
"Gila,gila,gila....... Apa dia gak tau berbisik kayak gitu bisa bikin jantungku loncat-loncat seperti kodok. Hiyyyyy." Jasmine memiringkan kepalanya dan mengusap-usap kan telinganya di bantal. "Dasar perjaka gila." Lanjutnya lagi.
Klek...
Pintu itu terbuka lagi.
"Kau bilang aku perjaka gila?" Bryan berdiri dengan santainya. Satu langkah dua langkah mendekat ke arah dipan Jasmine.
"Kau mendengar ku,jadi sedari tadi kau tidak pergi?" Jawab Jasmine berbalik tanya.
"Memangnya kau tahu aku masih perjaka?" Kini tubuh Bryan lebih mendekati tubuh Jasmine.
"Cih! Tidak penting kau perjaka atau tidak. Tapi kau Gila!!!!!" Lanjut Jasmine tidak peduli.
"Apa kau ingin tahu aku perjaka atau tidak?" Lanjut Bryan sambil menyunggingkan senyuman.
"Wuahahaha, bukannya perjaka atau tidak bentuknya tetap sama untuk semua pria?" Jasmine melotot, seperti dia salah bicara.
"Baguslah,jadi tidak pentingkan untukmu aku perjaka atau tidak?" Bryan berbisik lagi di telinga Jasmine. "Apa ini membuat jantungmu melompat seperti kodok." Lanjut Bryan sambil terkekeh.
"Dasar kodok sialan,pergi sana. Tempat
mu bukan disini." Jasmine menggeliat.
"Aku bisa saja menjadi pangeran kodok untukmu." Bryan menaik-turunkan alisnya.
"Apa sih,astaga pergilah. Atau kau bisa berbelas kasih melepasku. Aku harus bertemu anak-anak ku." Jasmine mencoba merayu.
"Bisa-bisa,asal ada syaratnya." Bryan duduk di tepi dipan kasur Jasmine.
"Apa?" Jawab Jasmine antusias.
"Menjadi pendamping mafia seperti ku."
__ADS_1
"Apa kau gila,hah!" Jasmine mengangkat tubuhnya dengan susah payah. Ia masih merasakan nyeri di bagian sikunya yang lecet dan dadanya yang mulai membengkak lagi.
"Kau pasti paham,seorang mafia tidak perlu seorang pendamping. Pendamping mu hanya akan menjadikanmu lemah dimata musuh-musuhmu atau pihak seperti ku." Jasmine menjawab tanpa menatap Bryan.
"Kenapa kau suka sekali menyebutkan ku gila?" Bryan memegang dagu Jasmine dan mengarahkannya pada wajahnya.
"Lepaskan tanganmu, lepaskan aku." Jasmine menggerakkan-gerakkan tubuhnya.
"Jangan berharap!" Bryan semakin menarik dagu Jasmine ke arah wajahnya.
"Jangan menyentuh ku!." Secepat kilat Jasmine memalingkan wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Bryan. "Bukannya kau pasti sudah biasa melakukannya ya?" Lanjutnya lagi.
"Kenapa,kau masih tanya kenapa? Hey gila,aku disini tawananmu bukan menjadi budak sex untukmu." Jasmine berdiri ingin mengarah ke pintu keluar.
"Gila,gila... Namaku Bryan bukan gila." Jawabnya masih dengan nada santai.
"Oh tuan Bryan,kembalilah ke tempatmu. Aku mohon. Tempat mu bukan disini. Lebih baik kau bunuh saja aku daripada kau jadikan aku budak sexmu."
"Tentu saja aku keberatan,aku tak pernah melakukan sex diluar pernikahan. Jadi pergilah cari gadis perawan dan bersenang-senanglah." Jasmine tertunduk, benar-benar pria muda di depannya ini berbeda dengan mafia mafia yang pernah ia tembak yang terkadang berperut buncit dan pendek. Parasnya sungguh tampan, sangat pasti gadis-gadis akan bertekuk lutut di depannya. Membuka bajunya dengan rela tanpa paksa.
"Baiklah,aku akan melepas mu kali ini. Kau bisa memikirkan namaku di kepala mu dan ingatlah hari ini.aku bisa menyentuh kedua anak-anak mu dengan mudah,jika kau memberontak dan menolak apa yang aku mau."
Bryan keluar dengan senyum liciknya, menutup pintu dan menguncinya.
----
Disini disudut ini, Jasmine masih terduduk di tempatnya. Sudah satu minggu saat perjaka gila itu berbisik dan menyelipkan anak rambut Jasmine. Sewindu pula Jasmine hanya bisa menjadi tawanan yang dirawat dengan baik,diberi makan,diberi perlindungan,hanya boleh berkeliaran didalam kamar. Diberi waktu 2jam/24jam untuk mandi,makan,memerah ASI,dan bergerak bebas sebelum tangannya kembali di ikat. Rasanya penjagaan berlapis-lapis yang ia rasakan seperti tuan putri dalam sangkar emas,di ikat,di kurung,belum cctv yang mengamati diam-diam, bodyguard yang berjalan lalu lalang dan mata para babu bayaran. Sudah seminggu pula,Bryan perjaka gila itu tidak menemui jasmine.
Biarkan semesta bicara, semesta lebih tau yang terbaik untukmu. Jika kau tahu semesta juga ikut andil dalam perjalanan hidupmu. Semesta tak pernah bohong. Nikmati saja jalan hidupmu.
"Huh......" Jasmine menghela nafas panjang. "Semakin hari semakin tambah berat badanku,semakin tidak ada yang mau dengan janda seperti ku." Jasmine duduk bersandar di kursi sambil menengadah ke atas. "ijinkan aku bertemu anak-anak ku Tuhan,aku rindu." Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya,namun suara pantulan sepatu fantofel yang menggema di ruangan yang sepi itu membuat Jasmine buru-buru membaringkan dirinya ke kasur dan memejamkan mata.
__ADS_1
Klek.... Pintu kamar terbuka lebar,tidak ada yang bersuara hanya suara nafas halus yang Jasmine dengar. Klek.... Pintu itu kembali tertutup. Masih dengan suara nafas halus yang Jasmine dengar.
Kini gelombang kasur yang sedikit berbeda Jasmine rasakan,siapa yang duduk di sebelahnya. "sungguh berpura-pura tidur membuatku malah seperti ikan kering lagi." gumam Jasmine dalam hati.
"Biarkan aku disini sebentar saja." Kata itu terdengar sambil sebuah tangan melingkar di perut ibu dua anak. Sontak Jasmine terbangun dan membuat kaget seseorang disebelah nya.
"Kau hanya berpura-pura?" Bryan terkesiap.
"Kau lagi kau lagi.... Astaga,belum cukup kau jadikan aku tawanan mu sekarang main peluk segala." Jasmine terus berteriak-teriak.
"Hei,aku hanya ingin peluk saja.Aku rindu,seminggu tak menemui mu." Bryan masih berucap dengan nada santainya,kini tubuh nya sudah bersandar di bahu Jasmine.
"Bryan......!!! Kau sepertinya sungguh gila." Cebik Jasmine sambil berdiri menjauh.
"Bukalah. Kau pasti rindu dengan mereka." Bryan menyodorkan amplop berwarna coklat.
"Buka dulu borgol ku." Pinta Jasmine.
"Kemarilah." Bryan masih duduk di tepi ranjang dan melambaikan tangannya. Jasmine dengan langkah malas pun mendekatinya dan mengulurkan borgol yang melekat indah di pergelangan tangannya.
"Terimakasih." Jasmine mengulas senyum,saat benda menyebalkan sudah terlepas dari tangannya.
Jasmine menerima amplop coklat dan membukanya. Ia ternganga lebih dari sekedar rasa terkejutnya. "Anak mommy." Berlembar-lembar potret Asmira dan Prince ada di genggaman tangannya,berbagai kegiatan dan pose ada di lembar kertas tipis bergambar wajah kedua anak Jasmine. Senyuman nan air mata menghiasi wajah Jasmine.
"Mereka baik-baik saja,kau tak perlu khawatir." Bryan kembali berucap."Aku sudah menyuruh seseorang untuk menjaga anak-anakmu." Lanjutnya.
"Apa pedulimu dengan anak-anak ku?"
"Ya karena bisa saja aku kelak menjadi ayah untuk mereka." Dengan enteng seperti kapas Bryan menjawabnya.
"Hufh....Apa mau mu, kenapa kau seperti ini? Bisa aja aku menjadi pembunuhmu jika misi kelompok ku berhasil." Jasmine menghapus air matanya dan kini ia menatap Bryan.
"Karena aku....."
__ADS_1
------
^_^ karena aku nunggu kalian baca dan terus like cerita ini ^_^