
"Dik, aku lapar." Sungguh bertapa malunya Jasmine saat berkata seperti itu, dia sudah tak bisa menahan dirinya jika sudah lapar. Jika mengingat ada buah cinta mereka di dalam rahim Jasmine.
"Dik?" Dahi Dika mengernyitkan heran, bisa-bisanya wanita ini hanya memanggil namanya saat mereka belum resmi bercerai.
"Iya Dik, namamu Dika kan?" Jasmine acuh dengan tatapan dingin 'calon' mantan suaminya.
"Kenapa tidak baby atau sayang, Hmm....,?" Tanya Dika.
"Kau harus terbiasa memanggil ku Jasmine setelah ketukan palu besok. Aku sama sekali tidak ingin harta Gono Gini, kau hanya perlu menyiapkan warisan untuk Asmira."
"Kau berhak mengambil surat wasiat yang ayah buat untukmu. Aku tahu, ayah pasti akan marah lagi jika tahu masalah ini dan dia akan mengurus surat wasiat dan warisan untuk Asmira."
"Sungguh aku tidak menginginkan itu, Dik. Masih ada kamu dan Asmira, mungkin juga anakmu nanti."
"Anak ku nanti?" Dika menatap Jasmine.
"Ya, anak mu nanti dengan Amanda."
"Kau jangan asal bicara Jasmine!" Dika sedikit menekan nada suaranya.
"Hahaha, mau sampai kapan kamu menyembunyikan Dika, Aku sudah tahu." Mata wanita itu menyiratkan kekecewaan. Sama sekali dia tak menduga, laki-laki nya bisa memberi luka baru.
"Aku mau berpisah denganmu baik-baik. Dulu aku memilih untuk tetap bersama mu karena ada Asmira. Tapi kali ini tidak! Sephiamu butuh dirimu, anakmu nanti butuh dirimu. Biarkan Asmira menemani ku. Kau bisa menemuinya saat weekend. Aku tahu ini sulit bagiku atau bagimu. Tapi kau sendiri yang memilih jalan ini. Aku tak bisa memaksamu mencintaiku, merajut kebahagiaan kita. Aku sudah tak bisa lagi menahan mu Dika." Jasmine kembali menangis terisak, Dia harus menahan lapar dan bersandiwara nanti di depan Asmira. Sungguh ironi.
Tak ada jawabannya dari laki-laki disamping Jasmine. Matanya hanya menatap jalanan. Menebus kembali riuhnya jalanan kota. Sesekali tangan itu menggenggam erat kemudi menampakan rasa kekesalan dan amarah.
Kini mobil itu sudah berhenti di sebuah cafe, mereka berjalan beriringan namun seperti sepasang kekasih yang sedang marahan. Tak bergandengan tangan atau berbicara.
__ADS_1
"Kenapa kau tak mengajakku ke cafe saja daripada ke pantai, sungguh menyebalkan. Jauh-jauh ke pantai hanya membuat ku menangis." Jasmine mencebik Dika saat tubuhnya sudah mendarat di atas sofa.
"Dulu aku pernah berjanji mengajakmu camping ke pantai, tapi urung aku lakukan." Jawab Dika.
"Karena kamu sibuk selingkuh!" skakmart.
Pengadilan negeri Agama.
Nampak ke dua insan itu sudah duduk rapi, membuat simpul senyum terpaksa. Memaksakan diri terlihat baik-baik saja. Semua saksi termasuk ayah Kamto (ayah Jasmine) hadir di persidangan itu. Tidak ada jalan damai atau mediasi. Ketukan palu itu seakan menjadi saksi putusnya kedua belah pihak yang pernah merajut kasih.
Jasmine dan Dika berjabat tangan, saling memeluk. Memberi salam perpisahan. Kini mereka menjadi orang asing dan hanya di depan Asmira lah mereka bersikap manis dan baik.
Semalam sebelum sidang pagi ini berlangsung. Jasmine membereskan barang-barang nya ke dalam koper yang cukup besar. Tak ada barangnya satupun yang ia tinggalkan, karena rumah ini 'mungkin' akan di tinggali Amanda setelah kepergiannya. Matanya menatap tumpukan kemeja flannel milik Dika, senyum usil mengembangkan sempurna. Tanpa pikir panjang, Jasmine memasukan kemeja flannel itu ke dalam kopernya. "Biarkan saja dia bingung mencari bajunya, rasakan ini pembalasan dariku." Jasmine tertawa cekikikan saat ide nakal terbesit di pikiran nya.
"Mommy, kenapa baju-baju ku di masukkan ke koper, kita mau kemana?" Tanya Asmira saat mendapati ibunya sedang membereskan baju-baju dirinya dan menyisakan sedikit tumpukan baju dan mainan di rak khusus.
"Kenapa mom, aku senang tinggal disini?" Tanya Asmira lagi.
"Kita mau pergi ke rumah baru sayang, yang tidak ada wanita jelek (Miss K). Bukannya kau sering menangis karena sering melihat Miss K dirumah ini. Dirumah baru nanti tidak ada Miss K yang berani mengganggu mu." Mau tak mau Jasmine harus berkelit di depan putrinya dengan alasan sepele. Memang benar, Miss K yang ada di pohon kelengkeng depan rumah Dika sering menampakkan wujudnya walau hanya sekelebat saja.
"Tapi kudaku bagaimana mom?"
"Kau bisa ke rumah Opa lambang saat weekend atau liburan."
"Lalu ayah? Apa ayah ikut dengan kita?" Sebuah pertanyaan yg sulit Jasmine jawab. Lagi-lagi dia harus berbohong.
"Dengarkan mommy sayang, ayah sedang sibuk mengurus mall baru untuk mu. Kau ingin taman hiburan kan? Ayah sedang membangun nya untukmu. Jadi ayah akan sibuk. Kau bisa bertemu ayahmu saat ayah ada waktu luang."
__ADS_1
"Mommy tidak berbohong kan?"
"Tidak honey ku mira, mommy tidak bohong. Kau juga masih sekolah di tempat yang sama." Jasmine berlutut, memeluk gadis kecilnya. "mommy tak mungkin jujur padamu sayang, jika mommy dan ayah akan berpisah. mommy hanya ingin kau mendapatkan kasih sayang yang sama. Tumbuhlah menjadi gadis kecil yang kuat." Jasmine semakin mengeratkan pelukannya. Hari ini adalah malam terakhir ia tidur di kamar yang menjadi saksi bisu kemesraan ia dan Dika.
***
"Ada apa Jasmine, kenapa kau membawa banyak koper?" Tanya ibu Rina saat melihat anak menantunya memasukkan banyak koper di mobil dan ada sebuah mobil pick up yang mengangkut box-box mainan Asmira.
"Ibu, Jasmine pamit ya. Maaf jika Jasmine selama ini tidak menjadi menantu yang baik. Maaf jika Jasmine sering merepotkan ibu untuk mengurus Asmira. Maafkan Jasmine Bu." Jasmine memeluk ibu mertua nya, sambil terisak.
"Ada apa Jasmine? Jika kau ada masalah dengan Dika kenapa tidak di bicarakan dulu." Ibu Rina masih bingung, kenapa Jasmine berpamitan dan membawa begitu banyak koper.
"Aku dan Dika besok resmi bercerai."
"Hah, benarkah itu dika!? Tatapan mata ibu rina nampak tidak percaya.
"Benar Bu, besok sidang terakhir aku dan jasmine resmi bercerai." Dika menjawab tanpa melihat mata ibunya. Dia tahu ibunya pasti kecewa, jika tahu anaknya berbuat ulah lagi.
"Ada apa ini, ada apa tiba-tiba kalian bercerai. Apa kalian tidak kasian dengan Asmira?" Ibu Rina menangisi keputusan anak-anak nya, wanita bercucu satu itu terus terisak.
"Kau Dika, pasti kau yang membuat masalah!? Ibu tak habis pikir, apa kau tak bisa mengendalikan dirimu di depan wanita itu, Hah!?" Ibu Rina semakin tak terkendali.
"Sudah ibu, semuanya sudah terjadi. Dan ibu akan mendapatkan cucu lagi dari wanita itu. Ibu tak akan kesepian." Ya Jasmine masih mengingatnya, jika ibu Rina slalu kesepian jika tak ada Asmira atau keluarga lain yang menemani nya.
"Apa! cucu!? Kau Dika." Plakk, Sebuah tamparan keras menghujam pipi Dika. Ayah lambang yang mendengar percakapan itu cukup geram. Dia tak bisa lagi menahan amarahnya saat tahu Dika memulai lagi pengkhianatan itu dengan anak kerabat ayah lambang.
"Sudahlah ayah, semua sudah terjadi. Jasmine pamit. Terimakasih kalian sudah menjadi orangtua yang baik untukku. Terimakasih sudah menjaga Asmira." Jasmine membungkuk dan berlalu pamit. Sesaat dia berjalan menemui Dika, mengucapakan suatu hal dan menunjuk ke arah rumah dan berakhir dengan pelukan.
__ADS_1