
Nah kan makin kesini makin rumit urusannya. 🤣🤣🤣
Sabar nanti ada gongnya.
*
Tiga bulan berlalu. Hanya tinggal satu misi lagi yang harus Jasmine selesai kan. Ia ingin menuai hasilnya, ia ingin menemui Bryan sekaligus ketua hakim yang memberinya misi. Akhirnya janda ini memilih untuk pergi berkunjung ke lapas.
Jasmine tak menyadari jika ia terlalu memupuk terlalu dalam rindunya pada Bryan. Hingga ranting itu tumbuh tak beraturan, bercabang-cabang dengan daun yang tidak rapi.
Rindunya terlalu liar untuk ia nikmati sendiri.
Pos penjagaan.
"Dimana suami ku di tahan?" Jasmine duduk disebelah polisi yang mengenal siapa dirinya.
"Suamimu? Kau tak mendengar beritanya?" Polisi ini menaruh Laras panjang nya dan beralih menatap Jasmine.
"Ada apa memangnya, aku sibuk, jarang pulang ke rumah atau ke markas." Gelagat resah mulai menjalar ke seluruh tubuh Jasmine.
"Suamimu dan keluarga nya di pindahkan ke lapas Nusakambangan. Seminggu yang lalu." Jelas polisi tadi yang mencekat ulu hati Jasmine.
"Jangan bercanda! Kenapa tidak ada yang memberitahuku." Jasmine tercengang, bagaimana bisa Bryan di pindahkan ke pulau khusus terpidana mati dan hukuman seumur hidup.
"He'em. begitulah hukum, Mine. Tidak memandang bulu."
Dengan hati yang kesal Jasmine meninggalkan polisi tadi dan bergegas menuju pengadilan. Ia ingin mencari hakim yang menindaklanjuti laporan Bryan dulu.
Sialan, makin jauh saja jarak diantara kita. Dia tidak tau rinduku membabi buta.
Jasmine membanting stir dan parkir dengan asal. Jalannya tergesa-gesa, ia ingin tahu apa hakim ini bekerja dengan baik atau sebaliknya.
Di ruang khusus, ia terus membombardir pertanyaan dengan staff khusus pengadilan. Makian terus terucap dari mulutnya. Dan berkali-kali ia mengebrak meja. Emosinya sungguh tidak stabil karena mendapat ketua hakim berulah. Ia mendapat sogokan dari Edy Santoso. Seseorang yang tak lain dan tak bukan, orang yang Jasmine untit.
"Dimana dia ditahan?" Tanya Jasmine dengan wajah menahan marah.
"Dia akan melakukan persidangan khusus, besok di pengadilan MA."
"Dimana dia ditahan!" Tanyanya lagi.
"Lapas khusus." Staff itu menunduk takut.
Jasmine keluar dari pengadilan. Ia menuju mobil dan kembali ke lapas.
Sesampainya disana, ia langsung menuju Lapas khusus.
Jasmine hafal betul dengan penjara-penjara di lapas khusus ini. Karena tempat ini hanya di gunakan untuk orang-orang yang memiliki keterlibatan hukum dengan negara. Meskipun di penjara orang-orang ini akan mendapatkan fasilitas khusus, karena terkadang ilmunyalah yang menjadi sasaran.
__ADS_1
Jasmine berdiri di depan jeruji besi. Tatapannya malas, tapi ia juga harus bertanya alasan apa dengan hakim ketua. Hingga ia dengan bodohnya menerima suap.
"Sudah ku bilang. Aku akan mencarikan mu banyak kerjaan!"
"Lama, aku butuh uang untuk mengobati istriku keluar negeri."
"Bodoh! Lalu jika seperti ini kau akan mencari uang dari mana untuk istrimu, Bodoh! Kau sama saja seperti Edy, korupsi. Makan uang gelap, istrimu tidak akan sembuh jika kau masih mengunakan uang itu. Berapa jumlahnya?"
Jasmine menatap ketua hakim dengan tajam.
"300 juta. Sudah habis!"
Jasmine semakin mengumpat, jika saja uang itu belum di gunakan. Ia akan mencekal Edy dengan pasal penyuapan dan tindakan merugikan orang lain.
"Bodoh, lalu dimana istrimu sekarang?"
"Singapura."
Jasmine berjalan wira-wiri. Dengan mulut yang tak henti-hentinya mengumpat kata kasar.
"Suamiku dibawa ke Nusa Kambangan, bagaimana dengan pengurangan hukum untuknya. Kau yang bertanggung jawabkan. Kenapa malah semakin rumit sih!"
"Maaf, aku juga mau istriku sehat kembali."
"Aku hanya bisa mendoakan mu untuk betah di dalam sini. Dan untuk istrimu." Jasmine menghela nafas panjang, "Semoga lekas sembuh."
Jasmine meninggalkan hakim ketua yang menjadi nara pidana atas kasus penyuapan.
Air mata kembali mengaliri wajahnya. Meratapi kisah cinta yang teramat pilu.
*
Malam harinya Jasmine mendatangi rumah Dika. Hanya berniat untuk mengambil putranya, Prince.
"Manda....," Panggil Jasmine.
"Apa kak?" Wajah Amanda nampak murung, lesu dan tak bersemangat.
"Marah sama aku?" Jasmine seakan paham dengan tatapan kecewa yang terpancar dari wajah Amanda.
Amanda tampak gelagapan saat Jasmine mengerti dengan cepat kerisauan hatinya.
"Hahaha, wajahmu tidak pandai berbohong. Katakan apa yang membuatmu Risau." Desak Jasmine.
"Dika." Jawab Amanda lirih.
"Kenapa dia, apa dia berulah?"
__ADS_1
"Dia berulah dengan kakak!"
Jasmine terbelalak, ternyata Amanda terbakar api asmara.
"Hahaha, kamu tahu ya. Dika sering menyuruhku tidur di kamar hotel."
Amanda mengangguk, "Aku juga tahu proyek panti asuhan itu."
"Lalu katakan lagi apa yang kau ketahui tentang Dika dan aku?" Bujuk Jasmine lagi.
"Banyak." Amanda tak mau menatap Jasmine yang malah tersenyum tanpa merasa bersalah.
Bersamaan dengan itu, Dika turun dari anak tangga yang membawa tas besar dan mengendong Prince.
"Dik kemarilah." Jasmine melambaikan tangannya menyuruh Dika untuk mendekatinya.
"Apa, baby?" Jawab Dika dengan mengedipkan matanya.
Amanda yang tahu Dika memanggil Jasmine dengan sebutan sayang. Tambah terbakar api asmara, semakin mendidih hatinya.
"Baby, lihatlah istrimu cemburu dengan ku." Jasmine mengambil alih Prince dari gendongan Dika. Ia menimang-nimang putranya yang semakin besar semakin tampak mengemaskan.
"Mama, kamu cemburu." Dika mendekati Amanda dan duduk disampingnya.
"Tidak!"
"Yakin tidak cemburu dengan kita. Aku dan Jasmine sering berduaan di kamar hotel atau diruanganku." Jelas Dika tanpa merasa bersalah.
"Mas!"
Wajah Amanda semakin memerah menahan amarah. Sedangkan Jasmine tak memedulikan dua orang yang berdebat dibelakangnya.
"Mas, apa yang kamu lakukan. Jahat!" Amanda berdiri dengan mata yang hampir menangis
Dika menarik tangan itu dan mengecup bibir Amanda dengan rakus. Sedangkan Jasmine melihatnya dengan jijik.
"Tutup matamu Prince, nanti mata sucimu ternodai." Jasmine menarik tas besar dan keluar dari rumah itu. Meninggalkan Dika dan Amanda yang belum menyelesaikan urusannya.
Baru saja masuk ke dalam mobil, Dika menggedor kaca mobil Jasmine.
"Apa?" Jasmine membuka setengah kaca mobil itu.
Dika tersenyum, "Maaf."
"Cih! Maaf untuk apa?"
"Untuk tadi, aku sudah menjelaskan pada Amanda jika kita tidak melakukan apapun di kamar hotel. Dan menyerahkan laporan cctv untuknya."
__ADS_1
"Terus, apa untungnya untuk ku. Cuma mau pamer kemesraan?" Jasmine menutup paksa kaca mobil dan meninggalkan Dika yang terkekeh melihat raut wajah Jasmine yang sama sekali tidak peduli.
Malam ini hanya ada kamu dan aku Prince, kamu harus terbiasa dengan mommy. Karena hanya kamulah yang akan menemani hari-hari mommy. Sepanjang hari, sepanjang usia.