Kiss The Rain

Kiss The Rain
Bab 97.


__ADS_3

Pagi harinya, Jasmine menikmati hari-harinya bersama kedua anaknya. Sunggingan senyum slalu terlukis indah di bibir dengan lipstik merah maroon itu.


Selepas Dika melakukan rapat saham, Dika meminta izin pulang ke rumah dan meninggalkan beberapa set pakaian ganti untuk Asmira dan Prince.


Siang harinya di ball room, sebuah panggung mini di pasang untuk melakukan bazzar dan penggalangan dana renovasi panti asuhan. Dika tampak antusias, sudah satu jam ia bergabung dengan timnya.


Semua retail pakaian yang memiliki baju rijek atau baju yang sudah lama tak terjual. Diminta untuk di kumpulkan di box-box besar yang sudah disiapkan tim Dika.


Entah ide gila dari mana Dika mendapatkan itu, tapi baju yang terkumpul sudah cukup banyak untuk di bawa ke panti asuhan.


Kini tinggal misi terakhir untuk menarik para pengunjung, Mini konser yang diadakan Dika. Dan dialah yang menjadi Guest star nya. Siapa yang tak kenal dengan pesona nya, bahkan ia juga menerima ajakan untuk berfoto ria. Hanya demi meluluhkan hati mereka untuk mau merogoh dompet.


Jasmine dan ke dua anaknya hanya di perbolehkan untuk duduk dan melihat. Dika tak mengijinkan Jasmine untuk bergabung dengannya. Karena hanya dialah yang menjadi daya tarik saat itu, pengusaha muda dan penyanyi terkenal.


Sedangkan di panti asuhan, Raka mulai menyelidiki apa yang terjadi. Mereka yang ada disana benar-benar menyembunyikan identitas diri. Mereka hanya sering mengatakan jika mereka orang baik.


Banyak anak yang mengalami cacingan dan mal nutrisi. Dua orang dokter di datangkan lagi untuk membantu mengurus 200 anak disana.


Satu bulan kemudian.


Hari-hari Jasmine di isi oleh kehadiran Prince lagi dalam hidupnya. Celotehan bayi yang baru belajar jalan itu membuat Jasmine seakan lupa dengan surat dan kegetiran hatinya menantikan keputusan sidang.


Jasmine memilih untuk mengikuti jalannya sidang keluarga Nicolas dari layar TV. Ia hanya akan hadir ke pengadilan saat keputusan sidang terakhir. Karena tidak mungkin ia menunjukkan hidungnya di hadapan Bryan dengan Prince yang tak bisa lepas dari dirinya.


Dan kini Jasmine kembali ke rumahnya dulu. Rumah yang di kembalikan lagi Dika untuknya, hanya untuk memberi ruang gerak yang yang lebih luas untuk Prince.


Sedangkan sudah satu bulan juga, renovasi besar-besaran di lakukan di panti asuhan. Semua di awasi oleh Raka. Dan ia sudah mendapati siapa dalang penggelapan uang dari para donatur.


*


Sidang terakhir.


Bryan terkena Pasal 114 ayat 1 subsider Pasal 112 ayat 1 dan Pasal 111 ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika, serta Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak. Dengan ancaman hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara 20 tahun.


Hakim mengetuk palu, mengesahkan keputusan sidang. Bryan terbukti bersalah atas kepemilikan dan pengedaran narkoba dan kepemilikan senjata api ilegal.


Jasmine yang memakai selendang biru menutupi kepalanya, meringsek maju ke kursi saksi dan pengacara.

__ADS_1


"Dengarkan saya bapak hakim yang terhormat."


Jasmine melepas kerudungnya, kini tatapan matanya melihat ke arah Bryan yang cukup terkejut dengan kehadiran mantan istrinya.


Ya, Bryan kini sudah bisa berjalan dengan normal dan berbicara dengan lancar.


"Bapak hakim tentunya paham siapa saya dan kiprah saya.


Bapak hakim tentunya tahu kenapa saya berbicara mengenai hal ini. Saya keberatan dengan keputusan hukuman mati yang di berikan untuk suami saya. Saya keberatan! apa perlu saya mengunakan jabatan saya untuk mengurangi hukuman yang suami saya tanggung. Saya bisa menggantikan posisinya dengan gembong-gembong narkoba lainnya atau mafia pajak dan koruptor di negeri ini!" Ucap Jasmine mantap.


"Keputusan hakim tidak bisa di ganggu gugat."


Ketua hakim berdiri hendak meninggalkan kursi panasnya. Jelas ia tahu siapa wanita yang dengan berani mengancam keputusan sidang.


"Baiklah, saya ada sesuatu untuk anda bapak hakim." Jasmine menyerahkan berkas yang terkumpul di amplop coklat besar.


"Bapak hakim bisa amati dulu, atau hanya sekedar melihat. Jika masih kurang, saya bisa mencarikan lagi kerjaan yang membuat anda mendapatkan banyak keuntungan!" Ucap Jasmine sarkasme.


Hakim itu mengeluarkan kertas yang berada di balik amplop coklat. Matanya yang layu cukup membulat.


"Hukuman bisa di kurangi, dengan syarat-syarat yang saya berikan. Ikuti saya ke ruang khusus dan untuk terpidana juga ikuti saya. Sidang dilakukan tertutup." Ketukan palu terdengar lagi.


Sedangkan para wartawan sudah gencar ingin melakukan wawancara dengan Jasmine, karena ia menyebutkan terpidana dengan sebutan suami.


Di ruang khusus.


Jasmine duduk, di ikuti Bryan yang duduk di depannya. Mereka terhalang jarak meja.


Tak ada yang berusaha memulai pembicaraan, hanya mata yang mengisyaratkan kerinduan.


Hingga ketua hakim tadi masuk dengan membawa beberapa berkas.


"Selesaikan misi ini jika kau ingin suamimu terbebas dari hukuman mati."


Jasmine melihat berkas satu per satu. Ia mengangguk.


"Berikan ruang untuk ku!"

__ADS_1


"Hahaha, tidak ku bayangan cintamu akan serumit ini wanita keras kepala. Waktu kalian 30 menit! Kunci pintunya!"


Ketua hakim menaruh kunci ruangan khusus dan berjalan keluar. Kini hanya ada Bryan dan Jasmine.


"Tidak perlu menyusahkan dirimu untuk mengeluarkan ku dari sini." Bryan mulai angkat bicara.


"Kenapa?" Jasmine berdiri mendekati Bryan.


"Tetap di tempatmu, Jasmine!" Bryan menaikkan nada bicaranya.


"Kenapa tidak memeluk ku, kamu tidak merindukan ku sayang?" Jasmine tak peduli dengan gertakan Bryan. Ia mendekati Bryan dan memeluknya.


"Kau!" Bryan tak membalas pelukan itu. Namun sejujurnya dia rindu dengan wanita keras kepala yang bersandar di dadanya.


"Kau yang membuatku mencintaimu, jangan salahkan aku jika masih berusaha untuk membebaskan mu."


Jasmine mendorong tubuh Bryan hingga menempel ke sudut tembok. Ia berjinjit dan ******* bibir merah jambu yang ia rindukan.


Penuh paksakan.


Hingga Bryan yang tak bisa mengontrol dirinya, mendorong tubuh Jasmine dengan paksa.


"Kenapa? Kau sudah bosan dengan ku, apa aku terlihat tua untukmu." Jasmine mengusap bibirnya yang penuh dengan liur mereka berdua.


"Baca suratku, kau akan mengerti."


Bryan menyaut kunci ruang khusus dan keluar dari sana. Meninggalkan Jasmine yang termangu.


Malam harinya, Jasmine menimang-nimang amplop putih.


Berusaha untuk berbesar hati dengan apa pun isi surat itu.


Ia membaca dengan seksama, tak sedikitpun kata yang ia tinggalkan. Hingga kata "Menceraikanmu" menghujam tajam di malam yang dingin.


"Pantas saja dia tadi tak membalas ciuman ku. Apa bisa jika di ceraikan melalui tulisan seperti ini." Jasmine menarik salah satu sudut bibirnya, "Jadi aku mendapat label Janda lagi."


Jasmine kembali melipat surat itu dan menyimpannya. Kini ia beralih menuju kamar anak-anaknya. Memeluk tubuh kecil pelipur lara hati.

__ADS_1


__ADS_2