Kiss The Rain

Kiss The Rain
Memulai misi.


__ADS_3

Pagi harinya Jasmine sudah berada di markas besar. Dua hari ini Raka yang memimpin pergerakan Brandles Wolfgang.


Semua berjalan dengan lancar, bahkan tim pengintai sudah bergerak menuju lokasi Fox Adois untuk memasang alat penyadap di kediaman mereka.


"Apa yang kita dapat dua hari ini tuan Candra?" Tanya Jasmine sambil menatap layar besar di depannya.


"Apa yang kau dapat setelah dua hari bersama mantan suami mu Nona Jasmine?"


"Cih!"


"Kau bersenang-senang?"


"Asal anak ku senang aku akan melakukan apapun untuknya, Prince lupa dengan ku. Hanya Asmira yang masih menganggap ku ibu."


"Hahaha, kau juga akan memiliki bayi lagi bukan?"


"Kau tahu?"


"Raka sudah cerita semua, bahkan kegilaan mu di rumah suamimu itu sudah di ceritakan anak buahku yang baru."


"Tria?"


"Iya, Nona Jasmine?"


"He'em."


"Saya harap tidak ada kontak fisik ataupun kontak senjata yang Nona lakukan. Nona paham maksud saya."


"Pasti ayah?"


"Beliau tidak akan ikut dalam pencarian misi kali ini, beliau hanya berpesan untuk menjaga Nona dengan baik."


"Kenapa ayah tidak ikut, apa ini keputusan yang ayah buat?"


"Beliau punya misi tersendiri."


"Laporkan padaku apa yang sudah kalian dapat? Apa bajing kecil itu masih di rumahnya?"


"Masih Nona."


"Bagaimana dengan target utama?"


"Tim pengintai sedang memasang alat penyadap di rumahnya, tim yang lainnya juga sedang mencari bukti-bukti kuat untuk menjerat Fox Adois. Nona?"


Candra menatap Jasmine dengan ragu.


"Bagaimana dengan kartel Nicolas?"


"Aku sendiri yang akan membereskan kartel Nicolas. Kau susun saja rencana matang untuk melakukan penyerangan." Jasmine berbalik menuju kursi untuk menyandarkan tubuhnya.


Apa sebaiknya aku membawa Husein kemari dan menyiapkan bodyguardnya sejak awal.


Jasmine berperang dengan batinnya sendiri. Sebelum akhirnya ia beralih pada ponsel Bryan yang ia bawa.


Sambungan telepon ia lalukan.


(.....)


(Dirumah tidak?)


(.....)

__ADS_1


( 1 jam lagi aku sampai )


Jasmine menutup ponselnya. Ia bergegas masuk ke dalam mobil dan bergerak menuju rumah Bryan.


Sesampainya di rumah yang menjadi saksi atas pergulatan batin dan pernikahan sirinya. Jasmine mengangguk mantap.


Ia menuju ruang tamu yang sudah terlihat Husein duduk disana sembari mengulas senyum.


"Bagaimana, sudah kau putuskan?"


"Aku tidak janji bisa memberikan nafkah layak untuk keluarga bodyguardmu, tapi aku usahakan setiap bulan akan mengirimkan uang untuk mereka."


"Nyalimu kuat juga, baik. Sebentar aku kumpulkan bodyguard yang bersedia membantu mu."


Husein bergerak menuju ruang belakang, tidak butuh waktu lama ia membawa 18 pengawal kehadapan Jasmine.


"Urusan mereka ada di tanganmu, terserah kau mau melakukan apa saja." Husein kembali duduk dengan santainya.


"Kalian masih ingat dengan ku dan siapa diriku?"


Semua pengawal mengangguk.


"Aku butuh kalian untuk mencari Bryan, suamiku! Kalian bersedia?"


Mereka saling bertatapan pandang. Botak melangkah maju. "Apa yang harus kami lakukan Nyonya?"


"Kalian akan menjadi tim back up. Timku akan menjadi dua kelompok, tim pengecoh dan tim penyerang dan di bagi menjadi dua tempat. Kalian bisa menggunakan senjata api?"


Jasmine berucap dengan mengebu-gebu. Kobaran semangat ada dalam di dirinya bercampur dengan rasa dendam dan rindu yang semakin lama semakin meronta.


"Bisa Nyonya."


"Bagus, kalian akan mengunakan senjata legal dari markas ku. Kalian tahu resikonya?"


"Lakukan yang terbaik, kau juga Husein. Ikut aku ke markas sekarang juga."


"Untuk apa Jasmine?"


"Aku butuh informasi darimu soal Fox Adois, Kau sudah janji."


"Merepotkan saja, baiklah. Lebih cepat lebih baik."


"Bagus, lebih cepat menemukan Bryan. Lebih baik juga hatiku."


Konyol.


Husein merapikan bajunya, ia berjalan menuju lantai dua.


Jasmine menatap ke delapan belas bodyguardnya , "Maaf sebenarnya aku tidak mau melibatkan kalian, tapi kelompok ku butuh banyak orang untuk mengintai dan menyerang. Tulislah alamat rumah keluarga dan nomer rekening keluarga kalian disini."


Jasmine menyerahkan kertas dan pulpen ke hadapan Botak.


"Untuk apa Nyonya?"


"Lakukan saja, aku tak akan berbuat jahat dengan keluarga kalian. Semua akan aku jamin!"


Botak mengangguk, mereka bergantian menulis alamat keluarga mereka.


"Nenek saya sedang sakit dan harus berobat rutin Nyonya." Salah satu pengawal mendekati Jasmine dengan wajah yang tertunduk.


"Sudah kau tulis alamat rumah nenekmu?"

__ADS_1


"Sudah Nyonya."


"Bagus, jika kau percaya padaku kau tak usah risau dengan nenekmu."


Pengawal itu membungkuk badannya. Sebelum Husein turun dari anak tangga.


"Ayo...," Ajaknya sembari menenteng tas kerja di tangannya.


"Mana bisa kita membawa 18 pengawal sekaligus? Jangan gila Husein."


"Aku akan ambil mobil kontainer, tunggulah 30 menit." Husein berjalan menuju pintu rumah.


"Aku antar." Jasmine bergegas menyaut kunci mobilnya.


"Takut jika aku kabur, hmm?"


"Enggak, aku hanya ingin tahu saja kau mau kemana."


"Hm..., hm..., Aku yang mengemudi."


"Kuyyy lah, aku juga lelah." Jasmine menyerahkan kunci mobilnya di tangan Husein.


Sepanjang perjalanan Jasmine terus mengamati arah jalan yang akan di tuju. Hingga mata Husein mengamati gerak-gerik Jasmine.


"Kita akan ke markas besar Nicolas. Jangan kaget jika sudah sampai disana."


"Memang apa isinya?"


"Laboratorium dan gudang pusat penyimpanan."


"Husein kau sedang tidak bermain-main kan?"


"Hahaha, tidak Ibu Jasmine. Semua murni kami yang membuat dan kami memiliki tim ahli. Gudang itu sekarang kosong tidak ada produksi lagi setelah Bryan menghilang."


"Bakar semua bukti yang memberatkan kalian."


"Licik! Biarlah bukti-bukti kejahatan kami terkuak dengan itu pasaran juga akan berpindah tangan."


"Hukuman kalian bukan main-main Husein. Kalian benar-benar akan dihukum mati!" Air muka Jasmine berubah menjadi sendu.


"Kau khawatir?"


"Aku lebih khawatir dengan kalian."


"Kau tidak takut dengan status mu yang akan menjadi janda lagi." Husein yang sudah menahan tawanya langsung ditatap Jasmine dengan tatapan yang siap menerkam.


"Sudah sampai, tunggu sebentar." Husein keluar dari mobil dan berjalan menuju gerbang.


Jasmine berpindah duduk ke belakang kemudi, terus mengamati gerak-gerik Husein yang sedang membuka gerbang. Matanya tak henti-hentinya mengamati gudang pusat yang memiliki dua kontainer besar di depannya. Hingga tak lama Husein keluar membawa salah satu kontainer berwarna coklat keluar dari gerbang, Jasmine seakan terkesiap. Kontainer ini terkesan keren dan lucu.


Kamuflase yang bagus.


Husein turun dari mobil, menghampiri Jasmine yang terpesona. "Kontainer itu baru dengan desain yang Bryan buat. Ayo pulang, aku akan mengikutimu dari belakang."


Jasmine mengangguk, ia mulai memutar kemudi mobilnya sembari menunggu Husein yang menyegel kembali gerbang.


Tak butuh waktu lama, Jasmine seperti di buntuti monster lucu di belakangnya. Bagaimana bisa Bryan membuat desain mobil bergambar keluarga Teddy bear ditambah rerumputan hijau sebagai alas keluarga beruang itu.


Aku semakin rindu.


Sesampainya di rumah Bryan, Husein memerintah pengawalnya untuk masuk ke dalam kontainer. Husein juga meminta Jasmine untuk mengemudi di depannya sebagai petunjuk arah menuju markas besarnya.

__ADS_1


Perjalan kembali di tempuh selama satu jam. Hingga sesampainya di markas besar, Jasmine meminta Candra untuk mengatur ke delapan belas anggota baru. Jasmine memasrahkan semuanya pada ketua pengintai. Hingga satu lagi tempat yang harus ia tuju untuk menyempurnakan misinya.


Kediaman Dika.


__ADS_2