
Hari berhari dilalui Jasmine dengan banyak kegiatan, setelah perjanjiannya dengan Bryan untuk mengajarinya membidik dan bela diri, kini Jasmine sendiri yang merasa kelabakan. Seminggu dua kali Bryan akan mengajak Jasmine ke bukit nun jauh disana. Tempat yang jarang orang lalui ataupun bersinggah.
"Shut them!!" Jasmine berteriak. Dua ekor kelinci yang menjadi sasaran empuk Bryan terlihat melompat-lompat di sela semak-semak.
Desingan peluru itu melesat cepat, "Yeyyy, tepat sasaran." Jasmine dan Bryan saling menepuk kedua tangan mereka. Berjingkrak-jingkrak dan Bryan memutar tubuh Jasmine. "Jika kau kasihan dengan kelinci itu kuburlah, dan ganti dengan kelinci yang lain. Dengan seperti itu kau tak merusak habitatnya." Jasmine tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Bryan.
"Bagaimana, apa aku sudah pintar?" Tanya Bryan sambil menurunkan tubuh Jasmine.
"Haha, begitu saja sudah bangga. Ingat ya, hanya untuk berburu dan untuk menjaga diri, Berbeda dengan misiku." Jelas Jasmine.
"Ayo kita kubur kelinci itu babe. Aku tidak tega sebenarnya." Wajah Bryan kembali musam, butuh waktu berhari-hari untuk membujuk Bryan agar mau berlatih menembak dan berburu. Butuh persetubuhan berkali-kali agar Bryan mau menuruti kemauan Jasmine. Mereka berjalan-jalan, menendang-nendang dedaunan yang mengering hingga langkah kaki Jasmine terhenti saat melihat banyaknya wild berry yang berwarna ungu. "Uuww, ini enak sekali Bry." Jasmine memetik berry itu dengan hati-hati, salah sedikit tangannya akan tertancap duri-duri kecil yang melindunginya, Bibirnya terus tersenyum. "Cobalah." Jasmine mengambil salah satu berry itu dan menyuapkan pada bibir Bryan. "Asam asam manis, sepertimu." Bryan mengerenyitkan dahinya dan terkekeh. "Ini enak, Ehmmm...., kalau di buat smoothies warnanya jadi terlihat cantik." Jasmine memakan wild berry yang ada ditangannya, dan kembali melangkahkan kakinya menuju arah kelinci malang.
Tempat ini cenderung seperti hutan, banyak sekali spesies jamur dan hewan-hewan liar disini, banyak tumbuhan besar menutup cahaya mentari yang ingin menyusup menghangatkan bumi. "Minggu depan kita kesini lagi Bry, jangan sedih. Nanti kita ganti lebih banyak." Jasmine mengelus pundak Bryan, laki-laki itu mengambil tubuh kelinci yang kaku, mengeruk sedikit tanah dan menimbunnya. Banyak bunga liar yang tumbuh disana, Jasmine memetiknya dan menaruhnya diatas gundukan tanah basah. Belum juga mereka bergerak, terdengar suara gerakan di antara semak-semak, terdengar tampakkan kaki yang mengarah ke mereka.
Mata Jasmine membulat, "Sssttt....," Jasmine menaruh jari telunjuknya tepat didepan bibirnya. Bryan mengangguk, ia memegang pelatuk pistolnya. Mereka berjingkit-jingkit berlari bersembunyi.
"Pemburu." Bisik Jasmine ditelinga Bryan.
Tubuh mereka berdempetan, bersembunyi dibalik pohon Angsana yang tinggi menjulang. Nafas mereka beradu, Jasmine mengambil alih pistol yang dibawa Bryan, ia selipkan di pahanya. Jika pemburu tahu, mereka berdua akan beralasan jika sedang berkencan.
Jasmine dengan jelas bisa mendengar denyut jantung Bryan yang berdebar-debar tak karuan. Seperti dugaannya, jika Bryan sedikit takut dengan kondisi ini. Berhadapan dengan pemburu nyata membuat nyalinya ciut, terlebih lagi tidak ada bodyguard yang menjaganya. "Jangan takut." Jasmine kembali berbisik.
Bryan mengangguk pasrah, hingga kecupan dibibirnya membuatnya tersenyum. "Lagi." Bryan menekan tubuh Jasmine di badan pohon. "Jangan gila," Jasmine menahan kepala Bryan yang sudah mengarah ke wajahnya.
__ADS_1
Plok, plok, plok...., tepukan tangan menghentikan aktivitas Jasmine dan Bryan yang sedang berkecup ria dibalik pohon Angsana, tangan Bryan yang sudah meremas gundukan kenyal milik Jasmine terlepas dengan cepat.
Jasmine menoleh, mengamati tubuh tegap laki-laki berseragam dan membawa sebilah parang dan airsoftgun di lehernya. "Apa yang sedang kalian lakukan disini? Tidak tahu malu atau tidak tahu tempat?" Pekiknya.
Jasmine tersenyum, "Maafkan kami berdua, kami sedang terbawa suasana. Kami hanya berjalan-jalan di hutan ini."
Bryan menimpalinya dengan menganggukan kepalanya, "Istri saya sedang ngidam, dia ingin mencari wild berry dan mendengar kicauan burung." Bryan meyakinkan.
"Pergilah, hari sudah hampir sore." Titah penjaga hutan. Saat sedang patroli penjaga itu melihat mobil terparkir di bahu jalan. Tak banyak berpikir penjaga turun dari mobilnya dan mengecek kendaraan. Tak didapati seseorang di dalam mobil, penjaga beralih masuk ke jalan setapak yang sering digunakan olehnya dan pemburu. Mencari-cari seseorang yang sedang berbuat sesuatu di dalam hutan atau bertindak jahat. Yang ia dapati malah sepasang kekasih yang sedang bercumbu di balik pohon. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya penjaga itu mulai jengah dengan tontonannya.
"Baik, baik. Terimakasih pak, kami mohon pamit undur diri." Jasmine membungkukkan badannya. Ia menggandeng tangan Bryan yang sudah dingin ditambah keringat yang sudah membasahinya.
"Kalau besok saya mendapat kalian mesum di hutan ini lagi, saya akan melapor kalian dengan tindakan berzina di tempat umum." Penjaga itu mengibaskan parangnya dan berlalu meninggalkan Jasmine dan Bryan yang menahan tawa.
"Kamu yang mancing babe, sudah ayo. Hutan ini semakin sore semakin terlihat seram." Bryan menarik tangan Jasmine agar langkahnya berjalan lebih cepat.
"Jika bertemu dengan orang asing, jangan langsung mengeluarkan pistolmu." Nasihat Jasmine sembari mereka berlari-lari kecil seperti film India. Tertawa ,saling menggelitik dan mengayunkannya kedua tangan yang bergandengan.
Hingga langkah mereka berakhir dijalan beraspal, berjalan dengan nafas terengah-engah, dengan peluh yang sudah ingin menyentuh pelipis mata. "Aku lelah sekali." Jasmine menjongkokkan tubuhnya.
"Nanti aku pijit, ayo masuk. Mobil penjaga hutan masih ada, bisa kena marah lagi kita." Ucap Bryan sambil mengangkat tubuh Jasmine membawanya masuk ke dalam mobil.
Jeep Wrangler putih melesat cepat dijalanan yang sepi, menebus rimbunnya pepohonan yang merindang diatas jalanan beraspal. Swastamita sore ini sungguh indah, cahayanya memantul diatas lautan biru. "stop, stop, stop." Ucap Jasmine berteriak sembari memegang lengan Bryan.
__ADS_1
Mobil putih itu berdencit, meninggalkan bekas ban diatas aspal. "He-yyy, bahaya Jasmine!" Hardik Bryan dengan alis yang menyatu.
"Maaf." Jasmine mengulas senyum, "Aku mau lihat matahari tenggelam, boleh?" Nada manja terlontar dari mulut Jasmine. Bryan mendengus kesal pikirnya sudah berkelana memikirkan yang bukan-bukan, lantas ia mengangguk kepalanya. "Aku ingin camping dipinggir pantai." Lanjut Jasmine lagi mengutarakan keinginannya.
"Tidak hari ini, oke."
"Kenapa?"
"Kita tidak membawa tenda babe, disini juga jauh dari pemukiman." Ucap Bryan menjelaskan, "Lihat sunset dulu oke, camping besok kalau kita sudah bawa persiapan." Bryan menyelipkan anak rambut, menatap lembut wajah Jasmine yang musam dengan bibir yang menggerutu.
"Janji, jangan bohong." Cebik Jasmine.
"Mau lihat sunset atau mau bertukar janji?" Lanjut Bryan kembali menatap rona merah mentari diujung senja.
Jasmine keluar dari mobil dan menaiki kap mobil belakang, di ikuti Bryan yang turun dari mobil dan berdiri tepat di depan Jasmine. Nafas Jasmine menghela panjang, jelas-jelas Bryan menutupi pandangannya, "Duduk sini, kenapa berdiri?"
"Aku terabaikan." Ucap Bryan, bibir merah jambunya mengerucut dengan gemas.
Jasmine terkekeh, "Aku senang sekali hari ini Bry, terimakasih."
"Hanya terimakasih?" Tangan Bryan berlabuh pada pinggang Jasmine.
"Sini deh." Jasmine merangkulkan tangannya dileher Bryan. "Aku beri hadiah." Jasmine mengecup lembut bibir Bryan, menyesapi bibir bawahnya. Hingga lidahnya menggoda lidah Bryan untuk bermain-main sebentar. Mereka terus berbalas, membiarkan mentari perlahan menghilang dari cakrawala sore ini.
__ADS_1
"Balik Woyy, Balik...,!!!" Suara teriakan itu membuyarkan tautan bibir Jasmine dan Bryan. Sialnya ciuman mereka di pergoki lagi petugas jaga hutan yang melawati mobil mereka. "Cepet balik, bahaya!!!" Lanjut penjaga hutan sembari menancap pedal gasnya meninggalkan kedua insan yang terkekeh bersama.