Kiss The Rain

Kiss The Rain
Sedap malam.


__ADS_3

Bulan terlihat sama dengan bentuknya, bercahaya bersama bintang yang berkedip ria seperti ekor kunang-kunang yang bertebaran di angkasa.


Semilir angin dingin berhembus, menyusup melalui jendela kaca yang terbuka. Menebarkan kedinginan di keheningan malam. Menguraikan rambut pirang milik Jasmine Adriana.


Wanita ini berdiri termenung, menghirup dalam-dalam aroma sedap malam yang bermekaran.


"Hey," Bryan menghentakkan tangannya di pundak Jasmine.


"Astaga, kalau aku jantungan gimana?" Jasmine berbalik sembari mencubit tangan Bryan.


"Sakit babe, kenapa melamun?" Tanya Bryan sambil mengajak Jasmine duduk di kursi kayu.


"Memang aku harus melakukan apa, aku tidak punya kegiatan Bry." Jasmine berjalan dan duduk disamping Bryan, laki-laki muda itu masih mengulas senyum terbaiknya.


"Apa setiap malam kamu disini?"


Jasmine mengangguk, "hanya disini tempatku."


"Peluk aku." Pinta Bryan sambil merentangkan tangannya. Jasmine menaikkan salah satu alisnya. "Tidak lagi ya Bry, sudah 3 kali hari ini." Jasmine menyilangkan tangannya didepan gundukan daging kenyal miliknya.


Bryan terkekeh mendengar ocehan Jasmine, ia menggeleng, "Tidak, hanya peluk aja."


Jasmine merentangkan tangannya, memeluk pria muda di depannya, mengusap lembut punggung Bryan. Ia merasakan begitu hangat dekapan Bryan, "Aku akan menunggumu, sampai kau sungguh-sungguh membuka hatimu untukku." Bryan mencium kening Jasmine.


"Bry...," Jasmine melepas tautan tubuh mereka, menatap dalam-dalam mata Bryan.


"Iya," Bryan menyisipkan anak rambut Jasmine, angin malam semakin dingin. "Aku suka tanaman ini, apa kamu yang menyiapkannya?"


"Jasmine kau ingat, saat aku menyusupkan anak rambutmu saat di rumah belakang?" Jasmine mengangguk, "Terus, ceritakan semua yang kau lakukan untukku?" Pinta Jasmine sembari ia menyandarkan kepalanya di bahu Bryan.

__ADS_1


"Haha, aku suka harum bunga sedap malam ini. Aku baru tahu jika bunga tak selamanya terlihat menyedihkan. Kuncup, mekar, layu, dan mengering. Aku baru tahu jika bunga juga akan sewangi ini." Bryan mendongkak, melihat rembulan yang cerah menyinari tubuh mereka berdua.


"Seminggu aku mencari semua tentangmu, aku tahu kau menyukai tanaman hias. Aku tak mengerti jenis-jenisnya jadi aku hanya membeli yang menurut tukang kebun bagus. Seminggu juga aku meyakinkan diriku untuk menikahi mu, Maaf." Bryan beralih menatap wajah Jasmine yang termangu mendengar cerita Bryan.


"Maaf untuk apa?" Tanya Jasmine tak mengerti, "Aku belum bisa menikahimu secara resmi, karena aku belum meminta restu dari orangtuamu." Jelas Bryan.


"Lalu, jika orangtuaku tidak merestuimu, kau mau apa?" Kini Jasmine yang terlihat takut, takut akan jawaban Bryan. "Biarkan seperti ini, biarkan aku tetap memiliki mu. Kau juga sudah dewasa, sudah bisa menata hidupmu sendiri."


Jasmine tergelak, "Jadi kau juga tak mau meminta restu pada orangtuaku?"


Bryan menggeleng, "Sudah jelas, jawaban orangtuamu pasti tidak."


"Cemen, laki-laki harus berani mengambil resiko. Apalagi kau sudah mengawini ku. Huuu....," Jasmine menegakkan tubuhnya, "Aku akan mengajarimu membidik dan bela diri. Siapakan dirimu Bryan." Jasmine menepuk-nepuk bahu Bryan, memberi semangat, "Kau harus melindungiku dan anak-anak kita nanti, jadi kau harus berani." Jasmine tersenyum.


"Ayo ke loteng." Ajak Bryan yang sudah menggenggam tangan Jasmine.


"Untuk apa, ini sudah malam?" Jasmine memalingkan wajahnya.


"Apa?" Jasmine semakin penasaran, saat wajah Bryan begitu meyakinkan. "Sudah ayo ikuti aku." Bryan menarik tangan Jasmine dan menggandengnya. Mereka berdua berjalan keluar kamar dan mengarah ke lantai 3.


"Husein kemana Bry?" Jasmine mengendarkan pandangan tak mendapati Husein yang duduk di meja makan atau di ruang keluarga.


"Tidur mungkin." Bryan tak menanggapi pertanyaan Jasmine. Dirinya masih terus mengulas senyum dan terus menarik tubuh Jasmine.


"Jangan kaget kalau kamu masuk kesini." Bryan berhenti di depan pintu berwarna coklat, wajahnya serius dan Jasmine mengangguk. "Ada apa didalam?" Tanya Jasmine penasaran.


Klek....,


Pintu itu terbuka dengan nada yang terserat dan berat, seakan pintu yang sudah lama sekali tak pernah dibuka dan dikunjungi.

__ADS_1


"Uhukkk...," Jasmine terbatuk-batuk. Ruangan ini begitu gelap dan berdebu. Bryan meraba-raba saklar dan menghidupkan lampu utama.


Badan Jasmine berangsur mundur, bibirnya terbuka tak mampu mengeluarkan sepatah kata saat melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Matanya menangkap berbagai tulisan dinding, bergantung puluhan foto. Sebuah kasur yang sudah usang dan sebuah kursi.


"Loteng ini adalah ruang bait rinduku. Aku bebas melakukan apa saja disini. Kadang aku mengutuki diriku sendiri saat tanganku tak henti-hentinya menulis dan terus menulis di dinding ini. Disini tempatku saat aku tak tahu harus mencari dimana wanita pelindung ku. Hanya mama yang tahu isi ruangan ini, lihatlah. Dari sini kau bisa lebih leluasa melihat bintang dan rembulan." Bryan menunjuk jendela kaca yang menjorok ke arah langit.


Jasmine tertegun, "Gila, kamu memang sudah gila Bry."


"Aku lebih gila dari tulisan ini Jasmine. Kau tahu, tak ada yang bisa merebutmu lagi dariku." Bryan mencengkeram bahu Jasmine. "Jangan coba-coba memberi ruang untuk kakak, kau tahu!" Nada suara Bryan bergetar.


"Aku masih menghargai hubungan darah ini, tapi jika kau tak bisa menjaga batasan mu dengan Husein. Aku tak mengerti harus berbuat apa lagi untukmu." Suara itu semakin parau, "Kakak juga berharap padamu."


"Apa kau tulus mencintaiku?" Jasmine berusaha menatap wajah Bryan. "Aku slalu terpana pada setiap gerak-gerikmu Jasmine, aku memang sengaja mengambil alih kuasa kepemimpinan Nicolas. Menarik perhatian di kalangan penegak hukum. Usahaku tak sia-sia, aku sengaja sedikit melonggarkan penjagaan. Ternyata benar-benar ada yang mengendus keberadaanku." Bryan menarik nafas panjang, menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.


"Semakin dewasa aku semakin mengerti posisi keluarga ku, dengan tekad yang sama aku berusaha mencarimu. Aku menarik ulur selama satu tahun." Bryan menunjuk salah satu foto yang tergantung, "Lihatlah, aku bahkan tahu siapa yang menguntit ku."


Jasmine menutup mulutnya, "Jadi?"


"Aku memang sengaja." Bryan menaik-turunkan alisnya. "Maksudnya?" Jasmine bingung.


"Aku menyukai takdir kita, pertemuan kembali dengan kejadian yang tak terduga. Aku menyukai semua takdir semesta." Bryan tersenyum, berjalan ke arah Jasmine dan memeluknya. "Hahaha, gemes. Lihatlah jika wajahmu bingung dan dahimu berkerut, terlihat tua." Ejek Bryan mencubit pipi Jasmine.


Bibir Jasmine mengerucut, "Apa sih." Jasmine memalingkan wajahnya.


"Bercanda babe, ayo tidur sudah malam." Ajak Bryan sambil menggandeng tangan Jasmine lagi, "Aku akan menunggu sampai kau benar-benar mencintaiku. Aku sedang berusaha membuatmu jatuh cinta lagi Jasmine."


Sepanjang perjalanan menuju kamar, Jasmine hanya mendengar semua pernyataan Bryan tentang perasaannya. Tangan mereka masih menaut, hingga sampai di depan kamar Jasmine membuka suara. Memegang handle pintu kamar dan menatap Bryan penuh tanya. Senyumnya mengembang tipis.


"Jadi bagaimana dengan tawaranku tadi?" Bryan terlihat sedang menimbang-nimbang jawabannya, lalu ia mengangguk. "Aku mau asal kamu yang melatihku." Bryan tersenyum penuh arti, yang berarti bergulat lagi di atas ranjang. Jasmine menggeleng cepat, "Lelah hayati."

__ADS_1


^_^


Jika suka dengan cerita Jasmine dan Bryan, mohon terus mendukung karyaku ya. Maaf jika membosankan, kadang author pengen cepet-cepet nyelesaiin cerita ini. Biar cepat bisa lihat konser metal. 💛😑🤟


__ADS_2