Kiss The Rain

Kiss The Rain
Cinta itu indah.


__ADS_3

Jasmine terpaku saat melihat isi di dalam lemari putih miliknya. Ia memilah-milah baju yang akan ia pakai, tak ada yang membuatnya berselera menarik atau mengangkat gantungan hanger berbahan kayu jati Belanda. Balutan-balutan dress yang teramat mengesankan kesan feminim itu membuat Jasmine mendengus kesal. Ia menutup pintu lemari dan membuka pintu sebelahnya,matanya semakin melotot. Gantungan-gantungan baju tidur yang teramat seksi dan menggoda itu sungguh membuat Jasmine ingin menarik nya,matanya membulat. "Gila ini pilihannya,aku bisa masuk angin akut jika memakai ini setiap hari. Bisa-bisa aku hanya berkerik ria dan minum-minuman herbal dengan 7 kombinasi jahe merah dan madu berserta kawan-kawannya." Jasmine menertawakan imajinasi sendiri, lalu ia mengembalikan baju tidur berwarna peach. Ia menutup kembali pintu lemari. Berjalan ke arah lemari berwarna hitam di samping nya,belum juga ia membuka lemari itu. Bryan berdehem .


"Apa yang kau lakukan?" Bryan menghampiri Jasmine membawa nampan berisi makanan dan segelas *orange juice*.


"Ehmmm,ehmmm...." Jasmine berdehem dan menundukkan pandangannya. "Tidak ada baju yang bagus untuk ku,aku pinjam bajumu saja. Kaos juga tidak apa-apa."


Bryan menaruh nampan itu di atas nakas dan menghampiri jasmine yang masih memakai kebaya tadi pagi saat ijab. "Kenapa memangnya dengan baju-baju mu?" Tanya Bryan,sambil membuka lemari berwarna putih, memilah-milah baju yang pantas untuk Jasmine.


"Itu terlalu feminim,aku gak suka." Jasmine memalingkan wajahnya. Sungguh pria muda ini sangat sabar.


"Pakai saja ini, cepatlah mandi apa kau tidak gerah memakai baju itu dari tadi." Bryan menyodorkan dress berwarna navy, tak lupa juga pakaian dalam Jasmine juga berada dalam genggaman Bryan.


Pipi Jasmine merona malu,ia menyambar tumpukan pakaian itu. Melepas sepatu hak tahu berwarna coklat dan melenggang ke arah kamar mandi. "Dasar, bisa-bisanya dia mengambilkan pakaian dalam ku juga." Jasmine menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Ia melihat ukuran Bra berwarna senada dengan dress navy tadi. "Dari mana dia tahu ukuran ini,hahaha. Konyol sekali."


Jasmine meredam tubuhnya di bathup, berlama-lama disana ditemani banyaknya busa. Ingatannya melayang-layang ke udara,ia sangat ingat saat pertama kalinya ia bermain busa dengan Dika saat dirinya sedang honeymoon di hotel Sevia. "Aku tak bisa seperti ini terus,aku tak bisa. Hah....." Jasmine bangkit saat tubuhnya sudah tenggelam didalam gundukan busa. Ia bangkit membilas tubuhnya, mengeringkan rambutnya yang basah. Membalutkan satu per satu pakaian yang Bryan pilihkan tadi. Ia keluar dari kamar mandi,ia menatap Bryan yang masih setia menunggu nya.


"Cantik." Puji Bryan. Namun wajah Jasmine masih masam seperti buah mengkudu muda.


"Ayo makan, katanya kau lapar." Ajak Bryan.

__ADS_1


"Hemm." Jasmine berdehem, kemudian dia duduk di depan Bryan.


"Kenapa hanya ada satu piring?" Tanya Jasmine heran.


"Aku sudah makan,kau makanlah dulu. Apa perlu aku suapi?" Bujuk Bryan saat Jasmine masih terdiam.


"Kau yakin sudah makan?" tanya Jasmine lagi meyakinkan.


"Kenapa, kau khawatir dengan ku?" Bryan balik bertanya.


"Tidak! Aku tidak khawatir dengan mu,hanya saja aku tak mau berbagi makan denganmu." Jasmine menyebar sendok dan garpu, memakan' makanan di hadapannya dengan lahap. Tak peduli jika Bryan akan ilfeel dengannya,tak peduli dengan Bryan yang menatap nya sambil tersenyum-senyum.


"Kenapa, ada yang lucu?" Tanya Jasmine setelah, menghabiskan porsi terakhir makanannya.


"Terimakasih." Jasmine menerima gelas itu dan meminumnya.


"Apa porsi makan ibu menyusui banyak seperti mu?" Tanya Bryan polos.


"Hah..." Jasmine hampir tersedak,ia menaruh kembali gelas yang masih menyisakan sedikit orange juice di dalam nya.

__ADS_1


"Iya porsi makanmu lebih dari porsi makan ku,dan tadi cukup banyak." Bryan masih menyunggingkan senyuman.


"Apa kau keberatan jika memberiku banyak porsi makanan?" Tanya Jasmine tanpa mengiyakan dulu pertanyaan Bryan sebelumnya.


"Tidak,aku justru senang. Itu tandanya kau sedang bersenang hati dan sehat." Bryan masih tersenyum.


"Baguslah." Jasmine mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. "Apa aku boleh tidur?" Tanyanya.


"Kau ingin tidur siang?" Tanya Bryan masih tak lepas dari wajahnya yang senang, ia menggengam tangan Jasmine yang sedari tadi mengetuk-ngetuk meja.


"Iya aku mengantuk, kepalaku juga pusing tadi pagi Botak memaksaku untuk bangun dan kepala ku membentur tembok." Jelas Jasmine, penyakitnya kambuh. Ia akan slalu mengantuk jika habis makan siang.


"Apa masih sakit kepala mu?" Tanya Bryan yang sudah berdiri memeriksa kepala Jasmine, mengeceknya seluruh lekuk kepala Istrinya.


"Tidak apa-apa,aku hanya butuh tidur." Jawab Jasmine sembari berdiri memegangi tangan Bryan yang sedari tadi mengelus-elus kepalanya.


"Aku tahu ini tak mudah untuk ku atau untuk mu, aku juga tidak bisa memberimu apapun. Ku mohon jangan berharap lebih." Jasmine menyudahi genggam itu ia menarik bantal dan berjalan ke arah disofa berwarna abu-abu.


"Aku belum terbiasa, aku akan tidur di sofa dan kau tidur di ranjang mu." Bryan hanya terdiam, sejurus dengan itu ia menarik selimut di ranjangnya. Membalutkan di tubuh Jasmine yang sudah terbaring membelakangi Bryan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa,aku akan memberimu waktu." Bryan mengusap lembut kembali rambut Jasmine, lalu ia pergi menutup pintu entah kemana.


"Cinta itu indah. jika bagimu tidak, mungkin karena salah pilih pasangan." ~ Pidi Baiq/Dilan1990


__ADS_2