Kiss The Rain

Kiss The Rain
The perfect harmony. (2)


__ADS_3

"Ka, gimana udah di masukan semua barang-barang untuk anak-anak di panti?" Jasmine sibuk meneliti barang bawaan yang banyaknya minta ampun ke dalam bus. Ia mendekap kedua tangannya di depan dada. Sifatnya seperti seorang bos besar membuat Raka melempar sandal ke arah kakaknya.


"Daripada cuma berdiri bantuin!" Pekik Raka dengan menyandarkan bahunya di pintu masuk.


Jasmine memungut sendal itu dan melemparnya ke arah Raka lagi. "Mentang-mentang banyak stok sandal dirumah. Main lempar aja."


Raka kembali melempar sandal ke arah kakaknya, Naas sandal itu melesat cepat ke arah Kamto yang baru saja keluar rumah.


Jasmine melihat kejadian itu sambil menunjuk-nunjuk arah Raka. "Anak nakal, anak nakal."


Kamto mengambil sandal dan menepuk-nepuknya. "Sudah tua masih seperti anak kecil, hmm. Tidak malu dengan umur."


Kamto mendekati Jasmine, tubuh putrinya itu berangsur mundur. "Bukan aku, Raka yang memulainya." Jasmine menunjuk Raka lagi dan menajamkan matanya.


"Ayah rindu sekali melihat kalian seperti ini." Kamto menarik tubuh Jasmine dan Raka secara bersamaan, "Ayah rindu kalian bercanda seperti bocah kemarin sore. Ayah rindu kebersamaan ini."


Dalam pelukan ayahnya, Jasmine dan Raka saling melempar pandang. Matanya mendelikkan tanda tanya.


"Ayah tidak menangiskan? Kalau ayah menangis cucu ayah yang melankolis itu pasti mengira kita menakali ayah?" Jasmine membicarakan Arjuna. Cucu ketiga Kamto yang begitu sensitif dengan keadaan.


"Dia perhatian, bukan melankolis. Dia tidak mau orang-orang disekitarnya menjadi orang jahat." Timpal Raka tidak terima.


"Lah, bagaimana jadinya anakmu itu. Jika tahu kerjaanmu adalah menembak orang. Nangis darah tu bocah." Jasmine dan Kamto tertawa.


"Kak!" Raka melepas pelukan mereka dan berpaling menuju tumpukan kardus yang belum ia masukkan ke dalam bis.


Jasmine dan Kamto saling mengangguk, mereka mendekati Raka dan mengangkatnya ke kolam ikan di depan rumah Kamto Jayantaka.


Byurrrr...


Tubuh Raka basah kuyup.


Orang-orang dari dalam rumah berjejalan ke luar rumah, membawa kue tart dan meniup peluit. Memakai topi kerucut dengan gambar Iron Man. Super Hero kesukaan Raka dan Arjuna.


Happy Birthday


Happy Birthday


Happy Birthday


Papa....,

__ADS_1


Kejutan meriah yang di berikan keluarga Raka, membuatnya terharu. Umurnya sudah tidak muda lagi, tapi orang-orang di sekitarnya masih mengingat hari jadinya.


Jasmine dan Kamto terkekeh, mereka berdua melakukan Hive Five.


"Bocah, kalau mau renang di kolam renang. Bukan di kolam ikan." Gerutu Jasmine sambil terkekeh.


Raka kesusahan untuk naik ke atas, karena lantai kolam yang di tumbuhi lumut. Berkali-kali ia terpeleset dan terjebur lagi ke dalam kolam. Semua orang terkekeh melihatnya.


"Encok, encok dah." Jasmine menarik tubuh Raka ke atas kolam, namun dengan cepat Raka memeluk tubuh kakaknya. "Berbagi kebahagiaan." Raka mengecup pipi Jasmine.


Jasmine menutup hidungnya. Saat mendapati bau kolam ikan yang menyengat.


Belum sampai disitu, Raka memeluk satu persatu orang-orang terkasih yang mengerjainya.


Pagi sebelum berangkat ke panti asuhan dan menjemput keluarga Bryan di hotel. Keluarga Jayantaka menghabiskan pagi hari dengan bersendau di ruang keluarga. Merayakan hari ulangtahun Raka, yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan dengan keluarga yang utuh.


*


Satu bus besar menjemput keluarga Bryan di hotel yang tak jauh dari kediaman Jayantaka. Bus itu sudah berisi keluarga Jayantaka. Sedangkan keluarga Dika akan berangkat sendiri dari rumahnya.


Rencana weekend ini adalah mengajak keluarga Bryan menuju panti asuhan yang mereka tinggalkan dulu. Sebagai kejutan meriah atas keberhasilan kelompok Brandles Wolfgang dan kerja keras panti Asuhan untuk mendoakan keluarga pemilik tanah itu.


Tapi sayang, Prince yang bergelayut manja membuat Bryan mengurungkan niatnya. Ia memilih duduk di bangku kosong.


Perjalanan kali ini terasa berbeda, satu bus di isi dengan orang-orang yang Jasmine sayangi.


Hati wanita itu menghangat. Meskipun Belum ada ikatan lagi antara dirinya dan Bryan.


Ia merasa semua sudah kembali seperti semula.


Hanya tinggal satu langkah lagi menuju ikatan yang lebih sakral. Dalam sebuah pernikahan.


Terlepas dari semua syarat yang diberikan pihak negara untuk mengikat Bryan dan mengawasinya. Jasmine dan Bryan tetaplah satu. Satu hal yang tak pernah terlepas dari semua takdir semesta.


Perjalanan panjang yang di lewati, membuat Prince akhirnya tertidur. Husein yang melihat adiknya terus menatap Jasmine akhirnya memiliki ide untuk mengganti posisi bersandar Prince.


"Sejak semalam dia terus membicarakanmu. Duduklah bersamanya." Husein mengambil alih kepala Prince tanpa membuatnya terbangun.


Jasmine tersenyum, ia berdiri. Baru saja ia akan melangkahkan kakinya menuju bangku di dekat Bryan. Raka bersorak dengan kencangnya, "Pacaran, cie pacaran!" Semua tampak terkekeh mendengar ocehan Raka, Jasmine mengerucutkan bibirnya. "Biarin, daripada jomblo." Jasmine menunjuk Husein yang sama sekali tidak merespon ucapan Jasmine.


Ia berdiri di samping Bryan. "Bisa tidak tukeran tempat duduk. Aku ingin melihat pemandangan." Pinta Jasmine dengan manisnya.

__ADS_1


Bryan mengangguk, ia dengan cepat menggeser posisi duduknya. Jasmine mendaratkan bokongnya. Ia sedikit bingung harus memulai percakapan dari mana.


Tatapan matanya hanya menuju pandangan di luar kaca.


Bryan yang menyadari kecanggungan itu, akhirnya perlahan menggengam tangan kosong Jasmine yang ia taruh diatas paha.


"Aku rindu." Katanya pelan, Jasmine beralih menatap Bryan, kepalanya mengangguk. "Aku juga."


"Cium, cium, cium." Dari bangku paling belakang, Raka masih mengusili kakaknya. Adelle yang mendengar suara suaminya hanya bisa menutup telinga Arjuna.


"Jangan dengarkan dia." Jasmine menyandarkan kepalanya di bahu Bryan. "Ternyata kamu seorang dokter. Apa kamu bisa mengobati hatiku?" Tanya Jasmine.


"Tentu, bagian mana lagi yang perlu aku obati?" Tanya Bryan, senyuman tersungging di bibirnya.


"Banyak." Jawaban singkat dengan penuh maksud itu mampu membuat wajah Jasmine bersemu merah.


"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Bryan menyelidiki, dia tentu paham dengan maksud dari kata Banyak yang Jasmine katakan.


"Tidak ada apa-apa di wajahku. Mungkin hanya kerutan halus." Jasmine menutup pipinya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak peduli dengan kerutan di wajahmu, asal kamu menjadi milikku itu sudah berarti untukku. Tapi aku tidak punya apa-apa lagi selain hanya tubuhku." Kata Bryan sambil melepas tangan Jasmine dari wajahnya.


"Kamu cantik, percuma cantik jika bukan milikku."


Cieeeee.


Wajah Jasmine bersemu merah, "Nanti aku buatkan rumah sakit untukmu di Mall. Aku dan Dika, sudah berencana untuk membuka pelayanan kesehatan di lantai dasar. Kamu bisa bekerjasama dengan ku, setelah kamu menikahi ku nanti."


"Tidak, aku tidak punya apa-apa lagi yang bisa aku berikan untukmu."


"Hatimu yang setia saja sudah cukup untukku. Tetaplah disini, bersama ku dan memulai lagi kisah kita yang baru."


Akhirnya bus yang membawa dua keluarga yang disatukan kembali oleh takdir dan usaha tiba di panti asuhan milik keluarga Bryan.


Rose Mardiani meneteskan air matanya, melihat banyaknya perubahan yang terjadi di panti asuhan milik mereka. Jasmine mengembalikan lagi sertifikat tanah yang sempat di berikan oleh Rose untuknya.


"Mama tidak tahu lagi harus bagaimana mengatakan rasa syukur ini. Keluarga Mama hanya merepotkanmu terus. Mama tidak tahu jika cinta akan menjadikanmu seperti ini, terimalah putraku lagi. Ambillah dia sebagai gantinya."


Jasmine terbelalak, "Mama menjual Bryan untukku, aku beli Ma. Lunas." Jasmine mengusap air mata Rose Mardiani. "Semua sudah takdir. Jika tidak ada Dika yang membantuku mungkin aku akan kesusahan mencari donatur untuk panti asuhan ini."


Semua berkat masa laluku. Masa lalu yang pernah membuatku nelangsa dengan cinta.

__ADS_1


__ADS_2