Kiss The Rain

Kiss The Rain
Share your Knowledge


__ADS_3

Di kediaman Shally Fox setelah empat hari berlangsung. Bryan mulai menunjukkan tanda-tanda akan segera tersadar diri.


Berkali-kali dokter menerangi matanya dengan senter khusus medis. Kelopak matanya mulai bergerak-gerak. Ulasan senyum dokter jaga sedikit mengembang. Hingga beberapa menit kemudian, Bryan mulai mengerejapkan kedua matanya dengan baik. Ia tampak kebingungan dengan apa yang ia lihat setelah nya.


Mulutnya yang gagu dan kering mulai bergerak ingin mengatakan sesuatu. Ia tampak kesulitan, dokter yang paham mulai mengecek seluruh bagian vital Bryan.


Pemeriksaan neurologis dilakukan untuk mengevaluasi fungsi saraf, dengan cara mengukur kekuatan otot, kemampuan pasien dalam mengontrol pergerakan otot, tingkat keleluasaan pergerakan mata, kemampuan dalam merasakan sensasi.


"Bagaimana apa kau merasakan pukulan ini?" Dokter sedang melakukan respon pada kaki Bryan dengan memukulnya dengan palu medis.


Bryan hanya menggeleng pelan, kepalanya terasa nyeri dan pusing. "Tenanglah, kau baru sadar setelah 4 hari tertidur. Pejamkan matamu dan jangan paksakan ingatanmu!"


Bryan hanya mengangguk. Dokter kembali memeriksa tubuh Bryan yang lainnya. "Coba gerakan tangan mu?"


Bryan berusaha menggerakkan kedua tangannya, berhasil!


"Bagus, kau hanya mengalami kerusakan pada otak dibagian saraf kaki dan bicara. Saya bisa pastikan kau akan sembuh setelah melakukan terapi wicara dan terapi saraf untuk memulihkan disfungsi kognitif saraf yang rusak."


Bryan berusaha mencerna apa yang dokter bicarakan. Hingga matanya kembali ia buka, perlahan ia mulai melihat isi ruangan yang selama ini ia tempati. Dan saat itu juga, Shally masuk ke ruang itu. Ia mendapati Shally yang berjalan kearahnya dengan cepat. Senyumnya jangan lagi kau tanyakan, ia seperti mendapatkan lotre undian skin care setiap bulan selama satu tahun.


"Kakak sudah bangun, kakak syukurlah. Aku menunggu kakak selama ini." Shally menggengam erat tangan Bryan, bersusah payah Bryan ingin melepaskan diri. Tapi tak alang kepalang, tubuhnya yang masih lemah harus pasrah dengan perlakuan Shally.


"Kak Bryan, cepatlah sembuh. Shally sudah menunggu kakak amat lama." Shally meletakkan telapak tangan Bryan di pipinya.


"Nona Shally, bisa kita bicara?"


Dokter Ridwan seperti paham tatapan tak suka Bryan yang melihat Shally terus meracau.


"Menganggu saja, apa yang mau dokter bicarakan?" Shally melepas tangan Bryan.


"Pasien baru saja sadar dan pasien mengalami kelemahan dalam saraf kaki dan bicara."


"Maksud dokter, Shally tidak paham."


"Maksudnya pasien tidak lancar bicara dan berjalan Nona. Dia butuh terapi setelah kondisi fisiknya sudah stabil."


"Baiklah, lakukan yang terbaik." Shally kembali ke arah Bryan, tapi ia kembali berbalik saat dokter berkata "Tapi."


"Tapi apa dok?"


"Dokter disini bukan merupakan ahli dalam bidang terapi Nona. Butuh dokter spesialis terapi wicara dan saraf dari rumah sakit pusat."


"Carikan dokter terbaik untuk dia, aku mau yang terbaik." Shally meninggalkan dokter Ridwan setelah memberi titah.


"Kakak pasti sembuh, kakak harus sembuh untuk ku." Shally menggengam erat tangan Bryan.


Sedangkan Bryan yang hanya bisa diam terus menerus mencoba mengingat kejadian sebelum ia pingsan.


Jasmine, Jasmine.


Mulutnya gagu mengucapkan kata itu.


Jasmine, Jasmine.


Tangannya ia tarik paksa dari genggaman tangan Shally. Ia menggenggam kepalanya yang terasa ngilu.


"Dokter...," Shally berteriak.


Dengan cepat Dokter Ridwan memeriksa Bryan. "Mohon jangan paksakan ingatan Anda. Berlatihlah perlahan jika kau tak ingin merusak saraf lainnya."

__ADS_1


Dokter Ridwan kembali menyuntikan obat penenang melalui cairan infus. Perlahan Bryan kembali memejamkan matanya.


Kakak tidak boleh kembali pada Tante itu, kakak hanya boleh menjadi milikku.


Rencana jahat kembali terngiang di kepala Shally.


"Pastikan kepadaku saat kondisi laki-laki ini mulai stabil. Batalkan pencarian dokter terapi dari rumah sakit pusat."


Titah Shally meninggalkan Bryan yang tertidur dan Ridwan yang mengangguk.


*


"Sampaikan salam ku untuk Papa. Jasmine pamit, Ma."


Selesai melakukan makan siang bersama dan kesepakatan dengan Husein. Jasmine dan Raka berpamitan pada Rose yang mengantarnya sampai ke depan rumah.


Begitu juga dengan Tria, laki-laki itu membawa satu tas ransel hitam yang sudah di gendongannya.


"Hati-hati, jaga cucu Mama dengan baik."


"Pasti, Ma. Bilang pada Husein aku akan menemuinya dua hari lagi."


"Baiklah sayang." Rose melambaikan tangannya.


Kini mobil itu berjalan menelusuri jalanan kota menuju Markas keluarga Brandles Wolfgang.


"Tria?" Panggil Jasmine.


"Ya kakak."


"Hehehe, lucu juga kau memanggilku kakak."


"Kamu yakin?"


"Yakin untuk apa Kakak?"


"Polos!"


"Maksud kakak?"


"Hidup dan matimu ada ditanganmu, kau menjalankan misi bersama ku itu artinya kau siap dengan pilihan itu. Satu lagi, kau juga harus siap di penjara bersama kelompok Fox Adois."


Tria terkejut bukan main dengan penjelasan Jasmine.


"Jadi, setelah aku membantu kakak mencari tuan Bryan. Aku di penjara?"


"Hahaha, bukan saja kau yang dipenjara. Bryan dan anggota lainnya juga, kau tahu itu artinya?"


"Artinya, kakak juga berpisah dengan tuan Bryan."


"Hahaha, begitulah nasibku Tria. Sekarang aku akan memberimu pilihan. Kau bisa kabur tanpa jejak atau kau sudah bertekad membantuku untuk mencari majikanmu."


Sungguh tidak masuk akal.


Raka yang mengemudi merutuki kebodohan kakaknya.


"Kakak sudah berjanji menjamin keluargaku, kakak sudah tau jawabannya."


"Jadi, kau siap di penjara?"

__ADS_1


"Sudah menjadi resikonya aku bergabung dengan keluarga Nicolas. Jika semua di penjara aku sudah siap."


"Ha-ha-ha, kalau kau sendiri yang di penjara bagaimana? Sudah siap juga?"


Jasmine berusaha mengusili Tria yang tampak sedikit gugup.


"Entah, aku tidak tahu. Yang aku pikir hanya istri dan kedua anak ku." Tria tertunduk.


"Baiklah, maaf. Keputusan mu aku terima dengan hormat. Jangan takut, aku akan menjamin keluarga mu."


Jasmine mengulas senyum, hingga mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di gerbang markas besar Brandles Wolfgang.


Markas yang terlihat seperti gudang lama ini, hanya sebagai tipuan saja. Bahkan alat-alat di dalamnya lebih canggih dari apa yang dilihat dari bagian luar gedung ini yang tampak tak terurus dan penuh dengan Grafiti.


Mereka ber tiga keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu utama, pintu gerbang tinggi itu hanya bisa dibuka dengan password yang hanya anggotanya saja yang tahu.


"Tria, jangan takut. Semua orang disini baik-baik. Kecuali saat mereka sedang menjalankan misi."


Jelas Jasmine sambil mendudukkan dirinya di atas kursi.


Semua orang yang ada di dalam sana tampak terkejut dengan kedatangan Jasmine. Seperti dugaan sebelumnya yang menyatakan bahwa Jasmine hilang entah kemana malah kini dengan asik duduk sembari mengulas senyum.


"Aku bukan hantu. Lanjutkan saja tugas kalian, sebelum aku memberi tugas baru untuk kalian." Titah Jasmine sebagai anak ketua kelompok membuat siapa saja hanya bisa patuh mengangguki perintahnya.


"Apa yang mau kakak lakukan sekarang?"


"Mencari informasi." Jasmine menunjuk Tria yang hanya diam berdiri melihat sekelilingnya.


"Kakak yakin dia memiliki jawaban?"


Jasmine mengangguk, lantas ia berdiri dan menunjukkan Tria.


"Dengan ini aku angkat kau sebagai anggota Brandles Wolfgang dibawah asuhan ku Jasmine Adriana dengan seperangkat persenjataan lengkap dan jaminan hidup keluarga."


Klek, Byurrrr. Jasmine membuka kaleng bir yang tersedia di meja di depannya dan mengguyurnya di kepala Tria.


Kakak memang sudah gila. gerutuan Raka yang terdengar sampai ke telinga Jasmine.


"Kakak butuh hiburan. Antar dia di kamarnya, Raka."


"Dih, merepotkan saja. Ayo." Ajak Raka mendahului Tria yang tersentak diguyur bir yang membuat rambutnya basah dan berbau.


"Hahaha, Tria. Jangan kapok."


Tak ada jawaban dari Tria, kini Jasmine beralih pada sekerumunan laki-laki kekar dengan berprofesi sebagai tim pengintai.


"Dua hari lagi kumpulkan semua tim pengintai dan penembak. Kumpul semua informasi yang kalian dapat dari laki-laki yang aku bawa tadi."


"He'emm."


"Kalian mengerti?"


"Baik Nona Jasmine."


"Hahaha, sungguh aku rindu dengan kalian. Apa kalian tidak merindukan ku?"


Jasmine ikut bergabung dengan kerumunan itu. Membahas yang membuatnya bisa tertawa.


Terkadang profesi sebagai intelejen mengharuskan kami memiliki keahlian lain dalam melacak. Termasuk menjadi ahli kunci, ahli sedot WC, tukang bakso atau profesi lainnya yang sulit dimengerti. Banyak cerita yang Jasmine dapatkan, pengalaman berharga adalah pengalaman yang bisa kau bagi dengan orang-orang di sekitarmu.

__ADS_1


[ Share your Knowledge ]


__ADS_2