
Berawal dari benih kecil yang perlahan berkuncup menjadi daun dan berakar. Seperti pohon yang sedang tumbuh membumbung tinggi, dengan akar yang kuat dan buah yang banyak. Begitulah prosesnya saat Jasmine berusaha membuka hatinya untuk Bryan. Pohon tak pernah lelah memberi banyak hal baik dalam hidupnya, begitu juga cintanya pada laki-laki yang tak pernah ia duga.
Apa yang terjadi hari ini, bukanlah sesuatu hal yang direncanakan. Semua berkat semesta dan waktu yang mempertemukan mereka berdua. Bryan dan Jasmine sepakat untuk menjalin hati, menautnya dan menumbuhkannya seperti pohon. Jika berbuah, rasanya pasti akan masam saat buah itu masih muda. Bukannya semua harus bersabar menunggu hingga buah itu masak dan manis rasanya.
Sesuatu yang baru mengajaknya untuk bisa bangkit dan bertahan. Menata hidupnya dan kembali menjadi wanita berstatus. Jasmine kembali merasakan hangat yang menjalar di dadanya, merasakan rasa yang begitu menyenangkan. Tapi ia juga tak lupa dengan luka yang perlahan mengering seiring berjalannya waktu.
Kini ia sepakat untuk menjaga apa yang telah ia miliki, sebelum semesta kembali berulah dengan takdirnya.
*
"Anak?"
Jasmine mengangguk, "Kemarin aku lihat di tv waktu acara baby animal, aku lihat anak kucing Scottish fold, apa aku bisa memilikinya?"
"Anak kucing?" Dahi Bryan berkerut.
Jasmine berdehem, menyunggingkan senyum manisnya. Berharap keinginannya bisa dituruti suaminya.
"Bagaimana jika kita bikin anak saja, anak kita." Bryan tersenyum memberi penawaran yang membuat kedua belah pihak bisa sama-sama beruntung.
"Maunya anak kucing, aku mau yang telinganya terlipat." Jasmine melipat kedua tangannya di depan dada, dengan bibir yang mengerucut sebal.
"Tapi harus cari dimana aku babe?"
"Entah, aku mau sepasang." Lanjutnya lagi tanpa mau mendengar keluhan Bryan.
"Bisakah anak kucing Persia aja babe, itu mudah dicari."
"Scottish fold!" Pekiknya keras.
"Sayang, dengarkan aku. Keadaan sedang genting, lagipula aku tidak tahu harus mencari dimana anak Scottish fold itu."
Jasmine semakin merubah air mukanya, kini wajahnya datar tanpa berselera. "Aku tidak pernah minta apa pun darimu Bry, aku hanya minta anak kucing saja. Dua, sepasang." Jelasnya lagi mengebu-gebu.
Bryan hanya tersenyum, baginya permintaan aneh belakang ini membuatnya senang bukan main. Jasmine semakin manja dengan caranya, tanpa ia sadari.
"Baiklah aku usahakan mencari anak kucing dengan telinga terlipat, tapi aku tidak janji ya babe. Di pet shop jarang ada yang menjualnya, harus beli dari luar negeri. Dan itu rumit, harganya juga mahal." Jelas Bryan sambil masih tersenyum.
Jasmine menatap wajah Bryan, melihat air mukanya dengan dahi yang mengerut.
Dengan cepat Jasmine merangkulkan tangannya di bahu Bryan, menggodanya dengan menggelitikan tangannya di ketiak Bryan.
"Apa permintaan ku menyulitkan mu?" Tanya Jasmine sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bryan.
"Tidak, aku usahakan untuk mencarinya."
Bryan menaruh ponselnya disisi kirinya. Kemudian tangannya membelai-belai rambut ikal Jasmine.
"Aku usahakan, tapi jangan marah jika aku tidak menemukannya." Jelasnya lirih.
Jasmine mengangguk-angguk pasrah. Menghela nafas lagi. Usianya tidak lagi muda, tapi darah mudanya masih terus mengajaknya merengek meminta hal yang di luar nalar.
"Maaf ya."
Jasmine menepuk bahu Bryan berkali-kali, seakan-akan memberi tanda jika akan banyak hal lagi yang akan menyusahkannya.
Bryan mengangguk-angguk pasrah.
"Kenapa?" Tanya Jasmine.
"Ibu-ibu banyak maunya." Bryan terkekeh.
"Bryan!"
"Hahaha, cemberut tambah tua kamu babe."
"Bryan!!" Jasmine tambah cemberut.
"Sini istriku cantik." Lambaian tangan Bryan menyuruh Jasmine untuk mendekat.
__ADS_1
"Gak!"
Mata Jasmine mengarah pada kolam renang, disana terlihat Husein yang sedang berenang dan hanya menggunakan celana boxer biru.
Bryan menunggu Jasmine yang masih tak bergeming dari tempatnya. Hingga langkah kakinya mengajaknya untuk mendekati Jasmine.
"Oh, dari tadi kakak yang kamu lihat."
Jasmine mengangguk.
"Kenapa, apa badan kakak lebih bagus dari badanku."
Jasmine menggeleng.
"Lalu untuk apa melihatnya dari tadi?"
"Entah."
"Lihat aku."
Bryan menarik dagu Jasmine dan mengecupnya tiba-tiba.
"Aku tidak suka kau melihat kakak saat bertelanjang dada."
"Kenapa?" Tanya Jasmine bingung.
Bryan menghela nafas panjang.
"Nanti kau bisa-bisa minta peluk kakak." Bryan menjewer telinga Jasmine dan menariknya menuju kamar.
"Lepasin telingaku Bryan, kalau copot gimana?"
"Biar saja, ini hukuman untuk mata nakalmu."
Jasmine mengaduh, rasanya ia seperti koecheng oyen yang nyolong ikan lele di meja makan.
"Sakit Bryan, maafkan mata nakalku."
"Kenapa ketawa, ada yang lucu."
Bryan melepas telinga Jasmine, tapi ia tak melepas cekalan tangannya.
"Gak ada." Jasmine berkelit, berusaha menyembunyikan senyum kakunya.
"Aku tahu kamu berbohong."
"Hahaha, Bryan tidak kerja?"
Berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kau ibu-ibu pandai berkelit." Jewer lagi telinga Jasmine, kali ini di telinga satunya.
"Hey, aku bukan anak nakal Bryan." Jasmine menggosok-gosok kedua telinganya yang terasa panas. "Bryan nakal, sakit tau!" Keluhnya dengan nada dibuat-buat.
"Sakit ya, lebih sakit mana saat kamu dengan terang-terangan melihat dada kakak."
Jasmine membulatkan matanya.
"Apa sih Bry, hanya melihat dadanya saja. Bukan isi celananya. Upsss!" Jasmine seketika menutup mulutnya.
"Gak, gak. Maaf aku salah bicara."
Gelagat marah berkobar dalam mata Bryan.
"Jadi kau tertawa tadi memikirkan isi celana kakak!" Pekiknya cepat.
"Enggak Bry." Balas Jasmine cepat.
"Lalu apa yang kau pikirkan tentang Husein?" Tanya Bryan.
__ADS_1
Jasmine menatap Bryan dalam-dalam, "Tidak ada, aku hanya melihatnya berenang dengan bagus. Apa dia atlet?"
"He'emm." Bryan berdehem mengiyakan pertanyaan Jasmine.
"Yasudah, taruh rasa curiga mu Bryan. Aku wanita setia."
Jasmine tersenyum menepuk bahu Bryan menyakinkan, "Aku hanya milikmu seorang, percayalah."
"He'emm. Cuci matamu." Titah Bryan.
Dahi Jasmine mengerut, "Aku sudah mandi, sudah otomatis juga sudah cuci muka."
"Cuci matamu!" Titahnya lagi tanpa bisa Jasmine bantah.
"Iya, iya." Jasmine menggeretakan kakinya di lantai sambil meracau tidak jelas.
Langkahnya menuju kamar mandi, sesekali ia menatap Bryan yang terlihat dari kejauhan yang juga menatapnya dengan mendelik kan matanya.
Bibirnya menggerutu. Merutuki keinginan Bryan yang aneh menurutnya.
"Apa!"
Jasmine melotot, sambil dengan asal mengambil pembersih muka yang bercampur dengan peralatan mandi lainnya.
Tanpa melihat apa yang sedang ia pegang, dengan cepat Jasmine mencuci wajah dan matanya.
"Panas, hih. Panas." Cepat-cepat Jasmine membilas wajahnya. Matanya terasa pedih.
Ia mengambil handuk kecil dan mengeringkan wajahnya. Tangannya mengambil sesuatu yang masih tergeletak di pinggir wastafel. "Odol."
Jasmine tersenyum merutuki kebodohannya. Ia berjalan kembali menuju kamar. Matanya menyipit dan wajahnya masih terasa hangat.
"Ada apa dengan mu?" Bryan yang sedari tadi melihat gerak-gerik Jasmine di dalam kamar mandi pun sudah tak sabar mengutarakan pertanyaan.
"Gak ada."
Masak iya aku harus bilang jika cuci muka pake odol. Ini memalukan. Batin Jasmine dengan hati yang kesal.
"Kenapa matamu merah, habis menangis?" Tanya Bryan.
Jasmine menggeleng.
"Lalu kenapa?" Tanyanya dengan tidak sabar.
"Gak ada Bryan." Sanggahnya.
"Sudah berani berbohong?"
Jasmine menggeleng.
"Katakan! Kenapa memerah, tadi belum seperti ini." Bryan menarik dagu Jasmine, mendongkakkan kepalanya yang sedari tadi hanya menunduk.
"Aku salah mengambil facial wash, aku malah mengambil odol." Jelas Jasmine lirih.
"Tuh kan, Tuhan juga marah karena kamu melihat apa yang harusnya tidak kau lihat. Ini hukuman." Dengan sabar Bryan meniup mata Jasmine.
"Udah baikan?"
Jasmine mengangguk, "Maaf."
"He'emm, jangan di ulangi lagi dan jangan ceroboh." Titah Bryan sembari mengecup lembut kening Jasmine.
"Terimakasih."
*
Uhukkk, setelah baca like yuk Atau di komen biar ramai. Di towel pake vote juga Alhamdulillah 🙏
Terimakasih buat yang sudah baca dan dukung karyaku 💛 Cinta yang Rumit.
__ADS_1
Kenapa ganti judul dan cover, karena biar mudah dipahami aja dengan alur ceritanya. 🙏