Kiss The Rain

Kiss The Rain
Wanita paling bahagia.


__ADS_3

Pagi harinya semua anak panti berkumpul di aula dan sebagainya berjajar di selasar menunggu gantian untuk di periksa.


Jasmine melihat mereka dengan getir, banyak tubuh kurus dengan baju-baju yang tak layak. Suaminya memang baik membangun panti asuhan untuk anak-anak kurang beruntung ini, tapi nasib seperti tak banyak berubah. Lalu dimana uang yang di berikan para donatur selama ini.


"Dik, 'Ka. Kita perlu bicara enam mata." Jasmine menghampiri Dika dan Raka yang sedang berbincang-bincang dengan anak-anak panti. Guratan senyum mengembang dari anak-anak itu, terlihat jika mereka senang berada di panti bersama banyaknya teman senasib.


"Ada apa?" Raka menghampiri Jasmine di ikuti Dika di belakangnya.


"Aku dan Dika perlu ke kota, kamu bisa di sini dulukan mengawasi mereka?"


Raka mengamati mata Jasmine dan Dika secara bergantian, "Baiklah, mungkin kita nanti butuh obat-obatan. Aku akan menghubungi kakak atau tim lainnya untuk bergabung disini."


"Bagus, awasi dan amati semuanya. Kakak sedikit curiga, sepertinya banyak uang yang mengalir entah kemana. Kamu paham Raka? Jika kau bawa alat penyadap, pasang di area yang sering di gunakan para pengasuh."


Raka mengangguk, "Ingat dijalan jangan macam-macam! Ingat kalian punya pasangan sendiri-sendiri."


Dika hanya tersenyum, ia mengambil ATM dari dompetnya dan menyerahkan kartu itu pada Raka.


"Gunakan kartu ini, pinnya tanggal lahir Asmira. Kamu ingat kan."


"Cih! mentang-mentang udah jadi Bos. Seenaknya aja pakai duit." Raka menyimpan kartu itu ke dalam celananya, "Jangan salahkan jika duitnya habis buat beli sneaker dan make up Adelle." Raka tersenyum, meninggalkan Dika yang mengerenyit dahinya.


"Kenapa pulang sepagi ini, baby? Apa kamu udah gak betah disini?" Dika merangkul pundak Jasmine dan berjalan beriringan.


"Pamit dulu sama pengasuh. Kita bicarakan nanti di mobil." Jasmine melepaskan tangan Dika dan menghela nafas kasar, "Jangan gunakan kesempatan Dika!" Jasmine melotot.


Sedangkan Dika hanya tersenyum kaku, mereka berdua berpamitan pada pengasuh dan melanjutkan perjalanan menuju ke kota.


Di dalam mobil Jasmine menguap berkali-kali kebiasaan buruknya ini membuat Dika berdecak kesal.


"Tiap di mobil tidur, apa semalam tidurmu tidak nyenyak?" Tanya Dika.


"Sampai sidang keputusan belum di ketuk palu, aku akan sulit tidur, Dik. Di tambah masalah panti. Aku akan jauh merepotkan mu." Jasmine mengubah posisi kursi duduknya menjadi lebih bersandar.


"Aku bantu nanti. Sudah jangan di jadiin pikiran, kau terlihat tambah tua dan suamimu akan mencari sugar baby nanti."


"Caranya?" Dengan posisi bersandar seperti ini, Jasmine bisa menatap Dika dengan keseluruhan dari atas sampai bawah.


"Lihat saja nanti, pokoknya kamu terima beres." Jelas Dika tanpa menatap Jasmine yang sepertinya asik dengan pikirannya.


"Dik, Amanda tahu tidak jika kamu bersama ku semalam?"


"Kenapa memangnya? Dia tidak seperti mu yang menguntit ku saat selingkuh dulu."


"Dia marah tidak ya, jika kau pergi bersama ku. Kalau dulu aku hanya berdiam diri saja, sampai aku benar-benar tidak ingin melihat mu. Kamu ingat saat aku pergi dari rumah dulu?"


"Ingat, semalam aku mabuk. Paginya aku di marahin ayah." Jawab Dika.


"Sudahlah Dik, jika pernikahan kita dulu memang harus seperti ini. Jagalah apa yang sudah kamu punya. Aku disini hanya mau minta uangmu saja, kamu paham kan."

__ADS_1


Dika mengangguk, "Kamu mau pulang kemana? Mau ke rumah bertemu Asmira, dia pasti senang."


Jasmine tersenyum kecut, "Aku sedang marahan dengan ayah. Kalau pulang ke rumahmu, nanti Amanda marah. Aku menginap disalah satu kamar hotelmu saja boleh?"


"He'em. Boleh."


"Tidak bayar kan? Aku tidak kerja selama satu tahun ini. Jadi aku gak punya uang."


"Hahaha, kau pikir aku tidak kasian melihat mu seperti ini. Pakai saja sampai kau bosan juga boleh."


"Terus apa rencanamu besok?"


Perjalanan yang awalnya membosankan akhirnya berakhir dengan cerita-cerita yang silih berganti.


"Sudah sampai. Kamu bilang Dea, nanti malam aku kesini dan suruh kumpulan pemegang saham jam 7 nanti. Paham?"


Jasmine mengangguk dan turun dari mobil Dika.


Tanpa sepengetahuan dia, seorang satpam yang hafal betul dengan mobil Dika membuntuti Jasmine yang hendak masuk ke dalam lift.


Hingga sampai ke lantai paling atas jasmine berjalan mendekati meja resepsionis.


"Nyonya...," Dea berdiri membungkuk badannya sopan.


"Dika tadi pesan kumpulan pemegang saham jam 7 malam nanti. Tepat waktu! Kamu paham?" Jasmine bersandar di meja resepsionis dan mendapati satpam tadi di lantai yang sama.


"Siapa dia, apa dia bekerja dilantai ini?" Tanya Jasmine pada Dea yang sibuk memencet tombol ponsel di tangannya.


"Oh, minta kamar yang bisa melihat sunset."


Dea mencari kamar yang kosong dan mengahadap ke arah barat.


"Kamar nomer 163. Ada yang bisa aku bantu lagi Nyonya?"


"Makan siang, jangan yang mahal. Yang biasa saja." Jasmine mengambil kunci dan menuju kamar 163.


Ia akan menghabisi hari-harinya di kamar hotel hingga malam nanti.


*


Malam harinya benar saja Dika membawa Asmira dan Prince tanpa Amanda disampingnya. Asmira begitu antusias akan bermalam dengan ibunya.


Sedangkan Dika ia berencana untuk mendekatkan lagi putranya dengan ibu kandungnya. Ini akan menjadi kejutan untuk Jasmine


Semoga Prince bisa melipur rasa kesepianmu.


Dika berjalan menuju kamar Jasmine setelah ia mendapat informasi dari Dea.


Tanpa memencet bel, dia langsung membuka pintu kamar hotel dan terbelalak mendapati Jasmine hanya menggunakan handuk bathrobe dan bersantai diatas sofa.

__ADS_1


"Mom...," Asmira berjalan perlahan mendekati Ibunya.


"Asmira..., Dika..., Prince...," Dengan cepat Jasmine membenarkan handuk miliknya.


"Kenapa gak pencet bell dulu?" Jasmine berjalan mendekati Prince, awalnya Prince tampak malu-malu dan takut. Setelah Dika menghidupkan TV dan memilih acara kartun. Prince tampak tenang dengan mobil-mobilan di tangannya.


"Mira, jaga adik sebentar." Asmira mengangguk, ia dengan patuh duduk di samping Prince dan menyantap camilannya.


"Mana bajumu, hah?" Dika menarik lengan Jasmine dan menjauh dari anak-anak.


"Lupa, tasku ada di ruangan mu. Sedangkan aku malu untuk keluar dari sini."


Jasmine menundukkan kepalanya.


"Aku ambilkan, jaga anak-anak setelah rapat pemegang saham aku temui kalian lagi."


Jasmine mengangguk, dengan Dika keluar kamar menuju ruangannya.


Prince, ini mommy sayang. Lihatlah, benar kan dugaan ku. Jika semakin besar kau seperti Dika.


Jasmine berbaur dengan anak-anak. Awalnya Prince tampak takut, tapi sifat keibu-ibuan yang Jasmine miliki membuatnya dengan cepat bisa mengoceh dan bermain dengan ibu kandungnya.


Ini mommy sayang, kembalilah.


Jasmine menggendong Prince dan menimang-nimang nya seperti saat putranya berusia 2 bulan. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Dika yang sedari tadi melihat Jasmine yang begitu mengharapkan Prince bisa menerimanya kembali.


"Biasanya dia tidak mau di gendong seperti itu, Mom. Dia akan merajuk minta turun." Asmira mengelitik kaki adiknya, adiknya yang kegelian hanya terkekeh dan bermain dengan rambut ibunya.


"Biarkan anak-anak tidur dengan mu malam ini." Dika menaruh tas Jasmine dan duduk di sofa, ia menarik tubuh Asmira dan memangkunya.


Mata wanita itu berbinar-binar, "Katanya mau rapat, jangan lupa pesankan makan malam buatku dan anak-anak."


"Ayah pizza dan es bobba stroberi." Asmira membuat pesanannya sendiri.


"Kamu mau apa, Mom?" Dika mengedipkan matanya.


"Apa saja, yang penting kenyang. Jangan lupa susu buat Prince."


"Ehm, ehm... Apa asimu sudah kering?"


Jasmine melotot dan melemparnya dengan bantal.


"Jaga bicaramu!"


"Lihatlah, mommy masih terlihat galak. Apa lagi nanti adikmu. Habis dia di jewer mommy." Dika berbisik di telinga Asmira.


"Iya ayah, Prince habis nanti. Anak itukan tidak mau diam!" Asmira tertawa cekikikan di ikuti oleh Dika.


"Apa yang kalian bicarakan?" Jasmine memegang satu bantal lagi di tangannya.

__ADS_1


"Mommy!" Dika mengendong Asmira, menjauhi Jasmine yang melotot. Keduanya terkekeh dengan lidah yang menjulur keluar.


Lihatlah, jika kita seperti ini sejak dulu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia.


__ADS_2