Kiss The Rain

Kiss The Rain
Pulang


__ADS_3

"Raka...,"


Jasmine berbalik saat mendapati adiknya berlari sembari merentangkan tangannya. Ia menangkup tubuh Jasmine yang terpaku.


"Kakak...., kakak..., Beneran ini kak Jasmine." Raka mengeratkan pelukannya. Tak terasa kakaknya kembali di waktu yang tak terduga. "Kakak, aku merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu kak." Raka terisak-isak, Jasmine yang mendapati adik yang slalu saja mengusilinya hanya bisa tersenyum.


"IBU, AYAH, ADELLE, BANGUN KAKAK KEMBALI!" Raka berteriak.


"Raka, telinga kakak sakit." Jasmine melepas pelukannya. Mengusap-usap telinganya yang berdenging sambil mengulas senyum.


"Kakak, ayo masuk." Raka menarik tangan Jasmine dengan erat serasa ia takut jika kakaknya menghilang kembali.


Lampu rumah yang tadinya temaram, kini cahayanya mulai menerangi lima orang yang duduk di kursi tamu.


Kamto masih tertegun mendapati putrinya kembali. Ia hanya bisa diam sembari melihat ujung kaki hingga kepala Jasmine.


Ani yang sempat pasrah putrinya tidak di temukan, kini menangis dengan sejadi-jadinya. Tangisnya memenuhi ruang tamu. "Anak ku kembali, anak ku kembali." Nadanya histeris.


"Ibu, ayah, aku baik-baik saja. Lihatlah." Jasmine berusaha menenangkan orangtuanya.


"Aku kembali hanya sebentar saja, aku butuh bantuan kalian menjalankan misi yang sempat tertunda."


"TIDAK!"


Kamto menggebrak meja. "Tidak ada lagi misi!"


"Tapi ayah." Jasmine tertunduk, saat mendapati raut wajah ayahnya merah menahan amarah sekaligus rasa takut yang menyelimutinya.


"Tidak ada tapi-tapi'an, kembali ke kamarmu!" Kamto berdiri meninggalkan Jasmine yang terdiam. Sedangkan Ani ibunya hanya menggeleng, menggengam erat tangan Jasmine.


"Tapi, aku hamil." Lirihnya terdengar oleh ketiga orang yang masih terdiam.


"Hamil?"


Jasmine mengangguk.


"Siapa yang menghamili kakak, lalu dari mana kakak selama ini?"


Raka yang masih terlihat lebih stabil emosinya mulai mencebik Jasmine dengan berbagai pertanyaan.


"Kakak menikah dengan laki-laki yang menjadi sasaran misi kita 1 tahun lalu. Kakak menikah dengannya dan hidup di kota ini." Jelas Jasmine yang semakin membuat seisi rumah terkaget-kaget.


"Menikah dan hamil dengan laki-laki gembong narkoba itu?"


Jasmine mengangguk, lalu ia duduk bersimpuh di depan kaki adiknya.


"Bantu kakak menjemput suamiku, Raka. Bantu kakak mencarinya." Jasmine mengiba.


"Kak! Cukup! Berdirilah." Raka mengangkat tubuh Jasmine dan mendudukkannya di kursi sofa.


"Ceritakan semua!" Suruh Raka dengan nada geram.


"Kakak menjadi tawanan sekaligus istri sirinya, Itu semua kakak lakukan untuk melindungi kalian, termasuk Dika dan keluarganya." Jasmine menghela nafas kasar, "Selama setahun kakak hanya tinggal di rumahnya. Hanya dua kali kakak keluar rumah, jika kami tidak pergi ke rumah sakit. Mungkin kakak tidak akan kembali ke rumah ini."


Jasmine melihat ibunya yang masih terisak, sedangkan Adelle hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat, tertegun.


"Tiga hari yang lalu kami mengalami kecelakaan di tol, bajing kecil itu sengaja menabrak mobil kami dan membawanya pergi."


Jasmine menunduk. Sedangkan Raka hanya terdiam mencerna penjelasan kakaknya.


"Sudahlah, jika kalian tidak mau membantuku. Aku akan menjemputnya sendiri."


"Siapa bajing kecil? Dan untuk alasan apa kakak mencarinya?"


"Bajing kecil yang mau merebut kembali kebahagiaan kakak. Tidak ada alasan lain selain kakak mencintainya." Jasmine berdiri, mengusap air matanya tidak percaya. Jika keluarga nya menolak misi yang akan membantunya merebut kembali ayah jabang bayi yang ada di kandungannya.

__ADS_1


"Baiklah, beri waktu ku untuk membujuk ayah. Bukan hal yang mudah untuk kita menjalani misi, tentu kakak tahu sendiri alasannya."


Jasmine mengangguk. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar yang sudah lama ia tinggalkan.


*


Keesokan paginya di kediaman Kamto Jayantaka.


"Jasmine..., Jasmine...!" Teriakan dari seorang Dika.


Desus yang beredar jika Jasmine kembali pulang, terdengar sampai ke rumah Dika. Paginya Dika yang terkejut dan senang, mengajak semua keluarganya berkunjung ke kediaman mantan mertuanya.


Jasmine yang mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang pernah menanam luka di hatinya, berjalan keluar kamar dengan malas.


"Mommy....," Asmira berlari merentangkan tangannya. Dengan sigap Jasmine mencakup tubuh gadis kecilnya.


"Mommy pulang." Asmira membenamkan wajahnya di leher Jasmine, "Mommy, Mira kangen banget sama mommy. Mommy ayo pulang sama Mira dan ayah." Ucapnya parau di iringi tangis ala anak kecil.


Jasmine menatap Dika dengan bingung, ia tak tahu harus menjawab keinginan putrinya. Sedangkan putranya Prince asik berlari dengan Jeannice di ruang tamu.


"Mira, mommy baru saja pulang. Mommy butuh istirahat." Dika berusaha melepas pelukan putrinya dengan Jasmine. Tapi Asmira masih merengek tidak mau di lepas dari ibunya.


"Mommy juga rindu sekali dengan Asmira. Maafkan mommy baru pulang, maafkan mommy." Jasmine mengusap-usap punggung putrinya. Rasa sesal juga menyelimuti hatinya.


"Aww...., Prince!!!" Asmira berteriak saat adiknya menarik paksa rambutnya yang ikal.


"Mommy...," Asmira merengek manja dengan ibunya.


"Haha, adikmu usil ternyata. Ayo sayang bergabung dengan lainnya." Jasmine menggandeng Asmira bergabung dengan lainnya di ruang keluarga.


Memang tak ada perselisihan yang terjadi setelah perceraian Dika dan Jasmine. Semua membaur menjadi keluarga yang saling mendukung.


"Mommy, jangan pergi lagi." Asmira tak mau berjauh-jauhan dari ibunya, ia terus menempel di samping tubuh Jasmine.


Sebisa mungkin Jasmine menutupi kesedihannya. Kamto, Ani, Adelle, Raka, Dika, Amanda, Asmira, Prince, dan Jeannice menatap Jasmine dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa kalian menatapku seperti itu, apa aku terlihat tua?" Jasmine meraba-raba wajahnya.


"Berapa usia kandungan mu?"


"Bagaimana kabar kakak?"


"Dimana laki-laki itu?"


"Kenapa dahimu lebam dan terluka?"


"Mommy, nanti jalan-jalan ya."


"Dimana saja kau selama ini?" Dika mengakhiri pertanyaan beruntun untuk Jasmine.


"Apa kalian beralih profesi menjadi wartawan?"


"JAWAB!!!"


Serempak mereka membombardir Jasmine.


"Aku baik, aku bahagia. Aku tidak kemana-mana. Aku masih sekota dengan kalian."


"Berapa usia kandungan mu?" Kamto yang tak acuh mulai iba saat semalam Raka bercerita banyak tentang kakaknya selama menghilang.


"Jalan empat minggu."


"Mommy hamil lagi, mommy akan punya adik bayi?" Asmira terlihat protes dengan nada bicaranya.


"Hehe, iya honey kau akan punya adik bayi lagi."

__ADS_1


Asmira cemberut, "Aku lelah jadi kakak mommy, aku lelah!" Protesnya yang membuat orang dewasa terkekeh mendengarnya.


"Prince nakal mom, Jeannice juga suka mengambil bonekaku dari uncle."


"Uncle?" Semua mengerenyitkan dahinya.


"Raka apa kau sering membelikan boneka untuk Asmira?"


Raka hanya menggeleng.


"Lalu uncle siapa yang membelikan mu boneka?"


Semua orang nampak menunggu jawaban Asmira.


"Ehm..., uncle Bry." Jawabnya pelan, sembari bersembunyi di punggung Jasmine.


"Uncle Bry."


Jasmine tampak tersentak.


"Bryan."


"Bagaimana bisa laki-laki itu menyentuh cucu ku!" Kamto menaikkan nada bicaranya.


"Ayah!"


Jasmine mengeram.


"Bryan sama sekali tidak menyakiti Asmira dan Prince, dia sudah berjanji padaku."


Jasmine tak terima suaminya di pandang sebelah mata. Meskipun ia gembong muda narkoba, ia tak pernah menyakiti Jasmine atau keluarganya.


"Asal kalian tahu, aku menggadaikan tubuhku untuk melindungi kalian. Aku menjual diriku sendiri seperti pelac*r untuk suamiku. Aku melakukannya untuk kalian!"


Jasmine menangis, dengan cepat berlari menuju kamarnya. Semua orang terkejut mendengar penuturan Jasmine.


"Bisakah kalian menahan diri dulu?" Dika berjalan menuju kamar Jasmine.


"Buka pintunya, Jasmine. Bukalah." Dika mengetuk pintunya berkali-kali.


Amanda berkutik, "Sudahlah mas, kak Jasmine butuh waktu. Kita bisa kemari lagi nanti."


"Tidak, Manda. Aku perlu bicara dengannya." Dingin Dika menjawabnya.


"Kak Jasmine butuh ruang, biarkan dia sendiri dulu. Lebih baik tanyakan saja pada Raka atau Adelle kebenarannya." Amanda berusaha meyakinkan Dika yang kalut selama di tinggalkan oleh Jasmine.


"Maaf." Dika menghentikan ketukan pintu kamar yang pernah menjadi saksi bisu ketika nafsu dan cintanya bergelora kepada Jasmine.


"Mira, apa kau pernah bertemu dengan Uncle Bry?" Tanya Raka, sambil memangku keponakannya.


"Hanya sekali Uncle Raka."


"Dimana?"


"Disekolah, waktu itu uncle Bry menjadi guru seni menyanyi. Uncle memberi ku banyak hadiah, katanya aku mirip seperti mommy."


Raka terdiam. Begitu orang-orang yang mendengar cerita Asmira tentang Bryan.


"Baiklah Asmira, mainlah dengan adik-adik mu." Raka menurunkan Asmira dari pahanya.


"Uncle, apa itu pelac*r? Kenapa mommy menangis?"


Semua orang tampak bingung mendengar pertanyaan polos gadis kecil di depannya.


Kini tatapan Raka tertuju pada Ayah Kamto.

__ADS_1


Next ----->


__ADS_2