Kiss The Rain

Kiss The Rain
Cieee.....


__ADS_3

Satu tahun pertemuan Jasmine dan Dika slalu intens, Jasmine yang belum memahami betul dunia bisnis akhirnya meminta Dika untuk membantunya.


Walaupun kedekatan mereka hanya sebatas orang tua untuk Prince dan Asmira, tapi media slalu menggembor-gemborkan berita tentang mereka.


Jasmine memilih untuk diam dan terus fokus belajar dan bekerja. Akhirnya selama setahun itu, Jasmine banyak memiliki kegiatan dan berkembang pesat sehingga dia berubah menjadi wanita yang berpengaruh dalam dunia bisnis pertokoan dan hotel.


Ia berkembang menjadi bisnis women yang bersanding dengan pengusaha muda lainnya. Tentunya masih di balik punggung seorang Dika Andrea.


Banyak majalah bisnis yang memuat berita tentangnya. Wajahnya slalu di sebut-sebut wanita berdarah dingin, karena perangainya yang di anggap pemberani dan cukup liar.


Selama setahun itu pula, Jasmine menghentikan aksinya untuk kelompok Brandles Wolfgang. Ia lebih memilih menata hidupnya.


Kehidupan Jasmine berubah, kini putrinya semakin menjadi gadis yang mirip sepertinya. Dika beruntung, ia seperti mendapat Jasmine versi kecil. Sedangkan Prince tumbuh semakin lincah dan membuat Jasmine kewalahan untuk mengasuhnya. Akhirnya Jasmine memilih untuk memasukan Prince di PAUD, Anak kecil berusia dua tahun lebih ini, sudah pintar berbicara.


"Mommy, lindu Daddy." Ocehnya dengan gemas. Jasmine mengangguk.


"Ya, mommy lindu Daddy." Jasmine mengecup pipi tembam Prince. Bocah kecil ini masih kesulitan untuk berbicara huruf R.


Jika rindu dengan Bryan, Jasmine slalu mendoktrin Prince untuk menyebut Bryan sebagai Daddy mudanya, sambil menunjukkan foto-foto Bryan. Jasmine memangku Prince, ia slalu berkata. "Daddy lebih tampan dari ayah kan, lebih muda. Dia akan slalu senang bermain dengan mu Prince. Dia tidak akan lelah sekalipun menurutimu bermain 24jam." Jasmine slalu terkekeh membayangkan jika itu benar-benar terjadi.


"Mom, ketemu Daddy." Prince menunjuk foto Bryan di ponselnya.


"Prince mau ketemu Daddy, naik pesawat?" Jasmine menunjuk ke atas sambil memperagakan pesawat terbang di atas awan.


"Pince mau, mom."


"Prince tidak takut ketinggian. Disana tinggi, banyak awan putih, Mau?" Tanya Jasmine lagi meyakinkan.


Prince hanya mengangguk-anggukan kepalanya, entah dia paham dengan ucapan Jasmine atau tidak. Tidak ada salahnya mencoba.


Ini untuk pertama kalinya Jasmine akan mengunjungi Bryan di lapas Nusa kambangan. Setelah 15 bulan tak menatapnya. Jasmine yakin, akan banyak perubahan yang terjadi antara dirinya dan Bryan.


Tapi sebelumnya, Jasmine harus meminta izin dulu dengan Dika. Hanya sekedar cuti tiga hari untuk menghabiskan waktunya dengan Prince.


Setelah menidurkan Prince, Jasmine membereskan baju-baju ganti dirinya dan Prince dalam satu koper.


Jika dulu kau mampu menunggu ku semalam 10 tahun. Kini akupun akan menunggu mu sekalipun harus 20 tahun lamanya.


Jasmine menutup kopernya dan menarik resletingnya dengan mantab.


Ia membaringkan tubuhnya di samping Prince, mengecup keningnya dan perlahan terpejam.


*

__ADS_1


Sabtu pagi hari. Jasmine sudah berada di atas aspal, melajukan mobilnya ke rumah Dika.


Prince duduk di baby car seat. Kini sepanjang hari isi playlist mobil Jasmine dan ponselnya adalah lagu anak-anak dengan berbagai bahasa.


Anak kecil itu slalu menikmati lantunan lagu, atau suara ibunya jika sedang bernyanyi. Jasmine beruntung mendapat Dika versi kecil. Seperti TUHAN tahu harus bersikap adil untuk umatnya. Mereka berpisah, namun memiliki tubuh pengganti.


Tibalah di kediaman Dika. Penjaga di rumah Dika sudah hafal betul dengan mobil Jasmine, jadi ia tak perlu menunggu lama di pintu gerbang.


Jasmine mengendong Prince, ia masuk tanpa mengetuk pintu rumah Dika. Rasanya ia juga menganggap rumah Dika adalah rumahnya.


"Dik, Man, Mir. Haloooooo, Jendes datang nih. Turun." Jasmine menaruh Prince di ruang keluarga, menaruh beberapa mainan dan menunggu pemilik rumah turun dari lantai dua.


"Bangun....! Udah siang. Rezeki ntar di patok ayam." Jasmine kembali berteriak.


Sedangkan diatas, Dika dan Amanda masih bergelung di bawah selimut.


Asmira yang terusik dengan teriakan ibunya, akhirnya mengetuk pintu ayahnya. Karena tak di kunci Asmira masuk dan membangunkan ayahnya.


"Yah, yah. Mommy janda datang." Ucap Asmira karena Dika selalu menyebut Jasmine dengan sebutan Mommy Janda.


"Yah, bangun. Prince datang."


Karena tak kunjung bangun, Asmira memencet hidung Dika. Karena ide itulah yang di tiru Asmira jika Dika sulit membangunkannya saat sekolah.


"Yasudah, ayo kita ke bawah." Dika mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya matahari yang sudah tampak bersinar cerah.


Ia melihat Jasmine dan Prince sudah sibuk di ruang keluarga. Menyantap sandwich dengan selai coklat dan segelas susu coklat. Jasmine benar-benar bertindak seperti di rumahnya sendiri.


"Sudah bangun. Kebo! Jam segini baru bangun." Jasmine menggigit sandwich nya dan mendaratkan dirinya di sofa, berjarak dua meter dari Dika.


"Weekend, baby. Bebas, tumben udah mandi, wangi. Mau kemana?" Tanya Dika penasaran, karena jika weekend, Jasmine hanya akan bermalas-malasan di kamar atau bermain dengan Prince di halaman belakang.


Prince yang sadar jika ayahnya berada di belakangnya, dengan berlari kecil menubruk kaki ayahnya.


"Ayah, Pince mau betemu daddy. Naik pecawat." Prince menujuk arah atas. Sedangkan Dika menautkan kedua alisnya dan menatap Jasmine dengan penuh tanda tanya.


"Mau kemana?"


"Mau ke lapas, aku ingin bertemu dengannya."


Asmira yang mendengar jika Prince mau naik pesawat dengan ibunya, dengan cepat mengacungkan jari telunjuknya. "Aku ikut, mommy. Aku ikut." Ucapnya dengan nada bersemangat.


"Jasmine!" Dika menaikkan nada bicaranya.

__ADS_1


"Hanya tiga hari. Aku juga mau berlibur, Dik. Memang kau, sebulan sekali ke luar negeri. Meninggalkan semua pekerjaan untuk ku." Jasmine mengerucutkan bibirnya.


"Aku izinkan, tapi aku ikut." Dengan cepat Jasmine melakukan penolakan, ia takut jika Bryan akan menaruh curiga dengannya.


"Kenapa, statusmu udah single! Aku ikut jika anak-anak ikut."


Dih, dia kira aku akan berlibur beneran. Aku hanya mau menuntaskan misi rinduku, Tau.


"Oke, oke. Izin istrimu dulu sana. Aku gak mau dia curiga dengan ku. Akhir-akhir ini aku perhatikan Amanda agak sewot dengan ku."


"Karena kamu semakin hari semakin Wow wow Jasmine. Ia takut aku berpaling lagi dengan mu." Jelas Dika.


"Hahaha, aku melakukan ini agar tetep awet muda, Dika. Kau pikir aku mau terlihat keriput dan menyedihkan. Cukup percintaan ku saja yang keriput. Wajahku jangan." Jasmine dan Dika terkekeh.


"Okelah, aku dan Mira mandi dulu. Kita berangkat dua jam lagi."


Akhirnya setelah melakukan banyak persiapan dan perjalanan. Ke empat orang itu berada di bandara. Mereka menggunakan penerbangan menggunakan pesawat jet yang di beli Dika sebulan yang lalu. Penerbangan yang hanya memakan waktu satu jam ini, akan langsung mendarat di landasan pacu bandara kecil di Nusa Kambangan.


Tibalah mereka di bandara, raut wajah Jasmine terlihat pias. Untuk pertama kalinya ia akan bertemu dengan Bryan.


"Santai aja kali, anggap saja sedang jalan-jalan di penjara. Jangan seperti orang sedang banyak pikiran. Rugi kau melakukan perawatan." Oceh Dika yang langsung di sergah oleh Jasmine.


"Menyebalkan!"


Mobil yang menjemput keluarga Bhagawanta datang, dengan cepat membawa satu rombongan itu menuju lapas khusus narapidana kasus narkoba.


Sepanjang perjalanan, Dika hanya meledek Jasmine. Sedang Prince dan Asmira memilih tidur karena jetlag. Apalagi Prince sedari tadi di pesawat malah menangis karena takut.


"Sepertinya kau harus masuk sendiri, baby. Aku jaga anak-anak disini." Dika tersenyum, "Semangat. Balas rindumu dengan berondong itu." Dika menahan tawa, Jasmine melotot. Karena tak mau membuat anak-anak terbangun. Jasmine keluar dengan perlahan.


Ia masuk ke dalam ruang informasi, sungguh sambutan luar biasa. Tepuk tangan terdengar meriah. "Sudah ku tunggu-tunggu kedatangan mu, eagle eye."


"Di ruangan mana dia?" Tanya Jasmine tak menggubris ocehan ketua penjaga lapas itu.


"Urusan cinta memang tidak ada habisnya ya. Bukannya kau harus bersiap untuk kehilangannya."


Jasmine merasa geram, emosinya rasanya di sulut dengan cepat.


"Siapkan satu ruang khusus untuk ku dan panggilkan dia!" Titahnya lantang penuh ancaman.


*


Maaf ya kalau di kebut satu tahun kemudian. Biar gak kelamaan klimaksnya 🤫

__ADS_1


__ADS_2