
Jasmine keluar dari lapas, wajahnya nampak serius. Dika yang menyesap rokoknya di bangku taman melihat wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa.
"Ke lapangan tembak sekarang!" Titahnya lantang.
"Ada ada, kenapa buru-buru, udah ketemu pacarmu?" Tanya Dika, kakinya menginjak putung rokoknya dan masuk ke dalam mobil.
"Diam!" Jasmine mengacak-ngacak rambutnya, melepas
ikat tali rambut dan menggerai rambutnya.
"Jika dia harus mati! Biarkan dia mati di tanganku." Ucap Jasmine lirih.
"Hei, kamu tidak kesurupan kan. Aku sedang belajar doa mengusir hantu dari anak-anak panti. tapi aku belum hafal, jangan kesurupan sekarang ya." Pinta Dika dengan konyolnya.
"Sudah aku bilang diam ya diam!" Sergah Jasmine cepat, sambil menyelipkan pistolnya di balik punggungnya.
"Wow, ada apa ini? Apa wartawan tadi mengganggumu?"
"Mulutmu kau tinggal saja di rumah, sudah ku bilang diam ya diam!"
Dika mengangguk, wajah Jasmine yang sudah terlihat menegang pasti sudah terjadi sesuatu. Karena biasanya jika keluar dari lapas, senyum itu akan slalu mengembangkan dengan menimang-nimang rantang pink di tangannya.
Tibalah mereka di lapangan tembak, terlihat pagar beton yang mengelilingi lapangan. Menutup mata dari banyaknya darah yang mengalir merembes ke bumi.
Jasmine turun dengan tergesa-gesa, ia berjalan menuju pintu penjaga'an. Menodongkan pistolnya, "Buka pintunya!"
Dika berdiri di belakang Jasmine, memberi sorot mata tanda untuk menuruti perintahnya.
Tergesa-gesa penjaga pintu membuka gembok dan rantai pagar.
Jasmine meringsek masuk, tubuhnya seketika lemas mendapati Bryan dan keluarga lainnya. Berdiri dengan penutup mata tetap di tembok sasaran.
Tangannya di ikat ke belakang, begitu juga dengan kakinya. Mereka berempat berdiri di hujani terik matahari yang teramat menyengat.
Beberapa anggota polisi yang menjadi malaikat maut untuk Bryan dan keluarganya menahan tubuh Jasmine. Tubuh wanita itu terus meronta-ronta, meminta untuk di lepaskan.
"Jangan sekarang, jangan biarkan dia mati sekarang. Aku mohon."
Dika menarik Jasmine ke dalam pelukannya, "Hei, jika memang sudah waktunya harus bagaimana lagi." Dika memberi aba-aba pada polisi tadi untuk menahan tembakan.
"Kamu yakin tidak ingin bicara dulu dengan nya?"
Jasmine menggeleng.
"Jika kamu tidak mau melihatnya, kita pergi dari sini. Kita tunggu di luar dan menyiapkan pemakaman di rumah." Jelas Dika, namun bogeman mentah mendarat di perut Dika.
__ADS_1
"Jangan pernah membicarakan pemakaman!" Jasmine menghapus air matanya.
Kini langkah kakinya mantap mendekati polisi regu penembak.
"Aku saja, biarkan aku yang menyelesaikan misi ku dulu. Biarkan dia mati di tanganku. Seharusnya, dari dulu dia sudah mati dan tak perlu membuatku jatuh cinta dan merasa bodoh seperti ini."
Polisi tadi menatap ketua regu, mencari persetujuan. Karena Jasmine sudah membawa pistolnya sendiri di tangannya.
Berjarak 100 meter dari tempat Jasmine berdiri. Bryan sudah tahu apa yang akan terjadi siang ini. Ia akan kehilangan wanita yang sebulan sekali mengunjunginya dan membawakan rantang cinta untuknya. Ia akan merindukan wanita yang slalu bisa membuatnya tertawa, membuatnya slalu kewalahan jika bermain di ranjang. Ia akan kehilangan semuanya.
Siang itu pula, Bryan mengumpulkan semua surat yang ingin dia kirim untuk Jasmine. Namun tak pernah ada keberanian untuk mengirimnya.
Di sebuah kotak berwarna coklat, Bryan mengumpulkan semua surat-surat itu dan menitipkannya kepada ketua penembak.
"Hanya ini yang dia titipkan untukmu, aku turut prihatin." Ketua penembak tadi menyerahkan kotak coklat ke tangan Jasmine dan menepuknya pundaknya. "Kau harus bersabar dan memulai hidup baru."
Jasmine menaruh kotak itu di atas rumput. Keputusannya sudah bulat.
Ia sendiri yang akan menjadi malaikat maut untuk Bryan dan keluarganya.
Berdiri di tengah lapangan, dengan peluh yang membasahi dahinya. Jasmine bersiap dengan pistol di tangannya.
Matanya membidik sasaran, tinggal satu tarikan pelatuk, peluru akan menyangsang tepat di jantung Bryan.
Dika berdiri di balik tubuh polisi, bersembunyi. baru kali ini dia akan melihat seseorang di cabut nyawanya secara paksa. Apa lagi pencabut nyawanya adalah seseorang yang ia cintai.
Jasmine melihat Rose Mardiani berdiri dengan menggengam tangan Anthony Nicolas. Tampak tenang.
Sedangkan Husein dengan santainya meminta petugas untuk memberikan kursi. "Jadi mati tidak, kenapa lama sekali!" Teriaknya, tanpa ada nada takut sedikitpun.
"Dasar perjaka gila, mati aja di tunggu. Kayak yakin aja masuk surga." Gerutu Jasmine sambil tersenyum.
Ketua penembak yang melihat Jasmine mengulur waktu akhirnya berjalan mendekatinya. "Jika tidak yakin mundur saja."
"Sebentar, biarkan aku puas melihatnya bernafas." Kata Jasmine lirih, "Ini berat, bedanya saat melakukan dengan cinta dan tanpa cinta. Kau paham tidak sih?"
"Wanita memang menyebalkan, sudah aku saja yang menembak." Tarik pistol itu dari tangan Jasmine.
"Aku saja, biar aku saja." Jasmine menarik pistolnya kembali.
"Lakukan, sekarang!"
Jasmine mengangguk.
Ia kembali melihat Bryan dari kejauhan. Menarik nafas panjang dan mulai menekan pelatuknya.
__ADS_1
Tunggu....," Seorang sipir dari lapas berlari terpogoh-pogoh ke arah ketua penembak dan Jasmine yang memalingkan pandangannya.
Naas peluru sudah melesat cepat ke arah Bryan. Bidikan kali ini meleset sasaran.
Tidak menyangsang ke jantung nya dan menancap ke tembok beton.
"Ada apa, ganggu konsentrasi." pekik Jasmine.
"Surat keputusan, baca." Nafasnya terengah-engah.
Dengan cepat Jasmine menarik surat itu dan membacanya. Sunggingan senyum menghiasi bibir maroon, ia menarik pelatuknya lagi.
Menembak berkali-kali ke arah Bryan.
"Untuk kamu yang membuatku jatuh cinta."
"Untuk kamu yang membuatku menahan rindu."
"Untuk kamu yang harus menikahiku lagi."
3 peluru melesat cepat ke arah Bryan, menggoda laki-laki itu untuk merasakan sport jantung.
Jasmine berlari ke arah Bryan, melepas pengikat kaki dan tangan.
Hingga penutup mata itu terbuka.
Kedua mata yang mengisyaratkan rindu dan ketakutan.
"Kembalilah kepadaku, aku mohon. kembalilah kepadaku." Jasmine menangis dengan nada mengiba, memeluk Bryan dengan eratnya.
"Kumohon, kembalilah kepadaku. jika tidak dia akan mengangguku seumur hidup." Jasmine menunjuk ke arah Dika.
Bryan yang belum menyadari sesuatu yang terjadi, akhirnya mengeluarkan sepatah kata. "Apa aku di surga?"
Plak, sebuah tamparan mendarat di pipi Bryan.
"Kamu belum mati, jadi tidak akan pergi ke surga. Ke surganya nanti bersamaku." Jasmine kembali memeluk Bryan.
Ketua penembak dan Dika berjalan mendekati Jasmine dan Bryan.
"Baiklah, selesaikan drama Korea kalian. Setelah ini ikut ke markas melakukan konferensi pers." Sebuah surat mendarat ke tangan Bryan, "Baca dan amati baik-baik. kau beruntung memiliki mertua gila seperti Kamto Jayantaka. Dan kembalilah pada wanita ini, jika tidak dia bisa gila seperti ayahnya!"
Ketua penembak melepas semua tali yang mengikat tubuh orang tua Bryan dan kakaknya. Semua orang tampak terkejut. Matanya berbinar-binar tidak percaya.
Senyuman terus menghiasi wajah pencabut nyawa yang hilang perannya.
__ADS_1
Ternyata masih ada keajaiban dari sebuah doa dan usaha.
Flashback on, tomorrow.