Kiss The Rain

Kiss The Rain
Location Unknown


__ADS_3

"Raka!!!" Adelle berteriak dan berlari menuju arah Raka.


"Kenapa teriak, kupingku sakit." Hardik Raka sambil menutup kedua telinganya.


"Kakak, kak Jasmine. Lihatlah!" Adelle menunjukkan laman video berbagi, di video itu terlihat saat Jasmine memeluk Bryan di rumah makan tradisional. "Kak Jasmine, ini kakak Raka." Jelas Adelle lagi.


Raka yang penasaran dengan wajah serius Adelle pun menyaut ponsel pintar milik kekasihnya.


"Tidak mungkin." Raka terus memperhatikan putaran video dan terus menggelengkan kepalanya. "Ayah harus tau ini." Raka menyaut kunci mobilnya, Adelle juga bersiap mengikuti langkah kekasihnya, "Aku tahu tempat itu."


"Jangan bercanda!" Pekik Raka, selama kehilangan kakaknya Raka menjadi pribadi yang pendiam, jarang bercanda dan sering melamun. Bahkan pernikahannya dengan Adelle harus diundur.


"Kakak baik-baik saja, telepon ayah kita harus bergegas ke rumah makan itu." Ajak Adelle, "Aku saja yang mengemudi, kau hubungi ayah." Lanjut Adelle sambil menyaut kunci mobil milik Raka.


Selama di perjalanan menuju rumah makan, wajah Raka nampak gelisah, ia terus mengingat wajah wanita yang menjadi idolanya. Wanita yang mengisi ruang hati Raka setelah ibunya, Ani.


"Kakak baik-baik saja Raka, tenanglah." Bujuk Adelle mengerti.


"Sampai kakak belum ketemu, aku belum bisa tenang." Ucap Raka, ingatannya kembali lagi saat wajah sendu kakaknya meringis menahan sakit ketika ia terjerembab di atas tanah. "Siapa laki-laki itu, siapa laki-laki yang bersama kakak? Arghhhh." Geraman Raka tak membuat Adelle ciut, bahkan ia juga rela menjadi pelampiasan kekesalan Raka.


"Sebentar lagi sampai, ayah sudah kamu telepon?" Tanya Adelle.


"Sudah." Raka mengusap wajahnya dengan kasar, "Maaf."


"it's oke beib." Adelle tersenyum, "Lihat video itu lagi, siapa tau kamu kenal dengan laki-laki yang bersama kakak."


Raka mengangguk, ia kembali memutar video di laman berbagi. Berkali-kali memutarnya, hingga membuat pemilik akun itu mendapat adsense yang lumayan. Nafasnya naik turun, ia mengambil ponsel miliknya, mencari-cari sesuatu di galeri foto.


"Tidak mungkin." Raka menggeleng, "Ada apa beib?" Tanya Adelle.


"Laki-laki ini adalah target yang kemarin gagal, kenapa kakak bermesraan dengannya. Aku tak pernah melihat kakak sebahagia ini, meskipun dengan Dika dulu." Jelas Raka.


"Itu tandanya kakak senang Raka." Ucap Adelle sembari menghentikan mobil di area parkir rumah makan. "Turun, kita sudah sampai." Lanjut Adelle melepas sabuk pengaman, ia keluar dan mengedarkan pandangannya.


"Ayah sudah sampai juga beib." Jelas Adelle yang sudah terlihat berjalan menghampiri ayah Kamto.


Laki-laki paruh baya itu menggeleng, "Kenapa yah?" Raka mengerenyit heran.


"Semua jejak kakakmu disini sudah hilang Raka." Jelas Kamto, air mukanya tak berubah. Masih terlihat raut kecemasan mengkhawatirkan putri. "Ayah sudah menyuruh tim pengintai untuk mengecek semau cctv dijalan keluar masuk jalan utama ini. "Tapi....," Kamto menjeda ucapannya. "Kakakmu bahagia Raka." Kamto mengulas senyum.

__ADS_1


"Mana bisa ayah menyimpulkan jika kakak bahagia, gimana jika kakak hanya terpaksa." Cecar Raka.


Kamto menepuk bahu putranya, "Kakakmu pintar. Sudah ayo pulang, kasian Adelle."


"Tidak bisa, kakak harus kembali." Raka kembali mengeram, ia mendobrak pintu limasan. "Kakak dimana, Arghhhh."


"Adelle, masih betah dengan Raka? Jika tidak pulang saja dengan ayah, biarkan raka menggila disini." Ajak Kamto dengan menahan tawa, putranya masih merasa bersalah dengan hilangnya kakak satu-satunya.


"Percayalah dengan kakakmu, dia wanita pemberani dan bisa menjaga dirinya. Raka, kau harus menata masa depan mu. Apa kau tak merasa bersalah terus menjadikan Adelle pelampiasan mu. Dewasalah, susun kembali rencana pernikahan kalian." Kamto menepuk kedua bahu Raka, "Kakakmu adalah tanggung jawab Ayah."


"Tapi yah," Raka berusaha berkelit.


"Tidak ada tapi-tapi'an, antarkan Adelle pulang dan ikuti nasehat ayah."


Tidak mau menambah beban pikiran Kamto, Raka hanya bisa mengangguk dan mengantarkan Adelle pulang.


"Putriku, jika takdir yang telah kau pilih dan kau temukan bahagia mu. Ayah tak akan mencarimu lagi, biarkan laki-laki itu yang mengantarmu kembali kepadaku." Kamto tersenyum.


*


Setelah Bryan tahu jika video berbagi itu tersebar luas, ia menyuruh salah satu peretas cctv keluarganya untuk menghapus semua bukti cctv dan laporan mengambilkan uang di mesin ATM. Bryan benar-benar menghapus semau jejak perjalanannya. Ia hanya membiarkan video itu terus tersebar, sebagai bukti jika Jasmine baik-baik saja dan masih hidup.


"Kakak sih membuatnya marah." Cebik Bryan yang tak mau kalah.


"Kakak diam sedari tadi, kau yang terus berbicara tidak penting." Hardik Husein, "Cepat habiskan makanmu, bisa-bisa berubah menjadi singa nanti."


Husein dan Bryan menghentikan suaranya, mereka berdua beralih pada santapan makan malamnya. Sedangkan Jasmine ia memilih makan di ruang keluarga.


Selesai menghabiskan makanannya Jasmine berjalan mengarah ke ruang makan, terlihat dua pria yang sedang megap-megap seperti ikan koi kehilangan air.


"Pedas sekali, berapa banyak cabe yang kau pake Jasmine?" Wajah Husein memerah, berbeda dengan Bryan yang menunjukkan wajah dinginnya, tapi naas bibirnya juga memerah menahan panas.


"Hanya 10, ampuh kan menghilangkan pening dikepalamu." Jasmine menahan tawa.


"Bryan tidak kepedasan ya?" Goda Jasmine.


"Tidak, hanya cabe 10 saja kan kecil." Lagak Bryan yang membuat Husein menepuk kepalanya. "Banyak gaya, lihat saja wajahmu seperti kepiting rebus."


"Hahaha, maaf ya. Aku sedang butuh pembangkit tenaga menghadapi tingkah laku kalian berdua." Jasmine beralih mengambil dua gelas dan membuatkan mereka segelas susu.

__ADS_1


"Minumlah, ini akan mengurangi rasa pedas." Ucap Jasmine sambil menyodorkan kedua gelas untuk kakak-beradik, tak butuh waktu lama isi gelas itu tandas tak tersisa.


"Besok lagi kalau masak pake 1 cabe saja babe, aku tidak kuat." Bryan menyerah.


"Iya, apa kalian berdua sudah selesai makan?" Tanya Jasmine.


"Sudah." Kedua pria itu menjawab dengan serempak. Dan saling melempar pandang, pandangannya permusuhan.


"Pintar, biar aku bereskan." Jasmine menumpuk piring kotor dan mencucinya. Husein dan Bryan tak meninggalkan tempat duduknya, masih terus memandangi Jasmine yang sibuk membersihkan piring mereka.


"Aku seperti mempunyai adik banyak jika begini, kalian berdua lebih muda dari Raka. Apa kalian bisa menganggap ku seperti seorang kakak." Jasmine menarik tisu dan mengeringkan tangannya.


"Tidak bisa! Kamukan istriku, mana bisa aku menganggapmu sebagai kakak." Bryan protes, protesnya diangguki oleh Husein.


"Kenapa kakak juga mengangguk?"


"Alasannya sama." Husein tersenyum.


"Jasmine istriku kak, kakak tidak bisa begini." Cecar Bryan.


"Jasmine memang istrimu Bryan, tapi kalian tidak saling mencintai. Kakak masih ada kesempatan untuk membuat Jasmine memilih kakak. Pernikahanmu dan dia karena kau memaksa Jasmine." Husein menatap Bryan dengan tegas. Ia jelas-jelas menarik genderang perang.


"Coba aku mau lihat bagaimana kalian bertengkar, apa kalian juga bisa melakukannya MMA. Perlu diingat Mafia seperti kalian harus di bekali dengan ilmu bela diri."


Jasmine menjelaskan panjang lebar tentang sepak terjangnya di dunia mata-mata.


"Kau Bryan, belajarlah membidik. Tak selamanya kau bisa mengandalkan bodyguard mu, mereka akan tua dan pensiun mengabdi dengan mu."


"Jangan pernah berdebat hanya karena seorang wanita, apalagi itu hanya aku. Banyak wanita diluar sana Husein, carilah dan nikmati hidupmu."


Jasmine berlalu meninggalkan kedua kakak-beradik yang membisu mendengar ultimatum seorang Janda bernama Jasmine.


"Aku tak pernah salah memilihnya, meskipun harus menunggu 10 tahun lamanya. Aku tak pernah menyesal menolak semua gadis yang mengejarku." Bryan tersenyum lebar, berbeda dengan Husein, wanita itu tak pernah goyah dengan pendiriannya. "Aku semakin tertarik padamu." Batin Husein.


"Jasmine hanya milikku, lupakan semua keinginan kakak untuk berharap padanya."


Puk, puk, puk. Husein menepuk pundak adiknya dan menyunggingkan senyuman yang sulit diartikan.


~

__ADS_1


Terimakasih untuk pembaca yg masih setia memantau kisah cinta Jasmine dan Bryan. Gak kerasa udah 50eps, baru memasuki konflik yg sebenarnya lho ini. Jangan bosen dulu ya, dan terus dukung karyaku dengan like,vote dan tentunya tetap baca cerita ini. 🥰


__ADS_2