Kiss The Rain

Kiss The Rain
Randu Alas


__ADS_3

"Lihatlah. Hari ini tepat di bulan Agustus, hanya sekali dalam setahun pohon ini berbunga. Aku beruntung bisa melihatnya lagi, cantik ya. Tapi bunganya tak abadi, tak akan cantik lagi saat sudah tua dan mengering. Tapi indah kan, bunga kecoklatan itu berserakan dan akan jadi spot foto anak muda. Lihatlah lagi, banyak anak muda yang melihat mu Bry.....,"


Jasmine menghela nafas sejenak dan melanjutkan lagi.


"Entah berapa pasti usia pohon ini, tapi ia masih terlihat gagah. Pesonanya tak pernah luntur, bunganya semakin banyak menghiasi ranting-rantingnya. Semakin tua semakin mahal harganya dan mempesona. Ia adalah saksi hidup yang tak pernah protes pada keadaan. Daunnya akan menjadi perindang saat musim kemarau, dia mengayomi, melindungi, saat daunnya meranggas dan berjatuhan tertiup angin , rantingnya akan di gantikan bunga-bunga itu. Cantik Bry....., dia juga gagah. Jadilah laki-laki seperti dia, dia melindungi, tapi ada saatnya juga dia menjadi indah di pandang mata. Kau juga Bry......, semakin dewasa nanti kau juga akan semakin matang dan berwibawa. Kelak, akan banyak wanita yang mengagumi mu."


Lagi-lagi Jasmine menghela nafas panjang. Setelah merasa tenang ia melanjutkan dongengnya lagi.


"Tidak seperti Bunga itu, dia hanya menghiasi indahnya bulan Agustus, Lalu ia akan berhamburan tertiup angin. Aku juga nanti akan seperti itu Bry......, Menua dan kering." Tak terasa air matanya menetes halus membasahi celana Bryan. "Bry....., carilah wanita yang mampu mengisi hari-hari tuamu nanti. Jika kau jengah denganku, lepaskan aku baik-baik ya." Tangisnya mulai tak terkendali, Jasmine menangis sejadi-jadinya. "Maafkan aku."


Bryan mengusap lembut rambut Jasmine. "Kita akan menua bersama." Lalu laki-laki itu mengangkat tubuh Jasmine dan menghadapkannya. "Jangan menangis lagi." Sergahnya.


"Tapi jika malam hari jangan coba-coba kau duduk disini, Kau bisa mati!" Jasmine menatap Bryan yang termenung mendengar dongengnya.


"Kenapa?"


Jasmine melepas masker bedahnya dan menghapus air matanya. "Kau akan mati kehabisan oksigen, atau jika tidak kau akan di culik penghuni pohon ini. Mereka menyukai laki-laki tampan seperti mu." Jasmine menatap Bryan dalam-dalam, matanya menangkap kegelisahan Bryan. "Takut?"


"Siapa yang mau menculik ku?" Pertanyaan polos Bryan membuat Jasmine menahan tawanya. "Kamu tidak tahu wanita malam berambut panjang dan berbaju putih. Dia tidak jalan tapi melayang dan merangkak dan dia akan genit melihat laki-laki muda dan tampan seperti mu." Jasmine menjelaskan dengan rinci detail siapa sosok penculik itu. Bryan menggenggam tangan Jasmine. "Ayo pergi dari sini." Ajak Bryan, matanya mengawasi sekelilingnya.


"Tidak ada, ini masih siang. Dia lagi tidur." Jelas Jasmine sambil menyunggingkan senyuman. "Ayolah, aku sudah tidak nyaman disini, aku tidak mau diculik."


"Hahaha.....," Jasmine terkekeh. "Lucu sekali, ternyata kamu takut ya sama hantu." Jasmine mencubit pipi Bryan. "Yasudah pulang yuk, terimakasih untuk hadiah hari ini." Jasmine mengecup pipi Bryan.


"Lima kali terimakasih, hore." Bryan menepuk kedua tangannya. "Aku akan menyuruh botak untuk membeli jamu kuat." Bryan mengeekori langkah Jasmine dari belakang. Senyumnya mengembang "Aku akan belajar menjadi pohon seperti mu." Bryan menatap pohon Raksasa dan melambaikan tangannya.


"Dasar bocah." Jasmine menggerutu saat melihat Bryan berjalan sambil tersenyum.


"Kenapa sih, apa yang membuat mu senang?" Tanya Jasmine menyelidik. "Lima kali ronde Jasmine."


"Enggak mau, aku lelah." Bantah Jasmine sesekali dia ingin ngeyel dan memberontak lagi. "Oke, tidak aku kasih hadiah lagi dan jangan harap bisa keluar rumah." Hardik Bryan tak peduli.

__ADS_1


"Dua ronde." Jasmine menawarnya.


"Tiga ronde." Bryan menawar juga.


"Deal, dua setengah ronde. Hahaha.....," Mereka berdua terkekeh bersama. Dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju tempat parkir. Bergandengan tangan seperti muda mudi berpacaran.


Sesampainya di depan mobil. "Bry...., bisa lewat rumahku tidak? Aku ingin melihatnya." Pinta Jasmine.


"Tidak! Kita belanja saja yang kamu tulis tadi." Tukas Bryan ia sangat tau betul di rumah Jasmine dan di jalanan kompleks nya di pasang Cctv dan mungkin pengintai ayahnya bergerak di sekitarnya.


"Yasudah, iya iya enggak." Jasmine masuk ke dalam mobil, memasang slingbelt dan mengerucutkan bibirnya. "Sudah di kasih hadiah jangan cemberut sudah berumur masih juga ngambekan." Hardik Bryan saat ia masuk ke dalam mobil dan melihat Jasmine hanya menatap lurus rimbunan pepohonan di depan tempat parkir. "Maaf."


"Jadi belanja tidak? Boleh aku minta hadiah lagi?" Tanya Jasmine yang membuat kening Bryan mengerut. "Hadiah apa lagi!"


"Ice cream,"


"Hanya ice cream?"


"Iya,"


"Hahaha, tidak mau!"


"Kenapa?"


"Jika itu di beli dari uang hasil penjualan barang-barang ilegal milikmu. Aku tidak mau!" Tegasnya.


"Baiklah, aku tidak memaksa." Bryan melajukan mobilnya menjauhi rimbunan pepohonan yang melambai-lambai liar di tiup angin. Hingga membuat bunga Randu Alas berwarna kuning itu berhamburan seperti mengantar kepergian Jasmine.


Disepanjang perjalanan, mereka berdua hanya saling pandang. Hingga mulut Jasmine yang gatalpun mengoceh kesana-kemari.


"Biasanya kamu beli sendiri atau nyuruh Botak untuk beli pesanku Bry....,?" Tanya Jasmine.

__ADS_1


"Beli sendiri, Aku juga ingin belajar jenis-jenis sayuran." Jawabnya masih dengan mata yang mengawasi jalanan disekitarnya.


"Pintar sekali laki-laki ku ini." Jasmine tersenyum.


"Laki-lakiku?"


"He'emm, kau laki-laki kan? Ehm...., tidak perlu di jelaskan. Kau jelas laki-laki. Hahaha....," Jasmine terkekeh.


Dering ponsel membungkam mulut Jasmine, ia terdiam. Dan melirik ke arah Bryan. "Angkat saja, siapa tahu penting." Bryan mengangguk dan menepikan mobil ke pinggir Jalan.


"Ya kak, dimana?


"(......)"


"Sebentar lagi pulang, tunggu."


"(......)"


"Ya."


Bryan menutup ponselnya dan masuk kembali ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya dengan wajah yang menegas seperti memikirkan sesuatu. "Siapa Bry....,"


"Kakak, kita harus cepat pulang." Sergahnya. "Biar nanti bibi yang membelikan pesanan mu." Lanjutnya lagi.


Hening....... Hanya audio mobil yang bersuara, Jasmine mengamati jalanan di sekitarnya, tanpa penutup mata ia sangat leluasa dan menghafal setiap arah dan belokan jalan. Ia seperti tidak asing dengan jalanan kota ini. "Bry, rumahmu daerah sini?"


Bryan mengangguk. "Ini terlalu riskan, jika kau tinggal disini dengan predikat seorang mafia obat-obatan terlarang sepertimu."


"Biarkan saja, apa pedulimu. Kau juga tak mencintaiku." Hardik Bryan dan menatap Jasmine dalam-dalam.


"Aku sedang belajar, mengertilah. Tak semua cinta harus dikatakan."

__ADS_1


"Kau ingat pohon tadi, dia juga tumbuh dari sebutir biji. Ia bertahan dan terus tumbuh besar dan menjulang. Semakin kuat akarnya semakin kuat juga batangnya. Aku belajar darinya saat mencintai seseorang. Aku ingin merawat nya dari kecil, tanpa paksaan atau meminta. Aku sendiri yang akan menumbuhkannya."


[Randu Alas/Yellow silk cotton tree/Bombax Ceiba L. Jika kalian lewat jalan solo tepat di depan Museum Affandi, pohon ini tumbuh dan saat ini sedang berbunga, Aku terpesona!]


__ADS_2