Kiss The Rain

Kiss The Rain
Harga yang harus dibayar.


__ADS_3

Belum juga Jasmine dan Raka mendudukkan bokongnya di sofa. Rose turun dari anak tangga dengan tergesa-gesa. Teriakan terus memanggil nama Jasmine.


"Sayang, sayang. Kau baik-baik saja?" Rose meraba-raba wajah Jasmine dengan seksama.


"Mama, aku baik. Mama tidak perlu khawatir." Jasmine tersenyum sembari ia menggenggam tangan ibu mertuanya.


"Bagaimana dengan kandungan mu, berapa usianya? Lalu dari mana saja kau 4 hari ini?" Rose mencebik Jasmine dengan banyak pertanyaan.


Kini tatapan Jasmine beralih pada Husein yang hanya diam sembari bermain ponsel.


"Aku bedrest di rumah sakit, Ma. Dan kemarin aku pulang ke rumah orang tuaku."


Rose hanya mengangguk, kini ia beralih menatap Raka yang hanya berdiri di samping Jasmine.


"Siapa laki-laki ini, Jasmine? Dia bukan mantan suamimu kan?" Rose menatap Raka dari ujung kaki hingga kepala.


Cih! Aku mah ogah punya istri seperti kakak.


Raka mendengus, ia mengulurkan tangannya berkenalan dengan Rose yang tampak terkaget dengan ajakan kenalan secara tiba-tiba.


"Raka, adik Jasmine."


Rose tersenyum, menepuk-nepuk pundak Raka. Dia paham dengan situasinya.


"Kakakmu baik-baik saja disini, dia hanya suka tinggal di kamar bersama suaminya di lantai dua. Bryan juga melarangnya untuk turun dari lantai dua." jelas Rose yang membuat Raka mengalihkan pandangannya pada Jasmine.


Cih! Bucin akut, kawin saja kerjaannya.


"Hahaha, kenapa Raka?"


Raka menggelengkan kepalanya.


Kakak benar-benar mencintainya.


"Jasmine mau Mama masakan apa untuk makan siang?" Tanya Rose yang tak lepas mengelus-elus perut Jasmine yang masih rata.


"Apapun yang Bryan suka Ma."


"Baiklah, Mama ke atas dulu."


Rose berdiri, ia mendekati Husein yang masih berdiam diri.


"Berbaiklah dengan teman barumu." Rose menepuk pundak Husein sebelum langkahnya kakinya kembali menaiki anak tangga.


Dih teman, mana ada anggota Intelejen berteman dengan gembong narkoba.


"Husein, mana Tria?"


"Tempat biasa."


Jasmine menghela nafas panjang. Lalu teriakan mendengung di telinga Raka dan Husein.


"TRIA.......,!!!!"


"TRIA.......,!!!!"


"Kak, brisik." Raka menutup rapat kedua telinganya.


"Kalian emang ya, gak niat bantuin kakak cari Bryan."


"TRIA, TURUN."


Terpogoh-pogoh Tria turun dari lantai atas. Karena sebelumnya ia sedang melakukan daring dengan istrinya.


"Nyonya...,"


"Duduk sini."


Jasmine tersenyum sembari menepuk-nepuk sofa disampingnya.


Dasar kakak penjilat.

__ADS_1


"Ada apa Nyonya?" Tria mendudukkan dirinya memberi jarak.


"Bekerjalah dengan ku." Tanpa basa basi Jasmine menceritakan tentang hilangnya Bryan yang dibawa Shally.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan Nyonya?"


"Berhenti memanggilku Nyonya, aku bukan Nyonyamu."


"Tapi,"


"Tidak ada tapi-tapi'an. Kau bisa melacak GPS yang kau pasang di mobil Shally kan?"


Tria mengangguk, "Lalu apa lagi, Ehm...,"


"Panggil aku kakak!"


"Kakak...," Lidah Tria terasa gagu menyebut Jasmine dengan panggilan kakak.


"Aku butuh bantuan mu, kau bisa bergabung dengan tim pengintai di markas ku. Kau mengerti." Jelas Jasmine, Husein yang mendengar hanya bisa menggeleng.


"Kau digaji Bryan untuk menjagaku, jadi ikutlah denganku untuk menjemput majikanmu."


"Tapi...,"


"Kau menjadi bagian timku sekarang, kau tak perlu ragu Tria. Aku hanya butuh informasi darimu."


"Pergilah bersamanya, Aku yang akan mengurus lantai dua." Husein mengerti keraguan Tria.


"Memang apa isinya lantai dua, hingga harus kau jaga?" Tanya Jasmine heran.


"Hahaha, Nanti kau juga tahu Jasmine. Lalu apa langkahmu selanjutnya?"


"Apa Mama dan Papa sudah tahu rencanaku?"


Husein mengangguk. "Tidak perlu khawatir, lakukan saja. Apa yang bisa aku bantu?"


"Aku butuh semua informasi tentang keluarga Fox Adois. Kau bisa menceritakan padaku?" Pinta Jasmine.


"Hmm, hmmm. Ada syaratnya."


Sedangkan Raka hanya menyimak pembicaraan kakaknya dengan orang asing di sebelahnya.


"Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah informasi bukan?"


"Kau benar-benar menyebalkan Husein."


"Hahaha, kita bicarakan diatas saja. Minta adikmu untuk tetap disini."


Raka melengos, dengan cepat ia berdiri dan berjalan keluar rumah membawa kunci mobil yang hanya Jasmine taruh di atas meja.


"Jangan pergi Raka."


"Gak!"


"Tunggu kakak sebentar saja."


"Ya!"


Sepertinya aku mencium bau-bau persekongkolan terselubung.


Raka masuk ke dalam mobil dan merebahkan tubuhnya. Ia sendiri bingung harus mengambil langkah tegas.


Membiarkan Bryan di bawa oleh Shally, yang artinya laki-laki itu masih bisa bersembunyi sampai kapanpun atau mencarinya yang berarti sang kakak akan menanggung beban hidup kembali.


Arghhh, bisa-bisanya kakak jatuh cinta dengan musuh.


*


Di ruang tamu Jasmine masih melakukan negosiasi dengan Husein. Melihat Tria yang masih bingung Jasmine menyuruhnya untuk mengemasi barang-barangnya.


Tria mengangguk. Tubuhnya berbalik, "Kakak akan menjamin keluargaku?"

__ADS_1


Jasmine mengangguk, sembari mengulas senyum.


"Baiklah, aku akan membantu kakak mencari tuan Bryan."


Jasmine mengacungkan jempolnya.


Kini hanya ada mereka berdua di ruang tamu lantai bawah.


"Apa syaratnya?" Tanya Jasmine tanpa basa-basi.


"Sudah tidak sabar ya?" Husein menarik tubuhnya mendekati Jasmine.


"Hei, hei. Jaga jarak aman Husein." Jasmine menarik tubuhnya ke belakang.


"Hahaha, tenanglah." Husein menengadahkan kepalanya ke atas. Melihat lampu yang bergelantungan.


"Aku dan bodyguard bisa menjadi tim back up mu. Tapi, ada syarat yang harus kau bayar."


"Apa?"


"Mereka bekerja dengan kami untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka. Jika aku dan bodyguard di penjara, lalu siapa yang akan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka, itu juga belum termasuk donasi tahunan panti asuhan yang kami dirikan." Jelas Husein, sedangkan Jasmine hanya bisa memijit pelipis keningnya.


"Astaga, banyak sekali yang harus aku korbankan untuk satu laki-laki." Jasmine tertunduk, ia ragu harus melakukan apa. Untuk memberi nafkah keluarga para bodyguard saja ia bingung harus mencari uang dari mana. Sudah satu tahun ia tidak bekerja, dapat dari mana uang itu.


Jasmine terus tertunduk, hingga tubuh kekar Husein merengkuhnya dengan baik.


"Apa yang kau pikirkan Jasmine?"


"Berapa gaji pengawalmu?"


"Kau yakin ingin mendengarnya?"


Jasmine mengangguk.


"Satu orang 15 juta. Sedangkan kami mempunyai 18 bodyguard, santunan panti asuhan 350 juta pertahunnya."


Penjelasan Husein semakin membuatnya gelisah.


"Apa bodyguard mu yakin mau membantuku dan menyerahkan dirinya dengan rela?"


"Sudah jadi urusanku, kau hanya perlu memikirkan bagaimana cara menafkahi anak asuh kami di panti asuhan dan keluarga pengawalku. Keluarga kami memang licik tapi kami masih memiliki hati nurani yang baik kepada sesama manusia."


"Husein...,"


"Hm, apa?"


"Urus para bodyguard mu biarkan aku mencari solusi untuk ini."


"Haha, bukan uang dengan jumlah sedikit Jasmine. Dan kau juga harus menafkahi mereka sepanjang kami di penjara. Bukan waktu bulanan tapi bahkan puluhan tahun."


"Kau menyebalkan Husein. Bagaimana aku harus menanggung itu semua."


"Hahaha, wanita pemberani slalu punya cara untuk menyelamatkan suaminya bukan. Pikirkan baik-baik."


"Baiklah, aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Sekarang lepaskan pelukanmu!"


"Hahaha, bukannya kau nyaman?"


"Tidak enak, lebih nyaman punya Bryan." Jasmine melengos.


"Pikirkan baik-baik, bisa jadi sekarang Shally sudah memaksa Bryan untuk bercinta atau mereka sekarang sedang membalas ciuman."


Perkataan Husein membuat Jasmine semakin gelisah dan panik. Bibir merah jambu suaminya terngiang-ngiang di kepalanya.


"Arghhhh." Jasmine mengeram.


"Kau tidak membuatku tenang, kau malah membuat ku semakin takut kehilangannya." Jasmine berdiri bergegas menaiki anak tangga.


"Mau kemana?"


"Kamar!"

__ADS_1


Hahaha, hanya dengan cara itu kau semakin kuat Jasmine. Hanya dengan cara membuatmu semakin takut, rasa dendam mu semakin bergejolak. Balaskan dendam kami!


Husein mengikuti langkah Jasmine, bukan ingin mengikutinya ke kamar. Namun, ia ingin memasuki kamar bertuliskan "Jangan masuk kecuali Bryan!"


__ADS_2