
"Ayo Bry, kita sudah lama di kamar mandi. Apa kau tidak lapar?" Bujuk Jasmine saat laki-laki muda itu masih asik berendam dan bermain-main dengan mainan baru.
"Aku lapar Bry." Rayu Jasmine. "Ayolah, aku bisa masuk angin nanti." Bujuk rayu lagi.
"Sebentar lagi....." Bryan masih sibuk dengan pegangan barunya. "Geli... Ayo sudah, aku ingin masak." Jasmine menggenggam tangan Bryan. "Sudah ya, nanti lagi." Rayuan ke sekian kalinya.
"Hemm...." Bryan hanya berdehem dan beranjak dari belakang Jasmine. Ia membilas tubuhnya di bawah kucuran shower. Masih dengan benda pusaka yang berdiri gagah. Jasmine tersipu dan geli melihatnya. "Jangan marah." Jasmine berdiri menghampiri Bryan dan memegang lembut benda pusaka milik perjaka mudanya, mengul*m dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut di sekitar **** ***** suaminya. Masih dibawah kucuran air, Bryan hanya berdiri mengerang sembari mendesah. "Kemarilah, sekali lagi oke." Bryan menarik lengan Jasmine menghadapkan tubuhnya di tembok, dan menyuruh jasmine untuk menungging kan pantatnya. "Cepat lah Bry... Keluarkan diluar." Pinta Jasmine. Bryan terus memacu tubuhnya, tak peduli sudah berapa kali Jasmine mengerang dan memanggilnya namanya. Laki-laki muda itu benar-benar tidak perlu jamu kuat seperti nya.
"Bry....."
"Hemmm...."
"Tulang lutut ku mau copot, ayolah sudah." Bujuk Jasmine. Baginya olah raga ini sangat menyebalkan. Hingga akhirnya Bryan menghujamkan benih-benih calon bayinya di atas bokong Jasmine.
*
"Bry....." Panggil Jasmine, saat mereka sudah menyelesaikan tugasnya sebagai suami isteri. Tugas batiniah.
"Iya." Jawaban singkat.
"Boleh aku masak?" Tanya Jasmine.
"Tidak perlu, ada bibi yang memasak." Jawab Bryan.
"Ehmmm....Bry." Jasmine tampak ragu untuk mengutarakan keinginannya.
"Ada apa, hmm?" Bryan menghampiri jasmine yang sedang duduk mengeringkan rambut pirangnya.
"Bry...." Jasmine menaruh sisir rambut dan menatap Bryan.
"Bry, apa kau buru-buru ingin punya anak?"
"Anak?" Bryan mengerenyit heran dengan pertanyaan Jasmine. "Aku sudah punya anak 2." Lanjutnya lagi.
"Anak dari benihmu?" Jasmine menunduk.
"Anak ku? Apa aku tidak terlalu muda untuk memiliki seorang bayi?" Lanjut Bryan.
__ADS_1
"Kau ingin menundanya?" Tanya jasmine.
"Aku ingin menikmati dulu bersamamu, aku juga sudah punya anak 2 dari mu. Tidak masalahkan jika kita menundanya?" Bryan memegang tangan jasmine.
"Iya, ehmm... Akan beresiko juga jika punya anak dalam jarak yang masih dekat. Ehmmm." Jasmine menjeda ucapannya. "Bry, boleh aku keluar rumah?"
Jasmine tersentak, saat tangan yang Bryan genggam ia lepaskan begitu saja. "Jangan!"
"Kenapa?" Jawab Jasmine.
"Kau ingin kabur dariku dan kau ingin menemui mantan suamimu?" Bryan menjeda ucapannya. "Kemarin mantan suamimu mengunjungi rumahmu." Jelas Bryan.
"Dika?"
"Siapa lagi, hmmm. Kau memberi kunci rumahmu ke dia?" Tanya Bryan dan di angguki Jasmine. " Waktu itu, aku memang memberi kunci rumahku agar dia mudah untuk mengambil keperluan Asmira. Kau kemarin ke rumah ku, ngapain?" Tanya Jasmine.
"Hanya melihat saja."
"Oh, kita dimana sekarang. Apa ini jauh dari rumahku atau ini di luar kota?" (dasar emak-emak kepo 😂)
"Kau tidak perlu tau, ayo makan katanya tadi kau lapar." Ajak Bryan sambil menggandeng tangan Jasmine.
"Bagus, kau bisa memberi bayi besarmu ini asi yang banyak." Bryan terkekeh dengan jawabannya sendiri.
"Apa sih." Jasmine menepuk bahu Bryan dan ia ikutan terkekeh melihat senyum Bryan yang teramat bahagia.
"Bry...?" Tanya jasmine lagi.
"Bry, Bry, Bry ,Bry.... Kau slalu memanggil ku Bry." Bryan mencebik pertanyaan Jasmine.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Jasmine mencubit lengan Bryan. "Adik, hmmm?" Jasmine terkekeh.
"Adik, aku suamimu. Yang benar saja!" Bryan menangkup pipi Jasmine. "Hei wanitaku, kau bisa memanggilku Suamiku, Pujaan Hatiku, jangan hanya Bry Bry Bry. Kau pikir aku bank rakyat." Jasmine terkekeh dengan jawabannya Bryan.
"Baiklah, baiklah. Bry, boleh ya aku masak." Rayu lagi dan lagi.
"Kenapa?" Mereka kini sudah duduk di meja makan dan berada di dapur mini lantai dua.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, jangan panggil aku Bry." Tegasnya lagi.
"Aku ingin memasakkan untukmu. Karena aku harus melayani mu ,benarkan?" Jasmine menaik-turunkan alisnya. Menggoda perjaka mudanya, eh bukan perjaka lagi dong. Pria sejati!
"Hmmm, boleh. Asalkan jangan menganggu waktuku bersama mu."
"Terimakasih, suamiku. Ehmm." Jasmine berdehem, mengutuki ucapannya sendiri.
"Ayo makan, aku ambilkan ya." Jasmine tersenyum. Pikirnya bersikap manis sajalah biar hatinya luluh dan menurutinya.
"Bukankah kau dari kemarin menolak ku, kenapa pagi ini kau dengan mudah menyerahkan tubuhmu?" Bryan mengetuk-ngetuk meja makan dengan jari telunjuknya. "Apa kau sudah membuka hatiku untuk ku?" Lanjutnya lagi masih menatap Jasmine dengan dalam.
"Biarkan aku menjadi istri yang baik. Biarkan aku belajar untuk mencintaimu. Dengan aku tak menolak mu untuk melayanimu di ranjang atau melayani kebutuhan mu yang lain." Jasmine menarik tangan dan air mukanya mulai berubah.
"Jika kau tanya aku mencintaimu atau tidak ,ku rasa kau tau jawabannya." Jasmine mendorong kursinya berjalan menjauhi Bryan yang terpaku.
"Mau kemana, kemarilah." Bryan menarik tangan Jasmine. "Ayo makan dulu, nanti kau sakit." Ajak Bryan sambil menyunggingkan senyum.
"Makanlah dulu." Jasmine tersenyum kecut. "Aku mau ke kamar sebentar." Jelas Jasmine.
Jasmine menarik tangannya dan berlalu menuju kamar nya. Ia masuk dan menutup pintu kamar dan menguncinya. "Huh......" Jasmine menghela nafas panjang. "Cinta! Jika kau tanya perkara cinta. Bagiku Cinta adalah pembodohan. Masih ku simpan rasa yang menyesakkan dada. Tidakkah kau bisa tahu ,aku sedang berusaha. Berusaha meyakinkan diri ku sendiri. Meyakinkan bahwa aku bisa memulainya lagi dengan seseorang yang baru. Biarkan aku belajar mencintaimu dalam diam."
"Jasmine, buka pintunya. Heyy!! Buka pintunya." Bryan berteriak dan terus menggedor-gedor pintu membuyarkan lamunan Jasmine.
"Apa sih Bry, aku ngantuk. Jika aku tak menguncinya pasti kau hanya akan menggangu ku." Jawab Jasmine sesaat setelah ia membuka kan pintu kamar dan terlihat Bryan sedang berdiri sambil melipat tangannya di depan dada.
"Sarapan! Ayo." Bryan menarik paksa tangan Jasmine. "Lepasin ,aku bisa jalan sendiri." Jasmine menarik-narik tangannya.
"Jangan membantah, kau bilang tadi lapar. Kenapa malah tidur?" Bryan mendudukkan tubuh Jasmine di kursi. Mengambil kan Jasmine lauk dan sayur dan menaruh sendok garpu di atas piring. "Makanlah." Bryan mengulas senyum terbaiknya.
"Hmm." Jasmine tak menjawab kata-katanya Bryan, ia lebih memilih untuk menyuapkan nasi dan lauk di mulutnya. Sambil sesekali melihat Bryan yang duduk di depannya.
"Kenapa melirikku?" Tanya Bryan.
"Tidak." Jasmine menundukkan kepalanya.
"Kita perlu bicara." Bryan berdiri saat Botak memanggilnya.
__ADS_1
"Tunggu aku nanti." Lanjut Bryan meninggalkan Jasmine yang acuh terhadap suaminya.
"Sudah di layani masih protes."