
Aku percaya cinta tak pernah salah,hanya hatimu saja yang tak pernah terpaku pada satu tuju.
Sebuah tempat perasingan Jasmine berukuran 3x3meter,kamar mandi dalam dan satu dipan beserta kasur busa berukuran 120cm menjadi tempat ternyaman untuk janda muda dua anak. Tapi belati tak pernah ingkar janji,masih tetap membelenggu satu.
"Anak mommy baik-baik saja kan,maaf mommy belum bisa pulang." Pikiran Jasmine berkelana, memusatkan nya pada satu titik kebahagiaan dan kelemahan seorang ibu."Mommy pasti pulang menjemput kalian,dan kita akan bersama kembali." Sunggingan palsu menghiasi wajahnya yang memucat dan sendu menderu. Nafasnya mulai sesak, seakan-akan udara hanya berputar-putar di tempat itu saja tanpa ada siklus yang berganti.
----
Ruang kedap suara kini menjadi tempat perasingan pria rapuh beranak tiga. Tubuhnya kacau sekacau tubuh Jasmine. Aroma anggur merah menyerebak dimana-mana,berkaleng-kaleng beer beralkohol tersebar dimana-mana. Matanya merah, wajahnya kusam, rambutnya semakin berantakan. "Arghhhhhhh,jika seperti ini aku tak pernah mengizinkanmu untuk pergi ke misi sialan itu. Arghhh......" Dika semakin tidak terkendali, kepalanya memberat. Tak sedikit benda di ruangan itu hancur kembali,gitar,bass,serta mereka satu set drum yang simbalnya sudah terlepas entah kemana."Baby,kau dimana....." Pekiknya hingga tubuhnya berduyun-duyun ambruk di atas permadani bergambar jerapah.
Amanda hanya bisa mengintip di balik kaca jendela buram,pintu studio musik itu terkunci rapat dari dalam. Ia hanya bisa menyaksikan prianya rapuh tak terkendali, menghancurkan tempatnya ia berlatih suara dan bermain gitar. Belum lagi, berderet-deret minuman beralkohol yang sudah terbuka tutup botolnya. "Kau masih mempunyai rasa pada Jasmine,Dika.Kau begitu khawatir." Amanda hanya bisa menutup mulutnya yang ternganga tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Apa benar pria rapuh itu khawatir dengan hilangnya Jasmine.
Apa Dika merasakan sesak di dadanya menahan rindu dan marah. Jawabku entah!
*
Hari udah menjelang sore,Tak ada kilatan senja yang masuk melalui kaca jendela. Ruangan itu terpatri dengan rapi,hanya sebuah pintu untuk keluar masuk dan lubang ventilasi berukuran 20cmx20cm berjumlah tiga lubang. Tak seperti rumah megah yang Jasmine lihat tadi,mungkin inilah rumah belakang khusus untuk tawanan seperti dirinya. "Astaga, sungguh membosankan disini. Aku hanya berbaring, berdiri,bernafas,dan berpikir kesana kesini. Sungguh lebih baik aku di hutan saja mengejar-ngejar kucing hutan atau malah di kejar **** hutan akan lebih seru dan menyenangkan. Di banding harus terkurung dan di ikat seperti kambing mau di korbankan. Huft......." Jasmine berbicara sendiri sambil menatap plafon bercat putih dan bohlam lampu yang menemani nya selain nakas dan segelas air putih. "Sudah disekap,diikat lagi.. Mana bisa minum dan ambil gayung.Huftt..... Mau bikin aku mati dehidrasi." Lanjutnya lagi. Namun ternyata ocehannya di dengar seseorang yang sedari tadi berdiri di balik pintu yang terkunci.
Klek,klek,ceklek... Pintu itu terbuka, menampakkan sosok tuan muda berdiri dengan wajah segarnya,memang nampak muda dan tentu saja bergairah. Bryan berjalan menghampiri Jasmine yang terkejut melihat mafia incaran berdiri di samping dipan miliknya sekarang.
__ADS_1
"Apa.....?" Jasmine masih berbaring, menatap laki-laki muda didepannya dengan enggan.
"Gila!" Jawabnya.
"Gila..... Maksudmu?" Lanjut Jasmine.
"Kau bicara sendiri,itu artinya kau gila." Bryan menekan kata 'gila' sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Hahaha,aku mungkin sudah gila jika seperti ini. Lebih baik kau melepasku di hutan atau di antah berantah. Dari pada aku seperti peliharaan dalam kandang." Jasmine tersungut-sungut membicarakan keinginannya.
"Jangan berharap untuk keluar dari sini."
"Harus apa?" Lanjut Bryan.
"Rahasia,kau tak perlu tahu. Kau bisa menawan seorang gadis perawan,jangan seorang ibu-ibu seperti ku. Tidak ada gunanya." Jawab Jasmine masih berbaring.
"Bukankah janda seperti mu lebih menggoda?" Bryan menahan senyumnya.
"Cih! Mafia kaya sepertimu tahu istilah mura*** itu dari mana?" Jasmine tak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa berbahak-bahak, sungguh sajian konyol di sore hari.
"Dari bodyguard ku,mereka slalu bilang jika janda lebih menggoda." Bryan masih berdiri menatap Jasmine yang terbaring dengan ikatan borgol di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Hahahaha, sungguh kau membuat perutku sakit. Kau ternyata mafia konyol, hahaha." Tawa Jasmine semakin memecah. "Aduh, perutku.Hahaha." Jasmine memiringkan tubuhnya,menahan tawanya yang semakin liar.
"Aku mafia konyol?" Tanya Bryan.
"Iya,kau harus menyaring semua yang kau dengar. Tak semua janda menggoda
Gadis perawan lebih menggoda dan cocok untukmu jika kau ingin." Berbicara dengan laki-laki muda membuat Jasmine harus menyaring juga ucapannya,bisa saja ini menjadi bumerang untuknya.
"Ingin apa? Bukannya kau janda?" Lanjut Bryan lagi yang kini sudah duduk di tepi ranjang dipan menyisakan jarak 50cm.
"Aku memang janda,tapi sory ya aku janda terhormat." Jasmine kini sudah terdiam dari tawa yang meliuk-liuk mengisi ruang 3x3meter saat tubuh Bryan sudah mendekati tubuh jasmine.
Bulu kuduk Jasmine berdiri,saat tangan Bryan menyibakkan anak rambut Jasmine ke balik telinga, sedikit usapan di leher belakang. Sebelum tubuh itu mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat dada Jasmine bergetar.
Bryan berdiri meninggalkan Jasmine yang terpaku di tempatnya..
"Nikmati saja hari-hari mu disini,aku tak akan melepas mu dengan mudah. Dan aku akan membuat mu menjadi janda yang mengoda."
-----
^_^ Mohon dukungannya ya reader sayang,untuk tetap like vote dan koment biar ramai. ^_^
__ADS_1