
"Dik, bagaimana penampilan ku?" Jasmine berputar-putar menunjukkan penampilannya di hadapan Dika.
"Mau kemana?" Tanya Dika dengan heran, pagi ini Jasmine mendatangi kantor Dika di mall utama. Sedangkan Jasmine bekerja di mall kedua. Penampilan Jasmine cukup menyita perhatian, bukannya memakai baju formal untuk kerja. Ia malah menggunakan Jeans ripped, kaos band Metallica dan mengikat rambutnya seperti ekor kuda.
"Biasa, kamu gak paham aja." Jasmine menyunggingkan senyum penuh arti.
"Kenapa gak move on aja, banyak sekali orang-orang yang mendekatimu bukan."
"Tidak mau, aku maunya dia. Selama ini doaku hanya untuknya, doa anak-anak di panti juga. Kan gak lucu, aku berdoa untuk bersamanya tapi pacaran sama orang lain." Jasmine melengos.
"Sampai rambutmu beruban dan jadi nenek-nenek." Ejek Dika sambil terkekeh.
"Apa usiaku tidak pantas lagi untuk pacaran, Dik?"
Bukannya semakin diam, Dika semakin mengeraskan tawanya. "Mau pacaran saat rambutmu beruban, gak malu sama Asmira. Sekalipun dia keluar dari penjara paling tidak usiamu sudah 55 tahun. Pacaran? Yang benar saja." Dika menggeleng.
"Aku kan juga butuh teman saat tua. Kamu tidak lupakan mendoakan ku?" Jasmine menyandarkan tubuhnya di atas sofa.
"Mau berangkat jam berapa? Mau aku temani?" Dika menutup laptopnya dan berjalan mendekati Jasmine.
"Entahlah, kamu sudah mengurung semangat ku." Jasmine menutup wajahnya dengan bantal sofa.
"Apa yang mau kamu bawa, sudah di siapkan. Rantang pink mu sudah kamu isi?" Tanya Dika sambil membuka isi Tote bag Jasmine.
"Kalau tidak jadi ke sana, biar ku makan saja untuk sarapan." Dika mengambil rantang pink Jasmine dan membukanya.
"Habiskan sekalian!" Jasmine masih menutup wajahnya dengan bantal.
"Yasudah, jangan menangis. Setelah sarapan nanti aku temani ke sana." Dengan lahap Dika menyantap makanan yang Jasmine masak dengan cinta untuk Bryan.
Sesekali Dika menatap Jasmine yang sesenggukan di balik bantal. "Jangan menangis, apa aku salah. Nanti ku belikan masakan yang lain untuk kekasihmu."
Bujuk Dika merasa bersalah. Tapi mulutnya tak berhenti untuk menghabiskan sarapan paginya.
"Hapus air matamu, ayo kita ke bandara. Aku sudah mengirim pesan untuk pilot." Dika menarik bantal dari wajah Jasmine. Dia terkejut dan menggeleng, "Tidur."
Dengan perlahan Dika mengendong Jasmine ala bridal style. Masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopir mengantar mereka berdua ke bandara.
__ADS_1
Dika masih menahan tubuh Jasmine, mengelus rambut ikalnya. "Sampai kapan kau akan menunggunya, sampai anak-anak kita dewasa dan menikah. Aku juga ingin melihatmu memiliki pendamping hidup di masa tuamu nanti. Percayalah, doaku slalu ada untukmu dan dia." Dika mengecup kening Jasmine. Tanpa sadar tangan Jasmine mendorong kepala Dika hingga membentur kaca.
"Dasar; Masih saja tahu kesempatan!" Jasmine bangun dan merapikan rambutnya.
"Awas ya, kalau kamu mencium keningku lagi!" Jasmine mengusap-usap keningnya bekas ciuman Dika.
"Hanya untuk terakhir kali, Janji."
Tibalah mereka di bandara, Jasmine sudah menyiapkan dirinya. Memakai lagi bedak ya g luntur dan memoles bibirnya dengan lipstik berwarna maroon.
"Gak usah menor-menor, nanti dia takut melihatmu!" Dika terkekeh, Jasmine dengan cepat mencoret wajah Dika dengan lipstiknya.
"Biarkan saja, tidak lihat bibirku pucat." Jasmine membenarkan riasan wajahnya, Dika mulai mengumpat saat lipstik di wajahnya mulai mengering.
"Lihat wajahmu, kau mau jadi badut penghibur disana. Hahaha." Ejek Jasmine sambil keluar dari mobil, sedangkan Dika mencari sesuatu untuk menghilangkan bekas lipstik di wajahnya.
"Mana pembersih wajah mu, hey janda. Mana!" Dika berteriak, sedangkan Jasmine menjulurkan wajahnya berjalan memasuki jet pribadi.
Dika berlari dengan cepat, dengan kapas pembersih yang ia ucapkan dengan kasar di wajahnya.
Terpogoh-pogoh ia masuk ke kabin. "Menyebalkan!" Pekiknya cepat.
"Kau pikir aku laki-laki tidak normal." Dika mendaratkan tubuhnya dengan cepat, memasang sabuk pengaman dan menghela nafas kasar.
"Sudah siap berangkat atau masih akan berdebat tentang make up?" Pilot ini jelas tahu sifat-sifat Jasmine dan Dika jika ada di kabin pesawat. Pilot ini juga menyimpan banyak rahasia penerbangan yang di lakukan Jasmine dan Dika.
"Sudah, take me to the moon. Dad." Teriak Jasmine dengan semangat.
"Pakai sabuk kalian anak-anak, kita pergi ke bulan sekarang." Teriak pilot sambil memulai penerbangan siang ini.
"Kenapa tidak ke mars sekalian, siap tahu disana kamu dapat jodoh?" Dika ini sepertinya memang ingin berdebat dengan Jasmine.
"Brisik, diam gih. Ini tahun ke lima dia di penjara. Dia masih menerimaku tidak ya? Atau dia sudah tidak mau menemui ku yang sudah tua ini." Keluh Jasmine pada Dika, dengan mata yang sayu.
"Sudah-sudah, niat kitakan hanya ingin melihat nya. Dulu apa kau tidak berfikir saat kau ingin memulai mencintainya dan apa saja resikonya. Hatimu harus di hukum, karena sembarangan menaruh tempatnya."
Jasmine melempar bantal ke wajah Dika, "Hatiku dulu juga salah memilih tempat!"
__ADS_1
Waktu satu jam berlalu, hanya ada perdebatan yang sengit antara mereka berdua.
"Mau di jemput jam berapa, anak-anak?" Tanya pilot.
"Bawa saja Dika pergi, lemparkan dia ke laut selatan biar di makan hiu!"
"Enak saja! Warisan untuk anak-anak belum aku bagi rata. Jemput seperti biasanya." Jawab Dika dengan mendorong tubuh Jasmine keluar dari kabin pesawat.
Jasmine menarik nafas panjang, dengan langkah kakinya yang mantap. Jasmine masuk ke mobil jemputan, di susul Dika di belakangnya.
"Jangan dekat-dekat!" Usir Jasmine.
"Oke-oke. Aku menjauh." Dika mundur ke mobil belakang.
Tidak ada komentar lagi dari bibir mereka berdua. Selepas turun dari pesawat tadi, Jasmine merasakan firasat yang tidak biasa. Sesuatu yang menyuruhnya untuk cepat datang menjenguk Bryan.
Hingga akhirnya, mobil mereka tiba di lapas. Langkah kakinya menuju ruang informasi tertahan dengan banyaknya wartawan.
"Ada apa ini, ada apa?" Tanya Jasmine penasaran.
"Sesuatu kebetulan anda ada disini, bagaimana perasaan anda saat ini?" Tanya salah satu wartawan.
"Perasaan apa, saya baik-baik saja." Jelas Jasmine tak memperdulikan lagi ocehan para wartawan.
"Yakin, kakak yakin! Hari ini, setelah press konfres pihak kepolisian. Hukuman mati akan di lakukan tepat satu jam lagi."
Mata Jasmine membulat, "Tutup mulutmu!"
Jasmine mendatangi ruang utama petinggi lapas, secara kebetulan orang itu sedang keluar dari ruangannya.
"Dibawa kemana dia!"
"Sudah tahu pasti, di lapangan tembak." Jawabnya singkat. "Semua informasi sudah kami dapatkan darinya. Jadi harus menunggu apa lagi. Itu ganjaran dari apa yang ia lakukan, Pengkhianat negara."
Plok, plok, plok.
"Pengkhianat negara katamu! Kenapa para koruptor tidak langsung di tembak mati saja, hah? Bahkan mereka dengan bebas keluar masuk penjara! Kau pikir aku tidak tahu bobroknya negeri ini! Membela mati para koruptor yang jelas-jelas sebagai dalang Pengkhianat Negara!"
__ADS_1
*
Uhukkk....