
Di sudut lain kota itu, di ruang sempit yang berisi 20 orang. Pengawal dan orangtua Bryan di tempatkan dalam satu ruang yang sama. Berbagi tempat dan berbagi cerita. Tak ada penyesalan atau bahkan dendam dengan Nyonya mereka. Karena yang mereka tahu, Nyonya dan Tuan muda mereka lebih menderita dari apa yang mereka rasakan sekarang.
Sedangkan Bryan dan Husein di pindah ke rumah sakit khusus tahanan. Kondisi Bryan yang kesulitan berbicara lancar, membuat pihak intelijen mengulur waktu hingga kondisi Bryan benar-benar stabil.
Sudah satu Minggu pula Bryan melakukan terapi, perkembangan saraf gerak kaki yang cukup baik. Dan cara bicara Bryan yang perlahan mulai lancar, membuat Husein tersenyum.
Adiknya mulai kembali menjadi Bryan yang menyebalkan. Tapi sorot matanya memancarkan kekosongan.
"Kangen sama istrimu yang cerewet?" Tanya Husein pada Bryan yang hanya melamun saja sejak tadi sore.
"Dikit... Diam...!"
Husein tertawa, "Apa artinya semua ini Bryan. Jika rindu tak mampu di obati maka. Doalah yang menjadi kunci. Berdoa saja, istrimu baik-baik saja dan sedang merindukan mu."
"Brisik....!"
"Ini sudah konsekuensinya adik ku. Cepat sembuh, biar sidang segera di proses." Husein menaruh nampan berisi makan malam yang sama sekali belum Bryan sentuh.
"Makan dan minum obatmu. Banyak yang perlu di selesaikan. Semakin cepat kau sembuh, bukannya semakin cepat kau bisa bercinta dengan istri mu." Husein tertawa.
"Diam....!" Bryan melempar nampan berisi makanan yang kini sudah berserakan diatas lantai.
"Ada apa dengan mu, Bry! Kendalikan dirimu!" Husein berjongkok dan membereskan makanan yang berceceran sebelum pihak rumah sakit melihatnya.
"Aku... Sudah.... Menceraikannya...."
Husein mendongkakkan, kali ini Husein tidak melihat gelagat bercanda dari mulut adiknya. Wajahnya serius.
"Jangan asal bicara, kakak tahu kalian saling mencintai. Kenapa kau menceraikannya?" Husein yang hilang kendali mencengkeram bahu adiknya tidak percaya.
"Kau gila, saat dia benar-benar sudah mencintaimu dan merelakan bayi kalian yang menjadi korban. Kau malah menceraikannya. Kau tahu, kau menanam luka baru dalam hidupnya yang belum lama mengering. Kau tahu Bry. Bahkan dia menanggung semua beban yang kau tinggalkan. Dia menanggung biaya hidup keluarga para pengawal mu dan panti asuhan yang kita tinggalkan. Kau tahu, bahkan dia merelakan nyawanya untuk melindungi mu."
__ADS_1
Husein menggoncang tubuh Bryan, dia tidak percaya jika adiknya melakukan hal bodoh yang membuatnya menjadi laki-laki tak berguna.
"Aku.... Ingin... Dia... Bahagia...."
"Janda itu akan bahagia jika bersama mu, kau menghancurkan bahagianya. Apa kau tak melihat ketulusan hatinya. Kau bodoh! Adik bodoh!" Husein terus mengguncang tubuh adiknya.
"Dia.... Akan... Bahagia...."
Kebisingan yang terjadi di ruangan Bryan membuat dokter sekaligus polisi mendatangi ruangan itu.
"Hentikan, jika kau tak ingin melihat adikmu mengalami trauma otak." Polisi itu menarik tubuh Husein dan menahannya.
Husein meronta.
"Biarkan saja, dia pantas mendapatkan itu. Dia pantas. Karena adik ku memang tidak berguna."
Malam itu di mana malam terakhir Bryan dan Jasmine tidur bersama. Semalam suntuk Bryan tak memejamkan matanya, pikirannya layu dan berkelana.
Melatiku
Semakin hari semakin tak ku mengerti kenapa ia tubuh begitu pesat.
Begitu wangi, begitu indah.
Tapi tak lebih indah dari melatiku yang slalu hadir di setiap hari-hari ku.
Tak pernah layu atau berubah coklat dan mengering.
Melatiku semakin hari semakin indah dan wangi. Aromanya bahkan mampu membawaku pada angan-angan yang begitu tinggi.
Melatiku...,
__ADS_1
Aku sadar aku membawa dirimu terlalu jauh. Maafkan aku.
Jika bisa ku memilih, melatiku berbahagia lah.
Melati yang putih dan sederhana, sesederhana itulah caramu mencintaiku.
Melatiku, aku tak bisa menahan dirimu lagi. Pergilah bersama angan-angan mu. Tumbuhlah menjadi melati yang indah.
Serbak kan lagi harum mu pada orang-orang yang merindukan mu.
Melatiku, iya kamu.
Jasmine Adriana binti Kamto Jayantaka.
Maafkan aku, aku harus menceraikan mu melalui surat yang ku tulis ini.
Aku yang sudah tidak sempurna, tidak bisa lagi membuatmu bahagia.
Maka yang ku lakukan hanya bisa mendoakan mu untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih layak.
Di sini di tempatku nanti, akan ku tumpuk rinduku padamu.
Di sini di tempatku, akan ku kenang kau sebagai melati yang akan tumbuh di hatiku paling dalam.
Maafkan aku jika selama satu tahun lalu, menahanmu dalam dinding rumahku.
Maafkan aku yang memaksamu untuk memenuhi hasratku.
Maafkan aku sudah memaksamu menjadi milikku.
Melatiku, tersenyumlah.
__ADS_1
Note : Jangan membenciku, Bryan.