Kiss The Rain

Kiss The Rain
Murahan!


__ADS_3

Jeep Wrangler putih milik Bryan sudah memasuki area gerbang utama dan akan memasuki garasi bagian dalam, garasi yang hanya dibatasi dengan tembok dan sebuah kaca putih yang menembus langsung dengan area belakang rumah, termasuk kolam renang yang sedang dipakai mermaid dadakan untuk berenang.


Dentuman air itu menyeruak masuk ke gendang telinga Bryan. Ia mengernyitkan dahinya, tidak biasanya ada seseorang yang berenang di siang hari bahkan para penjaganya pun arang memasuki area belakang rumah jika tidak ada 'tahanan' di rumah belakang.


Bryan melangkahkan kakinya, ia semakin di buat terkejut saat mendapati Tria penjaga tangga lantai dua berdiri tepat di pintu hitam sambil menundukkan pandangannya.


"Siapa yang berenang?" Tanya Bryan.


"Nyo....,nya tuan." Jawab Tria terbata-bata. "Matilah aku, bisa disuruh nginep di rumah belakang." Batin Tria tak berani menatap Bryan yang mengerutkan dahinya bingung.


"Mama datang?" Tanya Bryan lagi.


Tria menggeleng.


"Lalu Nyonya siapa?" Nada bicara Bryan mulai meninggi. "Apa mungkin Jasmine, bukannya kau harus menjaga lantai dua kan?"


Tria hanya menganggukkan kepalanya. "Bodoh, siapa yang mengijinkannya kebawah."


"Open the door." Bryan mendekatkan mulutnya pada speaker mini. Pintu itu otomatis terbuka dengan hanya mematuhi suara Bryan. "Pintu saja menurutiku." Batin Bryan sambil melangkahkan kakinya menuju kolam renang.


Dari pinggir kolam, terlihat Jasmine yang meliuk-liuk tubuhnya di dalam air, ia masih tak menyadari bahwa ia sudah tertangkap basah. Tak Alang kepalang, Jasmine muncul ke permukaan air dan menghirup udara.


Matanya membulat, Jasmine melihat Bryan sudah berkacak pinggang.


"Naik!" Titah Bryan.


Jasmine mengangguk. Ia kembali berenang dan menaiki tangga. Tak ada yang mengejutkan hingga sampai tubuhnya benar-benar berdiri tepat dihadapan Bryan.


"Turun!" Titah Bryan lagi.


Jasmine mengangguk, ia kembali masuk ke dalam kolam renang dan menundukkan kepalanya.


"Mana bathrobe mu?"


Jasmine menggeleng. Dan hanya menunjuk rok rample hitam yang tergeletak tak berdaya di atas rumput Manila.


"Tidak punya malu, bagaimana bisa kau berenang hanya menggunakan celana dalam!" Hardik Bryan sembari ia mengambil rok hitam Jasmine. Mata Bryan terbelalak saat tahu Jasmine hanya menggunakan celana dalam model g-string berwarna kuning dan mencolok.

__ADS_1


"Untung aku tidak pakai bikini sexy." Sergah Jasmine tak mau kalah.


"Jangan harap! Pakai ini cepat!" Bryan melempar rok rample Jasmine di depan tangga kolam renang.


Jasmine tak berkata-kata, ia hanya menuruti kemauan Bryan. Wajahnya sudah merah menahan amarah.


Jasmine mengekori langkah Bryan, hingga tepat di depan Tria yang tak berani melihat Tuan mudanya menatap tajam kearahnya.


"Siapa yang mengijinkannya berenang, jawab!!!" Bryan sudah diluar kendali, ia menarik paksa kerah kemeja Tria.


Jasmine yang melihatnya pun kaget. Ia berusaha melepas cengkraman Bryan yang semakin mencekik urat nadi.


"Lepaskan Bry, dia tidak salah. Lepaskan." Jasmine terus menarik-narik tangan Bryan.


"Aku yang memintanya untuk mengijinkan ku berenang. Dia tidak salah, lepaskan dia Bry, dia bisa mati." Jasmine berusaha menjelaskannya.


"Owh, jadi kau mulai berusaha berulah." Tukas Bryan.


"Aku hanya ingin berenang, ini juga masih di rumahmu. Salahnya dimana?" Tanya Jasmine.


"Pergilah Tria, maaf aku merepotkan mu." Pinta Jasmine sembari mengkode matanya untuk meninggalkan mereka berdua.


"Ingat janji Nyonya." Tria berjalan meninggalkan Bryan yang masih menatapnya dengan tajam.


"Hah, apa yang kau janjikan Jasmine. Ha-ha-ha, kau menggodanya! Apa aku kurang untukmu." Bryan kini mencengkeram bahu Jasmine dan memepetkannya di dinding tembok.


"Apa yang kau janjikan!!" Teriak Bryan.


"Apa kau benar-benar menggoda penjaga itu." Tanya Bryan yang semakin di luar kendali.


"Tria namanya." Tukas Jasmine.


"Owh, jadi kau juga tahu namanya. Bagus, apa selama aku tinggal kau bermesraan dengannya?" Sergah Bryan, tangannya semakin mencengkram erat bahu Jasmine. Hingga wanita ini mengaduh sakit.


"Sakit Bry, lepaskan tanganmu."


"Jawab dulu, Hah! Kau tak bisa menjawab ku dan artinya semua yang aku katakan benar. Murahan!"

__ADS_1


Jasmine mendongkak dan mendorong tubuh Bryan dengan kuat.


"Kau bilang aku murahan, Owh perjaka mudaku. Asal kau tahu, Tria sudah punya dua anak dan istri. Apa kau juga tahu, bahkan memang benar aku berjanji padanya untuk menjamin anak dan istrinya jika kau marah dan bertindak semaumu. Hanya sebatas itu janjiku padanya. Lalu dimana letak Murahan ku, Hahaha." Jasmine tertawa getir.


"Jadi seperti ini jika kau marah." Jasmine menatap dalam-dalam wajah Bryan sebelum ia meninggalkannya menuju lantai dua.


Keributan yang terjadi tak lepas dari para Bibi yang menguping perdebatan mereka berdua, bahkan baru kali ini mereka melihat Tuan mudanya bisa marah tak terkendali. Hingga tatapan para bibi itu teralih pada air yang menetes dari tubuh Jasmine, berceceran diatas lantai dari ujung pintu hitam hingga Kamar Bryan. Para Bibi itu hanya saling pandang dan mendengus kesal.


Jasmine masuk ke kamar mandi dan membilas tubuhnya, ia lupa membawa baju ganti dan kembali ke kamar utama untuk mengambil baju gantinya. Ia melihat Bryan sudah duduk di sofa kamar dan menatap Jasmine dalam diam. Jasmine tak peduli, ia melangkahkan kakinya kembali ke kamar mandi. Selesai berpakaian, Jasmine keluar dari kamar mandi, menyaut salah satu bantal dan membawanya ke balkon.


"Jika orangtuamu nanti jadi datang, suruh bibi untuk memasak makan malam." Pinta Jasmine sembari ia meringkukkan tubuhnya diatas kursi kayu yang cukup untuk ia rebahan.


"Murahan." Kata-kata itu terus teringat di kepala Jasmine, hingga air mata menghiasai pelupuk mata yang sudah memburamkan pandangannya. "Apa aku murahan, aku hanya ingin menghirup udara segar dan menikmati hari-hari ku saja. Salahku dimana. Jika tidak karena anak-anakku aku juga tidak mau bercinta dengan laki-laki yang baru sehari menikahiku. Hiks.....," Jasmine terisak, matanya menangkap sepasang sepatu yang berdiri di depannya. Bryan!


Jasmine menghapus air matanya dan membalikkan badannya membelakangi Bryan yang sudah melangkahkan kakinya mendekati Jasmine.


"Pergilah, Aku sedang tidak ingin bicara."


"Maaf,"


"Untuk apa?"


"Untuk sikapku tadi, aku sudah kasar padamu." Bryan mengelus rambut Jasmine.


"Pergilah, bukannya setiap hari aku seperti ini. Slalu sendiri, aku kesepian. Aku tidak punya teman untuk bicara atau hanya mengeluarkan suara." Jasmine semakin terisak.


"Jika aku murahan, lepaskan aku. Untuk apa kau masih mengurungku disini. Bukannya malah membuatmu seperti mendapat sampah bernyawa."


"Kau ingin kebebasan, jika kau mau lakukanlah!" Suara Bryan terdengar memberat, hingga langkah kakinya perlahan menjauhi Jasmine.


Wanita dua anak itu tak bergeming, ia masih terdiam di tempatnya.


*


Hingga sore hari Jasmine masih berada di tempatnya, tapi sebuah kotak berwarna maroon tergeletak di sampingnya, dengan pita pink yang menghiasinya. Jasmine mengambil secarik kertas yang tertempel di ikatan pita itu. "Pakailah saat bertemu mama nanti."


Jasmine mengedarkan pandangannya, ia mencari sosok Bryan. Tak dapat, ia membuka kotak maroon itu yang berisi sebuah gaun yang terlihat simpel dan elegan, dengan warna kesukaan Jasmine.

__ADS_1


__ADS_2