Kiss The Rain

Kiss The Rain
Pahlawan?


__ADS_3

Jika kenyataan baru ini di anggap tidak masuk akal, maka akan ada banyak lagi kenyataan muskil yang menjadi rahasia semesta. Pertemuan kedua kalinya dengan seorang Jasmine yang kini menjadi istri siri adiknya. Membuat Husein bingung. Wanita yang memiliki mata sendu yang tak lain adalah seorang ibu yang melahirkan sendiri tanpa di dampingi seorang suami, masih teringat jelas di benak seorang laki-laki bernama Husein.


Kedua kakak-beradik itu masih saling membisu dan hanya pada tatapan mata mereka saling bicara. Husein yang dari tadi sudah lama menunggu pun di beri kejutan yang sangat luar biasa. Ingatannya juga melayang ke udara 10 tahun yang lalu.


"Apa semua yang di katakan wanita itu benar?" Tanya Husein yang sudah jengah dengan Bryan yang hanya melihatnya dalam diam.


"Dia wanita jujur." Akhirnya Bryan angkat bicara.


Husein yang mendengar jawaban adiknya pun menggelak kan tawa yang mengejek. "Hahaha, bagaimana bisa kau begitu percaya dengan wanita yang bahkan baru kau temui tak kurang dari waktu 2 minggu."


"Dia pahlawan ku kak, kalau dulu dia tidak datang pasti kita tak bisa menikmati hidup kita sekarang."


"Pahlawan?" Husein menatap lekat wajah adiknya. Bryan tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Lalu untuk apa kau menikahinya?" Tanya Husein meyakinkan.


"Entah." Bryan memejamkan mata. "Aku juga tidak tahu kak."


"Kau menikahinya tapi kau juga tidak tahu alasannya kenapa?" Husein menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan penjelasan adiknya yang terkesan ngawur.


"Kakak tidak tahu apa yang kau pikirkan tentang wanita itu. Kakak hanya berpesan, pernikahan walaupun hanya siri kau tak berhak bermain-main dengan perasaan nya, apalagi dia pernah gagal dalam berrumah tangga."


Bryan yang mendapat wanti-wanti dari kakaknya pun hanya melenguh, kepalanya tertunduk.


"Jika kau hanya ingin bercinta, bukannya kau bisa mencari gadis di luar sana. Bagaimana dengan Shally?"


"Hahaha, Shally. Kakak mau aku bercinta dengan Shally. Cih!!" Bryan mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah Husein. "Jika kakak mau dengan Shally, ambillah."

__ADS_1


"Apa enaknya bercinta dengan seorang ibu-ibu?" Husein nampak ingin mempermainkan perasaan adiknya.


"Enak-enak saja, sudah cukup kak aku pusing." Bryan melengos.


"Hahaha, apa hingga membuatmu lupa memakai baju saat tidur?" Kini Husein sudah tak bisa menahan apa yang ia lihat tadi.


"Maksudnya?" Bryan bingung.


"Dasar, kau pikir kakak tak melihatnya. Bahkan kakak tadi sudah ikut membangunkan mu." Husein menjawab sambil tertawa terbahak-bahak.


"Tidak sopan!" Bryan mengepal kan tangannya. Rasanya ia ingin menonjok kakaknya. "Apa yang kakak lihat tadi?" Lanjutnya.


"Bry, apa kau tidak kasian dengan anak-anak nya. Mereka pasti merindukan ibunya, lagipula ibu jasmine masih menyusui bayinya?" Jelas Husein.


"Berhenti memanggil nya ibu!" Pekik Bryan tak terima, istrinya dipanggil ibu oleh kakaknya Husein.


"Aku akan mengurusnya. Kakak pulanglah dan jangan beritahu mama dan papa soal ini. Bryan akan bilang saat waktunya sudah tepat."


"Menurut mu waktu yang tepat kapan, Hah? Saat kalian berdua sudah mengatakan cinta." Husein kembali tertawa. "Aku tahu kalian berdua tidak saling mencintai dalam pernikahan ini, sudahlah." Husein bergerak meninggalkan Bryan yang masih terpaku pada pikiran sendiri. Jelas semua yang Husein katakan hampir benar. Bryan sendiri gundah, apa ia mencintai wanitanya atau hanya keinginan sesaat. Tapi bagaimana pun Jasmine baginya adalah wanita penyelamatan hidupnya 10 tahun lalu.


*


"Kenapa menangis?" Bryan yang kini sudah memasuki kamarnya pun terkejut melihat Jasmine yang membalikkan badannya dan sedang terisak-isak.


"Apa ada perkataan ku dan kakak yang menyakiti mu?" Tanya Bryan sembari mengelus lembut rambut Jasmine. "Jawablah dan katakan." Bujuk Bryan yang tak mendapati jawaban dari mulut Jasmine.


Jasmine membalikkan badannya dan mengusap air matanya yang masih menetes dengan jarang. "Hikss...,Hiks.....," Jasmine memeluk Bryan dan menyenderkan kepalanya di pundak Bryan. "Aku rindu anak-anak ku Bry, aku rindu. Hiks.....,Hiks.....," Jasmine semakin terisak wajahnya sudah sendu membiru. Rindunya bisu tak mampu ia obati sendiri.

__ADS_1


"Berhentilah menangis. Aku akan pergi sebentar, berjanjilah untuk tetap menjadi wanita yang kuat dan tegar. Aku akan memberimu hadiah jika kau tak menangis lagi." Jasmine yang akan mendapatkan hadiah pun mengusap air matanya dan kini menatap Bryan yang tersenyum.


"Apa hadiahnya?" Tanya Jasmine.


"Rahasia, cuci mukamu dulu sana. Kamu jelek dan terlihat tua." Bryan menahan tawa, ia sedang ingin mengerjai istrinya.


"Menyebalkan, menyebalkan aku tidak suka." Jasmine terus memukuli bahu Bryan dan laki-laki itu mengaduh kesakitan.


"Jahat, kamu bilang aku tua dan jelek. Sana cari perawan siapa suruh menikahi janda seperti ku." Jasmine merangkak dan turun dari Ranjang. Ia menggeretakan kakinya berulang kali sambil menggerutu tidak jelas.


"Aku hanya bercanda, kamu masih muda dan bergairah Jasmine." Bryan terkekeh melihat tingkah laku istrinya jika sudah kesal, salah satu hal yang ia dapatkan lagi dari kebiasaan istrinya.


"Bodo......, aku tidak peduli." Jasmine menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Ia memilih untuk mengacuhkan Bryan setelah ini. "Awas saja minta jatah malam ini." Gerutunya sambil membasahi wajahnya. Terlihat kantung mata yang membengkak. "Apa aku terlihat tua, astaga. Aku butuh skincare." Pikir jasmine, selesai ia membasuh mukanya ia memilih keluar dari kamar mandi dan masih mendapati Bryan yang tersenyum dengan manisnya.


Jasmine melengos, ia memilih keluar dan duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya.


"Jangan ngambek nanti terlihat tambah tua." Rayu Bryan yang masih saja meledek Jasmine.


Jasmine berdiri menjauhi Bryan. "Biar saja tua, kau tinggal membuangku dan aku senang aku bisa bertemu anak-anak ku." Jasmine menjawab tanpa melihat ekspresi Bryan yang mulai berubah air mukanya.


"Jangan harap! Tetap lah disini bersamaku." Bryan melingkar kan tangannya memeluk pinggang jasmine dari belakang. "Aku tau tak ada cinta di antara kita. Tapi cobalah mengerti."


"Bukannya memang tak ada cinta di antara kita, kenapa kau masih saja menawanku seperti ini. Apa kau hanya akan menjadikan ku budak sex mu dengan dalih kita sudah menikah." Jasmine melepas pelukan Bryan. "Tak bisa aku pungkiri Bryan, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga ku, menyelamatkan anak-anak ku dari ancaman mu."


"Pergilah, kau harus kerja." Jasmine meninggalkan Bryan yang tertunduk lesu, karena pikirnya mengerjai istrinya akan membuat nya senang, malah ia yang terjebak.


"Maafkan aku." Bryan mengeekori Jasmine dan terus berkata maaf.

__ADS_1


__ADS_2