Kiss The Rain

Kiss The Rain
Misi sesungguhnya.


__ADS_3

Kontainer bergerak melesat menembus paginya sebuah jalanan kota. Iringi-iringan mobil pengikut terpecah menjadi dua bagian. Satu menuju bandara, satu lagi menyerbu kediaman Adois.


"Lakukan yang terbaik." Jasmine berbicara melalui ear piece.


Hari ini di pagi hari dengan embun yang masih menyisakan bekasnya. Brandles Wolfgang dan TIM bergerak memecah riuhnya aktivitas semua umat manusia. Tidak ada sirine, mereka melesat tenang layaknya manusia normal yang memiliki misi masing-masing di hidupnya.


Pergerakan bajing kecil itu sudah terdeteksi, Tim bergerak dengan formasi masing-masing. Raka yang memimpin operasi penyerangan Shally, sedangkan Candra memimpin penyerangan Adois.


Mereka bersiap dengan semua resiko. Jasmine yang mengendarai mobil ambulans nampak tak tentu wajahnya, gelisah, marah, takut, senang. Semua bercampur dalam satu raut wajah yang resah.


"Kenapa tidak pakai mobil biasa, kenapa harus ambulans?" Husein menatap Jasmine dengan heran.


"Kamuflase."


"Mana ada petugas ambulans memakai baju perang." Husein menggeleng, ia cukup terkejut dengan intrik yang kelompok Jasmine lakukan. Bukan membawa kendaraan perang atau mobil dengan kecepatan tinggi. Mereka malah membawa satu kontainer milik Bryan, satu mobil ambulans dan satu bus antar kota.


"Sudah diam, ikuti saja dan dengarkan perintah." Jasmine masih melajukan mobilnya dengan tenang. Suara laporan terus mendengung isi telinganya, Raka yang membawa kontainer besar jelas-jelas sudah tahu kapan ia akan mengecoh target. Sedangkan Jasmine bergerak di belakang bus besar yang berisi tim penyerang.


Jalanan yang mulai sepi dengan kendaraan. Tim pengecoh pun mulai bersiap melakukan aksinya.


"*Back-up, back-up. Siaga satu*."


"No more blood, No time To Die!"


"It's time to dancing, let's do it. NOW!"


Raka menancap pedal gas dan membanting stir ke kanan, badan kontainer menutupi bahu jalan. Semua kendaraan tersendat termasuk Lima mobil milik Shally dengan pengawal di dalamnya.


"Ada apa ini?" Shally melihat kontainer yang menyelip mobilnya berkali-kali di jalanan kota tadi kini malah menghalangi jalannya.


"Kita terhalang Nona."


"Putar balik, cari jalan alternatif." Shally menendang kursi di depannya. Sedangkan Bryan yang mengetahui kontainer yang menghalangi jalannya adalah kontainer miliknya. Ia tersenyum!


"Siap Nona!"


Mobil Shally bersiap untuk putar balik. Mereka belum menyadari jika mobil mereka sudah mulai terkepung di tengah jalan.


"Blokade jalan!"


Bus besar membanting stir dan menutupi bahu jalan. Sepuluh orang turun dengan tergesa-gesa, dengan baju khusus dan penutup wajah. Mereka mengepung dan menodongkan pistol ke semua mobil target!


"Keluar!" Tim penyerang menodongkan pistolnya dan mengebrak kap mobil. Shally cukup terperanjat dengan kejadian yang ia alami. Tapi ia sudah menyiapkan semuanya, ia sudah tahu jika beberapa hari ini, kelompoknya sudah di intai oleh seseorang.


"Lakukan apa yang harus kalian lakukan." Shally menyiapkan pistolnya sendiri.

__ADS_1


"Kak Bryan, tak akan ku biarkan Tante itu mendapatkan mu lagi. Jika boleh aku sendiri yang akan menghabisi nyawa kakak!" Shally memiringkan sudut bibirnya.


Shally keluar. Ia menarik badan Bryan yang tak berdaya. Pelatuknya tepat berada di jantung Bryan.


Shally Mengedarkan pandangannya.


"Darah di bayar darah, Nyawa di bayar Nyawa." Shally berteriak dengan lantang.


"Tahan tembakan!"


"Target utama dalam bahaya, Jasmine dengarkan aku. Ini sangat bahaya!"


Raka mengamati situasi di balik kemudi kontainer. Ia akan keluar jika situasi sudah mulai chaos tak terkendali.


Jasmine berhenti di balik Bus, mulai mengendap-endap di baliknya. Ia sejenak menatap Husein. Husein menggeleng, "Bahaya, Bryan bisa mati dalam waktu sekejap."


"Jasmine, tahan di dirimu!" Raka mengingatkan, situasi bukan soal nyawa di bayar Nyawa. Terkadang dalam situasi chaos perkara hati akan sedikit memberatkan keadaan.


Jasmine menghela nafas panjang, ia mengedarkan pandangannya, ia melihat Bryan yang tergeletak di tengah jalan. Wajahnya semakin sulit di artikan saat tatapan Jasmine dan Bryan bertemu. Mata yang mengisyaratkan rindu dan ketakutan.


"Jangan ada kontak fisik dengan target Jasmine!!!"


Raka menaikan nada bicaranya, saat ia melihat Jasmine menghampiri Shally yang siap dengan senjatanya.


"Apa kabarmu Shally?" Jasmine bersimpuh sembari tangannya memegang dagu Bryan dan menaikkannya.


Bryan mencoba bersuara, namun tak bisa Jasmine pahami.


Kini ia berdiri, menjajarkan tubuhnya dengan Shally.


"Bagaimana pun caramu mendapatkan Bryan. Dia akan tetap menjadi milikku, Shal."


"Hahaha, terlalu percaya diri! Dia laki-laki lumpuh dan tak bisa bicara. Dia tak bisa memuaskan jala*g seperti mu!" Shally menyalak.


Lumpuh, Tak bisa bicara. Apa yang terjadi padamu Bryan.


Sejenak Jasmine menatap Bryan yang hanya menundukkan kepalanya. Mungkin Bryan malu, karena ia menjadi laki-laki yang tak berguna. Jasmine menegarkan hatinya apapun yang terjadi dengan Bryan nanti.


"Aku punya segudang gaya untuk memuaskan suamiku Shally, jika dia tak bisa memuaskan ku aku sendiri yang akan membuatnya menyebut namaku berkali-kali."


Jasmine tertawa, "Apa kau ingin melihat kami bercinta?"


"Cih! Menjijikkan." Shally melengos, ia cukup terpancing dengan perkataan Jasmine.


"Hahaha, kau ingin mempersulit kami atau kau sendiri yang akan mempermudah keadaan."

__ADS_1


Jasmine menyasar kaki Shally, ia menendang dan membuat Shally tersungkur di atas aspal. "Do it!"


Ear price di setting dengan kondisi aktif, jadi semua bisa mendengar perintah Jasmine.


Anggota lainnya berjibaku menuntaskan pengawal Shally yang jumlahnya lebih dari tim penyerang. Satu lawan satu. Husein memilih untuk membantu tim penyerang. Ia berfikir jika wanita bertarung pasti hanya akan berjambak-jambakan rambut.


Brandles Wolfgang bersikap gantleman. Tiada ada senjata api, pertarungan tangan kosong. Semua berubah menjadi ahli pukul.


Shally bangkit, ia membalas Jasmine yang hendak memapah tubuh Bryan. Tepat di punggungnya, ia tersungkur di atas aspal hitam.


Jasmine mengeram, rasa nyeri memulai menjalar.


Atmosfer jalanan itu mulai menegang. Mulai banyak debu yang berterbangan.


Jasmine tersenyum kecut, "Sweet Revenge."


Ia berdiri merapikan bajunya yang berdebu. Telapak tangannya mengeluarkan banyak darah. Bryan menarik tangan Jasmine, menggeleng. Mengisyaratkan untuk jangan melawan.


"Aku akan meladenimu bajing kecil." Jasmine yang sudah di bakar api asmara, Tak mengetahui Shally juga pintar ilmu bela diri, ia cukup kewalahan dengan tenaga Shally yang masih muda.


"Keluarkan tenagamu Jala*g." Shally terus berusaha menendang bagian perut Jasmine. Sedangkan Jasmine hanya berusaha menangkis serangan Shally. Berusaha membuat Shally kehilangan tenaganya dan ia akan berbalik menyerang saat emosi Shally mulai meredup.


"Shal, tidak ada gunanya kau menahan laki-laki lumpuh. Biarkan aku saja yang merawat Bryan."


"Lebih baik Bryan mati, dari pada dia harus hidup bersama wanita lain selain diriku!"


Shally menarik pelatuknya tepat ke arah Bryan, Jasmine berbalik dengan cepat mendekap tubuh Bryan, melindungi laki-laki yang ia sayangi.


Selongsong peluru menyangsang tepat di punggung Jasmine, meleset dari sasaran utama. Meskipun Jasmine mengunakan rompi anti peluru, ia tetap bisa merasakan hantaman seperti di beri bogem mentah berkali-kali.


Jika kau ingin melihat Daddy, bertahanlah little. Aku tahu kau masih segumpal darah tak bernyawa, tapi berusahalah untuk bertahan sebentar lagi.


Jasmine berusaha mengumpulkan kisah masa lalunya, kisah yang akan membuatnya marah dan membabi buta. Kemarahan terhadap Dika yang menyulut semangat dalam jiwanya.


Jasmine berbalik berlari menyerang Shally, terpogoh-pogoh ia mengumpulkan tenaganya. Shally masih bersemangat, ia meladeni semua serangan Jasmine. Hingga keringat dingin terus bercucuran di dahi Jasmine.


"Back up, back up!


"Cepat selesai kekacauan ini, kita sudah mengulur waktu dan membuat jalanan semakin macet!"


Raka keluar dari kontainer di ikuti tim Back up yang bersembunyi di dalam kontainer. Mereka menyalak seperti anjing buas saat mengetahui tuannya menjadi seorang yang di tindas.


Shally dengan cepat di lumpuhkan oleh botak, sedangkan Jasmine tergeletak pingsan.


Raka menghubungi tim medis di markas besar untuk bersiap. Ia membopong tubuh Jasmine. Di ikuti Husein yang sudah berdarah-darah memapah tubuh adiknya, Bryan.

__ADS_1


Next ---->


__ADS_2