
Di luar bangunan yang besar dan megah,mobil Jeep Wrangler itu berhenti. Di sepanjang perjalanan tak ada yang berkata sepatah katapun. Jasmine terlelap dalam tidur paginya. Tekanan darahnya nampak berkurang, membuat wajahnya terlihat memucat. Badannya semakin bergetar hebat.
"Bangun....!" Bryan membuka pintu mobil disisi kiri Jasmine. Tak ada sahutan hanya ada sebuah tubuh yang berduyun nyaris ambruk.
"Astaga,dia benar-benar menyusahkan." Puk,puk,puk....Berkali-kali tepukan tangan itu menyentuh pipi Jasmine yang memucat. Sedikit helaan nafas,Bryan mengangkat tubuh Jasmine. "Badannya hangat,apa ibu-ibu ini sakit." Batinnya.
Rumah besar dengan banyaknya ornamen-ornamen porselen buatan Tiongkok, menambah kesan mewah dan mahal. Namun,kau bisa merasakan sunyinya ruangan besar itu. Hanya ada beberapa tubuh manusia yang wira-wiri menyelesaikan tugasnya. Tugas dari sang tuan muda maha kaya.
Kekacauan yang di timbulkan Jasmine membuat sebagian wanita setengah muda dan tua itu berlari menghampiri tuan muda, menanyakan apa yang harus mereka lakukan. Dan,kini tubuh janda muda dua anak itu sudah terbaring di dipan kayu berukuran 120cmx200cm. Ruangan khusus pembantu.
Tangan Jasmine sudah terlepas dari jerat belenggu borgol perak,dahinya sudah tertempel handuk kecil dan hangat. Bau semerbak minyak angin sudah menjalar-jalar di indera penciuman Jasmine. Perlahan mata sayunya mulai terbuka, mempertontonkan rasa penasaran, tangannya memegang dahinya yang masih tertempel handuk kecil dan hangat. Memaksa tubuh jasmine untuk beranjak duduk. Pikirannya masih menerka-nerka dimana tubuhnya sekarang kini berada.
"Sudah bangun dik..." Sapa ibu-ibu sambil membawa nampan berisi teh hangat yang masih mengepul tipis asapnya dan sepiring nasi beserta teman-temannya.
"Ehm... Sudah Bu,saya ada dimana sekarang?" Tanya Jasmine.
"Makanlah dulu dan mandi dik." Masih dengan suara yang sopan ibu-ibu itu menaruh nampan di atas nakas dan membuka lacinya. Mengambil beberapa lembar baju dan menaruhnya diatas kasur.
"Tapi saya dimana sekarang bu,saya tidak ingat apa-apa?" Tanya Jasmine sekali lagi.
"Adik dirumah tuan Bryan." Ibu tadi mengulas senyuman. "Adik tadi pingsan dan di taruh disini." Masih menjeda ucapannya."Setelah makan dan mandi tolong minum obat ini dan Bibi harus memasang kembali borgol di tangan adik." Lanjutnya.
Jasmine hanya mengangguk dan tersenyum."Terimakasih bi,1jam lagi bibi bisa kesini dan memasang borgol ku." Lanjutnya masih dengan senyuman di bibir pusatnya. Sudah di kasih makan dan tidak di bunuh sudah untung pikir nya.
__ADS_1
Bibi itu mengangguk dan menutup pintu kamar Jasmine. Tak lupa juga menguncinya rapat-rapat.
*
Kamto berdiri mengetuk pintu mantan anak menantunya. Selang 15 menit pintu itu terbuka menampakkan sosok Dika pria rapuh.
"Ayah..." Panggilnya.
"Kau masih memanggil ku ayah?" Jawab Kamto.
Dika mengangguk,ia sendiri bingung harus memanggil ayah Jasmine dengan sebutan apa. "Masuk ayah,ehm...." Dika sedikit melirik ke arah belakang Kamto.
"Cari siapa?" Tanya Kamto sambil mengikuti arah mata Dika.
"Kau dirumah dengan siapa Dika?" Kamto kini sudah mendudukkan tubuhnya di sofa menghadap arah Dika yang duduk di depannya.
"Sendiri,Asmira sedang sekolah dan....." Belum juga Dika menyelesaikan ucapannya,Kamto sudah menaruh jari telunjuknya di depan mulut. Mengatakan agar Dika tidak melanjutkan bicaranya.
"Prince mana,apa dia rewel,apa dia menyusahkan istrimu?" Kamto mencebik lagi pertanyaan.
"Prince sedang bersama Omanya dirumah sebelah." Jawab Dika tak tahu harus berekspresi bagaimana.
"Rewel tidak?"
__ADS_1
"Tidak ayah,prince baik dan jarang menangis."
"Bagus,cucuku slalu tidak pernah menyusahkan bahkan dengan keluarga yang sudah menyakiti ibunya."Cebik Kamto.
"Mana Jasmine, kenapa dia belum pulang? Kenapa ayah sudah kembali dan Jasmine belum?" Akhirnya benang bundet yang menari-nari di kepala Dika sedari tadi malam tercuat juga tak bersisa.
"Jasmine hilang."
Dika terperanjat, matanya membulat penuh. Kenyataan apa lagi yang harus ia dapati bahwa Jasmine menghilangkan lagi."
"Kenapa bisa hilang, bukannya kalian bersama-sama." Raut wajah Dika mulai tak terkendali, khawatir bercampur dengan rasa cemas.
"Tak seharusnya kau khawatir seperti ini, Kenapa kau menyesal menyakiti putriku? Harusnya kau senang jika Jasmine hilang. Bukannya itu artinya tak ada lagi yang menghalangimu untuk berbuat sesukamu." Kamto bisa menangkap perubahan wajah Dika.
"Anak-anak masih butuh Jasmine yah, bagaimana bisa Jasmine hilang. Ceritakan padaku." Emosi Dika mulai tersulut.
"Hahaha,kau harus menjaga cucu-cucu ku dengan baik,jika sesuatu terjadi dengan mereka. Bisa jadi pelatuk ku yang akan menebus sendiri jantungmu." Tawa mengejek sembari menunjuk-nunjuk jantung Dika.
"Arghhh......" Dika menarik kasar rambutnya ke belakang.
"Kau jaga baik-baik kedua cucuku,biar Jasmine menjadi urusanku. Bukannya memang seharusnya kau tak peduli,jika kau sama sekali sudah tidak ada rasa pada putriku." Kamto sudah berdiri, meninggalkan Dika yang kini termenung.
"Maafkan aku Jasmine,maafkan aku. Arghhh....."
__ADS_1