
Tak lama setelah makan malam selesai, Husein tiba sembari mengernyitkan dahinya, "Ma, Pa, kalian ada disini?" Tanyanya, sambil tangan kanannya menyeret kursi untuk bergabung dengan keluarganya.
"Husein, sudah makan malam?" Rose mengajukan pertanyaan saat putra sulungnya baru saja mendaratkan bokongnya diatas kursi.
"Sudah, Ma. Apa ada ini? Bryan, ada apa?" Tanyanya lagi.
Semua orang tampak saling melempar tatapan, "Kita bicarakan diruanganku kak."
"Baiklah, ayo." Ajaknya sembari mengangkat tubuhnya yang belum 5 menit menempel pada kursi.
"Aku gimana, kalian tidak mengajakku?" Jasmine menaik-turunkan jari telunjuknya, ke empat pasang mata melirik Jasmine dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Sayang, tunggu aku dikamar." Bryan menyengir, sembari tangannya mengelus pucuk kepala Jasmine.
Bibirnya sudah mengerucut. Kakinya bukan lagi sudah menggeretakan di atas lantai, "Sebel."
"Hanya sebentar." Bujuk rayu Bryan lagi.
Jasmine melengos, melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, melepas sendal gemesnya dan melemparkan tubuhnya di atas ranjang, bibirnya masih tak mau kalah meracau, "Udah sembilan bulan juga masih gak boleh masuk kesana."
"Lihatlah, istrimu sudah tua tapi masih seperti anak kecil." Ejek Husein.
"Enak saja kakak bicara, dia hanya tidak mau jauh-jauh dengan ku." Sergah Bryan cepat.
"Itu hanya alasan saja, jangan bangga kamu Bryan."
"Bilang saja kakak cemburu, carilah istri biar kakak tahu apa itu rapat dan kesat."
"Rapat dan kesat, maksudmu?"
Bryan menghentakkan bahunya, "Aku juga tidak tahu."
Rose menepuk dahinya sendiri, "Bisakah kalian bersikap dewasa. Husein, carilah wanita biar kau tak slalu mengejek adikmu."
"Biarkan saja, Ma. Mereka tidak saling mencintai, yang mereka lakukan hanya perkara ranjang."
Rose menggeleng, "Dari dulu kalian merebutkan seorang wanita. Wanita di dunia ini banyak Husein, bahkan laki-laki diijinkan menikahi 4 wanita jika dia mampu."
Husein dan Bryan tampak terbelalak dengan penjelasan ibunya, "Beneran, Ma. Apa boleh begitu?"
Rose mengangguk, "Jika kalian tidak takut dengan istri kalian, hahaha." Tawa Rose sedikit mengejek, "Satu saja wanita tidak habis-habis apa lagi empat sayang. Mama saja membayangkan sudah cakep sendiri."
Bryan terkekeh, "Satu saja tidak habis-habis, Ma. Dia slalu punya banyak gaya."
"Sudah cukup, lihatlah kakakmu." Anthony menunjuk wajah Husein yang sudah masam.
"Kalian tidak punya akhlak." Husein membuang muka.
"Makanya kakak jangan jadi jomblo abadi."
__ADS_1
"Cukup! Masalah kita lebih penting, jadi mau bagaimana ini?" Anthony membuka pembicaraan.
"Ada apa, Pa?" Husein yang masih tak menyadari pun juga ikut angkat bicara.
"Fox Adois meminta adikmu untuk menjadi suami anaknya, Shally. Adikmu menolak, dia bilang sudah memiliki istri." Tak sampai disitu Anthony juga menjelaskan panjang lebar tentang penjaga Fox Adois yang membabi buta.
"Runyam." Husein menatap Bryan dengan tajam, "Apa kau tidak bisa menjaga mulutmu Bry, jelas-jelas dari dulu Shally menyukaimu."
"Mau sampai kapan lagi kak aku menyembunyikan statusku. Walaupun hanya menikah siri aku tetap mencintainya."
"Apa kalian juga akan melakukan perang saudara, dengarkan mama wahai anak-anakku." Rose menggenggam kedua tangan putranya, "Jodoh dan maut ada di tangan sang Pencipta, cinta terkadang memperlakukan manusia dengan gila. Bijaklah jika kalian mencintai seseorang bahkan itu dengan wanita yang sama. Mama tahu Jasmine memang berarti untuk hidup kita. Tapi mama mohon jangan pernah ada perselisihan yang terjadi, tetaplah kuat bersama. Masalah kita bukan hanya disini saja, banyak hal yang masih harus kita selesaikan."
Rose menepuk kedua bahu anaknya, "Husein bukalah hatimu untuk wanita lain, mama percaya kau bisa."
Anthony yang melihat kedua anaknya hanya bisa menghela nafas panjang. "Apa Fox Adois mengetahui nama istrimu?"
Bryan menggeleng.
"Bagus, jika begitu dia tak akan menyentuh keluarga istrimu."
"Hubungi semua kepala gudang, perketat semua penjagaan." Titah Anthony yang tak bisa dibantah, Bryan hanya mengangguk. Ia berdiri dan keluar dari ruangan pribadinya.
Kini hanya tersisa ketiga orang yang masih sibuk dengan pikirannya masing-masing,
"Husein, mama tahu ini berat untukmu. Kau sudah banyak berkorban untuk adikmu, rasanya memang tidak adil. Tapi mama mohon untuk kali ini berkorbanlah lagi untuk adikmu, biarkan Bryan bahagia." Rose memeluk erat tubuh putranya. "Maafkan Mama."
"Jika sampai terjadi sesuatu, aku tak akan memaafkan mereka."
"Maafkan papa, jika dulu papa tak menyentuh barang sialan itu. Pasti kita tak terjerumus di kubangan hitam." Anthony mengusap wajahnya kasar.
"Sudahlah, Pa. Kita hanya perlu bersiap dengan apa yang akan terjadi setelah ini." Husein bersikap dewasa, jika dulu dia slalu mengalah dalam hal berbagi makan atau mainan. Kini Husein harus merelakan wanita yang ia kagumi demi kebahagiaan adiknya. "Husein mau keluar dulu Pa, Ma." Pamit Husein sembari menutup pintu.
*
Malam semakin larut, dua orang masih terlihat bercengkrama di atas ranjang.
"Sini sayang." Bujuk Bryan melambaikan tangannya.
"Gak mau." Sergahnya cepat.
"Kenapa? Kan hanya sebentar aku ninggalin kamu."
"Kamu jahat." Jasmine membuang muka, memeluk guling sebagai pembatas mereka berdua.
"Jahat gimana?" Tanya Bryan heran.
"Tau aja bete, sudah sana tidur." Jasmine menarik selimut, menutupi sebagian tubuhnya.
"Jelaskan dulu, aku jahat di bagian mana?" Bryan menyibakkan selimut dan menarik Jasmine dalam pelukannya.
__ADS_1
"Jelaskan babe, biar aku perbaiki." Bujuknya lagi.
"Kenapa kamu tidak mengizinkanku masuk ke ruanganmu, apa isinya?" Jasmine berbalik, membulatkan matanya.
"Haha, hanya karena itu kamu ngambek, Lucu!" Cubitan mendarat di pipi Jasmine.
"Gak ada apa-apa di dalam sana sayang." Jelasnya dengan nada lembut.
"Lalu kenapa aku tidak boleh masuk?"
"Memang tidak ada yang boleh masuk kecuali keluarga ku."
"Lalu, kamu tidak menganggap ku keluarga. Terus aku apa, hanya simpanan mu, budak sexmu ?" Mengerucut lagi bibirnya.
"Ternyata begini jika wanita ngambek, lucu."
"Apanya yang lucu, huh." Jasmine membuang nafas panjang.
"Wajahmu lucu, tidak ingat ya kamu sudah punya dua anak. Berhentilah cemberut seperti itu, malu." Goda Bryan lagi sambil menyunggingkan senyumnya.
"Bryan!"
Bughh, bughh, bughh. Jasmine memukul tubuh Bryan berkali-kali dengan guling. "Mau bilang kalau aku jelek, udah tua gitu. Ayo kalau berani bilang begitu."
Bryan terkekeh melihat tingkah laku Jasmine, "Kamu kayak ABG sayang. Gemes, sini deh."
Jasmine hanya menatap Bryan sambil menentengkan tangannya di pinggang, "Tidur sana diluar."
Tawa Bryan semakin mengeras, "Sudah berani ya. Tidak ingat kamu siapa, Hmmm." Gemas Bryan melihat tingkah laku Jasmine, ia turun dari atas ranjang dan menghampiri Jasmine. Wajahnya Bryan berubah menjadi serius dan dingin.
"Jangan mendekat."
"Tidak ingat ya kamu siapa, kamu hanya tawananku disini. Jadi menurutlah." Dengan sigap Bryan membopong tubuh Jasmine dan melemparnya di atas ranjang.
"Bryan!"
"Hahaha, lihatlah. Kamu menggodaku babe." Bryan beranjak ke atas ranjang, kakinya sudah menindih kaki Jasmine dan membelitnya.
"Ganti saja model baju tidurnya, aku risi memakai baju seperti ini."
"Tapi aku suka babe, kamu seksi dan apa adanya."
"Tapi aku yang pakai, coba saja kamu pakai baju tidur seperti ini, kurang bahan." Cecar Jasmine sambil menarik-narik kakinya, bukan malah melepas belitannya. Bryan semakin menindih kaki Jasmine.
"Inilah esensi baju tidur sayang, cup." Bryan mencium kening Jasmine, melepas belitan kakinya. Kini tubuhnya bersandar pada bahu ranjang. Tangannya ia gunakan sebagai tumpuan kepalanya.
Jasmine mendongkak, "Bryan?"
*
__ADS_1
Happy reading 🤗
maaf hanya satu episode,besok nyusul 🙏