
"Tapi....." Bryan ingin berkelit.
"Enggak ada tapi-tapi'an. Ganti bajumu sekarang, aku siapin baju tidurmu." Pinta Jasmine sambil mencari-cari baju Bryan di dalam lemari baju miliknya.
"Aku mau ganti baju asal kamu yang gantiin bajuku." Rayu Bryan sambil tersenyum-senyum.
"Enggak, ganti sendiri!" Tolak Jasmine, ia paham maksud terselubung dengan permintaan Bryan.
"Yasudah, aku tidak ganti baju." Bryan pura-pura merajuk.
"Astaga,bocah. Ini ganti bajumu, apa kau tidak sumpek pake celana jeans di malam hari?" Jasmine menaruh baju tidur Bryan berupa kaos hitam dan boxer garis-garis Hitam-Putih.
"Apa kau tidak penasaran tadi aku pergi kemana?" Tanya Bryan sambil melepas kemeja miliknya.
"Ganti di kamar mandi, tidak punya malu." Jasmine membalikkan badannya. Rapuh jika ia melihat sesuatu yang tersembunyi di balik boxer garis-garis itu.
"Kenapa? Hanya ada kita. Berbalik lah aku sudah selesai."
"Dasar...." Jasmine memukul bahu Bryan saat tahu laki-laki itu berbohong. Bryan kini sedang melepas celana jeans miliknya dan tersenyum-senyum melihat muka jasmine yang memerah.
"Kenapa, apa kita tidak bisa melanjutkan yang tadi?" Tanya Bryan lagi.
"Yang tadi sudah selesai. Jangan harap lagi." Jasmine membaringkan tubuhnya di sofa.
"My first kiss." Bryan kini sudah membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Menatap Jasmine yang menatap dirinya dari radius 3 meter di sebelah kirinya.
"Bry... Jika kau sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga mu, tapi yang kau dapat hanya sebuah pengkhianatan dan kekecewaan. Apa yang kau lakukan?" Bryan nampak terkejut saat Jasmine bertanya tentang hal yang tak pernah ia lakukan.
"Aku sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga kecilku dulu, aku slalu ingat dengan pesan ibuku untuk melayani suamiku dengan baik. Aku sudah melakukan semuanya. Tapi yang aku dapat hanya sebuah luka."
"Apa kau juga tahu, saat aku pertama hamil dulu. Suamiku sudah menghianatiku. Dan kejadian itu berulang lagi saat aku hamil kedua kalinya. Aku slalu sendiri melewati itu semua. Ayahku akan membunuhnya saat itu. Tapi aku lebih memilih untuk melepasnya. Kau tau, dia menghianatiku dengan wanita yang sama. Selama 5 tahun, aku berada di awang-awang."
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud untuk menolak mu untuk kita berhubungan intim selayaknya suami istri. Aku juga masih ingat, jika malaikat akan mencatat amal buruk ku jika menolak sebuah pahala."
"Bry....." Jasmine beranjak saat tak mendapat respon dari Bryan tentang risau hatinya. "Tidurlah." Jasmine membetulkan selimut yang asal Bryan balutkan di tubuhnya. "Ternyata kau terbuai dengan ceritaku, apa aku seperti sedang ber dongeng." Jasmine mencium kening Bryan dan kembali ke sofa tidurnya.
"Aku akan membuatmu bahagia wanitaku." Bryan hanya berpura-pura terpejam, dan ia tersenyum saat jasmine mencium keningnya.
*
Pagi ini teramat sendu mendayu kelambu, awan hitam masih menyelimuti pagi yang dingin. Hujan yang turun membasahi bumi tak henti-hentinya mencurahkan kehidupan. Jasmine yang sudah terbangun sejak dini hanya berdiri memegangi secangkir teh tawar di tangannya, menyibakkan tirai tipis di kamarnya dan menatapi dedaunan yang bergoyang-goyang berirama menikmati air semesta.
"Dingin." Bryan memeluk Jasmine dari belakang dan menaruh dagunya di pundak jasmine. Jasmine yang tersentak pun hampir menjatuhkan cangkir miliknya.
"Hey....Sudah bangun." Jasmine menaruh cangkir teh di atas nakas dan berbalik menghadap Bryan. "Ini masih pagi, tidurlah."
"Temani aku." Bryan mengeratkan pelukannya, menempel seluruh tubuhnya di tubuh Jasmine.
"Kau ingin aku buatkan minuman?" Jasmine berkelit ingin menolak.
"Meskipun aku hanya menikahi mu secara siri, kau akan berdosa jika menolak suamimu." Ancaman halus yang membuat Jasmine terperangkap pada situasi yang dingin yang membuat nya kalang kabut seperti kabut yang masih menghiasi jendela-jendela kamarnya.
"Tidak akan." Bryan menarik tubuh Jasmine di pangkuannya. "Kita bisa memulainya, aku tak akan menyakitimu." Bisik Bryan yang membuat bulu halus Jasmine berdiri, menggetarkan jantung nya yang sudah meloncat-loncat seperti kodok.
*
"Bry...." Nafas Jasmine parau, ucapannya tersengal-sengal. Saat Bryan memacu tubuhnya berirama, mengambil alih Jasmine yang sedari tadi menari di atasnya. Desahan mereka bersaut-sautan dengan rintikan hujan yang masih menemani pergumulan panas ke dua insan di mabuk gila.
"Bry...." Jasmine yang berada di bawah terkaman Bryan hanya bisa menyebut nama Bryan berkali-kali, saat ia mengalami pelampiasan yang bertubi-tubi. Laki-laki itu terus menyesap rakus gundukan kenyal jasmine, tak memberi jeda untuk Jasmine bernafas halus. "Bry...."
"Sebentar lagi....." Bryan masih memacu tubuh bagian bawahnya, kadang pelan menikmati kadang cepat tak terkendali, tangannya tak berhenti merem*s gumpalan kenyal nan menggairahkan. "Keluar kan di luar Bry..." Pinta Jasmine.
**
__ADS_1
"Apa Asi-mu slalu keluar terus?" Tanya Bryan sambil memeluk Jasmine dari belakang. Setelah selesai melakukan 'gejolak jiwa muda' Bryan tak henti-hentinya mengecupi punggung Jasmine dan berterimakasih. Ia sama sekali tak peduli dengan status Jasmine yang sudah tidak perawan.
"Iya." Jasmine malu-malu kucing, baginya ini adalah pertama untuknya bercinta dengan laki-laki yang berbeda selain suaminya dulu,Dika.
"Apa aku tidak buruk?" Tanya Bryan.
"Maksudnya?" Jasmine membalikkan tubuhnya menghadap Bryan,meraka masih sama-sama polosnya. Masih melekat dengan sempurna tubuh polos mereka. Hanya selimut yang menutupi mereka dari mata dunia.
"Ehmm.... Saat bercinta tadi,apa aku melakukan dengan baik?" Tanya Bryan lagi.
"Tidak buruk, kau cukup baik melakukannya." Jawab Jasmine. "Bahkan kau lebih baik dari Dika." Batin Jasmine.
"Bry?"
"Apa?", jawab Bryan sambil mengeratkan tubuh jasmine ke dadanya. Dada mereka menempel. "Jika kau tanya aku kecewa atau tidak, jawabannya Tidak! Aku tak pernah kecewa. Aku berusaha memperbaiki hatimu yang sudah terluka, bukalah hatimu untuk menerima ku." Lanjut Bryan dan akhirnya ia membenamkan lagi bibir merah jambunya pada bibir istrinya.
"Lagi?" Minta Bryan.
"Astaga,kau ini. Aku mau mandi, badanku sudah lengket semua." Jasmine mendorong tubuh Bryan dan ia beranjak dari tempat tidur berjalan ke arah kamar mandi.
"Ikut..." Bryan berdiri sambil berlari kecil mengikuti langkah istrinya.
"Astaga, lihatlah tubuhmu Bry. Hyyyy." Jasmine menutup mukanya saat benda pusaka milik suaminya masih berdiri dengan gagahnya.
"Ayolah, ini tak akan tumbang jika belum di masukkan." Bujuk Bryan.
"Ayo kita mandi dulu, tidak baik jika yang tadi belum di bilas." Jelas Jasmine sambil berkelit.
"Janji." Bryan kini yang mengangkut jari kelingking nya dan di raut oleh Jasmine.
"Terimakasih, aku akan memintanya nanti." Bryan tersenyum senang tak Alang kepalang. Jasmine hanya bisa mendengus kesal, ia benar-benar akan semakin terikat pada belati Asmara!
__ADS_1
----
Pusyingggg deh author kalau bikin adegan per ena-ena.. rasanya pengen di skip aja 🤭. Lebih pusyingg ngajarin anak huruf abjad dan membaca daripada bikin adegan ini. Sungguh 😝