Kiss The Rain

Kiss The Rain
Jadi-jadian.


__ADS_3

Mau bikin konflik aja pusing setengah mati -____- padahal endingnya udah ada. Tapi part konfliknya bikin ruwet.


Terus pantau ya reader zheyeng. Terus dukung karyaku, ditowel dipake like dan vote juga boleh, sukur-sukur dibaca. Alhamdulillah 😉


*


Sepertinya Rabu malam ini menjadi Rabu yang sial untuk Jasmine dan Bryan, belum juga mobil mereka berjalan 100 meter dari tempat pemberhentian terakhir. Sebuah mobil melesat cepat didepan mereka, berhenti mendadak.


Bryan terkaget-kaget, ia mencap pedal rem dengan cepat. "Brengsek!" Umpatnya.


Brakk, brakkk, brakk. Dua orang pria bertopeng terus menggedor-gedor kap mobil, berteriak, "Keluar, cepat keluar!!" Nadanya berat, hanya terlihat mata dan lubang hidungnya.


Jasmine menatap Bryan dengan tajam, mata Bryan mengerling paham.


Jasmine tersenyum, berusaha mengatur nafasnya. Berusaha berfikir positif dengan apa yang akan terjadi setelah keluar dari mobil. Wajahnya gugup, tapi bibirnya tersenyum. Ia menoleh ke arah Bryan, saat ketukan kaca itu berulang-ulang terus mereka pukul dengan kencang.


Bryan mengangguk.


Hingga pintu mobil itu terbuka, Jasmine dan Bryan turun secara bersamaan.


"Siapa kalian?" Ucap Bryan sambil menatap kedua pelaku misterius.


"Ikut, cepat ikut kami!!!" Pekik keduanya.


"Kami mau pulang kerumah, tidak ada waktu untuk ikut dengan kalian." Jelas Jasmine santai.


"Pajak! Pajak wilayah, ini daerah kekuasaan kami." Cecar keduanya sambil menodongkan tongkat baseball dan sebuah pistol rakitan.


"Haha, jika aku membayar pajak wilayah kalian apa kalian bisa memasang lampu yang lebih banyak?" Jasmine masih dengan nada santainya. Bryan yang disampingnya sudah memasang ancang-ancang jika keduanya mau menyerang. Tapi ia malah ikut mendengar ocehan Jasmine yang diluar nalarnya sebagai seorang lelaki.


"Untuk apa lampu, tidak penting! Cepat uang!" Bryan berusaha mengalah, tangannya sudah merogoh kantong celananya. Jasmine tampak menggelengkan kepalanya.


"Penting dong, jika ini wilayah kalian kasih lampu. Biar banyak orang yang lewat sini, biar banyak lagi korban yang kau todong. Kalian tau gak, disana." Jasmine menunjuk salah satu tikungan tajam sebelum turunan. Wajahnya begitu meyakinkan, benar-benar membuat Bryan terperangah mendengarnya.


Begitu juga para begal yang ingin merampas uang Bryan, nyali mereka berdua nyari ciut hilang.

__ADS_1


"Aku lihat disana tadi ada penjaga gaib, aku bisa memanggil mereka dan membawa kalian masuk ke gerbang gaib." Jasmine mengangguk-angguk mulutnya komat kamit, entah dari mana mantra yang ia baca. Sebuah angin kencang menyerebak pepohonan, menjatuhkan daun-daun kering menambah kesan angker jalanan yang mereka tapaki. "Hmmm....," Jasmine mengangguk-angguk, matanya membulat tajam, "Pergi!!" Pun dengan bakat bernyanyinya Jasmine menyanyikan lagu Jawa Lingsir wengi.


Mereka berdua lari terpontang penting, masuk ke dalam mobil dan cepat menekan pedal gas berlari menjauhi satu mahluk jadi-jadian dan satu mahluk lagi yang merinding ketakutan. Jasmine mengarah pada Bryan, melangkahkan kakinya tanpa mengedipkan matanya. Bryan perlahan mundur, wajahnya pias.


Jasmine tertawa cekikikan, memegang bahu Bryan. "Jangan, jangan bukan saya begalnya." Ucap Bryan terbata-bata.


"Baguskan aktingku, gimana?" Jasmine mengerlingkan matanya.


Bughhh.


Bryan meninju perut Jasmine dengan pelan tanpa menyakitinya, mulutnya kembali meracau. "Sialan kamu babe! Aku pikir kamu benar-benar kuntilanak jadi-jadian." Bryan masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa saat angin kembali berhembus dengan kencang.


Jasmine meracau, "Sial, kalau beneran dateng mati aku." Dengan buru-buru juga Jasmine masuk ke dalam mobil, menutup rapat pintunya dan berkali-kali menengok ke belakang. "Sial, sial." Jasmine menundukkan wajahnya.


"Jalan Bry, cepatan." Pinta Jasmine menundukkan kepalanya.


Bryan ikut menoleh kebelakang, matanya semakin membulat saat sebuah Cahaya hitam berdiri besar dengan gagahnya.


"Kalau bercanda tahu tempat babe, lihat tuh murka penjaganya." Jelas Bryan sambil menancap pedal gas menjauhi tempat itu.


"Nanti sampai kota kita makan dulu, dirumah gak usah masak. Mandi terus tidur." Ucap Bryan sambil melajukan mobilnya, tatapan wajahnya masih bingung sekaligus senang.


"Suaramu bagus, kenapa tidak pernah bernyanyi untukku?"


Jasmine membuang nafasnya panjang, "Kamu gak pernah lihat YouTube ya?" Sekilas Bryan memandang wajah Jasmine, "Hmmm, hanya sekali waktu videomu tersebar."


"Aku heran Bry, apa yang kamu lakukan. Apa pekerjaan mu begitu berat dan sibuk, sampai main YouTube aja gak pernah." Jasmine menggeleng, wajahnya terlihat heran sekaligus kagum dengan suaminya. Jika lelaki seumurnya sedang gentar mencari pekerjaan atau mencari jodoh, ia malah sibuk membuat masalah yang tidak sepele.


"Aku bertanggung jawab atas semua yang sudah aku miliki, termasuk kamu." Nada bicara Bryan terdengar serius, "Bahkan untuk bersenang-senang saja aku tidak pernah Jasmine. Bergelut di duniaku, tidak semudah yang kamu bayangkan."


"Maka berhentilah."


Lagi-lagi dencitan mobil itu berhenti dengan mendadak. Bryan menatap Jasmine dengan serius, wajahnya mengeras. "Tidak bisa, banyak yang harus aku selesaikan jika harus menghentikan peredaran kartel terbesar di negara ini, Aku sendiri bimbang." Kini tubuh Bryan bersandar di jok mobil, nafasnya naik turun. Berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar.


Jasmine melihat Bryan dengan iba, "Lalu apa yang bisa ku lakukan untuk membantumu?"

__ADS_1


Bryan menoleh, beberapa menit menatap Jasmine dengan heran. "Tidak ada." Jasmine menyaut dengan cepat, "Tapi aku bosan jika dirumah terus Bry, aku mau ikut kamu kerja!"


"Sudah ayo ke kota. Bentar lagi kau akan berubah menjadi singa jika lapar." Sergah Bryan, bibirnya terkekeh. Hingga Jeep Wrangler itu berjalan lagi menuju arah kota.


30 menit berlalu, tibalah mereka di restoran dekat pusat kota. Jasmine yang mengantukpun tertidur di dalam mobil selama perjalanan.


Tepukan berkali-kali di pipinya tak membuat Jasmine terbangun juga, Bryan menggeleng. "Aku takut jika harus membangunkan singa yang tidur dan lapar." Gumamnya sambil meninggalkan Jasmine di dalam mobil.


Bryan memutuskan untuk membeli makanan secara take away. Seperti dia benar-benar takut jika singa betinanya marah karena terbangun dari tidurnya. Wajahnya nampak lelah tapi tak mengurangi paras tampannya.


Bryan berjalan menuju meja kasir, memilih beberapa hidangan malam dan menunggunya beberapa saat. Sekali-kali dia menatap mobilnya dari kaca jendela yang lebar, berharap Jasmine sudah terbangun dan melihatnya.


Hingga tatapannya tertuju pada wanita yang membuatnya kesal, mata mereka saling bertemu. "Benar-benar hari yang sial." Batin Bryan saat mendapati wanita itu melambai dan berjalan cepat ke arahnya.


"Bryan, sendirian?" Wajahnya tersenyum, lipstiknya sungguh menor dan pakaiannya luar biasa seronok untuk usianya.


"Senang sekali Bryan kita bertemu lagi, sudah lama kita tak bersua, Ia kan?" Tangannya mulai menjalar ke lengan Bryan, sedikit mengusap dan menekannya. Menggoda Bryan seperti biasanya.


Bryan hanya bisa diam dengan tingkah laku gadis didepannya. Dia hanya akan menjawab dengan deheman yang membuat jakunnya naik turun.


"Bryan, kapan main kerumah lagi. Papa nungguin kamu." Nada bicaranya semakin manja dan terkesan dibuat-buat, membuat Bryan mendengus kesal, "Shal, jangan ganggu kakak!" Bryan melepas tangan Shally dengan paksa, gadis itu meracau kesal.


"Kenapa kak, kakak udah gak suka dengan Shally?"


Seorang pelayang restoran itu melambai ke arah Bryan dan Tersenyum, ketika Bryan hendak berdiri mengambil pesanannya, Shally menarik paksa tangan Bryan. Tubuhnya goyah dan ambruk tepat diatas tubuh Shally. Shally tersenyum menang dengan senang hati membantu Bryan berdiri, "Kurang ajar!" Hardik Bryan.


"Kakak jahat, aku bilang papa!" Teriak Shally, bibirnya sudah bergetar menahan tangisnya. "Kenapa kakak membentak ku!"


"Kakak mau ambil pesanan, kenapa malah ditarik!" Hardik Bryan lagi, "Kakak capek Shal, kakak mau pulang."


"Temani Shally makan malam kak." Pinta Shally, tanpa melepas genggamannya di lengan Bryan.


"Kakak sudah ditunggu teman, lain waktu." Bryan meninggalkan Shally yang menggerutu sebal.


"Teman." Shally berusaha berfikir keras, karena selama ini Bryan tak mempunyai teman lain selain persekutuan kartel keluarganya. Hingga ia memutuskan membuntuti mobil Bryan secara diam-diam.

__ADS_1


Next \=\=\=>


__ADS_2