
Waktu yang memilih, tak terasa sembilan bulan Jasmine menghilang. Keluarga Kamto Jayantaka dan Brandles Wolfgang mulai pasrah. Brandles Wolfgang tetap menjalankan misi lainnya, terlepas dari Jasmine yang menjadi pentolan tim penembak. Jika di telisik lagi benang merahnya, Jasmine sama sekali tak pernah keluar rumah setelah terakhir dia pergi ke pasar Tradisional dan videonya dengan Bryan tersebar di laman video berbagi.
Mau dicari dimanapun, jejak Jasmine seperti menghilang di telan bumi. Bryan benar-benar gila, semua yang ia lakukan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Kue tart, kado-kado untuk Asmira dan Prince, slalu hadir setiap bulan. Tak pernah ada yang tau darimana datangnya bingkisan itu semua, Asmira akan slalu berlonjak senang. Dia slalu bilang, "Mommy baik, mommy sehat, mommy cepat pulang."
Dika yang sempat rapuh kembali bangkit dan melebarkan sayapnya di dunia bisnis retail pertokoan dan mall yang baru selesai ia garap. Mall yang ia beri nama 'Bhagawanta', nama kebesarannya. Dika juga masih bernyanyi, bahkan kiprahnya di dunia tarik suara semakin melejit. Banyak sekali fans yang mengerubunginya, tapi kini penjagaan juga ia ketatnya. Manager yang mengurus semua kado-kado yang diberikan para fansnya dan ia sumbangkan ke panti asuhan.
Suami dari Amanda Soedarjo kini telah menjadi laki-laki yang wibawa dan dewasa. Seminggu saat Jasmine hilang, ia mabuk-mabukan mengurung dirinya di studio musik miliknya. Tidak bekerja, apa lagi mengurus ketiga anaknya. Lamunannya hanya tertuju pada Jasmine. Bahkan seminggu itu juga Dika tak melepas kemeja flannel pemberian Jasmine saat mereka masih pacaran dulu. Kenangan manis slalu ia putar dalam ingatannya.
Amanda tak pernah menyesal memilih Dika, dia tetap mengurus kedua anak sambungnya Asmira dan Prince. Tentu dengan bantuan seorang baby sitter, Amanda terus berada disisi Dika. Menemani laki-laki rapuh yang menyedihkan. Menemani di setiap kegundahan hati suaminya, meratapi hilangnya mantan istrinya.
Kamto dan Ani berbesar hati, Sepasang Opa Oma itu masih setia mengunjungi cucu mereka di rumah Dika. Tak pernah berhenti melepas kabar, satu sama lain saling menguatkan. Tak ada perseteruan lagi diantara mantan menantu dan mertua itu. Mereka selalu solid mengurus buah hati Jasmine tanpa sedikitpun kekurangan kasih sayang.
Satu persatu keluarga Jasmine menata hidupnya lagi, termasuk Raka. Bujang tampan ini memutuskan untuk menikahi Adelle, tanpa seorang kakak yang menyaksikan kebahagiaan mereka.
Pernikahan dilangsungkan secara sederhana, keluarga Adelle memaklumi kondisi yang terjadi. Adelle sendiri tak pernah keberatan dengan semua yang dilakukan Raka, mereka berdua slalu setia mengunjungi tempat-tempat yang Raka dan Jasmine sering kunjungan. Jika rindu, Raka akan slalu tidur di ranjang Jasmine mendekap semua baju yang sering kakaknya gunakan.
Prince Husein Bhagawanta kini berusia satu tahun, anak laki-laki yang memiliki 80% gen ayahnya ini mulai belajar berjalan. Mata-mata Bryan selaku baby sitter Prince, tak berhenti mengirim kabar pada Bryan. Semua yang dilakukannya mulus tanpa menaruh curiga.
Tepat tahun ini Asmira masuk ke sekolah dasar, Dika memasukkannya di sekolah favorit dikotanya tentu dengan penjagaan ketat. Jelas sangat menyusahkan bodyguard untuk menjaganya atau memata-matai Asmira.
Lagi-lagi jalan tikus menjadi jalan keluarnya, apapun demi tuan muda mereka. Salah sedikit, uang bonus melayang ke udara.
*
Shally benar-benar menuruti saran Jasmine, ia rajin masuk kuliah dan menyelesaikan kuliahnya. Ia lulus dengan predikat cumlaude, anak pertama dari kartel Fox Adois ini benar-benar berambisi kuat. Menuruni jejak keluarga, ia juga pintar dalam bela diri, jika bersanding dengan Jasmine. Bisa saja mereka menjadi lawan yang tangguh.
Ambisinya mulai menjadi-jadi untuk memiliki Bryan di usia 24 tahunnya. Selidiki menyelidiki, Shally menyuruh orangtuanya untuk menjodohkannya dengan Bryan.
Jasmine mulai gelisah, ia memang benar-benar menyimpan perasaannya pada Bryan. Tak pernah ia utarakan.
Tria yang menjadi mata-mata untuk Bryan, berbelok pada Jasmine. Saat pertama kali Shally datang ke rumah Bryan, Jasmine menyuruhnya untuk memasang penyadap dan gps di mobil Shally. Entah bodoh atau bagaimana, Shally atau keluarganya tak mengetahuinya keberadaan benda pengintai itu.
Semua berjalan apa adanya, hingga Shally kembali mengusik rumah tangga Jasmine lagi.
Seperti pagi ini, belum juga mata terbuka. Gedoran di kamar Bryan membuat Jasmine yang baru saja menggeliat mempertajam pendengarannya.
__ADS_1
Berusaha mengumpulkan nyawanya, Jasmine berjalan dengan berduyun-duyun.
Saat ia membuka pintu kamarnya, terlihat seorang gadis dan pria tambun berada di belakangnya.
Mata Jasmine berusaha membulat, pikirannya berusaha mencerna siapa pria tambun ini. Ketemu!
"Sial, Fox Adois." Batin Jasmine.
"Tante masih kerja disini?" Tanya Shally.
Pria dibelakang mengernyit heran, "Maksudmu kerja apa Shal?" Fox Adois bertanya, belum juga Jasmine membuka suaranya.
Teriakan dari dalam kamarnya membuat semua orang terperangah.
"Siapa sayang?" Teriakan Bryan.
Mata Fox Adois menajam. "Shally, siapa wanita ini. Kenapa Bryan memanggilnya sayang?" Nada Fox Adois mulai menajam. Belum rasa kagetnya berhenti saat mendapati wanita berbaju tidur seksi membuka pintu kamar Bryan, ditambah lagi ucapan sayang Bryan.
"Tante ini bekerja untuk kak Bryan pa, Tante ini. Ehmm, bit*h." Jelas Shally, mulutnya benar-benar tidak bisa memfilter ucapannya.
Mulut Jasmine gagu, ia bingung ingin menjawab apa. Sebelum tubuh tambun itu meringsek masuk ke dalam kamar Jasmine dan Bryan. Baju dan dalaman masih berserakan dilantai, sudah seperti biasanya. Jika pergulatan malam menjadi hal paling wajib mereka lakukan.
Empat orang penjaga menahan tubuh Fox Adois, ia cukup geram dengan penjelasan anaknya. Jika Bryan menyimpan wanita jala*g dirumahnya.
"Keluar kamu bedebah sialan, Keluar!" Fox berteriak.
Jasmine dengan cepat masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Langkah kakinya berjalan cepat menuju ranjang, "Fox Adois dan Shally." Jasmine berbisik.
"Brengsek, ada urusan apa lagi mereka kesini." Bryan terbangun dari tidurnya, lagi-lagi mengacak-acak rambutnya.
"Kau mau menemui mereka, empat penjaga sedang menahan mereka." Tanya Jasmine dengan nada gugup.
"Mandi, aku mau mandi dulu." Jawab Bryan santai, "Temani aku."
__ADS_1
Jasmine mendongkakkan kepalanya saat ia sedang memunguti baju yang berserakan. "Bagaimana dengan mereka, apa yang ingin kau katakan?"
"Biarkan mereka tahu jika aku sudah memiliki istri, aku lelah Jasmine meraka slalu membujukku untuk menikahi Shally." Jelas Bryan tanpa berselera.
"Kau yakin, jelas-jelas ini akan menjadi perang antar kartel jika sampai terjadi."
"Ayo mandi, aku mau lagi sayang. Lihatlah, aku sedang morning horny." Sudut bibir itu tersenyum miring.
"Kalau aku hamil gimana, setiap hari kamu ngawinin aku."Sergah Jasmine.
"Aku sudah siap punya anak dari benihku sendiri. Sayang kan babe, tiap malam hanya aku buang pada bokong atau perutmu." Jawab Bryan dengan nada yang dibuat-buat.
"Yakin, punya bayi pasti repot Bryan. Kita tak akan seintens ini. Banyak waktu dan tangung jawab ketika kamu sudah menjadi orang tua."
"Aku sudah menjadi orangtua angkat untuk 200 anak asuhku di panti. Aku sudah siap menjadi orangtua untuk buah hatiku nanti."
"Lalu, tunggu apa lagi." Mata Jasmine mengerling.
"Genit." Bryan mengendong Jasmine menuju kamar mandi, melangsungkan sunah rasul dipagi hari, melupakan dua tamu tak diundang di depan kamar yang masih terus ingin meringsek ke dalam kamar mereka.
"Papa tidak Sudi kau memilih ******** itu!" Nada Fox Adois mengeras.
"Tapi aku suka dengan kak Bryan papa, aku sudah menunggu lama." Shally menjawab enteng pertentangan ayahnya.
"Shal! Jangan membantah ucapan papa! Ayo kita pulang." Ajak Fox menarik tangan putrinya.
"Gak pa! Aku mau bertemu kak Bryan." Sergah Shally cepat.
"Keras kepala, baik untuk kali ini papa temai." Fox mengalah demi putrinya. Ia mengikuti langkah kaki putrinya menuju ruang keluarga.
**
Semua klimaks akan ada di part ending, part ini masih melulu soal Bryan dan Jasmine. Semoga menikmati 🙏
Happy Reading 🤗
__ADS_1