
Jasmine menghela nafas panjang, melihat Bryan juga tak kunjung bangun. Akhirnya ia juga menarik paksa selimut yang sudah ia balutkan lima belas menit yang lalu. "Gila ya ini bocah ,masih gak bangun-bangun juga." Jasmine beranjak ke atas ranjang lagi ,menatap lekuk tubuh suaminya. Yang terlihat si kecil yang tumbang. "Lucu juga." Jasmine tersenyum.
"Bangunlah Bry ini sudah hampir siang hari. Ayolah kakak sudah menunggu." Jelas jasmine sambil mengusap lembut rambut tebal suaminya. Tak kunjung terbangun juga , jasmine menggelitik pusar Bryan. Jasmine tertawa saat tubuh suaminya mulai menggelepar seperti ikan. "Bangun dong."
"Hmm, jangan di gelitikin nanti bangun dia." Bryan berkata tanpa membuka matanya. "Bangunlah dan lihat tubuhmu." Bujuk Jasmine, ia hampir menyerah membangunkan Bryan yang masih terpejam. "Kak Husein menunggumu, aku mau mandi." Jasmine berdiri sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Nyawa Bryan yang hampir terkumpul pun seraya membuat tubuhnya terbangun. "Kak Husein disini?" Tanya Bryan dan di iyakan dari balik pintu kamar mandi.
Dahi Bryan berkerut seperti mengumpulkan pertanyaan. Ia pun juga terkejut saat melihat tubuh telanjangnya tanpa sehelai kain yang menutupi dirinya. "Memalukan sekali."
"Jasmine cepatlah ,aku juga mau mandi." Bryan menggedor-gedorkan pintu kamar mandi. "Sebentar lagi selesai,baru keramas."
Bryan berdiri sambil melipatkan kedua tangannya. "Ayolah ,cepat sedikit."
"Berisik."
Klek... Pintu kamar mandi terbuka, terlihat wajah Jasmine yang kesal. "Brisik, apa kau tau aku sudah membangunkan mu sejak 1 jam yang lalu. Sekarang kau dengan entengnya menyuruhku untuk cepat-cepat selesai. Mengganggu!" Jasmine berucap sambil berapi-api. Baginya kamar mandi adalah waktunya untuk me time.
"Maaf." Bryan tertunduk tapi wajahnya tersenyum. "Aku lelah jadi aku sulit untuk bangun."
"Hmmm, cepat mandi. Kakakmu sudah menunggu mu sejak tadi." Jasmine melepas handuk kimono dan terang-terangan memakai pakaian di depan Bryan.
"Apa yang kau lihat, mandi sana."
"Maha karyaku, hehehe." Bryan tergelitik saat melihat banyaknya ciptaan Made in Bibir merah Jambunya.
"Dasar bocah!" Jasmine tak peduli dengan Bryan, ia memilih menyisir rambutnya dan keluar dari kamar.
Ia mencari-cari laki-laki yang sudah menolongnya dulu. Tak ada di dapur, Jasmine mencari di ruang keluarga. Tampak Husein duduk sambil menatap layar ponsel pintarnya.
"Maaf lama ,minumlah." Jasmine menyodorkan kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis di atasnya. "Ternyata pertemuan kita tak terduga lagi tuan Husein." Jasmine tersenyum.
"Terimakasih kau sudah menolongku dulu. Dan aku pastikan bonus yang aku berikan dulu tak seberapa untuk orang seperti mu." Jasmine masih tersenyum dan menatap lekat laki-laki yang menjadi Kakak suaminya.
__ADS_1
"Tunggulah sebentar lagi Bryan sedang mandi." Jasmine tersenyum, ia berdiri dan berlalu meninggalkan Husein yang sedang menyesapi kopi hitam buatannya.
*
"Kenapa lama sekali mandinya, Hmmm. Ayo sarapan dulu." Jasmine tersenyum melihat pria mudanya sudah rapi dengan baju yang Jasmine siapkan tadi. "Kau suka apa, aku tidak tau kesukaan mu Bry." Tanya Jasmine.
"Apa saja asal yang masak kamu." Bryan tersenyum. Dia memilih duduk sembari melihat Jasmine yang sedang menyiapkan sarapan sekaligus makan siang mereka.
"Bry, panggil kakakmu, ajak dia makan bersama." Pinta Jasmine yang sudah menyelesaikan tugas memasaknya. "Ehm, aku hanya bisa masak rumahan. Semoga kamu suka Bry." Bryan berteriak memanggil kakak nya. Sepertinya ia enggan beranjak dari tempat duduknya.
"Terimakasih." Husein mengembalikan cangkir kopi yang sudah tandas. Lantas kejadian itu membuat Bryan heran melihatnya.
"Kamu bikinin kakak kopi?" Tanya Bryan, dan diangguki Jasmine. "Bryan juga mau kopi hitam?" Tanya Jasmine sembari mengambilkan nasi dan teman-temannya di piring Bryan. Tumis buncis dan jamur dengan lauk ayam telur asin.
"Iya, ayo kakak juga makan." Jawab Bryan sambil menatap kedua orang di depannya.
"Makan dulu, bicarakan nanti." Jasmine yang sudah lapar pun acuh melihat tatapan Bryan yang menghujaninya dengan tanda tanya.
"Aku bikinin kopi hitam untuk mu dulu Bry." Jasmine membereskan piring kotor Mereka bertiga dan mencucinya. Lantas jasmine juga membuat kan kopi hitam untuk suami dan kakaknya. Dua cangkir kopi hitam dan segelas susu coklat berada di atas nampan yang di bawa jasmine menuju ruang keluarga. Karena sebelumnya Bryan menyuruh kakaknya untuk berpindah ke ruang keluarga.
Jasmine menaruh nampan itu di atas meja, melihat kakak beradik yang sedang membisu. "Kalian sedang puasa bicara?" Tanya Jasmine yang sudah mendaratkan tubuhnya di samping Bryan. "Kopinya masih panas, tunggu sebentar lagi ya Bry."
"Darimana kamu tau nama kakakku?" Akhirnya isi pertanyaan yang ada di otak Bryan sedari tadi keluar juga. Jasmine menatap Husein dan di angguki olehnya.
"Aku sudah bertemu kakak mu 3 bulan yang lalu. Kakakmu yang menolongku saat aku mau melahirkan." Jasmine menatap Bryan yang sedikit mengerenyit dahinya. "Saat itu kakakmu sedang menjadi sopir taksi online."
"Tanyakan saja apa yang mau kau tanyakan, kau juga tuan Husein." Jasmine tersenyum kecut.
"Jangan panggil kakak tuan, memangnya dia siapa." Cebik Bryan.
"He-he-he."
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian ada di satu kamar. Dan kau Bryan!!!!" Husein menatap tajam ke arah Bryan yang tak membuat laki-laki muda itu takut.
"Bercinta." Jawabnya singkat dan Jasmine melirik tajam ke arah Bryan.
"Kau tahu ibu Jasmine sudah punya dua anak, dan kau bercinta dengannya." Husein kini berkata jujur tak peduli menyakiti hati Jasmine atau Bryan. Ia hanya ingin mengutarakan pendapatnya dan keingintahuannya.
"Hahaha, kau masih saja memanggil ku ibu-ibu, Husein. Aku memang ibu-ibu kau tak perlu memperjelasnya lagi." Saut Jasmine.
"Aku sudah menikahi Jasmine kak, aku tidak berdosa jika kami bercinta." Jelas Bryan yang tak tahu malu.
"Apa yang kau ajarkan pada adikku ibu Jasmine." Jasmine yang mendengarnya tergelak tak karuan. Wanita dua anak itu malah tertawa. "Astaga apa yang harus aku jelaskan padamu bocah!"
"Baiklah baiklah, akan aku jelaskan padamu tuan Husein." Jasmine menyeruput susu coklat miliknya dan menaruhnya dengan kasar.
"Adikmu menikahi ku secara siri 3 hari yang lalu. Adikmu berkata, dia sudah menungguku 10 tahun yang lalu. Kau ingat saja wanita yang menembak musuh besar keluarga mu 10 tahun yang lalu. Vilyam Darwin!" Kini wajah Husein yang tergelak tak percaya.
"Kakak ingat wanita yang menolong keluarga kita 10 tahun yang lalu saat aku sedang lulus SMA." Bryan menimpalinya. "Dia Jasmine dari kelompok Brandles Wolfgang." Jelas Bryan lagi.
"Aku gagal menangkap adikmu yang sudah menjadi incaran selama 1 tahun oleh kelompok ku dan aku juga adalah salah satu regu tembak kelompok ku. Aku gagal karena aku tersandung akar pohon dan di tawan oleh adikmu." Jasmine menatap Bryan.
"Kau!!" Husein menatap wajah jasmine dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Jika aku tahu kalian akan menjadi penerus Vilyam Darwin ,aku juga akan menghabisi kalian semua."
"Jaga bicaramu!" Husein menatap jasmine dalam-dalam.
"Ha-ha-ha, sungguh konyol dengan putaran takdir semesta. Aku Bahkan memberi nama anakku sama dengan namamu. Huh....." Jasmine menghela nafas panjang.
"Maksudnya?" Bryan yang tak mengerti ucapan jasmine pun bertanya.
"Putraku Prince Husein Bhagawanta." Jasmine beranjak dari duduknya meninggalkan dua laki-laki yang berkecamuk dengan pikirannya masing-masing. Ia memilih masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. "Mommy rindu kalian anak-anak ku."
__ADS_1