Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Mereka Siapa?


__ADS_3

Sekitar pukul empat sore, aku dan A Rey sampai di rumah. Aku dan Aa saling pandang saat melihat dua mobil mewah terparkir si pelataran rumah. Tumben. itulah pemikiran ku, sebab tidak biasanya Uma sama Abi menerima tamu di waktu sore hari.


"Mobil siapa, A?" tanyaku pada Aa dan berharap ia tahu.


"Jangan tanya Aa, Dek. Aa gak tahu!"


"Siapa aja Aa tahu, Aa kan sering sama Abi. siapa tahu aja pernah lihat mobilnya gitu."


"Aa kurang kerjaan amat harus merhatiin mobil orang. ngaco!"


"Siapa tau, A, ih. Sewot aja!"


Sejurus kemudian, setelah Aa berhasil memarkirkan motor sport-nya kami masuk rumah bersamaan. Serta dalam benakku menerka-nerka siapa gerangan yang bertandang ke rumah sore hari ini. Dengan langkah cepat, mensejajarkan langkah dengan Aa yang jalannya udah kaya dikejar debt collector.


Dari jarak sekian meter, terdengar gelak tawa yang begitu renyah. Tawa mereka terdengar seperti tawa orang yang sedang nonton drama komedi. Semakin dekat dengan ambang pintu maka semakin terdengar jelas gelak tawa mereka. Jadi penasaran apa gerangan yang membuat mereka begitu bahagia.


"Assalamu'alaikum," ucap salam ku dan Aa bersamaan saat baru saja kami masuk.


Seketika gelak tawa itu berubah jadi balasan salam yang aku dan Aa ucapkan. Secara bersamaan juga mereka menatap ke arah aku dan Aa. Satu persatu aku salami kecuali para bapak yang sepertinya udah masuk setengah abad namun masih terlihat gagah dan tampan. Enggak beda jauh sama Abi lah.


"Waalaikumsalam."


"Sya, ini anak kalian?" tanya seorang wanita cantik dengan rambut curly.


"Iya, ini anak aku. ini namanya Reyhan dan yang paling bontot ini Aisyila." Uma memperkenalkan aku juga Aa.


Wanita berambut curly itu bangkit, berjalan semakin mendekat ke arah ku.


"Sya, sepertinya anakmu ini cocok buat anakku," ujar wanita itu dan berhasil membuat aku keheranan.


cocok? batinku.


"Kamu setiap ada anak gadis pasti bilangnya cocok," timpal wanita berhijab tosca itu.


"Ini beneran cocok."


Aku sama sekali tidak paham dengan arah pembicaraan mereka. Jadi, aku hanya diam seraya tersenyum dan mangut saja. Pun dengan Aa tak jauh berbeda.


"Uma sepertinya Rey mau ke kamar dulu. Gerah mau mandi. Dan untuk Tante dan Om, Rey ke kamar dulu. Maaf tidak bisa menemani."


Untuk pertama kalinya aku mendengar Aa berkata dengan begitu sopan. Hilang sudah kesan menyebalkan dan ngeselinnya.

__ADS_1


"Enggak apa-apa. Sebentar lagi kami juga pulang," jawab wanita berkerudung tosca.


Melihat Aa yang berlalu, aku pun meminta izin untuk ke kamar dan mereka mengiyakannya. Cepat-cepat aku berlari menyusul Aa yang saat ini sedang menapaki anak tangga.


. ***


Malam pun tiba. Seperti yang pernah aku bilang. Malam hari adalah waktunya untuk menghabiskan waktu bersama, curhat, minta pendapat, membahas pekerjaan ini khusus Abi sama Aa. Kadang juga waktu malam kita habiskan saling bercerita segala hal tentu tujuan Uma dan Abi agar kami saling terbuka dan punya rasa empati dan simpati yang tinggi.


Saat ini aku tengah rebahan. Menjadikan paha Uma sebagai bantalan. Jangan lupakan tangan Uma yang akan mengelus kepala, ah, rasanya nyaman dan berasa disayang Uma. Sekilas, aku teringat akan tamu-tamu yang datang tadi sore. Rasa penasaran tiba-tiba saja muncul ke permukaan.


"Uma," panggilku.


"Apa sayang."


"Mereka itu siapa, sih?"


Uma terdiam, bahkan kegiatan mengelus kepala terhenti. lalu aku pun mendongakkan kepala hingga terlihat jelas wajah Uma yang mengerutkan kening.


"Yang mana?"


"Yang tadi sore!"


"Oh mereka, ya."


"Kalau Uma kasih tahu, kamu bakal marah enggak?" tanya Uma mendadak beraura serius.


Aku pun langsung berinsruk memposisikan tubuhku menjadi duduk dan berhadapan langsung dengan Uma.


Aku menatap lekat wajah Uma mencari keseriusan di raut wajahnya.


"Ais marah karena apa? Tahu juga belum apa yang ingin Uma katakan."


Uma terlihat menghela napas. "Tadi yang datang itu keluarga Tuan Firman dan Tuan Adibrata. Mereka...."


"Mereka apa Uma? Jangan buat Ais penasaran, deh," ucapku sebab Uma menggantung perkataannya.


"Serius kamu mau dengar?"


"Serius Uma."


"Baiklah. Jadi gini, mereka datang enggak janjian. Tapi takdir menuntut mereka datang secara bersamaan. Mereka datang untuk...."

__ADS_1


Lagi-lagi Uma menggantung perkataannya.


"Ih, Uma. Malah buat Ais penasaran."


"Gini, mereka kan punya anak. Jadi mereka meminta kamu untuk jadi menantu mereka."


"Apa?! Me-menantu?" Aku kaget sampai aku gelagapan.


"Iya, tapi Uma sama Abi belum menyetujuinya. Keputusan ada di tangan kamu sama Aa."


"Kok, Aa dibawa-bawa? ada apa sih?" ucap Aa yang tiba-tiba saja datang dan langsung nyerocos.


Aa lalu menggeser dudukku hingga aku hampir terjatuh.


"Kebiasaan, deh!" Memukul lengan Aa


"Ih, sakit Dek."


"Rasain, makannya jangan main serobot tempat duduk. Ini kursi kan banyak engga ini aja. Tuh, aa bisa duduk sebelah sana, atau di sana." kesal ku seraya menunjuk-nunjuk kursi yang dimaksud.


"Tapi, Aa mau deket sama Uma."


"ih,"


"Kalian kok kaya anak kecil, sih. kalau dekat enggak pernah akur," Uma angkat bicara dan sepertinya sudah mulai pusing dengan tingkat aku dan Aa.


Aku terus memukul Aa, berantem adalah sesuatu hal yang sepertinya bersifat wajib bagiku maupun Aa. Jujur saja kalau dekat Aa sudah kaya kucing dan Anjing enggak pernah akur. Uma dan Abi sudah memaklumi.


"Sepertinya keputusan untuk segera menikahkan mereka adalah tepat."


Suara itu membuat aku dan aa menghentikan aktivitas pukul memukul, berganti dengan keterkejutan yang teramat. Aku, Aa dan Uma langsung menoleh ke sumber suara. Ke arah Abi yang saat ini tengah berjalan menghampiri kami.


"Uma, sepertinya tawaran perjodohan dari Tuan Firman dan Tuan Adibrata akan Abi setuju. Biar kedua anak kita dewasa, enggak ke kanan-kanakan lagi."


"Tidak mau Abi!" ucapku dan Aa kompak.


"Abi sudah yakin, kalian akan Abi jodohkan!"


"Tidak... tidak," lagi aku dan Aa kompak.


"Abi, katanya tidak akan memaksa anak-anak."

__ADS_1


"Abi tarik lagi kata-kata Abi. Sekarang Abi setuju. apalagi melihat Rey yang udah pas untuk menikah. Siapa tahu kalau kalian sudah menikah bisa sedikit dewasa, enggak kekanak-kanakan lagi."


Kalau Abi sudah ambil keputusan, maka itu bersifat mutlak enggak bisa diganggu gugat lagi. Mau seperti apa pun kita memohon jawabannya tetap A enggak bisa B. Pun jika Uma yang meminta tidak akan didengar Abi. Kalau aku pribadi mau dijodohkan atau enggak aku tetap menerima. Mungkin seperti itulah Allah swt menyatukan ku dengan si jodoh. Tapi, kalau Aa enggak tahu juga. Sepertinya ia pun akan setuju karena ia paling anti melawan pada Uma dan Abi. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan aku percaya jika pilihan Uma dan Abi pasti tidak salah.


__ADS_2