
"Baby, bangun." Dika menggoncang tubuh Jasmine yang masih terlelap dalam tidurnya.
Tepat pukul 4 sore, mobil Dika sampai di panti asuhan yang terletak jauh dari jalan utama. Berkali-kali Dika salah belokan dan harus bertanya pada warga setempat.
Hingga, tibalah mereka di jalan tak jauh dari gerbang utama. Terlihat banyaknya preman yang mabuk-mabukan dan duduk dengan sembarang tempat.
Sungguh pemandangan yang memilukan. Saat orang-orang di dalam situ berusaha untuk bahagia dan hidup dengan tenang. Malah ada banyak orang tak berguna yang menghalangi rezeki masuk ke dalam panti asuhan itu.
Berkali-kali Dika di peringatan kan oleh warga untuk tidak masuk ke panti Asuhan itu karena terhalang preman-preman yang merampas atau menggoda para donatur yang hendak masuk ke panti asuhan.
"Baby, bangun. Urgent!" Dika mencubit hidung Jasmine hingga ia kehabisan nafas. Ia bangun dengan terengah-engah, tangannya meraba sesuatu yang menghalangi oksigen masuk ke hidungnya.
"Dika!" Jasmine mengibaskan tangannya.
"Udah sampai." Jelasnya sambil menunjuk segerombolan preman yang menunjuk juga ke arah mobil Dika.
Jasmine yang nyawanya belum terkumpul hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya, sambil ia mengucek kedua matanya. Selang beberapa menit Jasmine menatap Dika.
"Yakin ini pantinya?" Tanya Jasmine.
"Yakin, baby. Sudah berkali-kali aku tanya sama penduduk sini. Dan mereka menunjuknya ke arah sih."
"Siapa mereka, mereka tak terlihat seperti penjaga." Jelas jasmine dengan menajamkan matanya.
"Mereka preman yang menghadang donatur untuk masuk ke panti asuhan suamimu." Jelas Dika sambil memundurkan laju mobilnya.
"Berarti anak-anak dalam bahaya. Kenapa putar balik, Dika. Mereka butuh kita, bisa jadi mereka sedang kelaparan sekarang." Jasmine memegang lengan Dika untuk menahan laju mobilnya.
"Bahaya, Jasmine. Kita hanya berdua, mereka ber tujuh."
"Tembak saja dari sini." Jasmine mengambil pistolnya dari dalam tas ransel yang ia bawa.
"Riskan, kau akan membuat takut anak-anak di dalam dengan suara tembakannya. Belum juga kau akan membuat keributan dengan warga disini. Mereka nanti akan mengira kita orang jahat. Mundur dulu, kita harus cari bantuan." Dika menancap pedal gas dan menjauhi gerbang utama.
"Terus kita mau kemana, Dik? Jika kembali ke kota akan butuh waktu lama lagi untuk kesini." Jelas Jasmine sambil tangannya berkutat dengan ponsel miliknya.
"Aku sudah kirim lokasi ke Raka, mereka akan kesini menyusul kita."
Pengacau itu.
__ADS_1
Dika menghela nafas panjang, "Adikmu tahu kau pergi dengan ku?"
Jasmine mengangguk.
"Kita pergi ke puncak dekat sini saja."
"Kau tidak sedang mengajak ku kencan kan? Ini juga bukan termasuk perselingkuhan kan?" Jasmine membombardir pertanyaan yang sulit Dika jawab.
"Hanya untuk menunggu adikmu dan lainnya datang. Lagipula sudah lama aku tak...., lupakan." Dika kembali fokus ke jalanan setalah tatapan itu menerkam Jasmine.
"Ingat yah, aku bawa pistol. Kamu macam-macam. Aku tembak sekarang." Jasmine menyodorkan pistolnya tepat ke arah dada Dika.
"Aku tak menyangka, kau lebih dari apa yang ku lihat. Bahkan kau bisa terlihat kejam."
"Itu tanggung jawabku. Dik....,"
"He'emm..., Katakan."
Jasmine menimbang-nimbang pertanyaan sebelum ia tanyakan pada laki-laki yang duduk disampingnya.
"Dik....,"
"Apa! kau menganggu konsentrasi ku dengan pertanyaan mu. Cepat katakan!" Tatapan itu menghujam tajam ke arah Jasmine.
"Tidak, tidak jadi." Jasmine menghendikkan bahunya.
Mobil yang berhenti di pinggir jurang ini, tepat memancarkan langsung cahaya senja yang indah. Swastamita kali ini tidak ingkar janji. Cahayanya begitu mampu membuat mu terkagum-kagum. Bahkan suasana sejuk dan romantis serasa tercipta.
"Ayo katakan, jika tidak aku tancap pedal gas ini dan kita mati bersama."
Jasmine melotot dengan ide konyol yang Dika katakan. Jasmine menatap jurang dalam dengan rimbunnya pepohonan di bawahnya.
"Jangan gila, bahkan aku belum bahagia Dika. Banyak urusan yang belum aku selesai kan. Kalau aku jadi kuntilanak gimana. Kamu mau aku menghantuimu sepanjang hari." Bulu kuduk Jasmine berdiri membayangkan apa yang ia bicarakan.
"Kita mati bersama, jadi kita sama-sama saling menghantui. Urusanku dengan mu tak akan pernah selesai.
Aku harus memastikan kau benar-benar bahagia selepas berpisah dengan ku, jika sudah begitu. Ku pastikan urusanku dengan mu selesai Jasmine." Dika menatap dalam wajah Jasmine. Tersirat dalam makna yang Dika katakan.
"Bagaimana jika aku tidak bahagia?" Jasmine memberanikan diri membalas tatapan mata Dika. Dalam...,
__ADS_1
"Ku pastikan kau akan bahagia, dengan caraku." Dika memejamkan matanya dengan helaan nafas kasar yang terbuang percuma.
"Sampai kapanpun, aku akan berdiri di belakang mu. Sampai kau temukan bahagia mu dengan laki-laki lain. Bahkan aku tak akan pernah menikahi Amanda secara sah di mata negara. Jika kau sendiri tidak menikah secara resmi."
Jasmine tertegun dengan perkataan Dika, ia sama sekali tidak menyangka jika Dika juga terluka dengan perceraian mereka dulu. Hingga cahaya matahari terbenam, mereka masih saling terdiam. Seakan itu adalah pembicaraan intim setelah sekian lama mereka berseteru.
"Putar balik Kuyyy, aku merasa sesuatu yang tidak beres disini."
Iya yang tidak beres itu kita berdua, kamu percayakan jika orang ketiga disini adalah setan.
Aku tak mau setan menghasut kita untuk berbuat yang tidak-tidak.
Jasmine mengangguk dengan batinnya sendiri hingga Dika menyadari keanehan Jasmine.
"Jangan bilang kalau kamu kesurupan. Hingga saat ini aku tidak tahu doa mengusir hantu."
Dika memundurkan laju mobilnya dan putar arah menuju tujuan utama.
"Memang apa isi otakmu, hingga doa mengusir hantu saja belum hafal." Tanya Jasmine dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, ternyata waktu tak mengubahnya.
Dika sama sekali tidak menjawab pertanyaan Jasmine, ia hanya fokus mengedarkan pandangannya karena memang jalanan yang mereka lalui cukup sempit dan gelap.
Selang 30 menit mobil Dika sampai di pertigaan arah ke panti asuhan, mereka menunggu mobil bantuan datang. Sembari menunggu Dika membuka kaca mobil dan menyesap Vape di tangannya. Harumnya aroma nanas.
"Ganti saja dengan rasa melon, Dik." Jasmine yang rindu dengan Bryan dengan seenaknya menyuruh Dika untuk mengganti aroma Vape dengan rasa melon. Dengan begitu, Jasmine akan slalu mengingat jika Bryan masih ada dalam ingatannya.
Tak berhenti sampai disitu, Dika mengambil Gitar akustik di bangku penumpang dan menyanyikan lagu. Ya lagu kenangan mereka berdua saat masih pacaran dulu, Sedangkan Jasmine hanya tersenyum dengan mata yang berbinar.
*
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, mobil bantuan yang di tunggu-tunggu akhirnya datang dan Raka lah yang memimpin misi kali ini.
Ia mengklakson berulang kali mobil Dika, karena tak mendapati kedua manusia ini menunjukkan hidungnya. Raka menggetuk kaca mobil dengan kerasnya.
Raka mengumpat saat mendapati Dika yang tertidur dengan kemeja yang terbuka dengan Jasmine yang memejamkan mata. Meski di bangku yang berbeda rasa curiga menghantui pikiran Raka.
Ia mengetuk berkali-kali kaca mobil hingga Dika perlahan mengerjapkan matanya.
"Bangun! Buka pintunya!" Raka mengeram nada bicaranya sudah di sulut dengan emosi yang memuncak.
__ADS_1