Kiss The Rain

Kiss The Rain
Three day with you (2)


__ADS_3

"Kenapa dia tidak sadar-sadar, apa yang kalian lakukan hanya diam saja."


Kedua dokter jaga nampak melempar pandang.


"Maaf Nona, seperti yang sudah dokter Ridwan katakan, jika laki-laki ini sedang mengalami induced coma. Kita hanya perlu menunggu respon dari tubuhnya saja."


"Lakukan yang terbaik, jika perlu bawa dia ke luar negeri."


Edho menggeleng, "Maaf, Nona. Organ vitalnya masih lemah, sangat berbahaya jika harus di bawa keluar negeri."


"Lalu, harus sampai kapan aku menunggunya. Sekali saja aku mendapat kesempatan untuk berdua dengan nya. Malah dia tidak berguna." Shally menghela nafas panjang. Membalikkan badannya keluar dari ruang operasi.


Cinta yang membutakan mu, Nona. Jika saja kau tak gila sampai membuatnya celaka, pasti kau tak akan repot harus mengurusnya. Dasar!


Edho memijit pelipis keningnya, rasanya dia juga lelah menunggu laki-laki ini untuk terbangun dari tidurnya. Bukan karena ia peduli dengan laki-laki itu. Tapi ocehan majikannya membuat telinganya jengah.


*


Day 1.


"Husein, bawa charger ponsel tidak?" Tanya Jasmine sembari menggoyangkan tubuh Husein yang tertidur dengan posisi tengkurap.


"Husein...,"


"Hmmm,"


"Bangun, aku akan kabur jika sampai hitungan tiga kau masih terus tertidur."


Tidak ada jawaban dari Husein. Ia masih memejamkan matanya.


"One, two......," Jasmine menghela nafasnya, sembari matanya beredar mencari key-idcard.


Husein tersenyum sembari membalikkan tubuhnya, "Mau kau hitung sampai seratus pun kau tidak bisa keluar dari kamar ini."


"Kenapa?"


"Ambil saja key-idcard nya di saku celana ku." Husein menepuk-nepuk saku celananya yang berwarna biru dongker. Menarik salah satu sudut bibirnya menggoda.


"Males! uncle mandi gih. Ayo sarapan bersama. Aku tidak suka jika hanya makan sendirian."


"He'emm, ambil saja charger ponsel di tas ransel ku."


"Baik, uncle." Jasmine beranjak mendekati tas ransel Husein yang berada di atas sofa.


"Aku mau mandi dulu. Jangan mengintip, aku masih perjaka."


Jasmine melongo, "Perjaka atau tidak bentuknya pasti sama. Aku sudah bosan bermain-main dengan telalai gajah." Jasmine merogoh tas ransel mencari dimana letak chargernya.


"Bosan kenapa?" Tanya Husein heran.


"Aku hamil 3 kali, ke tiga-tiganya aku hamil seorang diri. Aku lelah Husein. Setelah melahirkan bayi ini, aku ingin melakukannya tubektomi." Jelasnya lirih.


"Tubektomi?" Husein mengerutkan dahinya tidak paham.


"Steril sel telur, Husein."


"Maksudmu, tidak bisa punya anak lagi?"


Jasmine berdehem, sembari mencari lubang saklar.


"Uncle, aku tidak pernah menyesal mengandung anak ini ataupun anak dari suamiku yang dulu. Tapi usiaku sudah tidak muda lagi, rahimku memang mendapat benih super dari perjaka. Tapi, hatiku juga lelah." Jasmine membaringkan tubuhnya diatas sofa.

__ADS_1


"Sudah lupakan, aku mau mandi. Jika lapar, makan dulu sarapan mu."


Husien berlalu menuju kamar mandi, sedangkan Jasmine menerawang jauh ke angkasa.


Bryan apa kabarmu, apa kamu sudah makan. Apa kamu berselera. Bryan, Apa kamu mengkhawatirkan ku. Jangan marah ya, jika kakakmu bersamaku sekarang.


Mata Jasmine tertutup, bersamaan dengan air mata yang mengalir perlahan membasahi wajahnya.


Waktu bergulir cepat, Husien keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang basah.


Airnya mengalir melewati dadanya yang sering disebut reader roti sobek. Dadanya bidang, berlekuk, kekar dan Ahhh!


Apa dia sedang menggoda ibu-ibu hamil ini dengan roti sobeknya.


"Kenapa?" Husein mendekati Jasmine sambil memakai kaos berwarna hitam. Sedangkan ia juga hanya memakai celana boxer dengan santainya.


"Enggak, enggak ada!"


"Cepat makan sarapan mu dan obatnya."


"Baik."


*


Tak ada yang mencurigakan dari Husein yang slalu menuruti keinginan Jasmine. Dari hanya menemaninya melihat kartun di TV, menjadi tempat untuk bercerita tentang kehidupannya, hingga berbagai jenis makanan kesukaan Jasmine slalu Husein sediakan.


Dia senang jika hanya di anggap Uncle oleh Jasmine. Baginya tiga hari di dalam kamar hotel bersama wanita yang hanya akan menjadi istri adiknya tanpa bisa ia miliki sudah lebih dari cukup.


Mungkin itulah keinginan Husein selama ini. Ia tak mengkhianati adiknya. Ia hanya mau, memberi perhatian lebih pada wanita yang memberi kehidupan baru untuk keluarga nya.


Hari ketiga setelah menghabiskan waktu di kamar 227, Husein menepati janjinya untuk mengantar Jasmine pulang ke rumahnya.


Antara rindu dan kelabu.


"Ada apa, bukannya kau senang bisa bertemu keluarga mu lagi?" Lanjut lagi sembari berjalan mendekati Jasmine.


"Aku ragu." Jawabnya singkat.


"Untuk apa kau ragu?"


Husein menggengam erat bahu Jasmine dan menyandarkannya pada tembok.


"Aku ragu untuk kembali, aku ragu jika keluarga ku tidak bisa menerima ku kembali." Jasmine tertunduk.


"Tidak ada yang perlu kau takutkan, kembalilah. Keluarga mu pasti senang. Lakukan yang terbaik untuk adik ku, aku akan membantumu."


"Bagaimana dengan Mama dan Papa?"


"Hahaha, tidak ada yang perlu kau khawatirkan dengan orangtuaku. Mereka akan senang bisa keluar dari jerat lubang hitam meskipun harus di penjara. Mungkin ini jalan yang tepat untuk kami Nicolas Family menghentikan pekerjaan licik dan menjijikkan."


"Husein....,"


"He'em, apa?"


Husein melepas tangannya dari bahu Jasmine. Tatapan matanya kini dalam menerkam.


"Bantu aku menjemput adikmu." Jasmine memeluk Husein dengan erat. "Aku usahakan yang terbaik untuk kita semua."


Husein membalas pelukan hangat Jasmine, baginya ini kesempatan sekaligus tanda perpisahan.


"Yakinkan dirimu." Husein menepuk bahu Jasmine, kecupan manis di keningnya mengakhiri jarak diantara mereka berdua.

__ADS_1


Jasmine terpaku.


"Ayo pulang."


Jasmine mengangguk. Mengikuti langkah Husein menuju lift hotel.


Tibalah mereka di lantai lobby. Terlihat Nicky yang kembali menatapnya dengan tanda tanya penuh.


Di perjalanan pulang hanya ada kebisuan dari Husien dan Jasmine. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jasmine yang terus meremas kedua tangannya yang berkeringat, Husein yang tak akan lupa dengan pelukan pertama dan terakhirnya.


Hingga tak terasa mobil itu sudah berhenti tepat didepan rumah Jasmine. Dengan waktu yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


"Turunlah." Pinta Husein.


"Aku ragu."


Wajah Jasmine gelisah, waktu satu tahun bukan waktu yang singkat, untuknya kembali lagi masuk dalam lingkungan keluarganya.


Husein menghela nafas, melepas seatbeltnya. Hingga ia memiringkan tubuhnya, melepas seatbelt yang masih tertaut pada tubuh Jasmine.


"Percayalah, jaga Trah Nicolas dengan baik, seperti kau menjaga anak-anak mu yang lain. Tumbuhkan dia menjadi anak yang kuat dan menyebalkan seperti dirimu dan Bryan." Husien menarik tubuhnya memeluk Jasmine.


"Husein...,"


"He'emm."


"Aku akan butuh bantuanmu, jadi kirimkan aku alamat rumahmu."


"Kau membawa ponsel Bryan?"


"Iya."


"Baiklah, nanti ku kirim alamatnya."


"Terimakasih." Jasmine melepas pelukannya, ia turun dari dalam mobil. Berjalan dengan ragu ke arah gerbang rumahnya saat mobil Husein sudah bergerak menjauhi dirinya.


Aku harus memilih jalan


kembali menjadi diriku sendiri


kembali menjalankan misi


Misi yang akan membuatku kembali menjadi wanita malang, menyedihkan


Sendiri tak terperikan


Jasmine berdiri di ambang pintu, tangannya ragu mengetuk pintu rumah yang amat ia rindukan.


Pintu dimana ia kembali menjadi sosok Jasmine Adriana, putri kecil Kamto Jayantaka.


Ketukan berulangkali, Jasmine pias. Hatinya bergemuruh.


Aku takut.


Lama Jasmine berdiri di ambang pintu. Tak ada yang menyaut dari dalam.


Ketukan terakhir sebelum Jasmine menyerah.


"Ayah, ibu....," Panggilnya lirih. "Aku, kembali."


Tubuh itu berbalik, kembali melangkahkan kakinya menuju gerbang rumah. Sebelum akhirnya tubuh itu berbalik saat teriakan memanggil namanya.

__ADS_1


"KAKAK.....,"


__ADS_2