Jasmine.

__ADS_1


Sungguh tidak tahu diri sekali, pria satu ini.


"Lepas Dik, kau semakin akan menggemparkan berita yang beredar."


"Hahaha, kau di serang wartawan?"


"Urusanku makin rumit kalau kau menambah berita lagi yang menyangkut tentang ku." Jelas Jasmine dengan nada sebalnya.


"Okelah, asal kau mau menjadi rekan Bisnisku di Bhagawanta Group ini. Aku pastikan nama mu sllu baik."


Jasmine hanya berdehem tanpa melihat ke arah Dika.


*


Selepas makan siang, Jasmine dan Dika berada dalam satu mobil. Mereka akan menempuh perjalanan jauh ke batas kota tempat dimana panti asuhan milik Bryan berdiri.


"Kau yakin tahu alamat ini?" Tanya Jasmine sambil menunjuk alamat yang tertera di sertifikat tanah.


"Kalau jalannya aku tahu, tapi alamat tepatnya nanti kita tanyakan sama warga disana." Jawab Dika dengan mata yang memperhatikan jalanan di depannya.


"Jika kau lelah, kita bisa berganti kemudi nanti." Jasmine menguap.


"Tidurlah, aku bangunkan nanti kalau sudah sampai alamatnya."


"Baik, tapi jangan menyentuhku. Kita haram, kamu paham?"


Dika tertawa, "Memang kamu mau aku halali lagi, menjadi istri ke dua ku." Jelasnya tanpa merasa bersalah dengan ucapannya.


"Berbagi madu, tidak lucu!" Jasmine melengos.


"Hanya bercanda, jangan di masukan hati."


"Aku tidur saja lah, daripada harus menatap mu yang menyebalkan. Sudah tua, jangan sering-sering makan gula nanti kamu tambah manis." Jasmine menutup wajahnya dengan penutup kepala.


Sedangkan Dika hanya tersenyum saat mendengar ocehan Jasmine. Dari dulu Jasmine memang sering berkata jika Dika adalah laki-laki manis dalam hidupnya. Sebelum ketololan membuatnya kehilangan kata manis yang berganti dengan orang bodoh.


Sampai saat ini pun Jasmine belum membuka surat dari Bryan. Ia masih menyimpan nya. Ia tidak tahu jika Bryan sudah menceraikannya lewat tulisan. Apa bisa begitu, Bisakah Jasmine menerima keputusan Bryan dan memulai jalan hidupnya dalam kesendirian.

__ADS_1


Entah sampai kapan surat itu hanya akan ia simpan dalam tasnya.


__ADS_2