
Harusnya part nikahan kemarin jadi part ending. Tapi ya sudahlah, sebagai kenangan terindah aku kasih part ena-ena sebagai klimaks cerita ini. Fyuhhhh 🌬️
*
Entah kenapa hotel kali ini terasa lebih panas dari biasanya. Satu pasang, dua pasang, dan pasangan kekasih lainnya seperti sedang memadu kasih. Melepas rindu karena sudah lama tak bertemu.
Kamar-kamar kedap suara yang menahan sebal. Seperti enggan mendengar suara-suara mengelikan dari para tamu-tamu yang menghabiskan waktu malam yang panjang.
Dikamar nomer 176, Jasmine sibuk membersihkan make-upnya. Ia melihat Bryan yang duduk di sisi ranjang, menatapnya dari pantulan kaca. Bibir merah jambunya tersenyum, "Gak mandi?" Tanya Jasmine sambil menghapus sisa make-up terakhir.
Jasmine membalikan badannya, ia menatap Bryan yang tak bergeming dari tempatnya. Ia masih duduk menatap Jasmine yang berjarak dua meter dari tempatnya.
"Kenapa diam? Kamu menyesal menikahiku?" Tanya Jasmine yang seketika merubah air mukanya. "Katakan? Jika kau menyesal, maka aku akan keluar dari kamar ini." Jasmine berdiri hendak mengambil barang bawaannya. Ia kesusahan berjalan, sebagian roknya ia tarik ke atas.
"Kenapa tidak kamu lepas saja, apa perlu aku membantumu melepasnya." Bryan mendekati Jasmine, tangannya merengkuh pinggang wanitanya.
Jasmine tersentak, tapi ia masih diam. Berusaha menetralkan nafasnya.
Bryan membalikkan tubuhnya, menangkup kedua pipi Jasmine. "Gemas, kamu masih terlihat mengemaskan saat merajuk seperti ini." Bryan mencubit kedua pipinya. Jasmine semakin mengerucutkan bibirnya.
"Ada apa dengan bibirmu, sudah tidak tahan?"
Pipi Jasmine merona.
"Kamu dengan ciuman pertama kita?"
Jasmine mengangguk.
"Ayo lakukan lagi, bukannya kita sudah menjadi sepasang suami istri. Kamu bisa melakukannya sekarang? Bahkan aku tidak perlu memaksamu seperti dulu." Jelas Bryan sambil tangannya menarik tubuh Jasmine lebih mendekat. Menempel erat dengan tubuhnya, tak memberinya celah sedikitpun.
Tangan Bryan tak henti-hentinya mengusap lembut punggung Jasmine. Menelusuri setiap inci lekuk tubuh yang masih terlihat seksi meskipun usianya sudah menginjak 40 tahun.
__ADS_1
Hingga tangannya berakhir pada Zipper kebaya dan menurunkannya. Jasmine menahan tangan Bryan, "Katakan dulu kamu tidak menyesal menikahiku." Ucap Jasmine sambil menatap mata Bryan yang tak tersirat kesedihan atau penyesalan.
"Harusnya aku yang bertanya, mengapa kamu mau aku nikahi lagi. Padahal aku hanyalah seorang yang memiliki daftar hitam. Aku hanyalah laki-laki yang belum bisa membahagiakanmu." Bryan mengangkat dagu Jasmine, "Aku hanyalah Bryan yang tak memiliki apa-apa."
"Bukannya kamu dokter yang bisa mengobati hatiku. Ayo kita lakukan pengobatan malam ini." Jasmine merangkulkan tangannya di leher Bryan.
"Baik, dokter akan melakukan pemeriksaan." Bryan menarik kebaya itu terlepas dari tubuhnya, menyisakan pelindung yang menutupi gumpalan kenyal istrinya.
"Masih sama, coba aku lihat dalamnya." Tangan Bryan melepas penaut Bra. Menampilkan gumpalan kenyang yang menggantung indah.
Bersusuh payah Bryan menelan ludahnya, hingga Bryan membawa Jasmine ke sisi ranjang.
"Berbaringlah, biar aku periksa denyut jantungmu." Jasmine berangsur mundur hingga tubuhnya menempel dibahu ranjang. Menutup gumpalan kenyal dengan menyilangkan tangannya.
"Jangan di tutupi, aku sudah melihatnya." Bryan merangkak naik ke atas ranjang, menyingkirkan tangan dan menempelkan telinganya di dada Jasmine. Begitu dekat dengan puc*k kenikmatan.
"Aku malu, Bry."
"Aku merindukannya, setiap malam setiap hari dalam penjara. Aku slalu mengingatmu. Mengingat kenakalanmu." Bibir merah jambunya sudah menjil*ti puc*k kenikmatan istrinya, Tubuh Jasmine meremang saat lidah itu bermain-main dengan benda kenyal miliknya.
Tubuh Bryan semakin menegang. "Sebentar lagi akan ku buat ini berisi." Bryan menyentuh kedua gumpalan kenyal.
"Tapi bagaimana jika aku tidak bisa hamil lagi?" Wajah Jasmine berangsur meredup. Sesuatu melingkupi hatinya yang layu.
"Tidak boleh menyerah, kita coba lagi. Aku belum memeriksa yang ini." Bryan melepas stagen hijau yang membelit perut istrinya. Melepas semua belitan jarik yang menyusahkannya untuk menyentuh bagian-bagian penting yang menyenangkan.
Tertanggal semua baju yang menutupi tubuh polos Istrinya, sedangkan Bryan. Ia masih memakai baju yang utuh.
"Masih sama, bukankah bagian bawah kita sudah 5 tahun lebih tidak bercengkrama. Sepertinya aku akan merasakan dirimu menjadi perawan lagi sayang." Bryan mengecup bibir Jasmine, permainan balas-membalas tautan bibir itu terjadi cukup lama.
Tangan Jasmine yang terasa nganggur akhirnya menyentuh bagian bawah Bryan, sesuatu yang menonjol dan mengeras. Membuat Jasmine seakan gemas dengannya. Bisikan di telinga Bryan benar-benar menggodanya untuk lekas menerkam tubuh Jasmine yang sudah basah.
__ADS_1
dengan sekali tarikan dan hempasan, tubuh Jasmine kini berganti di posisi atas.
"Giliranmu menakaliku sayang." Goda Bryan sambil menarik pucuk merah bekas gigitannya tadi.
Jasmine membuka satu persatu kemeja Bryan, melepas celana dan menanggalkan semua kain dari tubuh suaminya.
Pusakanya masih tegang dan belum tumbang sebelum dimasukkan. Jasmine mencium pusar Bryan, hingga bibirnya berlabuh pada benda tak bertulang. Bibirnya sibuk berkelana ke atas bawah, Mengul*m dan memberinya sentuhan-sentuhan nakal dengan tangannya. Sedangkan tangan Bryan sibuk bermain dengan sesuatu yang basah di celah-celah kecil yang perlahan mulai merekah.
Lelah bibirnya bermain dengan pusaka Bryan, kini tubuh Jasmine duduk diatas tubuh Bryan, merangkulkan tangannya dilehernya. Meninggalkan kissmark yang menghiasi lekuk leher Bryan.
"Sayang, lakukan." Tubuh Jasmine berirama, mengoyahkan pinggulnya.
"Mungkin akan terasa lebih sakit, bertahanlah." Bryan membantu Jasmine mengarahkan miliknya, dengan sekali hentakan, tubuh mereka mengalami penyatuan. Jasmine mencengkeram punggung Bryan, ia menahan sesuatu yang terasa perih dan panas dibawah sana. Namun goyangan pinggulnya masih terus berputar-putar, menaik-turunkan berirama. Bryan mengerang, "Faster, babe."
Bibir Jasmine berlabuh, mencium bibir Bryan dengan rakus. Peluh mengalir melalui celah diantara di gunung yang basah.
Nafas mereka saling beradu. Tak kuat menahan lagi, Jasmine melepas penyatuan mereka. "Sayang gantian, tulangku mau copot."
Jasmine membalikan badannya.
Dengan senang hati, Bryan menubruk tubuh istrinya, melakukan penyatuan lagi berulang-ulang. Tangannya tak tinggal diam, sibuk bermain-main.
Semakin malam ritme permainan semakin beringas. Dua manusia di mabuk kepayang ini, tak henti-hentinya terus melakukan penyatuan secara bergantian.
Tak peduli berapa kali Jasmine mengalami pelepasan, bukannya berhenti Bryan semakin menegang mendengar suara Jasmine yang parau menyebutkan.
Kedua tubuh saling berebut oksigen yang semakin malam semakin menipis. hingga akhirnya Bryan menghujani rahim Jasmine dengan benih-benih super miliknya.
Bryan merangkul tubuh istrinya, dalam malam yang temaram dengan cahaya bulan. "Cintaku padamu tetaplah utuh."
Malam ini ku nikmati lagi sesuatu yang kembali hidup dalam diriku.
__ADS_1
Aku Jasmine Adriana ~ tidak ada kebahagiaan yang bisa kau ambil secara instan!
[ END ]