Kiss The Rain

Kiss The Rain
black forest.


__ADS_3

Sabtu dini hari, tepat pukul dua pagi. Jasmine terbangun dari tidur malamnya.


Mengerejapkan kedua matanya, lalu menatap Bryan yang sedang mendengkur pelan.


Jasmine tersenyum, membenarkan selimut Bryan yang sudah tersibak berantakan.


Aku tidak tahu bagaimana aku bisa segila ini dengan mu. Laki-laki yang pernah aku jadikan salah satu sasaran empuk pelatuk ku. Bagaimana jika dulu kau mati, bisa jadi aku kehilangan laki-laki yang membuatku dimabuk kepayang. Cup!


Jasmine mengecup kening Bryan, tersenyum.


Terimakasih untuk hadirmu di hidupku dengan cara yang tak pernah aku mengerti. Semesta begitu indah, begitu indah saat bersamamu.


Jasmine beranjak turun dari ranjang dengan perlahan. Berjalan berjingkit-jingkit seperti sedang kabur dari beruang yang tertidur.


Langkah kakinya bergerak menuju dapur.


Senyumnya mengembang, saat mendapati kue black forest buatan Rose masih tersisa setengah. Dengan lahap Jasmine menyantapnya tanpa ampun, berkali-kali ia mengedarkan matanya. Takut-takut ada orang yang memergokinya tengah makan kue di pagi buta.


Sore tadi Rose Mardiani membuat kue ulangtahun untuk suaminya Anthony Nicolas. Black forest dengan stroberi merah diatasnya. Sebenarnya sore tadi mereka sudah menyantapnya bersama, Jasmine merasa kurang, tapi ia enggan untuk memintanya lagi. Karena kue itu bukan miliknya.


Tepat di jam dua lewat tiga puluh menit ini Jasmine merasa kenyang, suapan terakhir mendarat di mulutnya. Dengan susah payah Jasmine mengunyah kue yang penuh dimulutnya. Bahkan ia hampir tersedak.


Dengan cepat ia mengambil gelas dan menuangkan air putih di dalamnya. Saat berbalik, Jasmine semakin tersedak.


Mendapati Husein yang berdiri memegang tongkat baseball.


Tatapan mereka beradu.


Hening.


Cepat-cepat Jasmine menelan kue dan meminum air putih. Tapi dari tadi pandangan tak berhenti menatap Husein.


"Apa yang kau lakukan ibu Jasmine?" Tanya Husein.


Jasmine menggeleng, tapi matanya tertuju ke meja makan. Piring dan sendoknya masih tergeletak meninggalkan jejak.


"Itu kue Papa, kenapa dimakan? Kamu mau jadi maling?" Tanya Husein lagi sambil tangannya menepuk-nepuk tongkat baseball.


Jasmine menggeleng. Langkah kakinya berangsur mundur, menjauhi Husien yang bergerak mendekatinya.


"Apa kurang? Potongan kue untukmu lebih besar daripada orang yang sedang berulang tahun." Jelasnya lagi sambil mendekati Jasmine yang tertangkap basah seperti seekor tikus.


"Jika papa makan manis terlalu banyak, nanti Papa bisa diabetes." Sanggah Jasmine membela diri.


"Alasan!" Husein semakin mendekati Jasmine, hingga wanita yang menjadi istri adiknya merasa terpojok.


"Aku lapar, jadi aku makan kuenya." Jasmine tertunduk malu.


"Hahaha, lihat wajahmu. Apa seperti ini seorang ibu-ibu kalau makan."


Husein mendongkakkan wajah Jasmine, mengusap krim vanilla yang belepotan di bibir Jasmine.


Jasmine terpaku.


Hening.


Tak ada yang memulai pembicaraan.


Hingga Husein yang menyadari kecanggungan itu memulai pembicaraan yang mengejutkan Jasmine.


"Kembalilah tidur, aku akan merahasiakan ini." Husein membereskan sendok, piring dan mencucinya.


Jasmine mengangguk, meninggalkan Husein yang tersenyum manis.


Dia kenapa sih, Aneh. Aku pikir dia akan memukulku. Terus apa tadi, apa harus membersihkan bibirku dengan jempolnya. Huh, lancang!


Gumam Jasmine sambil menutup pintu kamar. Ia masih mendapati Bryan yang tertidur nyenyak.


Dengan perlahan, Jasmine merangkak ke atas ranjang. Membenamkan tubuhnya di balik selimut.


Maaf.


Jasmine memeluk tubuh Bryan, laki-laki itu menggeliat dan membalas pelukan Jasmine.

__ADS_1


*


Minggu pagi.


"Sayang bangun." Berkali-kali guncangan di tubuh Jasmine tak membuatnya terbangun.


"Wake up baby, it's Sunday morning. Aglonema, Keladi red star, kuping gajah, dan Monst...."


Tubuh Jasmine terbangun saat mengingat tanaman hias keinginannya.


"Aku sudah bangun Bry."


Celotehan nya dengan mata yang masih terpejam.


Bryan terkekeh melihat tingkah konyol istrinya.


"Sudah jam delapan sayang, tumben sekali kau bangun terlambat."


Ehm, ehm...,


"Maaf Bry, aku sepertinya sedang lelah."


"Kamu yakin, jadi kita tidak pergi ke rumah sakit dan membeli tanaman hias keinginanmu?"


Jasmine mengernyitkan dahinya, "Aku akan semangat untuk itu."


Bryan tersenyum, "Mandilah dan sarapan. Mama dan papa sudah ijin pergi tadi pagi." Jelasnya sambil menyelipkan anak rambut Jasmine.


"Mama yang masak tadi?"


"Iya, mama juga mencari kue sisa kemarin. Tapi sudah tidak ada."


Mata Jasmine membulat.


Ehm, ehm...,


"Kenapa dari tadi kau hanya ehm, ehm... Ada yang mau kau bicarakan padaku? Atau....,"


"Bukan kamu kan babe yang makan kue Papa?"


Bryan menyunggingkan senyum mengejek.


Mata Jasmine mendelik.


"Hahaha, lucu wajahmu. Aku yakin bukan kamu yang makan kue sebanyak itu. Mandilah."


Jasmine bernafas lega, dengan cepat ia menuju arah kamar mandi.


Selesai berkemas dan berdandan. Jasmine menuju ruang makan.


Terlihat masih tersedia sarapan paginya di meja makan. Sandwich keju dengan selada segar dan beef bakar saus tomat diatasnya.


Ehmmm, "Sepertinya ini lezat sekali. Ditambah mayones pedas tambah nikmat."


Jasmine tersenyum, tak butuh waktu lama sandwich itu sudah habis, belum juga segelas susu coklat hangat yang mengaliri kerongkongan Jasmine sebagai akhir dari sarapan paginya yang terlambat.


"Bryan...," Panggilnya kencang.


"Bryan, aku siap." Panggilnya lagi.


"Bryan...!!!"


Tiga kali panggilan tak ada jawaban.


Jasmine mengerucutkan bibirnya. "Bryan bohong."


Dengan langkah gontai Jasmine berjalan menuju tangga.


"Tria...,"


"Ya, Nyonya." Langkah kaki Tria berjalan cepat menuju anak tangga paling atas.


"Tria, apa kamu melihat Bryanku?"

__ADS_1


Bryanku.


Tria hampir tertawa mendengar ocehan Jasmine.


"Tuan Bryan sedang di bawah, menyiapkan mobil dan bodyguard untuk mengawal Nyonya dan Tuan nanti."


Jelas Tria menenangkan Jasmine yang sedang menunjukkan wajah muram.


"Kau yakin, sedang tidak membohongi ku Tria?"


Tria menggeleng, bersamaan dengan itu Bryan menaiki anak tangga.


"Ada apa?"


Jasmine memeluk Bryan, "Aku pikir kamu bohong dan meninggalkanku Bry."


Bryan tak menjawab, ia malah melempar pandangannya pada Tria yang menghendikkan bahunya.


"Aku hanya memanasi mobil sambil menunggumu selesai sarapan sayang. Sudah siap?"


Jasmine mengangguk.


"Baiklah, ayo." Ajak Bryan sambil menuruni anak tangga. Jasmine sama sekali tak melepas tautan tangannya di lengan Bryan.


Sesampainya di dalam mobil Jeep Wrangler putih milik Bryan, "Kita mau ke rumah sakit dulu atau ke penjual tanaman." Tanya Jasmine sambil menautkan seat belt dibadannya.


"Maunya kemana? Hari ini harimu sayang."


"Kita ke penjual tanaman dulu ya Bry."


Bryan mengangguk, menancap pedal gas dan keluar dari gerbang persembunyiannya. Untuk pertama kali selama seminggu, akhirnya mereka berdua keluar dari rumah. Menghirup udara segar dan melihat kembali riuhnya jalanan kota.


"Banyak perubahan di kota ini selama aku hanya di rumah ya Bry." Jasmine tak henti-hentinya mengedarkan pandangannya melihat seluruh pemandangan kota.


"Kota semakin padat babe banyak pendestrian baru, mall-mall baru. Termasuk dua mall yang didirikan mantan suamimu."


"Dika?"


"He'emm, dia menjadi pengusaha muda terbaru di kota ini. Termasuk karirnya bernyanyi juga melejit."


"Benarkah?"


"Iya, kau menyesal bercerai dengannya?"


Jasmine melotot, "Apa yang kau bicarakan Bry, aku lebih menyesal jika ayah dulu membunuhnya."


"Jadi kau tak menyesal bercerai dengan dia?"


Jasmine menggeleng, "Anak-anak pasti bangga dengan ayahnya dan membenciku sekarang."


"Hey..., tidak ada yang membencimu sayang. Percayalah."


"Tapi bagaimana jika Asmira membenciku?"


"Putrimu gadis pintar, dan keluargamu memberi banyak perhatian dengannya. Tenanglah, maafkan aku."


"Kenapa minta maaf?"


"Karena aku yang membuatmu jauh dari anak-anak mu."


"Tapi kau membantuku Bry."


"Membantumu melupakan dia?"


"Aku akan berterima kasih untuk itu, berjanjilah jangan seperti nya."


Brakk, brakkk!!!!


*


*Next, 1 episode lagi nanti malam*.


jangan lupa dukung karyaku ya, terimakasih untuk terus memantau cerita ini. 💛

__ADS_1


__ADS_2