
"*Jika kau sudah baca secarik kertas ini,tandanya kau sudah bangun. Dan aku pastikan aku tidak ada rumah. Jangan lupa makan dan tidak perlu sungkan, kamu boleh berada di lantai dua sebebas yang kau mau. Ehm..... pakai salep ini si dahi mu yang memar. Jangan menungguku pulang. ~ Bryan perjaka mudamu* ^_^."
Jasmine duduk di tepi ranjang, memegangi salep khusus memar. Ia mengedarkan pandangannya di kamar barunya, tak ada Bryan. Jasmine membuka jendela kamarnya, ia begitu terkejut saat melihat pandangan di balik tirai yang menjuntai-juntai itu. Balkon, sebuah balkon dengan banyaknya tanaman hias disana. Jasmine semakin tersenyum saat jendela kaca itu tidak terkunci. Ia membuka pengait jendela dan keluar dari kamar yang sesak, menatap dedaunan yang imut dan menghijau, rapi dan terawat. "Apa dia tahu aku menyukai tanaman hias." Jasmine masih tersenyum duduk di salah satu bangku kayu yang tersedia di balkon itu. "Apa dia benar-benar memiliki perasaan dengan ku." batin Jasmine.
"Aku tidak peduli." Jasmine berdiri mengambil penyemprotan air dan menyirami tanaman-tanaman hias itu dengan hati-hati. Terkadang membelai satu per satu dedaunan yang membuat mood booster melonjak-lonjak riang namun menjadi sendu membiru kemudian. "Sudah lama sekali aku tidak me-time dengan tanaman-tanaman ku. Aku rindu rumah, rindu Mira , rindu pangeran kecil mommy. Apa kalian baik-baik saja ,apa ayah kalian merawat kalian dengan baik. Mommy rindu kalian." Jasmine menghentikan aktifitasnya,duduk termangu-mangu mengusap air matanya yang sudah meluncur dengan derasnya. "Hiks....,hiks...."
*
"Mira...." Panggil Dika sambil menjongkokkan tubuhnya di hadapan putrinya
"Ya, ayah." Jawab Asmira. "Kenapa mommy belum pulang ayah, mommy kemana? Mira kangen mommy, ayah." Asmira memeluk erat boneka yang pernah di belikan oleh Jasmine.
"Hey, mommy masih sibuk bekerja. Mommy akan pulang saat tugasnya sudah selesai." Dika membujuk putrinya, sudah seminggu ini Mira terus bertanya dimana ibunya. Ia merajuk dan ingin pulang ke rumah ibunya ,Dika pun menyetujui permintaan putrinya. "Sirami lah tanaman mommy mu yang di belakang rumah, pasti mommy akan suka saat ia kembali nanti." Bujuk Dika lagi, ia sendiri risau harus mencari Jasmine dimana.
"Benarkah ayah, jika aku menyirami tanaman mommy, mommy akan cepat pulang." Mata Asmira berbinar-binar.
__ADS_1
"Iya." Dika mengangguk. "Ayah naik ke kamar dulu ya. Ada beberapa baju yang mau ayah ambil." Lanjut dika dan di angguki Asmira,putri kecilnya melepas pelukan ayahnya dan mengambil penyemprotan air. Sebenarnya Dika punya tujuan lain. Brankas Jasmine!
Laki-laki berusia 36 tahun itu memasuki kamar mantan istrinya, mencari dimana tempat brankas itu berada. Pesan Jasmine saat ia pergi dulu, carilah di bawah tumpukan buku-buku milik ku. Dika mengedarkan pandangannya, menatap banyaknya tumpukan buka yang bertengger di atas brangkas berwarna abu-abu. Ia menundukkan tubuhnya, mengingat tanggal lahir Asmira. Memencet tombol-tombol kecil dan terbuka.
Tak ada yang menarik menurut Dika, hanya berlembar-lembar kertas putih. Selembar KK, akta kelahiran Prince dan Asmira, sertifikat rumah. Dan beberapa peluru yang nyaris tak Dika sentuh, lalu matanya menatap sebuah amplop berwarna merah jambu. Dika mengambilnya, membolak-balik amplop itu dan kini ia mengawasi sekeliling nya. Di rasa aman, ia membuka amplop merah jambu itu. Sebuah kertas putih dengan tulisan tangan yang amat Dika kenali.
"Jika kau sudah membaca surat ini, tandanya aku sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana kabarmu, pasti kau baik-baik saja dan bahagia. Aku bahagia untukmu, dan kau harus pastikan dirimu untuk bahagia dengan Amanda. Kau pasti kaget kenapa aku tiba-tiba memutuskan diri untuk kembali ke tim ayahku. Kau tahu Dika, tak aku pungkiri aku belum bisa melepas semua tentangmu. Kau tahu aku hanya ingin berlari dari mu. Semakin sulit untukku jika setiap Minggu kau menghampiriku dan bayiku. Ehh,anak mu juga. Aku memang salah mengorbankan Prince yang masih bayi demi keegoisan ku untuk melupakan mu. Aku salah Dika! Aku merasa tersakiti dengan rindu yang aku tahan, aku merasa tersakiti saat harus melepas mu demi kebahagiaanmu sendiri. Aku tak lebih dari seorang wanita yang merana. Tapi, percayalah kau tak perlu khawatir dengan ku sekarang. Berbahagia lah dengan istrimu dan anak-anak mu. Ehm...kau bisa menjual rumah ini untuk memenuhi kebutuhan Prince dan Asmira. Ingat pilihkan susu formula yang terbaik untuk Prince sebagai ganti ASI ku. Ohya ,aku kembalikan apa yang seharusnya aku kembalikan kepadamu sejak dulu. Jagalah putriku dan putraku dengan baik, aku tak pernah menyesal mengandung anak-anak mu. Terimakasih Dika ,Jasmine 🖤."
Dika melipat surat itu dan mencari apa yang Jasmine kembalikan. Sebuah cincin kawin pernikahan Dika dan Jasmine dulu. Dika menggengam erat cincin itu, matanya kabur karena air matanya sudah menggenang.
"Tidak, ayah tidak menangis Mira. Ayah hanya rindu saja dengan mommy." Dika memeluk putrinya, serasa ia memeluk Jasmine dulu, karena tak di pungkiri semakin besar Asmira malah seperti ibunya-Jasmine.
"Mira juga rindu mommy ayah, kenapa mommy tidak pulang-pulang.Hikss...." Asmira terisak-isak.
"Jangan menangis, ayo mandi. Bajumu basah semua. Mira sudah menyirami pot-pot bunga mommy?", tanya Dika menghapus air mata putrinya
__ADS_1
"Sudah yah, mommy pasti suka." Asmira menyunggingkan senyum kecutnya.
"Yasudah, ayo mandi terus pulang. Adik-adik mu pasti sudah menunggu." Bujuk Dika.
"Baiklah ayah, ehmm.... Ayah, apa aku boleh bawa mainan yang belum ada di rumah ayah?" Minta Asmira.
"Tentu, nanti kita pilih. Ayo mandi dulu." Ajak Dika dan Asmira dengan patuh menuruti ayahnya.
**
Setelah drama sore hari dengan tanaman hias milik Bryan dan ingatannya. Jasmine kembali ke kamar Bryan, mengedarkan pandangannya mengamati setiap isi di dalam ruangan itu. Tidak ada yang menarik menurut Jasmine, sebuah pigura foto bergambar Bryan sedang tersenyum. Membuat Jasmine memandanginya lama-lama. "aku tak percaya sudah membuat anak muda berusia 18 tahun jatuh cinta. Semacam little bit shit. Apa dia benar-benar masih perjaka. Ehmm... aku lupa,perjaka atau tidak kan sama saja bentuknya." Jasmine tersenyum dengan pikirannya sendiri. Baginya Sex tanpa cinta rasanya hambar seperti sayur lodeh lupa santan. Tapi bukankah diluar sana banyak sex tanpa cinta, atau malah cinta tanpa sebuah sex!
Jasmine memberanikan dirinya untuk keluar dari kamar. Berjalan-jalan di lantai dua, karena tepat di depan tangga seorang penjaga berdiri dengan gagahnya tanpa melihat jasmine atau menyapanya.
Matanya terpukau dengan sebuah piano hitam mengkilat, dengan tuts-tuts berwarna Hitam-Putih yang tertutup. Piano itu terletak di ruang keluarga lantai dua. Jasmine tampak bergairah, rasanya ia sudah lama tidak menyentuh benda ajaib yang bisa menyayat-yayat hati dengan intonasi nada yang pas. Ia mendekati piano itu tapi sebuah ruangan tepat di depan ruang keluarga dengan tulisan "Jangan masuk, kecuali Bryan!"
__ADS_1
Jasmine terdiam di depannya dan terkekeh. "Dasar bocah!"