
Setelah nasi pandang rendang datang.
Jasmine memincingkan matanya.
"Rendang ku." Senyumnya melebar.
"Diam di tempatmu!" Husein menyaut plastik putih yang diserahkan oleh pengawalnya.
Dengan perlahan Husein membuka cup putih sterofom.
"Buka mulutmu." Husein menyodorkan rendang dengan potongan besar.
"Aku bisa sendiri." Bersusah payah Jasmine bangun dari tidurnya.
Husein menonyor kepala Jasmine. "Keras kepala."
"Tidak usah modus, aku bisa sendiri." Jasmine menyaut sterofom putih rendang miliknya.
"Aww." Siku kanan yang nyaris mengering kembali terbuka mengeluarkan darah. Sedangkan tangan kiri di gunakan untuk selang infus.
"Sudah ku bilang, keras kepala!" Husein mengambil tissu, mengeringkan siku Jasmine yang berdarah.
"Modus!"
"Lupakan pikiran negatif tentang ku, buka mulutmu!" Titah Husein lagi sembari menyodorkan nasi padang rendang yang nyaris dingin.
"Aku terpaksa!" Jasmine menerima berkali-kali suapan dari Husein. Mengunyahnya tanpa berselera, berbeda jika tangan yang menyodorkan sendok itu adalah Bryan.
"Sudah habis." Husein menutup dan membuang cup sterofom putih ke dalam tempat sampah.
"Minum dulu, obatnya juga." Husein menyiapkan segelas air putih dan vitamin untuk Jasmine.
"Terimakasih." Jasmine mengambil obatnya dari genggaman Husein.
"Istirahat, aku mau makan. Jangan Brisik!" Husein beralih pada kursi tunggu, membuka cup rendang miliknya.
"Jangan minta jatahku!" Husein mengingatkan Jasmine lagi saat tatapan mata itu menuju cup rendang yang di pegang Husein.
"Sedikit lagi tidak boleh?" Jasmine bertanya dengan mengiba.
"Astaga, aku harus berbagi dengan mu gitu."
Jasmine mengangguk. "Sedikit saja." Sembari tangannya memberi cubitan pada udara.
"Lambungmu besar juga ternyata." Husein kembali berjalan mendekati Jasmine.
"Buka mulutmu, hanya sekali saja. Ingat ini rendang ku!"
Jasmine mengangguk, "Haaak..., ehm." Mulut Jasmine tak henti-hentinya mengunyah dan mengulas senyum.
Sebuah ide berkeliaran di kepala Jasmine.
"Uncle, mau es krim stroberi." Jasmine kembali mengulas senyum.
Husein mendengus, "Biarkan aku makan dulu."
Jasmine mengangguk. "Sundae strobery saus coklat toping remahan Or*o, McD." Jelasnya lengkap.
"Tapi uncle, aku mau uncle yang membelikannya langsung." Pintanya lagi dengan nada manja.
"Hahaha, mau coba kabur? Jangan coba-coba Jasmine!"
Husein kembali menyantap makanannya.
Wah wah wah, belum apa-apa sudah di endus ideku.
Jasmine mengerucutkan bibirnya, hingga tubuhnya berangsur lemas dan mengantuk.
"Uncle, jangan lupa es krim ku."
Tak butuh waktu lama, Jasmine memejamkan kedua matanya.
*
Kediaman Shally Fox.
"Kakak bangun. Aku mohon." Shally terus mengguncang tubuh Bryan. Tak ada respon darinya. Tubuh itu hanya mengembang kempis pelan dengan bantuan selang oksigen.
__ADS_1
"Kakak maafkan aku." Shally menggengam erat tangan Bryan, "Kakak bangunlah." Hingga tangisnya menjadi-jadi.
Fox Adois yang baru saja pulang dari luar negeri dibuat tercengang oleh kelakuan putrinya.
Bukan masalah tabrak lari yang ia buat, tapi Bryan. Laki-laki itu malah menjadi boneka bernyawa.
"Lupa laki-laki ini. Dia tidak berguna, Shall." Fox menarik tangan putrinya.
"Dia hanya tidur, Pa. Besok kak Bryan juga bangun. Papa, istirahat saja." Shally menarik tangannya cepat.
Fox menggeleng, putrinya benar-benar menuruni darah seorang Adois yang licik dan keras kepala. Segala cara akan dilakukan untuk mendapat apa yang diinginkan. Mati atau hidup, besar atau kecil!
Dokter jaga hanya melihat drama menyedihkan putri majikan mereka. Sesekali dokter memeriksa kondisi detak jantung dan tekanan oksigen dalam darah.
Pemberian obat dan pergantian cairan infus juga dilakukan.
Hanya ada dua kemungkinan saat Bryan sadar. Ia menjadi lumpuh atau kesulitan dalam berbicara. Butuh terapi dan dukungan dari orang-orang yang ia sayangi yang tak akan ia dapat dari Shally.
*
Kediaman Bryan.
"Bagaimana ini, Pa. Bagaimana dengan putra kita dan Jasmine." Rose mengigit kecil jarinya dan berjalan wira-wiri.
"Tenanglah, Ma. Anak-anak kita adalah anak-anak yang hebat. Berdoalah yang terbaik untuk mereka." Anthony mendekap tubuh istrinya yang semakin resah.
"Mama tidak mau hal buruk terjadi pada Bryan, Pa." Rose terisak, "Apa yang harus kita lakukan? Mama tidak bisa jika hanya berdiam diri."
"Husein tadi berpesan untuk mengemas baju ganti Jasmine. Lakukanlah."
"Mama juga ingin bertemu dengan Jasmine, mama mohon ingin melihat calon cucu kita."
Anthony mengusap punggung istrinya. "Tidak ada yang boleh keluar rumah. Sebelum semua membaik. Kemasi saja barang-barang Jasmine. Biarlah pengawal yang mengantarnya."
Rose mengangguk, ia melangkahkan kakinya yang lemas menuju kamar Bryan.
Rumah sakit.
Aku menyesal, jika saja aku tak merengek meminta banyak hal. Pasti tak akan seperti ini.
"UNCLE!!!" Jasmine berteriak.
Husein mengerjap-ngerjapkan matanya. Suara itu terasa melengking di telinganya.
"Kau ingin membuatku budek!" Husein bangkit dari tidurnya. Malam menunjukkan pukul setengah sebelas. Udara dingin menyergap tepat di bangsal yang Jasmine tempati. Bangsal yang memiliki ventilasi cukup lebar dengan rongga-rongga menganga ini cukup membuat tengkuk terasa membeku.
Rumah sakit pinggiran dengan bangunan besar nan tua ini membuat siapa saja merasa terancam dengan tatapan tak bernyawa.
"Uncle , takut."
"Tidur lagi!"
"Aku sudah banyak tidur, Uncle." Jasmine berbicara dengan lirih seraya menutupi wajahnya dengan selimut.
"Uncle, ayo pulang." Ajaknya dengan melambaikan tangannya untuk mendekat.
"Uncle, takut!" Jasmine bersembunyi dibalik selimut putih khas rumah sakit.
"Ada apa, jangan berbicara seperti itu. Tidak ada apa-apa disini."
Jasmine menggeleng dibalik selimut.
"Bicaralah!"
"Ada wanita jelek Uncle, dia mau mengambil bayiku."
"Siapa wanita jelek?"
Husein berputar terus memandangi area di sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa, kecuali dua penjaga yang asik bercengkerama dalam lirih.
"Uncle, ayo pergi saja dari sini. Aku takut!"
Jasmine keluar dari selimutnya, memaksa melepas infus. Dan berlari menuju Husein.
"Kemasi barang-barangmu, Husein. Aku merasa tidak nyaman disini."
Husein yang malah takut melihat gerak-gerik mata Jasmine yang berkeliaran. Terpaksa mengiyakan permintaan Jasmine.
__ADS_1
Perjalanan pulang di dalam mobil. "Ada apa dengan dirimu?"
"Aku tidak nyaman."
"Tidak nyaman dengan siapa?"
"Denganmu!" Jasmine melototkan matanya, sembari terkekeh melihat Husein yang meracau.
"Gimana dengan Bryan, Husein? Aku merindukannya."
"Shally akan mati-matian merawat Bryan, tenanglah dulu."
"Husein, ijinkan aku pulang."
Mendengar kata pulang, Husein menancap pedal rem dengan cepat.
"Apa maksudmu dengan pulang!"
Tatapan itu menajam. "Kau masih istri adikku! Kau masih tanggung jawabku!"
Jasmine menggeleng, "Ijinkan aku pulang untuk mencari adikmu."
"Jangan bodoh, Jasmine. Kau sama saja menggiring kami dalam perangkap mu!"
"Aku tidak punya pilihan! Adikmu lebih penting dari apapun."
Jasmine tertunduk, air matanya sudah menggenang lagi di pelupuk matanya.
"Aku rindu anak-anak ku, Husein. aku rindu orang tuaku. Selama ini aku sudah menahannya. Ijinkan aku untuk pulang sebentar saja."
"Kau hamil, kau tidak bisa memimpin timmu!"
"Aku hanya mau Bryan, Husein. Aku mau laki-laki yang menghamiliku hidup. Meskipun aku tahu dia harus di penjara! Tapi aku tidak akan rela, ada wanita lain yang menyentuhnya. Kehidupannya hanya milikku!"
"Wanita keras kepala, jika kau pergi. Kau harus siap menerima konsekuensinya. Kami di penjara dengan hukuman mati atau seumur hidup. Kau tahu itu Jasmine!"
"Aku akan mengusahakan dengan cara selain hukuman mati atau penjara seumur hidup. Percayakan padaku kali ini. Adikmu sedang tidak baik-baik saja."
"Terserah! Sebutkan alamat rumahmu."
Jasmine tersenyum kecut, menjawab dengan semangat dimana alamat rumahnya.
"Beri waktu tiga hari untuk ku bersamamu, setelah kondisimu benar-benar pulih. Aku akan mengantarmu pulang."
Husein mengehentikan mobilnya tepat di gerombolan taksi yang masih mengejar setoran.
"Kalian berdua keluar lah, bilang pada Mama jika tidak perlu mengantar baju ganti Jasmine ke rumah sakit. Bilang juga kepada Botak untuk menghentikan peredaran sementara. Kumpulan semua barang pada satu titik."
Kedua pengawal yang cukup was-was ini hanya bisa mengangguk. "Apa tuan akan baik-baik saja?"
"Pergilah, jangan lupa dengan perintah ku."
"Baiklah, hati-hati dijalan Tuan." Kedua pengawal turun dari mobil dan menutupnya.
Husein kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Husein kita mau kemana?" Jasmine lebih khawatir saat hanya berdua dengan Husein.
"Kamu ingat satu tahun yang lalu, di mobil ini?"
Jasmine mengangguk.
"Lalu, kenapa?"
"Jika aku tahu kamu wanita 10 tahun yang lalu, aku akan menolak upah darimu dan menjadikan diriku ayah untuk anak-anak mu. Tapi...,"
"Tapi apa?" Jasmine semakin gusar.
"Tapi, adikku terlebih dulu menanam benih di rahimmu. Kini, ijinkan aku memilikimu hanya tiga hari saja."
Jasmine menutup mulutnya, ia tercengang sekaligus ketakutan.
"Apa yang mau kau lakukan, Husein?"
Husein tersenyum manis, "Tidak ada, cukup temani aku tiga hari saja."
"TIDAK!"
__ADS_1