
Kini tatapan Raka tertuju pada Ayah Kamto.
"Sebaiknya ayah berbicara pada kakak. Hanya ayah yang bisa memutuskan misi kembali mencari suami kakak."
"Ada apa ini, kenapa ada misi lagi? Aku tidak mau Jasmine menghilang lagi!" Dika menimpali dengan nada tinggi.
"Manda, bawa anak-anak pulang atau pergi ke taman hiburan. Ajak juga Adelle untuk menemanimu." Titah Dika tak terbantahkan.
"Adelle, pergilah. Biar kami bicarakan dulu masalah kakak." Raka menimpali.
Kedua wanita itu hanya bisa mengangguk menuruti perintah suaminya. Dengan bergegas mereka membawa Asmira, Prince dan Jeannice pergi dari rumah.
"Aku gak mau pergi tanpa mommy, aku gak mau mommy pergi lagi." Asmira merengek.
"Mira ikut mama!" Dika mengendong Asmira keluar rumah dan mendudukkannya di dalam mobil.
"Ayah, aku gak jauh-jauh dari mommy." Rengeknya pelan.
"Mommy tidak pergi, mommy hanya butuh waktu. Mainlah dengan adik-adik mu di mall. Nanti makan malam dengan mommy." Jelas Dika menenangkan putrinya.
"Manda, jaga anak-anak."
Titah Dika sebelum tubuh itu berbalik masuk ke dalam rumah.
*
Di dalam kamar Jasmine hanya bisa menangis tersedu-sedu, ia mengingat ponsel Bryan yang ia bawa.
Dengan tenang ia membukanya. Melihat galeri foto yang slalu menjadi sumber rasa penasarannya.
Jasmine menghapus air matanya, ia perlahan mengulas senyum saat mendapati Bryan memotretnya diam-diam. Diafragma lambat itu bergerak pelan horizontal, menampakkan potret dirinya dengan berbagai pose dan ekspresi.
Aku rindu.
Katanya pelan.
Kini tangan Jasmine beralih pada kiriman foto via WhatsApp.
Jasmine semakin terkejut saat melihat banyaknya potret Asmira dan Prince. Bryan benar-benar melakukan yang terbaik untuk ke dua anak-anaknya.
Tunggu aku sayang.
Jasmine mengetik pesan untuk Husein. Karena dari semalam laki-laki itu belum juga mengirimkan alamat rumah.
(Husein kirim alamat rumah.)
(.....)
(Baik, aku butuh tim mu. Siap kan Tria untuk ku.)
(......)
(Terimakasih.)
Jasmine meletakkan ponselnya, kini ia bersiap untuk pergi.
*
Di ruang tamu keadaan panas masih terjadi. Kamto masih tetap pada keputusannya. Sedangkan Raka tak henti-hentinya membujuk ayahnya untuk mau menjalankan misi lagi.
Menghilangnya Jasmine tempo lalu, membuat Kamto enggan untuk melibatkan anaknya dalam misi penangkapan tersangka.
"Apa kau tahu resikonya Raka. Walaupun kita bisa membantu kakak mu mencari laki-laki itu. Dia tetap harus di penjara. Kau tidak memikirkan bagaimana nasib kakakmu setelah itu."
Dika tersentak, "Maksudnya?"
"Maksudnya laki-laki itu tetap akan berpisah dengan Jasmine sekalipun mereka bertemu lagi." Jawab Kamto .
"Suami kakak adalah gembong narkoba kelas kakap yang kemarin gagal kami tangkap." Raka menimpalinya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Dika yang ikut di rundung bingung.
"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Jasmine, Mas. Anak itu keras kepala seperti mu, dia pasti akan mencari cara sendiri untuk mencari suaminya." Ani berkata tak berdaya.
Bersamaan dengan itu, Jasmine keluar dari kamar. Wajahnya datar saat melihat sekerumunan orang yang menatapnya heran.
Jasmine menggunakan celana jeans, kaos band, dan sneaker. Tak lupa juga jaket kulit yang membalut tubuhnya.
"Jasmine, sayang mau kemana?" Ani mendekatinya.
"Jasmine hanya mau pergi sebentar Bu, tenanglah. Jasmine pasti kembali."
Pelukan hangat dan kecupan mendarat di pipi Ani.
"Bolehkah aku meminta sambal goreng ikan pedak dan bayam rebus untuk makan nanti malam, Bu?" Pintanya manja.
__ADS_1
"Apapun untukmu sayang, pulanglah kembali kesini." Ani mengecup pipi putrinya.
"Jaga dirimu, kau sedang hamil." Ani mengingatkan.
Jasmine hanya mengangguk. Kini langkahnya mendekati Raka yang heran melihat kakaknya. Dika bukan lagi, ia masih tak mengedipkan matanya.
"Pinjem mobil."
"Kakak mau kemana?"
"Mau pergi."
"Kakak baru pulang, kenapa harus pergi lagi. Aku temani kak."
"Tidak perlu, nanti kakak akan pulang dan mengembalikan mobilmu."
"Bukan itu maksudku Kak! Aku akan menemani kakak!" Raka bergegas berjalan menuju kamarnya. Berganti pakaian dan tak lupa softgun yang terselip dibalik celana jeans-nya.
Raka berjalan keluar, melihat Jasmine yang menunggunya dengan malas.
"Mana kuncinya, kakak yang mengemudi." Jasmine menyaut kunci mobil dan berjalan keluar rumah.
Kamto menatap Raka, seperti tahu maksud ayahnya. Raka hanya mengangguk dan mengikuti langkah Jasmine keluar rumah.
Kini Ani sudah bersiap-siap pergi ke pasar mencari bahan masakan kesukaan Jasmine. Sedangkan Dika masih terdampar di ruang tamu bersama mantan mertuanya.
"Bagaimana, apa kau sudah mengikhlaskan Jasmine dengan laki-laki lain?" Tanya Kamto menyelidiki.
"Ayah!"
"Lihatlah putriku semakin menderita saat berpisah denganmu. Kau tahu, andai saja dulu kau tak menyakiti putriku, pasti ia sudah bahagia sekarang." Kamto menghela nafas panjang.
"Maafkan aku ayah." Dika merasa bersalah.
"Sudahlah, kau cukup menjaga cucu-cucu dengan baik, pulanglah." Usir Kamto dengan mengibas-ibaskan tangannya.
"Apa aku boleh makan malam disini?" Tanya Dika tak tahu malu.
"Untuk apa?"
"Untuk menemani Asmira."
"Alasan! Ajak istrimu dan orang tuamu kemari. Biar mereka tahu bagaimana menderitanya putriku saat bercerai dengan mu!"
"Ayah!"
"Aku akan membawakan makanan kesukaan Jasmine."
"Terserah!"
*
"Kita mau kemana kak?" Raka heran dengan jalanan yang dilalui Jasmine.
"Ke rumah suami kakak."
"Untuk apa?"
"Mencari informasi, diamlah." Jasmine masih fokus mengemudi.
"Kakak yakin?"
"Tidak ada yang bisa menghentikan langkah ku, Raka. Kakak tahu konsekuensinya."
"Itu artinya kakak siap berpisah dengannya?"
"Entah." Raut wajah Jasmine mulai berubah.
"Hukuman mati atau seumur hidup." Raka mengingatkan Jasmine kembali.
"Kakak tidak tahu apakah dia masih hidup atau mati. Kakak harus mencari keberadaan."
"Itu artinya kakak harus siap apapun yang terjadi."
"Berisik!"
"Jangan marah kak, aku akan membantu kakak menyiapkan tim pengintai dan penembak." Raka bersungguh-sungguh.
"Kakak sendiri yang akan memimpin tim Brandles Wolfgang."
"Kakak lagi hamil, inget itu!"
"Bukankah kau tahu kakak adalah wanita kuat."
"Lalu kenapa kakak tadi malam merengek minta bantuanku."
__ADS_1
"Kakak tidak akan pulang jika kakak tidak keluar dari rumah itu. Dan kau tahu artinya itu, kau tidak akan bertemu lagi dengan kakak."
"Cih! Ternyata wanita jika bucin seperti ini."
"Kau bilang kakak Bucin, yang benar saja." Sergahnya cepat.
"Hey asal kau tahu Raka. Dia melakukan lebih baik dari Dika. Dan kakak mendapatkan benih super dari perjaka."
"Iya kakak mendapatkan benih super perjaka, tapi nasib kakak setelahnya yang bikin semua orang repot." Raka mencebik.
"Jadi kau tidak ikhlas membantu kakakmu yang menyedihkan ini?"
"Aku lebih senang saat kakak kembali, itu artinya kakak masih hidup."
"Kamu pikir selama ini kakak mati?"
"Kakak tidak di temukan, kami pikir jasad kakak sudah di telan beruang atau hanyut dimakan buaya."
"Cih! enak saja, kakak malah asik bercinta dengan singa muda." Jasmine sedikit bisa terkekeh bercanda dengan adiknya, sudah lama ia tak merasa bersendau gurau dengan adik satu-satunya.
"Hahaha, apa dia pintar?"
"Pintar di ranjang maksudmu?"
"Iya."
"Pintar sekali, kakak bisa semalam lembur dengannya." Jasmine tersenyum.
"Pantas saja kakak hamil."
"Bagaimana dengan mu dan Adelle?"
"Huftttt, belum jadi-jadi juga benih super perjaka ku kak." Keluhnya pelan.
"Sabar, nanti aku akan menemani Adelle sesering mungkin. Biar dia bisa ketularan hamil."
"Apa bisa begitu?"
"Bisa saja, tergantung doamu."
Jasmine menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Bryan.
"Turunlah dan simpan senjatamu baik-baik. Anggap saja kau sedang bermain di ladang musuh."
"Kakak tahu?"
"Hahaha, turun. Hormati mertuaku dan kakakmu di dalam."
Jasmine dan Raka turun bersamaan.
Di depan rumah ia sudah disambut Husein yang sudah merentangkan tangannya.
"Uncle."
Jasmine berlari kecil dan menangkup tubuh kekar Husein.
"Habis menangis?"
"Sedikit. Uncle, kenalin dia adik ku."
Husein menatap Raka yang diam membisu.
"Husein...,"
Raka mendengus kesal.
"Raka...," Ia mengulurkan tangannya.
Husein menarik tangan Raka dan menepuk pundaknya.
"Jadi aku harus memanggilmu apa? Kakak atau adik?"
Jasmine mengerutkan dahinya ia sendiri bingung harus menyebut Raka dengan sebutan apa.
"Kalian seumuran, jadi kalian bisa memanggil nama saja." Jelas Jasmine menengahi.
"Bagaimana, sudah siap?" Tanya Husein mengakhiri kecanggungan diantara mereka.
"Kita bicarakan di dalam, kau sudah menyiapkan pesanan ku."
"Hahaha, dia ada di tempat biasa." Jelas Husein menjawab.
"Raka ayo masuk."
"He'emm." Raka berjalan tak berselera, ia hanya terus menatap isi rumah yang selama setahun ini Jasmine tempati.
__ADS_1
Bagus juga rumahnya, pantas saja dia betah di dalam rumah setahun. Kakak memang sudah gila.