Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Mengingat Dirimu


__ADS_3

Saat aku tengah asik ngobrol dengan gadis ini, yang sampai sekarang aku belum tahu namanya. Bahkan dia pun memanggilku dengan sebutan Pak Dosen, tak ada yang aneh sih dengan kata itu, tapi, terasa mengganggu di telinga. kebanyakan para mahasiswa memanggilku pak Ze atau Pak Zain.


Beberapa menit kemudian,terdengar seseorang berteriak, dan suara itu berhasil membuat aku dan gadis di sebelahku kaget.


"Kalian sedang apa?"


Aku melihat ke sumber suaranya, ternyata itu seorang pria yang tadi bersama gadis ini. Menurut kacamata penglihatan ku, dia pria yang tampan, jangkung dan penuh kharisma. Aku yakin dia pria rebutan para gadis, termasuk gadis di sebelah ku.


"Kalian sedang apa? tanya pria itu lagi, tapi tatapannya hanya mengarah padaku.


"Aa sudah datang,"


gadis yang duduk di sampingku berdiri dan menghampiri pria itu. Tapi, yang membuatku terkejut gadis itu memanggilnya Aa. itu berarti dia kakak gadis ini.


Berarti Aku sudah berburuk sangka pada gadis ini, Aku sudah menilai buruk padanya, Ya Allah, secara tidak langsung Aku sudah menuduh gadis baik-baik ini.


Pria yang di panggil Aa itu terlihat marah padaku. Bahkan dia menuduh ku akan berbuat macam-macam pada Adiknya. Meski sang Adik sudah menjelaskannya, bahwa kami hanya ngobrol gak lebih.


Tapi, pria itu masih tak percaya sampai ia menarik kerah bajuku. Protektif, ia bisa di bilang ia kakak yang sangat over protektif.


Pria itu mulai menyadari kesalahpahaman nya setelah adiknya menyebut kata pak dosen padaku. Tanpa merasa bersalah dia langsung pergi begitu saja, huh arogan.


Kekesalanku musnah ketika dengan lembutnya dan penuh penyesalan, gadis yang ada di hadapanku ini yang sampai detik ini belum tahu siapa namanya, meminta maaf atas perbuatan kakaknya. Dan kalian tahu? senyumannya itu telah berhasil memporak porandakan hatiku, ini untuk pertama kalinya.


Aku terus saja memperhatikannya sampai ia pergi dan tak nampak lagi. Tapi, jantungku masih saja berdetak begitu cepat. Perasaan apa ini? kenapa baru sekarang Aku mengalaminya. Lalu kemarin-kemarin? Entahlah.

__ADS_1


pov Zain off.


********


Sepanjang perjalanan pulang, Aku tak hentinya ngetawain Aa. Udah salah faham, ngegas lagi, malu pastinya. Sedangkan si Aa yang Aku ketawain malah diam cemberut, kaya anak gadis.


"Dek, udah dong. Jangan ngetawain Aa terus." protes Aa Rey.


"Maaf A, Adek gak bisa berhenti ini." ucapku sambil berusaha agar tak ketawa.


"Seneng banget liat Aa malu kaya gini."


"Salah Aa sendiri, kalau Aa tadi percaya malunya Aa gak akan semalu ini." kembali aku tergelak.


"Sudahlah, jangan bahas lagi. Semoga Aa gak ketemu pak dosen lagi. Aa yakin kalau ketemu dia lagi pasti menertawakan Aa."


Rupanya tingkah aku dan Aa terlihat oleh Umma, hingga umma pun menghampiri kami.


"Kok gak ucap salam dulu," protes umma


aku benar-benar lupa akan kebiasaan mengucap salam, ada ataupun tidak ada orang di rumah.


"Maaf, Assalamu'alaikum, Umma," ucapku dan Aa serempak.


"Wa'alaikum salam, ini ada apa sih datang-datang udah ketawa-ketawa gitu, sampai salam pun kalian lupakan," omel umma padaku serta Aa.

__ADS_1


Aku mencoba untuk menceritakan apa yang terjadi di kampus, dari awal sampai akhir. Umma yang sepertinya sudah menahan tawa dari tadi pecah seketika.


Sedangkan Aa, ia malah rebahan di sofa seraya kedua telinganya ia tutup pakai headset.


"A, jangan gitu dong. Apa-apa jangan main jeplak. Tanya dulu, pastikan dulu setelah itu baru bertindak," nasihat Umma pada Aa.


"Um, siapa yang gak curiga. mereka duduk berduaan, lho," protes Aa sebab ia tak mau di salahkan.


"Ia, ia. Sekarang dari pada debat kaya gini. lebih baik Aa ganti baju sama ade juga. setelah itu kita makan. Umma udah masakin masakan kesukaan kalian lho,"


"Serius Um?"


"Iya!"


Aku senang, Umma selalu tahu bagaimana caranya nyenengin anak. Bagiku serta kakak-kakakku, masakan umma teristimewa. bahkan saat kami ngambek cukup di sogok pakai masakan, langsung meleleh ini hati.


****


Malam ini, entah kenapa aku tak bisa tidur. Anehnya lagi, kenapa Pak Dosen nyangkut di kepalaku. Ini bukan aku lho. Sebelumnya aku gak kaya gini. Tapi, kenapa setelah bertemu Pak dosen jadi kepikiran terus? Ya Allah ada apa sebenarnya?.


Aku coba menepis semua bayang-bayang Pak Dosen. Aku ingat betul nasihat Abi sama Umma. Salah satu zina hati yaitu, saat kita merasa senang tatkala memikirkan lawan jenis yang bukan mahram kita.


Astagfirullah, aku langsung beristighfar. Aku langsung lari ke kamar mandi lalu mengambil air wudhu. Mungkin dengan aku salat pikiran-pikiran yang nyangkut di pikiranku bisa musnah.


Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari. Salat sudah, ngaji sudah, tapi pikiran aku masih mengarah ke sana.

__ADS_1


Ya, Allah apa yang harus aku lakukan. Aku tak mau berzina hati. Aku tak mau mengingat pria yang buka mahram ku.


Aku tutup seluruh tubuhku menggunakan selimut. Mata aku pejamkan, seraya mulut dan hati terus berdzikir kepada Allah.....


__ADS_2