
Rabu.
Keinginan Jasmine mulai menjadi-jadi, entah ia meminta jenis makanan yang ia lihat di Tv atau jenis tanaman baru.
Kali ini ia meminta berbagai jenis tanaman hias berjenis cathalea kepiting, keladi red star, monstera, kuping gajah dan Algonema yang belum ada di balkon miliknya.
Meminta pupuk organik, meminta jenis bentuk pot dan batu-batu hias dengan warna yang berbeda-beda. Semua harus detail, jika tidak, bibirnya akan mengerucut dan meracau tidak jelas.
Merengek dan manja adalah senjata utamanya untuk meluluhkan Bryan. Seperti cuaca sore ini yang mengguyurkan hujan cukup deras.
Mereka berdua duduk di sofa, melihat air hujan yang membias di jendela kamar.
"Janji ya besok Minggu kita jalan-jalan ke kebun tanaman." Jari kelingking sudah dia tegakkan.
Bryan mengangguk, "Ia aku janji." sembari menautkan jari kelingkingnya di jari Jasmine.
"Awas bohong."
"Enggak, yakin."
"Maksudnya?"
"Ya enggak yakin, kalau besok hujan gimana?"
"Hujan-hujanan lah, masak sama hujan aja takut." Sanggah Jasmine.
"Bukannya aku takut sama hujan, tapi aku takut sama kamu." Jelasnya.
"Takut kenapa?" Tanyanya bingung.
"Aku takut kalau kamu nanti sakit." Cubitan mendarat di pipi Jasmine.
"Bryan!" Jasmine tersenyum malu.
"Wajahmu tidak cocok jika bersemu merah begitu."
"Bryan!!!!" Aku kesal sekaligus makin sayang.
"Hahaha, lihatlah nanti balkon kamar kita seperti menjual tanaman hias."
"Biarkan saja, siapa peduli."
"Karena aku peduli, kamu nanti lebih sibuk mengurus tanaman mu daripada mengurusku." Keluhnya.
"Aaaa, Bryan. Kamu tetap nomer satu." Jasmine bergelayut manja di lengan Bryan.
"Ingat ya, jangan lupa besok Minggu."
Bryan berdehem, "Kasih bonus untuk malam ini."
"Setiap hari juga sudah aku kasih bonus."
"Lagi, jangan kasih kendor babe." Jelasnya lagi sembari menautkan bibirnya. Mereka terus berpangutan, saling membalas ciuman disaksikan rintiknya hujan yang mulai mereda.
Jam dinding terus berputar, hingga tak terasa waktu makan malam semakin mendekat.
Jasmine melepas bibirnya dan mengusap bibirnya yang basah.
"Aku harus ke dapur." Jelasnya lagi sibuk berdiri merapikan bajunya yang sudah berantakan.
"He'emm." Bryan melambaikan tangannya mengusir Jasmine.
"Aku harus membantu mama masak, Bryan."
Kecupan terakhir mendarat di kening Bryan,
__ADS_1
"Nanti kita lanjutkan." Bisiknya menggoda di telinga Bryan.
Dengan cepat Jasmine berlari ke arah pintu dan menjulurkan lidahnya.
"Hahaha, bilang saja kau sudah basah babe." Teriak Bryan sambil terkekeh.
Di dapur nampak mama Rose sudah siap dengan bahan masakan yang akan di masak.
"Mama, biar aku bantu."
Jasmine memasang celemek di tubuhnya. Mengambil pisau dan mulai ikut merajang bahan masakan.
Sesekali candaan dan tawa bergema di dapur, entah apa yang ibu dan menantu itu bicarakan. Tapi tawa kedua wanita berbeda generasi itu menular menjadi kehangatan sendiri untuk orang-orang di sekitar mereka.
Tiga puluh menit berlalu, santapan makan malam sudah tersaji di meja makan.
"Jasmine tolong panggilkan Papa, Bryan dan Husein." Titah Rose sembari tangannya menyediakan piring dan sendok di meja makan.
"Baik, Ma."
Jasmine melepas celemek dan berjalan menuju ruang keluarga. Kepulan asap Vape berterbangan dan menyesakan dada Jasmine.
Uhuk, uhuk, uhuk.
Jasmine terbatuk-batuk, membuat ke tiga orang yang sedang duduk mengarahkan pandangan ke arah Jasmine.
Bryan menaruh benda kecilnya, berjalan ke arah Jasmine dan menepuk-nepuk punggung Jasmine. Air mata Jasmine sudah menggenang, ia sedang menahan isi perutnya untuk keluar.
"Sayang kenapa?"
"Apa vape mu rasa melon?" Tanyanya, sambil menjauhi Bryan.
"Iya, Kenapa?" Bryan tampak bingung, saat Jasmine berangsur mundur dan menutup hidungnya rapat-rapat.
"Sayang, kamu kenapa? Buka pintunya." Berkali-kali Bryan mengetuk pintu kamar, tapi tak jua Jasmine buka.
"Sayang, buka pintunya." Gedoran pintu semakin kencang, membuat Rose Mardiani yang ada di dapur beranjak mendekati putranya.
"Kenapa di dalam rumah teriak-teriak Bry."
"Jasmine di dalam, Ma. Berkali-kali aku panggil tapi dia tak menjawab."
Rose menghela nafas, "Apa rumah ini tidak ada kunci cadangan?"
"Kunci cadangan?"
"Iya Bryan kunci cadangan." Rose menggelengkan kepalanya.
"Tria...,"
Dengan terpogoh-pogoh Tria menaiki anak tangga, saat panggilan darurat mengema di telinganya.
"Ya tuan, ada apa?" Tanyanya sembari mengatur nafas.
"Ambilkan kunci cadangan kamarku."
Tria mengangguk. Menuruni anak tangga dengan cepat.
"Ada apa Bry, apa kalian bertengkar?" Tanya Rose.
Bryan menggeleng, "Dia tidak suka dengan bau Vape ku, Ma. Dia seperti hampir muntah."
"Hampir muntah?" Dahi Rose berkerut.
Bryan mengangguk.
__ADS_1
"Apa Jasmine hamil?"
Pertanyaan ini membuat dahi Bryan juga berkerut.
"Hamil?"
"Ia hamil Bry, apa kalian tidak 'menjadikannya' ?"
"Bagaimana jika Jasmine hamil, Ma. Apa yang harus aku lakukan."
Raut wajah Bryan berubah khawatir, ia semakin gelisah. Berkali-kali gedoran pintu tak kunjung Jasmine buka.
"Tria, mana Tria. Kenapa dia lama sekali!"
Bryan mondar-mandir dengan gelisah, berkali-kali Rose menenangkan putranya.
Hingga panggilan Tria menghentikan kegelisahan Bryan. Dengan cepat ia menyaut kunci kamarnya, membuka pintu kamar dan berlari kedalam.
Jasmine, Jasmine.
Teriaknya tak ada jawaban. Bryan berlari menuju kamar mandi, mengedarkan pandangannya. Tak mendapati Jasmine disana.
Terlihat tirai yang melambai-lambai tertiup angin, balkon kamar terbuka. Dengan langkah cepat Bryan menuju balkon tempat favorit istrinya.
"Sayang." Panggilnya lembut.
Jasmine menoleh, "Iya?"
"Kau membuatku khawatir."
"Khawatir kenapa? Maaf aku hanya butuh udara segar. Perutku masih mual." Jawabnya sembari menyunggingkan senyum.
"Kata Mama jika wanita hamil, pasti mual. Apa kamu hamil?" Bryan bertanya dengan gelisah.
"Hamil?" Tanya Jasmine bingung.
"Iya hamil."
"Bryan aku hanya tak menyukai aroma melon saja. Aku sering mual jika minum sirup melon atau aroma lainnya yang terbuat dari bahan melon."
Jelas Jasmine meyakinkan.
"Jadi kamu tidak hamil." Nada bicara Bryan berubah menjadi kecewa.
"Aku tidak tahu ayo kita makan malam. Papa, Mama dan Husein pasti sudah menunggu."
"Tapi bagaimana kalau kamu sedang hamil?" Tanya Bryan lagi.
"Jika kamu penasaran, kita bisa memeriksanya di rumah sakit." Jasmine berusaha menenangkan kegelisahan Bryan.
"Baiklah, kita akan periksa besok Minggu sambil membeli tanaman hias pilihanmu."
Jasmine mengangguk, Bryan berangsur mengurangi rasa khawatirnya. Dengan langkah bersama mereka menuju meja makan.
"Apa setiap hari aku harus melihat drama kalian." Husein mendengus kesal saat mendapati dua orang menyebalkan dalam hidupnya, ikut bergabung di meja makan.
Drama malam ini diakhiri dengan makan malam yang indah. Sendau gurau menghiasi meja makan. Jasmine merasa hangat berkumpul dengan orang-orang 'jahat' yang berhati baik.
Terkadang musuh bisa menjadi teman, atau sebaliknya seorang teman yang sedang menggenggam sebilah pisau dibalik punggungnya. Sedikit saja kau lengah, kau mati!
*
Makin hari like makin merosot. 😞
Tapi gakpapa, aku bakal terus lanjut sampai end pantang Hiatus. Tunggu yah, terimakasih yang sudah setia mendukung karyaku yang ecek-ecek ini 🙏🙏
__ADS_1