Kiss The Rain

Kiss The Rain
Three day with you.


__ADS_3

Hotel Sheraton.


"Kenapa berhenti di hotel?" Jasmine terperanjat saat mobil yang ia tumpangi berhenti di depan lobby hotel.


"Tidur." Jawab Husein singkat sambil membuka pintu otomatis mobilnya.


"Tidak!"


"Ayo keluar." Ajaknya tersenyum.


"Untuk apa di hotel, di rumah saja bisa."


"Hanya ada aku dan kau, keluarlah. Atau aku sama sekali tidak akan mengantarmu pulang ke rumah. Anggap saja Ini sebagai gantinya kau bedrest di rumah sakit."


"Berjanjilah untuk tidak mengkhianati adikmu, atau aku akan berteriak jika kau akan memperkosaku." Jasmine keluar dari mobil dengan baju yang sudah koyak, jika bukan warna hitam baju itu sudah terlihat banyak bercak darah.


"Bagus." Husein menyerahkan kuncinya pada valet servis.


Dengan langkah bersama mereka berdua mendekati meja resepsionis.


Tampak Husein mengambil dompet dari saku celananya. Berbicara sebentar dengan resepsionis bernama Nicky.


"Pesan dua kamar yang berbeda." Jasmine berbisik.


Husein menggeleng.


"Twin bed." Jasmine kembali berbisik.


Husein menggeleng lagi.


"Gila, aku tidak mau seranjang dengan mu. Ini bisa termasuk perselingkuhan. Aku tidak mau!"


Jasmine menyilangkan tangannya di depan dada.


"Aku sudah minta, tiga hari saja bersama ku!"


"Husein gila."


Perdebatan kecil terjadi di depan meja resepsionis. Hingga Nicky yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka menengahi Jasmine dan Husein.


"Uhuk, saya sudah sering melihat tamu seperti ini. Jadi bagaimana, mau pesan kamar atau tidak? Atau mau saya panggilkan security." Nicky tersenyum, namun nada bicaranya jelas menyindir.


"Pesan Twin bed, extra servis dan satu lagi, siapkan susu coklat hangat setiap pagi dan malam."


Husein berucap sembari menyerahkan kartu Atm-nya.


"Untuk berapa hari Tuan?"


"Tiga hari."


"Baik, silahkan menuju lantai 5 dengan nomor 227."


Nicky menyerahkan kembali kartu ATM Husein berserta key-idcard.


Baru kali ini aku melihat sepasang manusia yang ribut perkara tidur. Tidur doang, apa susahnya. Jika mereka suami istri kenapa harus twin bed. Aneh sekali, apa mereka baru bertengkar atau bosan mencium aroma tubuh yang sama. Tapi wanita itu tadi tampak sedang gelisah, jidat dan sikunya juga kenapa di perban. Apa wanita itu korban kdrt. Tapi laki-laki tadi, Ahhhh.


Nicky menepuk jidatnya, jam malam membuatnya sedikit butuh hiburan selain secangkir kopi yang sengaja ia taruh di bawah meja.


Husein dan Jasmine berjalan beriringan. Hingga Jasmine mencium aroma bakery yang menusuk lubang hidungnya.


"Husein, lapar." Katanya lirih.


"Mau berapa potong?" Husein seakan mengerti tatapan haus Jasmine pada roti diatas nampan yang mengepul asap tipis sisa pengovenan.


"Dua saja."

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Husein meninggalkan Jasmine yang hanya berdiri menunggu di depan lift.


10 menit menunggu, kini malam menunjukkan pukul setengah satu pagi. Husein selesai memesankan beberapa macam kue untuk Jasmine, satu cup kopi dan satu cup lagi susu coklat hangat.


"Ayo." Tarikan tangan Husein mengagetkan Jasmine yang melamun.


"Berapa harga sewa semalam di hotel ini?" Tanyanya saat lift itu bergerak ke atas.


"Tidak perlu tahu, kau hanya perlu menikmatinya saja."


"Jangan menyentuh ku!"


"Tidak."


Jasmine tersenyum kecut, "Awas saja, aku lebih baik mati dari pada harus tidur seranjang dengan mu."


Pintu lift terbuka.


Jasmine dan Husein berjalan di lorong hotel, terasa sepi dan temaram.


Tibalah mereka di depan kamar 227.


Jasmine melangkahkan kakinya dengan ragu.


Sedangkan Husein sudah mendudukkan bokongnya di atas sofa. "Cuci tanganmu dan makanlah."


Jasmine mengangguk. Ia berjalan menuju wastafel di dekat kamar mandi.


"Berapa ukuran baju dan dalaman mu?" Tanya Husein tanpa menatap Jasmine. Ia sibuk bermain dengan ponsel miliknya.


"Untuk apa?" Jasmine berjalan mendekati Husein dan menyeruput susu coklat hangatnya.


"Apa selama tiga hari kau tidak akan berganti baju?"


"Jawab saja dan makan rotimu." Husein menyimpan ponselnya di balik punggungnya.


Ehm, ehm.. Hanya Bryan dan Dika yang tahu ukuran dalamanku. Masak iya laki-laki ini harus tahu juga, memalukan!


"Ayo jawab, biar besok pagi barangnya lekas datang."


"Hah." Wajah Jasmine merah padam.


"Ehm,ehm...., 38B."


Jasmine menyaut kuenya dan berjalan menuju ranjangnya. Ia memunggungi Husein yang sedang menyunggingkan senyum.


"Besar juga, pantes Bryan bisa seharian tak melepasmu."


Jasmine yang mendengarnya, hampir tersedak oleh kuenya.


"Hahaha, hanya ada aku dan kau sekarang."


Jasmine berbalik, mengawasi gerak-gerik Husein dengan mata elangnya.


"Aku bukan maling yang perlu kau awasi."


"Kau sudah berjanji untuk tidak menyentuh ku."


"Habiskan makan mu dan tidurlah."


"Tidak mau, kau belum berjanji."


"Cerewet, ini sudah hampir jam satu. Habiskan kuenya dan minum vitamin mu. Aku tidak mau calon keponakan ku hilang karena keegoisan mu!"


"Husein...," Jasmine sedikit terkejut saat Husein menaikkan nada bicaranya.

__ADS_1


"Sudah habiskan, aku tidak akan tidur jika kau belum tidur!"


"Baik."


Menyebalkan, bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika harus sekamar dengan laki- laki yang bukan suamiku. Rasanya aneh.


Jasmine mengunyah kuenya dan menghabiskan susu coklatnya. Sesekali tatapannya mencuri pandang Husein yang sedang sibuk bermain ponsel.


Tubuhnya beranjak menaiki ranjang, membenamkan tubuhnya yang letih di balik selimut. Pikirannya melayang pada kekasih hati nun jauh disana.


Aku sama sekali tidak menghianatimu Bryan. Semua ini aku lakukan untuk dirimu. Bertahanlah dimanapun kau berada demi diriku dan anak kita.


Husein yang menyadari Vitamin dan obat milik Jasmine belum di minum, ia bergegas menghampirinya. Membawa segelas air putih dan segenggam obat.


"Bangunlah, kau melupakan ini."


"Ah, ya. Maaf merepotkan mu." Jasmine bangkit dari tidurnya mengambil obat dan air putih yang Husein taruh di atas nakas.


"Tidak perlu cemas, aku tidak akan berbuat jahat kepadamu."


*


Keesokan paginya, Jasmine yang terbangun lebih awal mendapati Husein yang masih tidur terlelap.


Aku, lapar. Ini bisa menjadi kesempatan ku untuk kabur dari sini.


Bersama dengan itu bell kamar berbunyi, Jasmine mendengus sebal saat melihat Husein yang menggeliat.


"Brisik, buka saja pintunya. Key-idcardnya ada di atas meja."


"Husein, kalau aku kabur gimana?" Jasmine berusaha menggoda.


Husein terperanjat dari tidurnya. Matanya masih terpejam, hingga ia berjalan dengan berduyun-duyun menuju pintu kamar.


"Hmmm, hmm."


Petugas room servis hotel masuk membawa troli berisi sarapan pagi. Begitu juga dua paperbag berwarna coklat dengan ukuran besar.


"Terimakasih." Husein memberi tips dan menutup kembali pintu kamar. Dengan langkah malas Husein mendorong troli mendekati sofa, tangannya membuka paperbag satu persatu.


"Mau mandi dulu atau mau sarapan?" Tanya Husein sembari menenteng salah satu paperbag ke arah Jasmine.


"Mandi dulu."


"Pakai ini. Selesai mandi makanlah sarapan mu."


Jasmine menerima paperbag yang Husein serahkan. Ia mengambil isi di dalamnya.


Matanya langsung terbelalak dengan baju pilihan Husein, begitu juga dengan underwear nya.


"Semua ini pilihanmu, uncle?"


"He'emm."


"Maacih, uncle."


Sudah lama aku tidak memakai kaos band, bagaimana dia bisa tahu. Dalaman ini juga tidak lebay. Celana dalamnya juga. Hahaha, aku suka pilihannya.


Jasmine melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Uncle, jangan mengintip." Jasmine berteriak dari dalam kamar mandi.


Ngintip ibu-ibu hamil, Cih!


Husein kembali membenamkan wajahnya di atas bantal. Rasa kantuknya masih membuatnya ingin bermalas-malasan diatas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2