
Hari ini tepat pukul 10.00 pagi,di taman belakang rumah dengan rumput Manila yang menjadi pijakan kaki yang membuat siapa saja akan berjinjit-jinjit jika tak memakai alas kaki. Disini dibawah tenda putih dengan banyaknya bunga baby's breath yang menghiasinya ditambah lagi pemandangan air kolam renang yang membiru. Membuat siapa saja akan berbahagia dengan acara yang akan dimulai sebentar lagi. Sudah terlihat bapak berkopiah hitam dan si Botak dengan jas rapi yang sudah menanggalkan cincin akik miliknya.
Semua sudah siap dengan peran yang mereka mainkan, Tapi tidak dengan janda pemberontak satu ini Jasmine. Ia mengurung diri di kamar mandi hampir 1 jam lamanya. Sebelumnya ia juga selalu menggerak-gerakkan tangannya tidak mau borgolnya terlepas.
Bryan yang sudah di ambang batas melihat tingkah childish wanitanya harus turun tangan. Tidak! Turun perintah kepada bodyguard nya untuk mendobrak pintu kamar mandi atau Turun ancaman yang membuat Jasmine lemah tak berkutik.
"Keluarlah,jika tidak mau anak-anak mu terluka." Teriak Bryan.
"Tidak mau!" Bantah Jasmine.
"Yasudah,jangan salahkan aku jika anak-anak mu mati!" Ancaman Bryan sebelum pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan Jasmine dengan wajah yang siap menerkam.
"Kenapa Bry, kenapa kau slalu mengancamku dengan ingin membunuh anak-anak ku,hah! Kenapa kau slalu mengancam ku."
"Menurut lah wanitaku." Bryan tersenyum.
"Aku sama sekali tidak tahu apa maksud mu,aku hanya janda. Apa yang kau cari dariku." Jasmine tertunduk matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku sudah bilang aku tidak peduli." Bryan membawa Jasmine dalam dekapan.
"Huu.... Jangan seperti ini." Jasmine terisak-isak. "Lepaskan aku." Lanjutnya.
"Jangan menangis,seorang perias sudah menunggumu dari tadi. Kau tak mau terlihat sembab kan di pernikahan kita nanti. Senyum lah,aku tidak akan menyakiti mu atau anak-anak mu, asal kau menurut dengan ku." Perintah tak terbantahkan keluar dari mulut Bryan dengan nada yang lembut.
"Janji?" Jasmine mengangkat jari kelingkingnya dan ditaut oleh jari kelingking Bryan.
"Kau sudah mandi?" Tanya Bryan sambil tersenyum setelah melepas tautan kelingking mereka.
"Sudah." Jawab Jasmine masih dengan wajah masam.
__ADS_1
"Bagus, berdandan lah. Aku tunggu satu jam lagi." Bryan mengelus rambut Jasmine dan berlalu meninggalkan nya.
"kenapa dia manis sekali,aneh." Batin Jasmine sambil berjalan ke arah perias yang sedari tadi tersenyum-senyum melihat drama gratis menurut nya.
"Maaf menunggu lama." Jasmine mengulas senyum terbaiknya, batinnya menurut saja jika mau semuanya selamat.
"Tidak apa-apa kak,mari saya siapkan. Tidak akan lama,kata tuan Bryan hanya Akad saja." Perias itu mulai mengutak-atik wajah Jasmine dan janda ini hanya menurut tanpa ingin bertanya sepatah katapun. Hingga akhirnya balutan kebaya dan rok span batik dengan sanggul modern dan tak lupa bunga baby's breath melingkar diatas kepala Jasmine.
"Sudah,cantik." Kata perias sambil memutar-mutar kan badan Jasmine.
"Terimakasih." Jasmine melihat pantulan dirinya di depan cermin,tidak apa rona wajah yang bahagia,tidak ada rona malu-malu seperti pengantin baru. Tidak ada debar jantung yang berdenyut tak karuan hanya ada jiwa yang terpaksa.
"Tak apa asal kalian bahagia dan terlindungi,tak apa jika jalan ini yang harus mommy pilih. Mommy tak pernah menyesal melahirkan kalian,mommy rindu Mira,mommy rindu Prince,maafkan mommy." Batin Jasmine sebelum lamunan itu menghilang saat sebuah tangan memegang lengan Jasmine.
"Ayo,bapak penghulu sudah menunggu dari tadi. Kasian." Bryan berdiri di belakang Jasmine dengan balutan Jas putih dan celana putih di pandu padankan dengan sepatu kulit berwarna coklat. Sungguh postur tubuhnya sangat lekat dengan pria idaman. Tinggi,kekar dan satu lagi tampan. Jika Jasmine mencintai laki-laki muda di depannya ini pasti ia akan menyerang nya tanpa ampun. Sayang tidak, Jasmine menganggapnya orang asing.
----
"Bagaimana saksi?" Tanya bapak penghulu.
"Sah." Saksi yang hanya di hadiri si botak dan satu pria yang tak pernah ditemui Jasmine itu berucap sambil tersenyum meyakinkan.
"Alhamdulillah,dengan ini saya nyatakan kalian berdua ananda Bryan Imanuel Nicolas dan Jasmine Adriana menjadi sepasang suami istri." Bapak penghulu berkopiah hitam pamit undur diri disusul para saksi palsu juga pamit kembali bertugas. Kini hanya menyisakan mereka berdua,dua insan dimabuk gila. Yang satu gila dengan keputusannya menikahi seorang berondong muda,yang satu sedang tergila-gila entah kenapa.
"Hay,kita sudah resmi." Bryan masih tersenyum gembira tak alang kepalang. Senyumnya sumringah seperti saat misinya berhasil menyelundupkan berton-ton obat terlarang melalui jalan tikus.
"Hmmm.." Jasmine mendengus kesal. Ia tak tahu apa yang akan ia temui nanti setelah ini,ia tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Apa lagi jika laki-laki muda di hadapannya ini memaksa untuk melakukan hubungan suami-isteri. Sungguh diluar kendali Jasmine. Apa yang akan ia berikan, karena tidak ada yang bisa ia banggakan dari tubuhnya yang sudah pernah melahirkan dua anak yang masih menyisakan guratan-guratan halus yang masih tertinggal di perutnya. Sketsa Tuhan paling indah untuk sebuah kehidupan baru.
"Ayo ke kamar kita." Ajak Bryan sembari menggenggam tangan Jasmine.
__ADS_1
"Kamar kita?" Tanya Jasmine.
"Iya,kau tidur bersama ku sekarang." Ajak Bryan.
"Tidak! Aku tidur di kamar belakang saja disana tempat ku." Jasmine melengos.
"Hufh,kau emang mantan janda pemberontak." Bryan mengangkat tubuh Jasmine ala bridal style.
"Janda pemberontak?" Alis Jasmine menyatu. "Lepaskan aku, lepaskan aku." Jasmine kembali meronta-ronta dan kembali berteriak-teriak.
"Kau berteriak sampai pita suaramu putus pun Tak ada yang peduli. Dirumah ini semua orang harus tunduk kepadaku. Termasuk dirimu,wanitaku." Bryan kembali berucap dengan kata-kata tegas tapi lembut.
"Terserah,aku sudah muak seperti ini." Jasmine melemaskan dirinya,dia lapar dan dadanya semakin membengkak penuh dengan ASI.
"Baguslah,aku pasti membantumu." Senyum Bryan kini menyeringai penuh maksud.
"Membantuku?" Tanya Jasmine heran.
"Aku tahu semua tentang mu,tentang dirimu yang masih memerah Asi-mu sendiri. Ehmm.... aku bisa membantumu." Bryan membuka pintu kamarnya dengan kaki dan menutupnya kembali. Dan kini ia menghempaskan tubuh Jasmine di atas ranjang,ranjang dimana dia sangat berkuasa.
"Kau benar-benar mencari semua tentang diriku, baiklah-baiklah." Jasmine beranjak duduk dan menatap Bryan dalam-dalam.
"Apa yang kau inginkan,apa sebenarnya maksud mu sesungguhnya selain kau menjadikan ku tawanan mu dan kini kau memaksaku menjadi istri sirimu. Apa yang kau mau lagi dari diriku?" Jasmine berkata sambil tersulut-sulut ia masih menatap Bryan yang kini melepas jas putih miliknya dan menyisakan kaos polos putih.
"Aku berhutang Budi pada keluarga mu." Kata Bryan sambil menatap Jasmine dalam-dalam yang kini mematung tak kala Bryan sudah melepas celana kainnya. Boxer hitam kaos putih,mata Jasmine terpincing. Laki-laki muda didepannya ini sungguh percaya diri.
"Hutang budi maksud mu?" Jasmine menyudahi mata liarnya dan kini ia hanya menatap keramik lantai yang amat bersih tanpa debu sedikitpun.
"Aku akan cerita,tapi...." Bryan menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Tapi apa?" Tanya Jasmine lagi.
"Layani aku dulu,suami perjaka mu."